
Li An mematut diri sekian lama di depan cermin kecil, di sisi lain ia begitu kegirangan diajak jalan oleh Xiao Jun namun sekejab saja rasa itu hilang ketika menyadari betapa memprihatinkan penampilannya. Hanya setelan celana kulot dan baju kaos polos yang dinilai layak pakai untuk keluar. Ia ragu untuk menerima ajakan adiknya, keluar dengan tampang begini hanya akan membuat Xiao Jun malu. Adik laki-lakinya itu tampil keren dalam balutan jas formal layaknya seorang bos muda yang terhormat, sedangkan dia lebih layak disebut gelandangan saking jomplangnya.
“Li Jun?” teriak Li An mencari adiknya. Ia enggan membuat Xiao Jun menunggu lebih lama lalu memutuskan keluar apa adanya. Li An mengamati seisi ruang tamu tetapi tidak melihat Xiao Jun di sekitar sana.
“Apa mungkin sudah pergi?” Li An mengintip ke luar jalanan dan mendapati mobil Xiao Jun masih terparkir. Ia heran di mana adiknya bersembunyi lalu mencoba mencari di dapur meskipun kemungkinannya kecil.
Mendengar namanya dipanggil, Xiao Jun langsung keluar menghampiri Li An. Keduanya saling melihat ketika Li An berdiri di muka pintu dapur sedangkan Xiao Jun barusan keluar dari ruangan mistis itu.
“Kakak sudah siap?” tanya Li An yang terlihat senang mendapati Xiao Jun.
Li An mengangguk dan tersenyum, “Ei, kamu habis dari dalam? Aku kira kamu udah pergi.”
Xiao Jun membalas senyuman kakaknya tak kalah ramah, “Tadi iseng masuk ruang ini sambil nunggu kakak. Kita jalan sekarang, kak.” Ajak Xiao Jun mempersilahkan Li An mengambil langkah dulu.
“Jun, apa kamu melihat sesuatu di dalam? Maksudku … penampakan sesuatu …” tanya Li An hati-hati, ia belum beranjak dari tempatnya berdiri.
Xiao Jun mengernyit, ia terpancing penasaran mungkin Li An juga mendapat penglihatan di sana. “Ya, aku mendengar suara kakek kita. Apa kak Li An juga bisa melihatnya?”
Li An girang dan langsung meraih kedua tangan Xiao Jun, “Wah, benar dugaanku! Adikku mewarisi kemampuan sihir klan Wei. Aku bangga padamu, Jun. Aku nggak punya kemampuan itu, hanya saja feelingku yakin itu bukan kamar biasa. Tiap kali aku membersihkannya, ruangan itu akan pengap dan berserakan lagi dalam sekejab
seolah memang dirancang buat jadi gudang. Atau mungkin ruang itu mengisolasi otomatis biar orang nggak berani masuk.”
Xiao Jun tertawa kecil melihat reaksi berlebihan Li An, ia sempat mengira Li An tahu rahasia kamar itu namun sayangnya kemampuan sihir hanya diturunkan secara alami pada penerus klan, sisanya hanya jadi orang biasa. “Apa ada orang lain yang masuk ke dalam?”
Li An mulai berpikir, “Mmm … ya, Chen Kho pernah masuk sekali lalu bertanya ruangan apa itu.”
Lagi-lagi nama Chen Kho didengar Xiao Jun berkali-kali hari ini hingga ia mulai merasa muak. Yang paling tidak terduga, Li An menyebut pria itu pernah masuk ke ruangan keramat itu? “Untuk apa dia ke dalam? Kak, apa ada sesuatu yang dia sampaikan setelah masuk ke sana?” tanya Xiao Jun antusias.
“Ng, tidak ada. Eh … dia tanya ruangan apa ini dan aku sempat cerita sedikit.” Jawab Li An masih ragu dan berpikir apa saja yang mereka bahas soal ini.
“Cerita apa kak?” saking penasaran, Xiao Jun tidak sadar menaikkan volume suara seolah mendesak Li An mengatakan segalanya.
Li An menopang dagu, ia berpikir keras untuk menjawab adiknya. “Aku lupa, yang jelas kami ada nyinggung soal ayah. Dia bilang ayah sudah meninggal, tapi aku nggak terima karena feelingku bilang ayah masih hidup. Jadi aku bilang ke dia kalo ayah tidak mungkin mati dengan mudah karena dia adalah pewaris keturunan Wei.” Seru Li An dengan polos dan tanpa rasa bersalah mengatakan pengakuan itu.
Xiao Jun seketika merasa lemah, betapa ia sangat menyayangkan kelalaian kakaknya yang dengan mudah membocorkan rahasia pada orang luar. Apa mau dikata semua terjadi di luar kendalinya, Xiao Jun pun enggan menyalahkan Li An sepenuhnya.
Li An seakan tertampar dan sadar bahwa yang ia lakukan adalah kekeliruan. Tidak seharusnya ia buka mulut pada Chen Kho secinta apapun ia kepadanya. “Maafkan kakakmu yang tidak becus Jun. Aku janji nggak terulang lagi.”
***
Xiao Jun mempercepat kemudinya, perjalanan yang perlu ditempuh untuk sampai ke kota bisa memakan waktu kurang lebih satu jam. Masih banyak kerjaan yang harus ia lakukan bersama Li An sambil menunggu kepastian Lau. Sepanjang di mobil, pikiran Xiao Jun berkutat pada banyak persoalan hingga tak sengaja mengabaikan
Li An yang dibiarkan menikmati perjalanan bertemankan suara radio. Untung saja gadis itu lebih tertarik dengan pemandangan ketimbang menghiraukan music ataupun Xiao Jun yang membisu.
“Kita mau kemana Jun? Jangan ke tempat yang rame ya, kakak malu kita terlalu mencolok.” Pinta Li An, ia tak mau mempermalukan adiknya yang pasti lebih dikenali public apabila kedapatan bersama dirinya dengan penampilan buruk.
“Kakak tenang saja, kita sepadan kok. Darah kita sama dan wajah kita tak bisa menutupi bahwa kita saudara.” Xiao Jun melirik Li An yang tampak gugup dan malu. Ia sengaja merahasiakan kemana akan membawa Li An pergi, sudah saatnya memberikan sesuatu yang pantas ia miliki sebagai seorang gadis.
Mobil mereka memasuki area parkiran bawah tanah dari sebuah butik ternama di jantung kota Hongkong. Li An memilih diam dan mengikuti kehendak Xiao Jun, ia bahkan tak berpikir jauh tentang apa yang akan adiknya lakukan.
Xiao Jun menerima panggilan masuk namun hanya menjawab sepatah kata ‘oke’ kemudian menutupnya. Ia hanya perlu memastikan segala yang direncanakan sesuai alurnya. “Kak, ikut aku ke dalam. Mereka sudah menunggumu.” Perintah Xiao Jun sembari menyunggingkan senyum, hanya saja keremangan dalam mobil mengaburkan senyumnya.
“Mereka? siapa Jun?” Li An melepas sabuk pengaman dan ikut Xiao Jun turun dari mobil. Banyak tanda tanya memenuhi pikirannya, ia bukan siapa-siapa dan tak banyak mengenal orang. Lalu siapa yang sedang menunggunya?
“Nanti juga kakak tahu.” Seru Xiao Jun.
Ia berjalan dengan penuh kharisma di depan Li An sehingga menciptakan daya imajinasi yang kelewat kreatif. Dalam bayangan Li An, sosok yang tengah berjalan penuh pesona di depannya adalah Lee Min Ho, sang raja drakor yang menginjakkan kaki di atas karpet merah dan mengajaknya masuk ke dalam istananya. Hanya khayalan saja membuat Li An tertawa senang, melupakan sejenak kenyataan bahwa pria yang bersamanya adalah Xiao Jun.
Kesadaran Li An sepenuhnya kembali pada kenyataan ketika ia masuk dalam ruangan besar yang terang gemerlap berisikan banyak pakaian, gaun serta asesoris fashion yang menyilaukan matanya. Ia belum pernah memanjakan mata dengan pemandangan seglamor ini. Lima orang karyawan berseragam serta seorang wanita muda yang
sangat cantik dan elegan membungkuk hormat menyambut Xiao Jun.
“Kamu mau beli baju?” tanya Li An, ia terlalu polos untuk berani menebak lebih dari itu. Dalam benaknya Xiao Jun mengajaknya kemari dan minta ditemani memilih beberapa baju.
“Bukan aku tapi kakak, mereka semua sudah menunggumu. Pilihnya sebanyak mungkin yang kakak suka.” Seru Xiao Jun dengan senyuman yang memancarkan kasih sayang pada Li An.
“Pilihkan yang cocok untuk dia dan buat ia menjadi yang paling cantik!” ujar Xiao Jun pada wanita cantik pemilik butik. Demi menjaga perasaan dan harga diri Li An, ia sengaja meminta pemilik menutup sebentar butiknya agar tidak seorangpun melihat penampilan asli Li An yang sederhana. Sudah saatnya mengganti kesusahan saudara menjadi lembaran hidup yang lebih berwarna.