OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 141 BARTER PERASAAN



Xiao Jun membaca ulang tulisan yang ia torehkan di atas secarik kertas putih polos, kertas yang semestinya digunakan untuk menulis kaligrafi, namun dipakai Xiao Jun untuk mengungkapkan isi hatinya. Tidak ada senyuman atau ekspresi apapun kala membaca tulisan tangannya sendiri. Ia merasa mantap dan melipat kertas itu


lalu distampel dengan tanda tangannya.


“Aku sudah membuat keputusan. Ayah, di manapun berada semoga kau tahu aku sudah berusaha. Semoga inilah yang kau maksud keputusan tepat namun bukan yang terbaik. Putramu tak ingin mengecewakanmu.” Xiao Jun berbicara pada amplop di tangannya. Seluruh keputusan yang ia buat sudah tertera dalam isi amplop itu.


“Pengawal!” teriak Xiao Jun memanggil para penjaganya di luar.


Seorang pengawal dengan sigap menghampiri Xiao Jun, ia terus membungkuk menanti perintah selanjutnya. Xiao Jun menyodorkan amplop itu dan menyuruhnya berdiri.


“Kirimkan ke tuan besar sekarang juga.” Perintah Xiao Jun. Pengawal itu segera menerima titah dari tuan muda itu.


Umpan sudah dilemparkan, sekarang tinggal duduk menungu mangsa datang. Xiao Jun tidak ambil pusing dengan respon Li San nantinya, ia sudah berpikir matang sebelum mengambil tindakan yang ia yakini akan mengundang kemarahan besar.


Ia menatap langit cerah siang ini, sebongkah awan bergerak perlahan di sana. Khayalan Xiao Jun membayankan wajah Weini yang tersenyum dalam awan itu. Hanya dengan membayangkan saja, senyum Xiao Jun kembali merekah.


***


Tangan Li San bergetar ketika membaca surat rahasia dari Xiao Jun yang ditujukan padanya. Kertas tak berdosa itu menjadi pelampiasan hingga remuk oleh remasan tangan kasar Li San. Ia tidak mengira putranya yang dikenal polos itu berani menantangnya. Li San menunjuk jubah kebesarannya dan dipakaikan oleh seorang pelayan


muda, ia harus merapikan diri dan menunjukkan wibawanya.


“Ke paviliun tuan muda sekarang!” Li San memimpin jalan sementara dua pengawalnya membuntuti. Supir sudah menanti di depan gerbang kediaman Li San, mengunjungi paviliun dalam komplek rumahnya saja harus ditempuh dengan kendaraan. Sang tuan besar anti menyusahkan diri dan memilih langkah praktis. Paviliun Xiao Jun


terletak di utara dalam kediaman rumah bak istana milik Li San, termasuk paviliun megah dan mewah yang diberikan sang tuan rumah sebagai wujud kecintaannya pada Xiao Jun.


Li San mempercepat langkah dan di setiap jalan saat bertemu pengawal atau pelayan, ia langsung mendapatkan sujud hormat meskipun ia tidak memerdulikan semua itu. Pikirannya sudah tertancap pada Xiao Jun, lebih cepat bertemu lebih baik.


“Tuan besar tiba!” teriakan pengawal dari luar segera membuyarkan aksi Xiao Jun yang tengah bermeditasi mengumpulkan tenaga dalam. Ia bergegas berdiri menyambut kedatangan tamu yang ia undang dengan cara yang tak sepatutnya.


Li San dengan wajah garang masuk kemudian memerintahkan pengawalnya menunggu di luar, ia perlu privasi dengan putranya.


“Xiao Jun memberi hormat kepada ayah.” Xiao Jun membungkuk hormat, ia dengan tenang seakan tidak ada masalah dan santai saja menyebut kata ayah.


Belum selesai memberi hormat, Li San keburu emosi hingga melemparkan secarik kertas lusuh ke kepala Xiao Jun. “Apa maksudmu dengan surat ini? Kau mengancamku? Ilmu bisnismu boleh juga sekarang, kau bahkan berani perhitungan dengan ayahmu! Sejak kau ke Jakarta, tata kramamu hilang seperti orang liar saja.”


Xiao Jun melirik kertas yang terjatuh di bawah kakinya, ketika tak lagi berguna mungkin ia juga akan bernasib sama dengan kertas itu. Jatuh dan terbuang tak berharga.


“Maaf membuatmu kecewa, tapi pernahkah ayah memikirkan perasaanku? Ayah sering berkata menyayangiku, aku putra mahkotamu namun aku selalu merasa sebaliknya,tak lain hanya menjadi sebuah robot bagimu. Kau ingin mengatur sesuatu yang menurutmu terbaik bagi hidupku, tanpa peduli perasaanku. Jadi apa salahnya aku mengajukan barter kepentingan padamu? Kita sama-sama terpaksa demi kesepakatan bersama.” Xiao Jun masih membungkuk saat menyampaikan semua penjelasannya. Ia mengingat kembali apa yang sudah ia lakukan setelah


berbincang dengan Liang Jia hingga menuliskan surat yang memicu amarah Li San.


Ayah, aku tidak punya pilihan selain mengabarimu lewat sepucuk surat. Ketika jaman semakin modern dan aku hanya bisa berkomunikasi denganmu via cara kuno, maafkanlah aku yang kehilangan hak berkomunikasi dengan ponsel.  Aku ingin mengundangmu duduk berdua, membicarakan hal yang menyenangkan tapi sayangnya semua terasa mustahil melihat kondisi saat ini.


Terima kasih atas perhatian ayah yang begitu peduli pada nasibku, mencarikan seorang wanita yang menurutmu terbaik jadi pendampingku. Sekeras apapun ku tolak, kau pasti melakukan segala cara agar ambisimu terwujud. Apa yang bisa kulakukan? Kau lah penguasanya, ayah.


Tanpa mengurangi rasa hormat, sebagai anakmu aku bersedia menuruti kehendakmu. Meskipun harus hidup layaknya robot yang diisi dengan jiwa manusia. Namun bisakah kau penuhi permintaan sederhanaku, anggap saja sebagai imbalan atas sikap penurutku. Aku bersedia dijodohkan dengan siapapun wanita pilihannya, dengan


syarat :


Lepaskan ibuku Xin Er dan Liang Jia, kelak ku mohon jangan menyusahkan hidup mereka lagi. Ampuni nyawa pengawal Lau, bebaskan dia dari hukuman mati dan kembalikan menjadi pengawalku. Aku tetap ingin mengurus bisnis di Jakarta, itu adalah perusahaan yang kudirikan dengan jerih payahku. Dan yang terakhir, kembalikan


ponselku.


Aku tahu ayah pasti merasa permintaanku terlalu tamak, kita sama-sama korban perasaan maka tidak ada salahnya bila saling bertukar kepentingan. Maafkan kelancanganku, ayah!


Tertanda, putramu Li Xiao Jun.


Flashback selesai ….


***


Li San melayangkan sebuah tamparan keras di wajah Xiao Jun, setelah itu baru tersadar dan salah tingkah. Ia lalai mengontrol tangan ketika perkataan Xiao Jun terdengar menyakitkan, “Jadi selama ini kasih sayangku hanya dihargai seperti mesin? Kau merasa menjadi robotku?” Li San tertawa lantang, menertawakan kekonyolan dirinya.


“Kalau begitu untuk apa mengajukan syarat barter padaku? Aku tidak perlu berdiskusi pada sebuah robot.” Li San melirik reaksi Xiao Jun yang terus membungkuk tak berani menatapnya. Meskipun telah ditampar, pria itu kembali menunjukkan kesungguhan diri melakukan penghormatan. Berbeda dengan yang kejadian kemarin, ketika Xiao Jun begitu berani membangkang padanya. Li San berbalik hendak meninggalkan ruangan Xiao Jun tanpa sepatah kata pemberitahuan.


“Hati-hati di jalan, ayah. Terima kasih atas kunjungannya!” Xiao Jun mengantar kepergian Li San dengan keramah-tamahan hingga Li San takjub, ia sudah menampar dan berkata kasar padanya namun Xiao Jun tidak berniat membalasnya bahkan diam saja ketika ditampar. Meskipun hati kecilnya mulai tersentuh, Li San tetap


bersikukuh menunjukkan sisi dirinya yang angkuh dan berwatak keras.


***


Xiao Jun meraba pipi bekas tamparan Li San, ia hanya meringis menerima hukuman fisik yang tak seberapa sakit namun melukai hatinya. Orangtua kandungnya tidak pernah memberikan tamparan, sesalah apapun anak-anaknya.


Pintu mendecit kemudian seorang tamu tidak diundang masuk ke dalam tanpa permisi. Xiao Jun melirik ke sumber suara pintu, dan mendapati sosok yang ia kenal beberapa hari lalu kini berdiri menyunggingkan senyum padanya.


“Apa kabar Xiao Jun?” ujar pria bertampang menyebalkan itu.


Xiao Jun menatap sinis padanya seolah akan terjadi adu kekuatan babak kedua yang mencari pemenang sejati. “Mau apa ke sini?”


***