OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 449 DIA KEMBALI



Yue Fang harap-harap cemas menunggu kedatangan ketiga saudaranya, ia sebenarnya agak berat meninggalkan ibunya begitu saja di rumah sakit. Terkadang emosi Liang Jia yang tak stabil karena frustasi sangat engkhawatirkan. Yue Fang memilin tisu yang ia remas, beberapa kali ia berjalan mondar mandir demi menenangkan dirinya dan


bersabar menanti para saudaranya tiba.


Penantian yang tak sia-sia, Yue Fang menghentikan langkahnya yang sia-sia itu begitu mendengar teriakan pengawal di depan aula utama bahwa tamu yang ia nantikan telah datang. Senyum Yue Fang pun merekah saat melihat Yue Xin dan Yue Xiao serta satu orang pria yang tak ia kenali namun ia yakin itu adalah kakak iparnya. Ia segera berlari menghampiri mereka.


“Kakak.” Yue Xiao yang lebih dulu menyapa Yue Fang, keduanya langsung berpelukan melepas rindu. Padahal


biasanya, mereka jarang akur tetapi kondisi saat ini berbeda. Di mana ayah mereka yang menjadi kepala keluarga tengah goyah dan tak tahu bagaimana nasibnya.


Yue Xin menghampiri dua adiknya yang masih berpelukan, tanpa menunggu diajak, ia pun bergabung merangkul dua adik perempuannya. Kehangatan persaudaraan terasa begitu kental, sayangnya masih kurang dua personil lagi untuk melengkapi lima bersaudara itu.


“Kak Yue Xin, selamat menempuh hidup baru. Selamat untuk kakak ipar. Maaf aku baru sempat mengucapkannya, semoga pernikahan kalian langgeng seumur hidup.” Ucap Yue Fang seraya setengah menunduk kepada kakaknya.


Yue Xin tersenyum dan segera menegakkan tubuh Yue Fang. “Adik, terima kasih atas ucapanmu. Tidak perlu minta maaf, semua terjadi dadakan jadi ini bukan salahmu.”


Yue Fang mengangguk, ia tahu cerita perjodohan dadakan yang terpaksa diterima Yue Xin. Itulah sebabnya ia ikut mencemaskan nasib kakaknya yang ia kira akan tersiksa lahir batin menerima takdirnya. Tetapi setelah melihat ia kembali bersama suaminya dengan penampilan yang segar dan tampak bahagia, Yue Fang merasa sedikit lega. Mungkin kekhawatirannya berlebihan, mungkin Yue Xin telah menerima dengan ikhlas pernikahannya dan pria yang kini menjadi suaminya bisa membahagiakannya.


“Apa kak Yue Yan sudah sampai?” Tanya Yue Xin membuyarkan lamunan Yue Fang.


“Belum, tapi katanya dia akan langsung ke rumah sakit, jadi aku tidak perlu menjemputnya.” Gumam Yue


Fang.


Yue Xin mengangguk, “Syukurlah, kalau begitu kita langsung ke rumah sakit saja.”


Yue Fang terdiam sejenak lalu menyampaikan apa yang dipesankan Liang Jia padanya. “Kak, ibu memintaku menyampaikan pesan ini padamu dan kakak ipar. Aku mewakili ayah, meminta maaf pada kakak ipar karena tidak bisa memberikan sambutan selayaknya tradisi yang kita jalankan. Kondisi ayah yang tidak terduga, membuat Ibu lupa bahwa ini hari kepulangan kalian. Kelak kami akan menjamu kalian dengan istimewa sebagai ganti hari ini.”


Yue Xin memandang suaminya, jika menuruti perasaannya jelas ia tidak mempermasalahkan itu. Tetapi ia tidak tahu bagaimana pendapat suaminya, Yue Xin pun khawatir jika pria itu mempermasalahkanya.


“Tidak masalah, aku juga tidak terikat adat. Fleksibel saja, ini juga bukan waktu yang tepat untuk perayaan.”


Jawaban pria itu melegakan hati tiga wanita di sana. Yue Xin sangat bersyukur karena pengertian dari suaminya tidak memperkeruh situasi yang sudah runyam.


“Kalau begitu, kita segera ke rumah sakit saja.” Ucap Yue Fang yang ikut lega mendengar jawaban kakak iparnya.


***


Dalam ruangan putih yang lumayan luas itu, Yue Yan menggenggam tangan keriput milik ayahnya yang dulu sangat perkasa. Ia duduk di tepi bangsal tempat Li San berbaring dengan pikiran yang carut marut. Dulu, keika tangan kokoh itu masih leluasa melakukan apapun, Yue Yan tak pernah punya kesempatan untuk menggenggamnya. Sang ayah terlalu ambisius mengejar duniawi, terlena kekuasaan hingga lupa memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Namun sekarang, tangan itu tak berdaya, Yue Yan bisa leluasa mengelus, menggenggam dan mengekspresikan kasih sayangnya pada pria tua itu tanpa perlu takut ditolak. Melihat kenyataan itu justru membuat


Yue Yan sedih, ia berlinang air mata saat menggenggam erat tangan Li San.


“Ayah, ini aku... Yue Yan. Sudah sekian lama tidak berjumpa, aku merindukanmu. Sebentar lagi adik-adik akan datang menemuimu, ayah tahu kan Yue Hwa sekarang dalam perjalanan kemari. Kita sekeluarga akan berkumpul, ayah. Kita akhirnya berkumpul lagi.” Yue Yan berkata-kata dengan penuh semangat, berharap semangat itu bisa menulari ayahnya agar segera membuka mata. Tetapi senyuman yang ia paksakan lebar itu akhirnya hilang juga, saat melihat Li San tetap bergeming. Yue Yan merasa tengah bicara dengan patung saja, sontak senyum yang tadi muncul itu berubah menjadi isakan putus asa.


Liang Jia keluar dari kamar mandi, setelah bisa bergantian menjaga Li San saat putri sulungnya datang. Wanita tua itu baru bersemangat untuk merapikan diri begitu mendapatkan kabar dari Xiao Jun bahwa ia akan membawa pulang Weini hari ini. Liang Jia merapikan diri demi menyambut putri bungsunya. Setidaknya ia tidak ingin memberi kesan menyedihkan di momen pertemuan kembali mereka.


“Yue Yan, sudahlah... tenangkan dirimu. Ibu yakin, ayahmu pasti bisa mendengarmu.” Liang Jia menepuk pelan pundak Yue Yan hingga gadis itu menoleh menatapnya.


“Tapi ayah tetap diam, bu.” Lirih Yue Yan putus asa.


Liang Jia kini mulai bisa menarik seulas senyuman, ia mengerti apa yang dirasakan Yue Yan. Sebelum putri


pertamanya tiba, ia pun berpikiran sama seperti itu. Tetapi semakin ke sini, Liang Jia makin berbesar hati menerima kenyataan. “Sabar ya, kita hanya sanggup berusaha, selebihnya biarlah takdir yang menentukan. Kita berharap yang terbaik saja untuk ayahmu.” Ujar Liang Jia menghibur Yue Yan.


Apa lagi yang bisa dilakukan? Ketika semua usaha telah dilakukan sebatas kemampuan manusia, hanya berharap ada keajaiban yang bisa mengembalikan segala keadaan ini menjadi lebih baik.


***


Xiao Jun duduk di sebelah Weini dalam jet pribadinya. Setelah mengkonfirmasi dengan pilot, Xiao Jun harus menyampaikan sesuatu yang penting pada gadis itu. Weini lebih banyak terdiam, bukan melamun tapi tampak berpikir keras. Xiao Jun tak tega melihat kekasihnya yang seolah tidak ada waktu beristirahat dari masalah. Kali ini ia pun harus tega mengusik diamnya Weini dengan masalah yang harus ia keahui. Xiao Jun menepuk pelan pundak Weini hingga gadis itu melihat ke arahnya.


“Kita tidak bisa mendarat di rumah sakit, terpaksa kita harus turun di rumahmu dulu. Setelah itu berangkat ke rumah sakit dengan mobil, kau tidak keberatan kan?” Tanya Xiao Jun perhatian.


Weini memperlihatkan senyumannya lalu mengangguk pelan. “Atur saja Jun.”


Xiao Jun membalas senyuman gadisnya, ia menatap lekat lalu menarik angan Weini dalam genggamannya. “Jangan terlalu cemas, yakinlah ayah Li San pasti terselamatkan.”


Weini tersenyum getir, ia menghindari tatapan Xiao Jun. “Aku sedang berpikir, mengapa keluargaku punya sekelumit masalah yang besar? Sebenarnya apa penyebabnya? Aku belum bisa menemukan jawabannya. Dulu aku berharap kembali secara terhormat dan membuktikan aku pantas diterima keluargaku, tapi nyatanya aku kembali saat ayahku....” Weini tidak sanggup meneruskan lagi, air mata kekecewaannya mengalir lagi. Ia tak bermaksud tampil cengeng di hadapan Xiao Jun, tetapi hatinya tak kuat jika menyangkut masalah keluarga.


Xiao Jun merangkul Weini dalam dekapannya, membiarkan gadis itu menyembunyikan tangisannya dalam


dada bidangnya. “Kamu sekarang pulang dengan terhormat, aku tahu betul apa yang dipikirkan kedua orangtuamu. Aku berada di sana bersama mereka, ketika ayah Li San dan ibu Liang Jia memintaku membawamu pulang.ayah Li San sudah tahu kekhilafannya di masa lalu, ia sangat ingin bertemu kamu dan minta maaf atas kejadian dulu. Meskipun sekarang ayah Li San belum sadar, kepulanganmu tetap ia harapkan. Jadi jangan pernah menyiksa diri lagi dengan pikiran buruk, kamu sungguh sangat dinantikan keluargamu.”


Penjelasan Xiao Jun nyatanya berhasil menenangkan Weini, ia bisa merasakan anggukan gadis itu dalam


pelukannya. Beberapa menit berlalupun, Weini masih nyaman berada dalam dekapan prianya. Hingga tidak terasa, waktu yang mereka tunggu akhirnya tiba. Jet perlahan mengurangi kecepatan dan menurun dari ketinggian. Waktu pendaratan sesaat lagi, Weini benar-benar pulang ke rumah masa kecilnya lagi.


“Kita sudah hampir mendarat, duduklah yang tegak.” Bisik Xiao Jun, perlahan Weini pun melepaskan diri dari pelukan Xiao Jun dan menurutinya.


Xiao Jun menyunggingkan senyuman pada Weini yang menoleh ke luar mengintip jendela. Gadis itu berbinar melihat pekarangan rumahnya yang luas.


“Selamat datang kembali ke istanamu, Yue Hwa.” Gumam Xiao Jun pelan.


***