
Hanya perlu waktu sebentar bagi Haris untuk melihat kondisi Bams, setidaknya dengan sedikit sentuhan tangannya untuk mentransfer energi pada pak sutradara itu, sudah sangat membantu Bams untuk lolos dari masa kritisnya. Jika hanya sekedar keadaan medis, Haris masih sanggup turun tangan sekarang. Tenaganya belum sepenuhnya pulih dan tak bisa dipaksakan untuk bertempur secara gaib.
"Dia sudah membaik, tidak perlu operasi lah. Kasihan nanti pemulihannya lama, minta dokter untuk memeriksa sekali lagi dan bilang pihak keluarga menolak operasi." Ujar Haris begitu keluar dari ruangan Bams, pesannya dimaksudkan untuk Lau yang berjaga di luar pintu.
Lau mengangguk paham, "Baik Da Ge."
Xiao Jun dan Wen Ting diam takjub sesaat, betapa luar biasa kemampuan Haris padahal dalam kondisi terbatas.
"Ayah sungguh melakukannya? Apa ayah baik-baik saja?" Tanya Xiao Jun cemas.
Haris tersenyum tipis, "Tenanglah, seorang guru spiritual yang baik tidak akan memaksakan diri melakukan hal yang tidak ia sanggupi, ataupun melukai dirinya." Jawab Haris meyakinkan putra dan menantunya.
Haris menatap ke meraka, satu pertanyaan langsung mencuat lagi. "Oya, di mana ruang perawatan anak buah Chen Kho? Kita harus segera menemuinya."
"Dokter masih memeriksanya, ada polisi juga yang menjaga ruangannya. Sepertinya kita tidak bisa sembarang bertindak sekarang, ayah." Jelas Xiao Jun.
Haris menggeleng pelan, "Kejadian ini ada sangkut pautnya dengan masalah nona Weini. Kita berhak campur tangan karena ini juga bagian dari penyelidikan kita. Tunjukkan aku tempatnya, urusan polisi itu serahkan padaku."
Tak perlu waktu lama untuk Xiao Jun patuh pada perintah ayahnya. Ia memimpin jalan, di belakangnya ada Wen Ting dan Haris yang mengikuti. Mereka sampai di dekat sebuah ruangan yang tampak dijaga oleh seorang polisi. Harispun mendekati polisi itu lalu meminta putra dan menantunya diam di tempat.
Polisi itu mengamati Haris yang berjalan mendekatinya, Terlebih saat pria itu tersenyum ke arahnya. Dugaan polisi itu keliru, ia mengira Haris akan menghampirinya namun ternyata hanya sekedar lewat saja. Tatapan polisi itu mulai kosong saat Haris mulai mengacaukan alam bawah sadarnya.
"Perutmu mulas, kamu diare dan perlu ke toilet dua puluh menit." Lirih Haris menanamkan sugesti ke pikiran polisi itu.
Polisi itu bergidik, seketika itu pula ia sadar lalu merasakan perutnya mulas. Sambil memegangi perutnya, polisi itu lari ngibrit menuju toilet. Haris hanya berdiri melipat tangannya, ia belum melangkah dari tempatnya berdiri. Sementara itu di belakang, Xiao Jun dan Wen Ting tampak takjub meskipun bingung apa yang sudah ayah mereka lakukan.
"Wuahh... Ayah mertua, jurus apa yang kau pakai sampai dia kabur begitu?" Tanya Wen Ting terkagum-kagum, ia dan adik iparnya sudah menyusul Haris.
Pertanyaan yang sama dari Xiao Jun dan sudah diwakilkan oleh Wen Ting. Ia hanya perlu menatap ayahnya untuk menunggu jawaban.
Haris tersenyum tenang, "Hanya sedikit main-main dengan pikirannya. Cepat masuk, kita hanya punya waktu dua puluh menit." Seru Haris yang langsung berjalan menuju ruangan itu, begitu pula Wen Ting dan Xiao Jun.
Setelah masuk ke dalam, Haris menyentuh gagang pintu guna membuat sekat sihir di sana. Tidak akan ada yang mengganggu mereka sebelum mereka keluar, bahkan dari luar pun orang-orang tak bisa melihat ruangan ini.
Pasien itu tampak berbaring dengan berbagai selang di tangannya. Ketika Haris dan yang lainnya melihatnya, pria yang masih mengenakan seragam pengawal serba hitam itu ternyata sadarkan diri. Raut wajahnya langsung panik saat tahu siapa yang datang padanya. Ia mulai tak tenang, tangannya mulai bergerak seolah hendak pergi dari hadapan mereka.
Haris tersenyum simpul, begitu Xiao Jun ini mendekati dan mengintrogasi anak buah Chen Kho itu, Haris langsung mengambil alih. Ia mencegat Xiao Jun dengan satu tangan yang melintangi putranya.
"Biar ayah saja, belajar dari pengalaman, jangan biarkan dia mati bunuh diri demi tutup mulut. Racun di bawah lidahnya harus dikeluarkan dulu." Bisik Haris yang langsung diangguki oleh Xiao Jun.
"Tenanglah, aku tidak akan membunuhmu. Setidaknya aku masih punya hati untuk mengampunimu." Ujar Haris pelan.
Mata Haris tajam melihat gerak-gerik pria itu yang mencurigakan, terutama bagian mulutnya. Dan begitu pria itu mengeluarkan sesuatu yang ia kulum, Haris dengan cekatan mencengkeram rahangnya dan memaksanya membuka mulut. Pria itu memberontak, tapi tak punya daya lantaran Xiao Jun dan Wen Ting lebih kuat menahan tubuhnya hingga tak bisa melawan.
Haris memukuli tengkuknya hingga pria itu memuntahkan apa yang disembunyikan dalam mulutnya. Sebuah pil kecil lunak berwarna transparan itu berhasil ia muntahkan. Racun yang harus digigit saat terdesak dan tak bisa lari dari musuh itu sangat familiar bagi Haris, hanya diktator lah yang tega mengorbankan nyawa anak buahnya tak berharga seperti itu.
"Anak muda, setia itu perlu tapi tidak membabi buta. Kau jelas tahu melakukan hal yang salah besar, tapi masih mau ambil resiko kehilangan nyawa. Selama bersamaku, kamu tidak akan kubiarkan mati." Ucap Haris tegas. Ia tak peduli dengan tatapan putus asa pengawal Chen Kho itu, untung saja ia pun tak lagi memberontak.
"Apa yang harus kita lakukan padanya ayah?" Tanya Xiao Jun menunggu perintah selanjutnya dari Haris.
Haris tampak berpikir, selagi masih ada waktu sampai efek sihirnya lenyap, ia harus menimbang rencana yang akan ia lakukan selanjutnya. Haris manggut-manggut sendiriz kemudian menatap penuh arti pada putranya.
Ditatap seperti itu dari ayahnya, membuat Xiao Jun canggung. Entah apa yang direncanakan ayahnya sekarang. Wen Ting lebih pasif, ia merasa sangat bangga bisa menjadi saksi mata ayah mertuanya melakukan hal-hal yang memukau.
"Jun, aku mengandalkanmu untuk membawanya pergi dari sini." Ucap Haris sungguh-sungguh.
Xiao Jun mengerutkan dahi, ia harus terang-terangan mencuri pasien yang sedang dalam pantauan polisi. Rasanya seperti sengaja memacu adrenalinnya di antara kesempatan yang tipis untuk memenangkan peluang sempit ini. "Ayah, ini tidak bisa dilakukan tanpa persiapan. Jika aku membawanya pergi sekarang, sama saja aku menetang hukum di sini." Resah Xiao Jun dengan rencana ayahnya yang kurang matang menurutnya.
Haris tersenyum tipis, ia bahkan menggeleng pelan. "Nak, jangan lupakan bahwa kamu adalah keturunan Wei. Kita punya jurus untuk kabur dengan aman. Ini saat yang tepat untuk kamu membuktikan kemampuanmu." Seru Haris penuh makna.
Xiao Jun mengerutkan dahi, ia mencerna perkataan ayahnya hingga terpikir olehnya satu jurus sihir andalan klan Wei, jurus menghilangkan diri untuk kabur. "Aku belum pernah praktek itu ayah, jika tidak berhasil...."
Haris memotong pembicaraan putranya, "Sihir tak hanya sekedar menghapal mantera, memiliki tenaga dalam yang kuat, tapi di antara hal penting itu, yang paling utama adalah kemampuan dirimu untuk percaya. Kamu harus percaya, baru bisa berhasil menjalankan sihirnya."
Secercah senyuman Xiao Jun menyungging begitu mendengar motivasi itu. Ia mengangguk mantap seraya berkata, "Baik ayah. Aku mengerti!"
Xiao Jun menyanggupi tugas itu, dibantu Wen Ting dan Haris yang sudah mencopot segala peralatan yang menempel di tubuh pengawal itu. Wen Ting bahkan membantu agar tubuh tak berdaya pengawal itu sampai dalam gendongan punggung Xiao Jun.
"Aku sudah siap, ayo kita pergi!"
"Kamu jalan dulu, tunggu kami di apartemen." Jawab Haris santai.
Xiao Jun mengernyit, "Apa lagi yang mau ayah bereskan?"
Haris dengan wajah tenangnya menjawab, "Sentuhan terakhir untuk membuat fatamorgana, biar polisi dan semua orang percaya bahwa dia sudah mati." Seru Haris dengan seringai di wajahnya.
***