
Weini berjalan tergesa-gesa saat turun dari lift, ia mengedarkan pandangan mencari sosok Dina tetapi akhirnya mengeluarkan ponsel. Menelpon managernya jauh lebih cepat daripada berdiri menatap ke sekeliling. Ia harus bergegas pergi dari sini pasca keributan beberapa saat lalu.
“Kak, lagi di mana?” Weini melewatkan sapaan ‘Halo’ saat telpon terhubung.
“Di depanmu non.” Dina melambai sembari menjawab Weini, ia duduk menunggu sendirian di bangku panjang yang disediakan untuk pengunjung. Saat hendak berlari menghampiri Weini, justru artis itu lebih cepat bergerak mendekatinya. Dina hanya berdiri diam, soal lari jelas Weini lebih unggul darinya jadi buat apa mencapekkan diri.
“Ayo pergi.” Ujar Weini ketika sampai di hadapan Dina, ia mempercepat langkahnya menuju pintu keluar.
“Eh? Udahan kencannya? Kok cepet?” Dina tak menyangka pertemuan sepasang sejoli itu bahkan lebih cepat ketimbang burger yang diordernya. Ia berlari menuju stand makanan untuk membayar pesanannya yang belum kelar, sebelum berlari menyusul Weini. Tadinya Dina mengira bisa ngemil sebentar sambil menunggu Weini, ternyata malah sia-sia ia harus membayar sebagai ganti rugi cancel makanan itu.
Weini enggan menggubris Dina, ia celingukan ketika berada di lobby. Dina tahu apa yang dicari artis itu, “Stev nunggu di mobil, yuk non.” Mereka baru saja mulai melangkah, namun suara klakson membuntutinya
dari belakang.
“Buruan naik.” Stevan membuka kaca mobil untuk berteriak, kedua gadis itu bergegas masuk ke dalam mobil.
“Kebetulan banget lu nyamperin, kita nggak perlu nyusul ke parkiran.” Seru Dina yang takjub akan inisiatif Stevan yang tahu betul bahwa mereka tengah mencarinya.
“Gue kan punya telepati, ha ha ha … Nggak sih, gue udah intai kalian biar sekalian gue angkut pas keluar. Weini terlalu mencolok, jangan sampai dikejar wartawan babak kedua dalam satu hari.” Ujar Stevan yang tertawa geli mengingat kejadian beberapa saat lalu. Tawanya terpause saat melihat respon Weini yang datar, sejak masuk ke dalam mobil, gadis itu belum mengeluarkan sepatah kata. Ia tidak seperti gadis bahagia yang baru saja bertemu kekasihnya, tampangnya justru lebih mirip orang patah hati.
“Weini, lu kenapa manyun banget dari tadi.” Stevan sesekali melirik ke Weini yang duduk di belakang, sembari berkonsentrasi menyetir.
Dina pun ikut menoleh pada Weini, yang dikatakan Stevan benar sejak tadi Weini terlihat murung. “Non, gimana hasilnya? Dia bisa bantu managemen kita gak?”
Pertanyaan Dina langsung menyadarkan Weini bahwa ia gagal fokus, ia memijit keningnya saking pusing. “Sorry, aku malah ngobrolin hal lain. Sudahlah, aku tidak tahu harus gimana lagi memperjuangkan itu, yang terjadi ya terjadilah.” Weini menatap Dina dengan raut sendu, ada tangis yang tertahan olehnya. Ia harus menemukan cara untuk menghibur hati yang luka, selain menangis.
“Non kenapa? Cerita aja ke kita, gimanapun kita udah biasa jadi tong sampah non.” Ujar Dina mencoba menghibur Weini.
“What? Lu kali yang tong sampah, gue nggak mau disamain kayak gitu. Gue pasang kuping pasang hati buat nampung curhatan dia. Dan itu bukan tong sampah, you know!” Protes lagi, persengitannya dengan Dina mulai lagi.
Weini menghela napas panjang, dalam suasana hatinya yang normal mungkin ia akan terbahak mendengar pertengkaran mereka tapi kali ini selera humornya hilang.
“Kak Stev, antarkan aku ke toko perhiasan ya.” Pinta Weini lirih.
“Mau beli apa non? Cincin? Kalung?” Tanya Dina kepo.
Weini menggeleng lemah, “Bukan kak, aku perlu memotong cincin ini.”
Stevan menghentikan laju mobilnya mendadak hanya untuk memastikan cincin mana yang Weini maksud. Dina melototi jari manis Weini yang diacungkan untuk menunjukkan cincin mana yang hendak dipotongnya. Keduanya
shock bersamaan, cincin malang itu adalah simbol pengikat antara Weini dan Xiao Jun.
***
Semilir angin berembus mempermainkan helai rambut Xiao Jun, ia masih berdiri di sini – di tempat ia dan Weini berbicara dari hati ke hati – namun berujung gantung lagi. Diraihnya ponsel dalam kantong celana, saat ini hanya satu orang kepercayaan yang bisa ia andalkan.
Terik matahari siang sedikit memanggang Xiao Jun, ia mulai gerah dan melepaskan jasnya. Meskipun ada kanopi di lantai teratas ini, tetap saja angin panas dan terik matahari terasa menyengat. Dalam kesendiriannya, Xiao Jun terus mengingat kejadian barusan saat Weini masih berdiri di sini. Xiao Jun menatap kedua tangannya yang sempat memeluk Weini, menggendongnya, bahkan meraih wajahnya untuk dikecup.
Flashback Xiao Jun ….
Weini masih sulit diyakinkan, ia terus menekan Xiao Jun dengan kepastian. “Atas dasar apa kamu memintaku percaya? Lalu kita harus kucing-kucingan tiap bertemu ataupun berkomunikasi? Jun, kau membuatku seolah
aku ini orang ketiga. Apa ini yang kamu mau? Aku nggak sanggup!” Lirih Weini, ia yang lebih dulu menjalin hubungan bahkan terikat pertunangan namun kini ia yang harus mengalah dan berbagi pria?
“Tidak Weini, kau tidak harus begitu. Aku tidak terbagi, jiwa ragaku tidak terkontaminasi dia. Percayalah, dia tidak punya kuasa untuk membatasi hubungan kita.” Xiao Jun terus mencoba meyakinkan Weini.
Weini tersenyum sinis kemudian mengangguk yang justru disalah-artikan oleh Xiao Jun, ia mengira kekasihnya sudah mengerti dan setuju. Kenyataannnya Weini malah menyodorkan jari manisnya yang masih tersemat cincin
pemberian Xin er. Xiao Jun mengeryit bingung dengan tindakan Weini.
“Kalau begitu, buktikan keseriusanmu dulu. Jangan buat hati wanita sebagai cadangan, kau harus bisa menetukan sikapmu. Sebelum kau bisa ambil tindakan, aku rasa belum saatnya cincin ini mengikatku. Tolong lepaskan,
kukembalikan padamu dulu.” Ucap Weini, tatapannya serius dan menyakitkan Xiao Jun yang terkejut mendengar keinginannya.
Xiao Jun berbalik badan menghindari todongan Weini, “Tidak! Sampai matipun tidak akan aku lepaskan. Cincin itu sudah menunjukmu jadi pemiliknya, dia adalah hatiku, hanya kamu yang boleh memiliki.” Bantah Xiao Jun tegas. Berkat Xin Er, ia jadi tahu bahwa cincin itu bukan perhiasan biasa. Weini pasti pernah berusaha melepasnya namun gagal, itulah sebabnya ia bersikeras meminta Xiao Jun melepaskannya. Dan memang hanya Xiao Junlah yang sanggup melakukannya jika ia mau.
Dan Weini meninggalkannya begitu saja, tanpa pamit dan tanpa linangan air mata. Meninggalkan kepedihan yang masih membekas, Xiao Jun menundukkan kepala, menyembunyikan kekecewaannya.
Flashback selesai.
***
Lau melihat tuan mudanya yang duduk menunduk dengan kepesimisan yang bisa ia rasakan. Ia tahu bahwa Xiao Jun baru saja bertemu Weini, dilihat dari penampilannya, Lau menebak pertemuan mereka pasti tidak berjalan mulus. “Tuan muda, ada yang bisa kulakukan?”
Xiao Jun menengadah menatap Lau, ia segera berdiri untuk menyetarakan posisi mereka. “Paman, aku merasakan dia.”
Perkataan Xiao Jun sukses membuat Lau mengangkat alis, siapa ‘dia’ yang dimaksud? “Nona Weini maksud anda?”
Xiao Jun menggeleng pelan, “Ayahku. Waktu aku mengejar Weini, aku merasakan tanda kehadirannya. Sihirnya terdeteksi sangat dekat dengan jarakku, tapi sebentar saja sudah hilang. Aku mengabaikannya demi mengejar Weini … Paman, tolong cek CCTV di seluruh sudut kantor kita.”
Lau mengangguk mengerti, di saat bersamaan dengan masalah Weini, tuan mudanya pun harus mengurusi maasalah ayah kandungnya. Beban pikiran Xiao Jun pasti sangat berat dan Lau begitu prihatin padanya. “Segera
saya laksanakan, tuan. Kemampuan sihir anda semakin meningkat, selamat tuan.”
“Ng, kali ini aku pasti menemukannya!” Ungkap Xiao Jun bersemangat.
***