OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 226 THE WEDDING OF WEN TING AND LI AN



Aku percaya, yang akan tertawa pada akhirnya adalah dia yang bersedia mengalah


Mengalah ketika keadaan menjauhkannya dari kata bahagia


Mengalah saat roda kehidupan seakan berhenti di posisi bawah


Mengalah seolah kalah dari persaingan hidup yang tanpa mata


Terima kasih, wahai penderitaan ….


Berkatmu, aku menjadi orang yang tertawa paling lama di akhir kisah ini.


_Quote of Li An_


***


Li An masih berada di kamar hotel yang dijadikan kamar rias sekaligus tempat berkumpulnya keluarga inti. Ada Xin Er, Liang Jia dan Xiao Jun yang lebih awal siap dengan kostum rapi dan formal. Mereka adalah orang penting dalam acara special ini, meskipun Li Mei tidak bisa datang lantaran ajakan yang terlalu mendadak. Namun putri sulung Wei itu berjanji akan hadir pada resepsi pernikahan Li An di Beijing.


“Kamu sangat cantik, Li An.” Xin Er memuji paras ayu sang pengantin wanita yang terlihat sempurna dengan riasan wajah yang komplit. Sesaat lagi Xin Er akan menutup kain merah pada kepala Li An, menutupi wajah itu untuk


dibuka oleh sang suami ketika dipertemukan dalam upacara adat.


“Terima kasih, ibu. Pasti secantik ibu waktu jadi pengantin.” Li An membalas pujian ibunya, untuk saat ini ia merasa menjadi gadis paling beruntung dan bahagia di dunia. Ya, ini memang hari istimewanya, wajar ia bertindak layaknya ratu sehari.


Kain merah yang dipegang Xin Er akhirnya di gerai, dengan tangan gemetaran karena terharu Xin Er menutupi wajah cantik Li An. Betapa bahagianya Xin Er dapat menyaksikan dan terlibat dalam pernikahan putrinya, sewaktu Li Mei menikah ia tidak diijinkan berfungsi sebagaimana mestinya orangtua. Ia menyayangkan nasib Li Mei yang menikah dengan sangat sederhana tanpa menjalankan tradisi secara lengkap, untung saja suami Li Mei bertanggung jawab


dan sangat menyayanginya sehingga Xin Er bisa merasa lega.


Wei Ming Fung, lihat anak gadismu menikah. Kau harus merestuinya dari sana! Aku wakilkan kau melakukan apa yang seharusnya kita lakukan berdua. Semoga kau segera memenangkan perjuangan ini dan kita kembali bersama.


Di hari penting ini, Xin Er tak mungkin lupa kepada suaminya. Ia pun yakin suara hatinya akan tersampaikan pada belahan jiwanya itu. Li An telah siap, waktu yang ditentukan juga semakin dekat. Xiao Jun masuk bergabung dalam ruangan itu, ia mengenakan cheongsam sutra berwarna emas dengan corak naga merah. Setelah mengangguk hormat pada ibunya, Xiao Jun sigap dengan tugas yang diembankan padanya.


“Sudah siap kak?” Tanya Xiao Jun pelan.


Li An mengangguk pelan, mahkota besar di atas kepalanya menghalangi gerakan. Ia mesti berhati-hati hingga atribut itu dilepaskan. Isyarat Li An diterima Xiao Jun, ia pun menggandeng kakaknya menuju ballroom tempat berlangsungnya acara. Xiao Jun lah yang harus menyerahkan Li An untuk dipersunting pria yang akan menjadi teman hidupnya. Meskipun bukan Xiao Jun yang menjalankan upacara pernikahan, namun ia ikut merasa gugup.


“Tanganmu dingin banget, Jun.” Ledek Li An lewat bisikan.


Xiao Jun tetap berjalan pelan dan gagah, pandangannya tertuju ke depan mengikuti karpet merah. “Kamu juga, kak.” Bisiknya tanpa mengalihkan tatapan.


Wen Ting terkesima, sorot matanya sangat berbinar, pupilnya membesar menyiratkan kekaguman pada apa yang ia lihat di hadapannya. Ia berjalan dengan gagah menghampiri Li An yang diapit Xiao Jun dan menunggunya di depan pintu. Mulai dari sana, tugas Xiao Jun akan diambil alih oleh Wen Ting.


Tamu yang hadir sebagai saksi hidup bersatunya dua manusia itu hanyalah orang-orang terpilih. Jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari, mengingat hanya segelintir orang prioritas yang mereka undang. Beberapa sanak keluarga Wei yang masih tersisa serta Liang Jia dan beberapa pelayannya. Li An ingin konsep yang sederhana, namun Wen Ting malah menghias gedung begitu meriah. Cara itulah yang ia pilih untuk menyenangkan wanitanya.


***


Grace mematut diri di depan cermin besar yang memantulkan bayangan dirinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gaun panjang berwarna krem terlihat cocok dengan postur tubuhnya yang tinggi langsing, ia menyanggul


rambut dan menyisakan sedikit helaian di samping wajah. Langkah terakhir tinggal memoles bibir dengan warna nude yang terkesan seksi dan simpel.


Ini hari bahagia keluarga Xiao Jun yang juga sudah dianggap menjadi keluarganya. Grace memastikan ia tampil memukau agar serasi dengan pasangannya. Sempurna! Riasan wajah dan keseluruhan dirinya sangat mengesankan. Ia siap menjadi partner Xiao Jun dalam acara formal itu. Pelayannya mengenakan sepatu hak tinggi yang sudah ia siapkan sejak semalam.


Besok ia akan terbang ke Jakarta bersama Xiao Jun, namun sejak minggu lalu Grace telah menyiapkan keperluan yang akan dibawa, sisanya akan jadi milik pelayannya. Hati Grace berbunga-bunga, ia yakin akan ada yang datang menjemputnya. Entah Xiao Jun atau pengawalnya, ia tak peduli asalkan bisa membawanya ke lokasi pesta.


“Nona, belum ada yang datang sampai sekarang.” Pelayan itu dengan hati-hati mengatakannya, takut menyinggung perasaan Grace.


Grace mengedarkan pandangan, hari beranjak siang dan ia tidak tahu jam berapa acara dimulai. Sebenarnya tidak ada seorangpun dari pihak Xiao Jun yang memberitahunya, Grace hanya memiliki keyakinan bahwa ia berkesempatan hadir dalam acara keluarga itu. Kalau bukan pelayan setianya yang membeberkan informasi, Grace jelas tidak tahu bahwa keluarga Wei akan berpesta di hotel mewah hari ini.


“Sebentar lagi palingan ….” Jawab Grace masih optimis.


Benar saja, suara ketukan pintu terdengar nyaring di kamarnya yang sepi. Seseorang ada di luar sana, Grace bergegas menyuruh pelayannya membukakan pintu. Sementara ia berdiri dengan sepatu heels sepuluh centi dan sekali lagi mematut diri.


“Saya datang untuk menemui nona Grace.” Lau menyampaikan maksud kedatangannya pada gadis pelayan itu. Lau tidak datang sendiri, ada seorang gadis dengan postur tubuh tinggi besar bak body guard yang berdiri di sampingnya.


“Siapa di sana? Masuklah!” teriak Grace yang mendengar suara Lau. Perasaannya seakan membumbung tinggi saking bahagianya. Feelingnya benar, akan ada yang datang menjemputnya.


Lau menunduk hormat saat melihat Grace menyambanginya, mempersilahkannya masuk ke dalam bersama gadis yang ia bawa. Grace memincingkan mata menatap gadis cantik berlengan kekar di samping Lau namun ia menahan diri untuk bertanya. Tidak ada yang lebih penting selain segera bertemu Xiao Jun sekarang.


“Nona, perkenalkan ini adalah Fang-Fang. Mulai sekarang dia menjadi pengawalmu dan ikut ke Jakarta.” Lau to the point, tugasnya kemari memang untuk itu.


“Oh.” Grace berkomentar singkat, lalu menatap gadis bernama Fang-Fang itu dengan seksama. Cantik namun terlihat galak, berbeda dengan pelayan lamanya yang feminim.


“Pengawal Lau, kau datang menjemputku juga kan? Aku sudah siap, ayo kita berangkat!” ujar Grace bersemangat, urusan pengawal tidak menarik perhatian. Yang sekarang ia inginkan hanyalah berada di pesta bersama Xiao Jun.


Senyum Lau mengerut, Grace salah paham dengannya. Gadis itu berharap terlalu tinggi, Xiao Jun hanya berpesan pada Lau untuk mengantarkan pengawal ke tempat Grace, dan tidak ada perintah untuk mengajaknya bergabung dalam acara privat itu.


“Maaf nona, kedatangan saya sesuai instruksi tuan muda. Sebaiknya anda berisitrahat lebih banyak untuk persiapan keberangkatan besok.” Tolak Lau dengan alasan yang ia karang sendiri.


Grace berubah jutek, wajahnya penuh gurat kecewa dan marah. Ia merasa diabaikan, dilupakan bahkan dihempaskan begitu saja. Apa maksud Xiao Jun tidak mengijinkannya berada di acara sepenting itu? Li An adalah kakak iparnya, mengapa ia tidak boleh hadir?


“Aku tak butuh istirahat! Bawa aku ke sana sekarang juga!” pekik Grace kesal, ia serius dengan ucapannya.


***