
“Jadi kamu belum bisa pulang ke sini?” Suara Stevan terdengar berat saat melontarkan pertanyaan itu. Jelas-jelas ia tahu jawabannya sudah pasti Grace tak bisa pulang, setelah cerita panjang lebar yang disampaikan Grace padanya dalam percakapan di telpon. Hanya saja Stevan merasa berat mengakui kenyataan bahwa ia harus kembali bersabar menahan rindu pada gadis itu.
Grace pun terdengar menghela napas, “Maafkan aku Stev, sepertinya memang begitu. Aku tidak mungkin
meninggalkan paman dan tanteku begitu saja. Mereka perlu ditenangkan, apalagi Weini belum ada kabarnya.” Ujar Grace sedih. Dalam kediaman Li sekarang tidak ada yang tenang, bahkan masih banyak pelayan yang terjaga karena simpati terhadap kesedihan tuan dan nyonya rumah ini. Bagaimana mungkin Grace tega membiarkan dua orangtua Weini itu terbebani kekhawatiran dan kesedihan tentang Weini begitu saja. Apalagi yang menyebabkan kekacauan besar itu juga karena ayah dan kakaknya.
Agak berat bagi Stevan menahan rindu pada gadis itu lagi, namun apa boleh dikata keadaan memang kacau seperti ini. Stevan menghela napas kasar, “Setelah Xiao Jun kembali dan mengurus masalah ini, aku akan menyusulmu ke sana. Akan lebih baik jika kamu punya seseorang untuk berbagi di saat begini.” Ucap Stevan pelan.
Grace justru gelagapan mendengar niat baik Stevan, bukannya ia tak ingin pria itu ada di dekatnya namun kondisi jelas tak memungkinkan. “Jangan Stev, kamu cukup tunggu aku kembali saja. Ini bukan rumahku, lagipula keadaan masih sangat kacau. Kalau kamu datang, aku justru bingung harus membagi peran antara fokus pada paman dan
tanteku atau ke kamu.”
Stevan terdiam tetapi ia cukup paham posisi Grace. Kerinduannya memang membuncah namun jangan sampai
terbutakan oleh keegoisan, ia masih sabar menunggu dan akan terus menunggu gadis itu kembali. “Aku mengerti, kamu jaga diri di sana dan sering kabari aku. Mulai sekarang jangan tutupi apapun dariku.” Pinta Stevan dengan lembut.
Grace terharu mendengarnya, untuk pertama kali ia merasa sangat dicintai oleh seseorang dengan tulus. Ia mengangguk pelan, meskipun Stevan tak bisa melihatnya namun ia cukup puas merasakan kebahagiaan itu. “Ya, kamu juga sering-sering bersama Fang Fang saja, dia akan melindungimu.” Pinta Grace.
Stevan mengernyit heran, “Kamu nggak salah kah, kenapa menyuruh wanita melindungiku?” Protes Stevan hingga lupa menjaga suaranya. Fang Fang langsung melirik tajam padanya lantaran sadar sedang disindir. Melihat lirikan Fang Fang, spontan Stevan merasa bulu kuduknya merinding. Mungkin ada benarnya juga gadis itu tidak bisa
diremehkan.
“Ng, Stev sudah dulu ya. Aku masih ada urusan. Bye....” Grace memutuskan sepihak panggilan itu setelah mendengar suara Liang Jia yang sudah kembali ke kamar.
Dari raut wajah Liang Jia bisa ditebak bahwa ia belum menemukan jalan keluar untuk kekacauan di luar
sana. “Pamanmu masih tidur kan?” Bisik Liang Jia pada Grace.
Grace mengangguk pelan seraya berbisik juga, “Iya tante, bagaimana hasil diskusi tante?” Grace sungguh penasaran dengan hasil rapat rahasia dengan seorang tangan kanan Liang Jia di ruang lain. Saat menitipkan Li San padaya, Liang Jia memang mengabari Grace bahwa pengawalnya mendapati fakta mengejutkan di luar terkait desakan media pada keluarga Li.
“Masih kacau, aku harus segera menggelar konferensi pers. Mereka sedang menghubungi media agar berkumpul di aula utama, aku terpaksa harus angkat bicara saat ini juga sebelum semua ini makin kacau.” Jelas Liang Jia, terlihat gurat lelah di wajah tuanya. Semestinya wanita yang sudah berumur seperti dia harus lebih banyak menenangkan diri dan beristirahat, tetapi di usia senjanya masih dibebankan pikiran dan masalah seberat ini.
Grace tampak terkejut, ia buru-buru mengingatkan Liang Jia akan satu hal. “Tante, bukankah aula utama masih berantakan karena kekacauan tadi siang? Sebaiknya arahkan media ke tempat lain saja, jangan biarkan mereka tahu kejadian buruk yang lainnya.”
Liang Jia ikut terkejut, benar saja ia lupa dengan kondisi aula yang memang sering dibuka untuk orang luar. Hari ini terlalu panjang dengan masalah berat yang silih berganti, pikirannya pun sudah tak mampu mengingat jelas. “Kau benar, terimakasih sudah mengingatkan. Aku akan keluar lagi sebentar untuk menyuruh pengawal mengarahkan pers ke paviliun anak gadisku.” Ujar Liang Jia yang diangguki Grace.
Baru saja Liang Jia membalikkan badan, suara Li San terdengar mengejutkannya hingga ia kembali menghadap ke belakang. Liang Jia melihat suaminya yang berusaha bangun dari tempat tidur, bergegas ia dan Grace berlari mencegahnya.
“Kamu masih lemah, tidurlah... Jangan paksakan diri bangun dulu.” Ujar Liang Jia perhatian, dengan telaten dia merebahkan tubuh lemah Li San yang masih dipakaikan selang infus akibat dehidrasi parah.
Li San tersenyum getir mendapatkan perhatian dari istrinya. Selama ini hatinya terlalu kerdil hingga tak melihat kasih sayang yang tulus dari orang terdekatnya. “Aku dengar kamu mau bertemu wartawan, biar aku saja yang menghadapinya. Kamu jangan tersorot, aku tidak mau kamu terbebani.” Jawab Li San perhatian, ia tidak
sungguh-sungguh tidur maka ia bisa mendengar apa yang kedua wanita itu bicarakan.
Liang Jia menggeleng pelan, “Jangan! Kamu jangan muncul dengan kondisi seperti ini, masyarakat akan
“Dan mendoakanku segera mati, bukan? Aku tahu apa yang kau cemaskan, mereka memang mengharapkan
kematianku. Tapi biarkan saja, semua pasti akan mati, aku tidak perlu bersembunyi hanya karena takut doa mereka.” Tegas Li San.
Liang Jia tetap tidak setuju, ia menggeleng kepala dengan cepat. “Aku bahkan tidak menunjuk juru bicara kediaman kita untuk turun tangan, aku pun tidak akan membiarkanmu terlihat lemah di hadapan semua orang. Saat ini aku hanya perlu kau mempercayaiku. Suamiku, aku bisa melakukan bagian ini dengan baik asal kau mau percaya.” Tegas Liang Jia. Keseriusannya membungkan telak Li San serta Grace yang hanya berdiri sebagai penonton.
***
“Mbak, apa kau masih lama?” Tanya polisi yang bersama Dina dan menunggunya di depan pintu toilet sudah hampir setengah jam, tetapi Dina tak kunjung keluar dari sana.
Dina kian geregetan mendengar desakan dan ketukan pintu yang semakin nyaring suaranya dari luar. Ia
menghentakkan kakinya dengan posisi duduk di atas kloset duduk. Kepanikan begitu mudah menyerangnya sekarang lantaran ia sungguh terjebak situasi rumit. Sepuluh chat dikirimkan pada Xiao Jun namun ponsel bos muda itu tidak aktif. Dina tidak tahu harus beralasan apalagi agar bisa berkelit dari polisi itu.
“Mbaak!” Kini suara ketukan berubah menjadi gedoran lantaran Dina belum juga merespon panggilan polisi itu.
Dina gelagapan, “I... Iya, sabar pak.” Ia buru-buru bangun dari duduk lalu menarik napas sebelum membuka pintu toilet.
Kepalanya menyembul keluar dari celah pintu lalu menatap polisi itu dengan tatapan melas. Polisi itu pun ikut canggung karena mengira Dina mungkin belum berpakaian utuh hingga hanya mengeluarkan kepalanya saja untuk menghadapnya.
“Maaf pak, aku belum bisa keluar dari sini. Barang pesananku belum sampai, mungkin pagi baru bisa diantarkan.” Alasan Dina dengan tampang meyakinkan.
Polisi itu mengernyit heran, tak mengerti apa yang Dina maksud. “Apa yang kamu pesan sampai harus menunggu dalam toilet? Kalau kamu butuh sesuatu, bisa dibeli sambil berangkat ke kantor.”
Dina harus menunjukkan kemampuan actingnya lagi, hanya ini satu-satunya kesempatan ia bertahan menunggu Xiao Jun kembali. “Ng... Itu... Aku nggak bisa keluar dari sini pak. Tamu bulananku datang sekarang, aku tidak bisa keluar tanpa pembalut. Kecuali anda mau membelikannya.” Ujar Dina pura-pura gugup, padahal dalam hatinya ingin tertawa melihat ekspresi canggung polisi itu saat mendengar ia menyuruhnya membeli keperluan wanita itu untuknya.
“Itu bisa dibeli di jalan, yang penting anda ikut ke kantor dulu.” Ujar si polisi yang terlihat agak malu menanggapi Dina.
Dina pasang wajah jutek, “Oh, jadi bapak mau bilang bapak nggak percaya kalau saya lagi itu. Apa bapak mau lihat buktinya? Bapak mah nggak bakal ngerti gimana repotnya wanita kalau lagi dapat, jangankan sampai ke toko emparan, berjalan keluar dari sini saja sudah kotor semua. Bapak mau permalukan saya?” Tegas Dina yang malah lebih galak daripada polisi itu.
Polisi itu salah tingkah, dengan berat hati ia sengaja berdehem untuk menjaga kharismanya. “Ya sudah, akan saya tunggu sampai pesanan anda datang. Jangan berusaha untuk kabur sebelum memberi keterangan di kantor.”
Dina tampak diam, tanpa memberi jawaban lagi, ia pun bergegas menutup kembali pintu lalu duduk lagi di tempat tadi. Kepalanya tertunduk, dibiarkannya rambut panjangnya menjuntai menutupi wajahnya. Ia mulai frustasi lagi menghadapi semua ini, tanggung jawab yang diembannya belum terlaksanakan dan ternyata tak semudah itu
menyampaikan amanah Weini pada Xiao Jun.
Tuan, cepatlah kembali. Aku tidak tahu bisa bertahan berapa lama lagi, aku juga tidak tahu harus menjelaskan apa di kantor polisi. Rahasia nona Weini... Aku tidak mau membongkarnya pada siapapun selain kamu. Lirih Dina dalam hati, ia tak pernah berharap seserius ini pada kehadiran seseorang.
Seakan jawaban yang terkabulkan, ponselnya terasa bergetar dan menyusul sebuah pesan masuk dari seseorang yang membuatnya tersenyum lebar.
***