
“Ibu, kenapa jendelanya dibiarkan terbuka? Malam ini sangat berangin, nanti ibu masuk angin gimana?” Weini bergegas menuju jendela yang terbuka lebar dengan angin dingin yang bertiup cukup kencang, untung saja mereka masih memakai mantel, jika tidak pasti sudah menggigil.
Tirai putih itu ikut tersibak oleh sapuan angin, ketika Weini telah menjamah gagang jendela dan hendak menutupnya, perhatiannya malah beralih fokus pada bulan terang benderang di langit, begitu bulan dan bersinar penuh. Weini terhanyut dalam pesona bulan itu lalu menunda sejenak niatnya untuk menutup jendela itu.
“Indahkan bulan itu? Melihat bulan purnama secantik itulah yang membuat ibu sengaja membiarkan jendela terbuka. Rasanya hati ikut merasa tenang saat melihat sinarnya, bukankah begitu Hwa?” tanya Liang Jia lembut, ia sudah berdiri sejajar dengan Weini kemudian melipat tangannya di atas bingkai jendela.
Weini mengangguk pelan tanpa mengalihkan tatapannya dari bulan. “Ng... sangat indah bu.” Gumamnya singkat, bibir gadis itu masih melekuk seulas senyuman. Bulan yang sarat akan energi Yin itu memang sangat menyejukkan, dan siapapun yang merasa punya emosi yang berkobar, jika menatap bulan purnama maka luapan emosinya akan berkurang. Itulah daya tarik energi Yin yang secara alamiah mempengaruhi hati siapapun yang mengaguminya.
“Kamu tahu... waktu ibu kehilangan kamu, setiap malam purnama selalu ibu habiskan untuk memandangi langit. Berdoa pada bulan yang terang di atas sana, berharap kamu juga ikut menikmati indahnya cahaya bulan. Dan berharap suatu saat kita bisa melihatnya bersama-sama.” Ujar Liang Jia mengenang masa lalunya, ia sangat bahagia karena harapan itu akhirnya terkabul.
Weini terkesima, tak menyangka ibunya melakukan hal seperti itu demi dia. “Ibu... aku pun demikian, dulu waktu kecil aku suka lihat bulan. Dan kalau aku kangen ibu, pasti aku berteriak memanggil ibu dan meminta bulan menyampaikannya padamu. Ternyata kita sama ya, Bu. Dan kini doa ibu terkabulkan juga.” Jawab Weini penuh haru juga.
Liang Jia takjub mendengar pengakuan putrinya, betapa dulu mereka saling merindukan meskipun telah lama berpisah. “Hwa, kau masih ingat dulu ibu pernah membuatkanmu satu setel hanfu yang akan dipakai untuk menonton festival bulan?”
Weini mengerutkan dahinya, mencoba mengingat kejadian yang sudah lama berlalu itu. “Oya? Ada ya bu?”
Liang Jia menatap Weini seakan tak percaya kalau Weini melupakan hal itu. “Kamu sudah lupa? Padahal kamu yang merengek pada ibu minta dibuatkan hanfu baru untuk melihat festival bulan. Tapi sayangnya sebelum kau memakainya, kita malah berpisah.” Kenang Liang Jia sedih.
“Ibu, sudahlah jangan ingat yang sedih lagi ya. Kita harus lebih banyak senyum dan bahagia sekarang.” Weini meraih tangan Liang Jia, menghiburnya dengan genggaman erat itu.
Liang Jia kembali tersenyum dan mengabulkan permintaan putrinya. “Tapi ada satu cerita haru yang harus kamu tahu, tentang hanfu itu.” Seru Liang Jia yang tidak akan memendam ini sendirian, hanya ia dan Xiao Jun yang tahu kenangan menyedihkan itu. Kenangan yang membuat Liang Jia jatuh hati pada kebaikan hati Xiao Jun untuk pertama kalinya.
“Ceritakanlah, bu. Aku ingin tahu apa yang terjadi pada hanfu itu.” pinta Weini yang ingin ibunya lega setelah bercerita.
Liang Jia menghela napasnya, ia kembali menatap bulan sambil terus terkenang pada masa itu. “Dulu setelah kepergianmu dengan pengawal Wei, ayahmu hampir saja menghukum semua anggota keluarga Wei. Untung saja putra bungsunya yang cerdas itu menarik perhatian ayahmu, sampai akhirnya ia diangkat sebagai anak. Bukan hanya berstatus anak angkat melainkan sungguh diakui sebagai anak kandungnya, dan siapapun yang berani mengungkit asal usul Jun, tak akan segan dibunuh oleh ayahmu.”
Weini bergidik, tak menyangka perbuatan keji Li San di masa lalu itu sangat mengerikan. “Segitunya bu? Sungguh ayah tega berbuat itu?” tanya Weini tetap tidak percaya.
Liang Jia mengangguk mantap, mengiyakan sekaligus membantah rasa tak percaya Weini itu. “Sejak itu tidak ada yang berani membicarakan tentang asal usul Jun. Anak laki-laki yang pintar itu pun melindungi ibunya yang dihukum menjadi pembantu, ia tidak berani mengusik ibunya meskipun rindu. Jadi sebenarnya, Jun dan kamu sama sama menderita saat itu. Tapi Jun berhati mulia, ia tahu aku sangat merindukanmu, dan suatu hari ia datang ke kamar ini mengunjungiku, pas di saat aku sedang menangis sambil memeluk hanfu itu.” Liang Jia menghela napas kasar, ia pun beranjak dari posisinya berdiri sekarang.
Weini membuntuti ibunya lewat tatapan lembut, mengawasi ke mana ibunya hendak pergi. Ternyata Liang Jia membuka sebuah kotak dalam lemarinya, lalu sebuah hanfu mungil yang cantik berwarna pink itu ditunjukkan pada Weini. Gadis itu berjalan menghampiri Liang Jia, ingin melihat langsung seperti apa hanfu yang Liang Jia siapkan untuknya kala itu.
“Dia tanya begitu, bu?” Weini nyaris tak percaya Xiao Jun kecil punya kepedulian setinggi itu.
Liang Jia mengangguk, “Ya, tidak hanya itu... aku tidak tahu mengapa begitu percaya padanya, pancaran matanya yang polos itu membuat aku terbuka dan menceritakan apa yang ia tanyakan. Hingga ia bilang bahwa ia akan memakaikan hanfu ini untukku. Aku tak percaya, Hwa, dia rupanya nekad merebut dari tanganku lalu berlari mencari persembunyian dan muncul dengan memakai hanfu ini. Dia melakukannya untukku, Hwa. Dia rela memakai pakaian anak perempuan demi memuaskan rasa rinduku padamu. Aku memeluknya, menangis di pelukannya. Ia tetap tenang menghiburku, anak sekecil itu sudah tahu berkorban perasaan. Aku tahu betul bahwa ia sangat merindukan ibunya, dan aku sangat merindukan kamu. Kami berdua sama-sama menangis saat itu.” Liang Jia menyeka air matanya, sekalipun ia tidak ingin menangis namun kenangan itu terus mendesak air matanya ikut berbicara.
Weini pun tak bisa membendung kesedihannya lagi, dulu ia terlalu egois berpikir hanya ia dan Haris yang tersiksa. Rupanya di sini pun tidak ada kedamaian hati yang didapatkan oleh orang-orang yang jadi korban masalah itu. “Ibu... maafkan aku... dulu aku pikir... aku pikir hanya aku yang paling menderita, hanya aku yang terbuang dan kalian tidak menginginkan aku. Tak disangka ibu dan Jun, dan ibu Xin Er sama sama menderita.”
Weini memeluk Liang Jia, mencoba menenangkan diri bersama, mengingkari sejenak janji mereka untuk tidak menangisi masa lalu. Ternyata sesekali masa suram itu memang harus terkenang, agar cinta yang ada di masa sekarang semakin terjalin erat.
“Sudah... sudah, bukan saatnya bersedih lagi Hwa. Ibu hanya ingin kamu tahu, kalau ibu sangat bahagia begitu tahu bahwa Jun adalah jodohmu. Kalian memang pantas untuk bersama, ibu dan ayah sudah merestui kalian.” Ungkap Liang Jia yang kini sudah berhasil mengendalikan dirinya.
Weini menyanggupinya dan kembali tersenyum, tatapannya beralih pada Gu Zheng yang ada dalam kamar itu. “Ibu, maukah mendengarku memainkan satu lagu untukmu?”
Liang Jia langsung tersenyum dan mengangguk, tawaran yang sangat ia nantikan. “Bagaimana ibu bisa menolak tawaran semanis itu. Lakukanlah, ibu akan mendengarnya sampai habis.” Seru Liang Jia bersemangat.
Weini berjalan menghampiri alat musik kecapi itu, dalam benaknya sudah terpikir memainkan sebuah lagu yang sangat disukai Liang Jia. Lagu yang sempat dilatih oleh Weini saat masih di Jakarta, dan kini saatnya memperlihatkan kepiawaiannya. Suara petikan mulai terdengar, mengalun lembut dan merdu. Liang Jia terkesima, ia tahu lagu apa yang dimainkan Weini.
...Ni wen wo ai ni you dou she...
...Wo ai ni you ji fen...
...Wo de xing ye zhen...
...Wo de ai ye zhen...
...Yue liang dai biao wo de xing...
...❤️❤️❤️...