OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 303 JATUH DALAM PERANGKAP



Hari baik bagimu mungkin menjadi hari buruk bagi yang lain


Sesungguhnya tidak ada sempurna dalam hidup ini, yang ‘terlalu’ pasti berujung menyakitkan


Terlalu bahagia, terlalu sedih, dan segala rasa yang berlebihan itu


Seimbangkan saja, tak perlu berlebihan atau kekurangan


Hidup yang sudah rumit, jangan ditambah rumit.


*Quote of Author *hehe sesekali boleh dong*


***


Di malam yang bertabur kebahagiaan bagi Weini, ada satu pihak yang juga ikut merasakan euforianya. Dalam sebuah kamar di belahan dunia lain, Chen Kho tersenyum puas menatap layar laptopnya yang menampilkan


foto-foto Weini. Pria itu tahu hari ini gadis itu bertambah usia, apa yang tidak bisa dicari dari artis setenar Weini di internet? Hanya saja, yang menarik bagi Chen Kho adalah tanggal lahir yang sama dengan sepupunya. Ia jelas turut bahagia, lebih tepatnya bahagia karena segalanya nyaris sempurna.


Pintu kamarnya berdecit, Kao Jing masuk menghampirinya tanpa permisi. Chen Kho langsung menutup layar laptopnya, menyembunyikan apa yang sedang ia cari dari dunia maya.


“Bagaimana persiapanmu?” Kao Jing mengambil posisi duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Chen Kho. Mata tajamnya menatap putranya, mengharapkan kabar baik yang jadi jawaban untuknya.


Chen Kho tersenyum menyeringai, “Sesuai kehendak ayah, semuanya pasti berjalan seperti yang kita mau.


Suara tawa Kao Jing membahana, kemenangan yang ia harapkan sudah terbayang dalam otaknya. Membayangkannya saja sudah sangat menyenangkan, apalagi setelah merealisasikannya. “Bagus, tinggal atur tanggal mainnya. Kita buktikan tanduk siapa yang lebih kuat pada akhirnya ha ha ha …”


Chen Kho hanya mengulum senyum, kepalanya menunduk sedikit sebagai isyarat patuh.


“Adikmu bagaimana? Apa dia masih berguna?” Tanya Kao Jing, tawanya mereda berganti nada serius.


Raut Chen Kho berubah serius begitu pembicaraan menyangkut Grace. Ia benci harus melibatkan adiknya, tapi apa daya semua anak Kao Jing memang harus punya andil. Sadar atau tanpa disadari, setuju atau memberontak, Kao Jing tidak akan peduli. “Ayah percayakan padaku, Grace akan menurut. Dia sudah berusaha keras, jangan salahkan dia.” Pinta Chen Kho, ia menunduk seraya memohon demi sang adik.


Kao Jing manggut-manggut, “Anak angkat itu tetap tidak menyukainya, kalau dia bersikeras membatalkan pertunangan maka kesempatan kita akan hilang. Rencana juga akan berantakan, kau jelas tahu resikonya.”


“Masalah itu ayah tidak perlu khawatir, aku sudah mengaturnya. Grace tinggal menjalankan sisanya.” Chen Kho meyakinkan ayahnya. Sama halnya dengan Kao Jing, iapun menaruh harapan pada saudaranya. Grace mungkin


tidak tahu apa yang mereka rencanakan, tapi setidaknya ia berpengaruh untuk mendekatkan kemenangan di pihak mereka.


Di sisi lain, Grace yang saat ini sedang dibicarakan ayah dan kakaknya sedang mengamati sebuah bungkusan kecil yang dikirimkan Chen Kho. Gadis itu terkejut mendapatkan paket dari Amerika tanpa pemberitahuan dan baru ia terima hari ini. Ia tertegun dan shock cukup lama, tangannya bergetar membuka bungkusan itu. Terlebih ada sebuah nota kecil terselip di sana yang dibubuhi tulisan tangan kakaknya.


***


Liang Jia tersenyum hingga menitikkan air mata, ia tak pernah menyangka akan ada kabar sebahagia ini setelah Yue Hwa menghilang. Video yang dikirimkan Xiao Jun sudah ditonton lebih dari enam kali, terus ia ulang hanya untuk mengobati rindunya pada putrinya yang terekam dalam berbagai ekspresi. Liang Jia ikut tersenyum, tertawa bahkan menangis ketika putrinya merasakan gejolak emosi itu sepanjang malam perayaan ulang tahunnya kemarin. Xiao


Jun mengabulkan permintaannya, inilah yang diinginkan Liang Jia dan dititipkan agar Xiao Jun melakukan untuknya.


“Xin Er, lihatlah.” Liang Jia melambai pada Xin Er yang masuk membawakannya cemilan. Wanita tua itu menaruh nampan ke meja lalu mendekat, Liang Jia menyodorkan ponselnya kemudian memutar video tersebut.


“Ah, ini acara ulang tahun nona kecil?” Xin Er berbinar melihat putranya yang tampak bahagia. Namun tak lama, ketika sorotan berganti pada Haris dan Li An, ekspresi Xin Er berubah tegang.


“Li An? Kenapa dia di sana?” Xin Er menatap cemas pada nyonya besarnya.


Xin Er meremas lengan baju panjangnya, ia sempat gugup namun setelah mendengar penjelasan Liang Jia, ia bisa bernapas lega. “Syukurlah. Aku sangat takut hal buruk terjadi pada mereka, nyonya.”


Liang Jia menggelengkan kepala, ia tersenyum memberi Xin Er semangat. “Li An ke sana untuk mengundang ayahnya ke pesta pernikahannya. Sekitar tiga minggu lagi putrimu akan menggelar acara besar, kamu harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Pesta itu sekaligus reuni keluargamu, aku turut berbahagia untukmu.”


Liang Jia berjalan menuju lemari pakaiannya, ia mengeluarkan sebuah dress yang digantung dan ditutupi plastik transparan. Nyonya besar Li itu menarik seulas senyum kemudian berjalan mendekati Xin Er yang masih terpaku di tepi ranjang. “Kamu harus tampil secantik mungkin, Wei pasti terpukau. Kamu tidak diijinkan menolak pemberianku, aku sudah menyiapkan ini dengan sepenuh hati. Desainer terkenal di kota ini yang merancangnya, kamu pasti


tampak sangat scantik saat memakainya.”


Liang Jia menyodorkan dress warna maron bertaburkan Swarovski yang dijamin pas ukuran tubuh Xin Er. Nyonya besar itu merencanakan dengan teliti, tanpa perlu dicurigai Xin Er, ia bisa mendapatkan ukuran tubuhnya lewat


bantuan pelayan yang lain.


Xin Er menerima pemberian itu dengan tangan bergetar. Seumur hidup baru kali ini ia memiliki gaun semewah ini, bahkan ketika menikah pun ia hanya mengenakan baju tradisional, bukan gaun modern seperti ini. “Saya sangat berterima kasih nyonya. Panjang umur, nyonya panjang umur.”


“Tidak perlu sungkan, hanya ini yang bisa aku berikan. Manfaatkan kesempatan saat itu, bahagialah.” Ungkap Liang Jia.


Xin Er mengerutkan dahi, “Nyonya, anda ikut ke sana kan?” Tanya Xin Er hati-hati.


Liang Jia menggeleng pasrah, “Aku pesimis kalau dia mengijinkanku. Sudahlah, aku tidak penting asalkan kamu diijinkan pergi saja itu sudah sangat bagus.”


Xin Er mengangguk paham, “Sekali lagi terima kasih atas kebaikan dan pengertian nyonya.”


***


Video yang dikirimkan Xiao Jun kepada Liang Jia nyatanya ikut ditonton oleh sang penguasa. Ia menggertakkan gigi, tangannya mengepal geram mendapati video berisikan gadis yang ditenggarai adalah putrinya yang hilang tengah bahagia bersama Xiao Jun. Di sana adapula Li An, pengawal yang lolos dari hukuman mati, seorang gadis lokal dari sana serta seorang pria yang akrab dengan putrinya. Meskipun ia tidak mengerti bahasa mereka, hanya


percakapan dengan Li An saja yang bisa ia cerna, namun firasatnya mengatakan bahwa pria tua tak dikenal itu pasti buronan yang memalsukan kematiannya – pengawal Wei.


“Kurang ajar! Mereka bersekongkol di belakangku!” Li San murka, ia melemparkan ponsel dalam genggamannya. Pikiran kusutnya tak mampu lagi menerima kenyataan itu, ia merasa dikhianati oleh putra yang begitu ia kasihi.


“Tenang tuan, tenangkan dirimu. Kemarahan hanya akan mengacaukan rencana kita.” Penasehat He yang ketakutan melihat amukan Li San mulai membujuknya agar mereda.


Li San menatap tajam pada tangan kanannya, “Kamu benar, selama ini mereka mengkhianatiku! Aku dikelilingi oleh pengkhianat! Apa aku harus tenang membiarkan mereka merencanakan sesuatu untuk membalasku?”


“Tuan, selama anda sanggup diam sejenak lagi, kita pasti bisa menggagalkan rencana mereka. Mereka bisa berencana tapi kita juga bisa memberi mereka kejutan. Tuan sudah mendengar percakapan Xiao Jun dengan


nyonya, saat itu tuan marah tapi tetap berhasil menahan diri. Sekarang mohon tuan tahan diri lagi, jangan kacaukan strategi kita.” Penasehat He berlutut memohon pada Li San.


Li san menerawang jauh, pandangannya menatap jendela kamarnya. Ia mendapat kejutan bertubi sejak kemarin, istrinya dengan lancang punya penilaian buruk terhadap saudaranya. Li San tak habis pikir, darimana Liang Jia


punya opini seburuk itu pada Kao Jing. Di mata Li San, saudara laki-lakinya adalah orang yang selalu mendukungnya. Jika mau merebut kekuasaan, kenapa tidak dari dulu? Kenapa ia biarkan Li San menduduki tahta sekian lama? Liang Jia sungguh mengarang cerita karena marah atas tindakan Li San yang ingin membunuh


anaknya.


“Tuan, berpura-puralah. Tetap ijinkan Xin Er pergi menemui keluarganya. Kita perlu umpan untuk memancing musuh masuk perangkap.” Usul penasehat He, ia sepenuhnya berada di pihak Li San.


Li San termenung, perkataan serius penasehatnya bahkan mental dari pendengarannya. “Dia hidup … Dia masih hidup ….”


***