
Grace dengan tangan gemetar melucuti kain pembungkus bagian atas tubuhnya yang memang simpel dan terbuka. Ia sudah merencanakan busana yang akan dipakai dan mempermudahnya melepas dalam sekejab. Harga dirinya sudah dipertaruhkan dan tak ada pilihan mundur, ia sepenuhnya menyodorkan diri pada Xiao Jun. Sepasang mata
besarnya menyorotkan hasrat terdalam, berharap pria yang masih terdiam menatapnya segera membaur dalam
pelukan. Sesaat mereka saling adu pandang namun lawannya belum bereaksi apapun,Grace mulai gusar dan berpikir mungkin bagian atas yang terbuka kurang kuat menggairahkan hasrat pria.
“Apa yang kamu lakukan?” ujar Xiao Jun dengan nada tinggi melihat perlakuan gadis yang sedang menguji kenormalannya sebagai pria.
Grace sedang melepaskan kancing dan resleting celananya, bersiap memamerkan asset berharga berikutnya yang ia punya. Ketika mendengar bentakan Xiao Jun, ia terkesiap dan sempat terhenti di tengah selerekan resleting. “Eh? Aku? Mengajakmu melakukan sesuatu yang orang dewasa suka.” Grace tanpa merasa malu membeberkan jawaban yang blak-blakan.
Xiao Jun berjalan mendekati Grace yang melanjutkan kegiatan unboxing dirinya. Paha mulus dari kaki jenjangnya mulai diperlihatkan, celakanya lagi ia mengenakan G string namun bukan model transparan. Jakun Xiao Jun bergerak naik turun menelan ludah, jaraknya tinggal sejengkal mencapai tubuh Grace.
“Oke kalo itu maumu!” Xiao Jun berbisik pada Grace dengan tatapan dingin kemudian menggendong tubuh Grace.
Senyum penuh kemenangan tersungging dari bibir Grace, usahanya mendekati keberhasilan dan akhirnya ia tak dicampakkan begitu saja setelah menggelar atraksi obral diri. Xiao Jun menggendongnya mendekati ranjang, di mana Grace yakin di sanalah tempat peraduan cinta mereka.
Bruk! Xiao Jun tanpa perasaan melempar tubuh Grace ke atas ranjangnya. Grace terkejut dan tak siap dengan pendaratan kasar, ia sempat memekik saat punggungnya terpental. Xiao Jun mencondongkan tubuhnya mendekati Grace, tatapannya liar seakan sigap memangsa. Kucing mana yang sanggup menolak ikan asin yang disuguhkan? Debar jantung Grace berdegup kencang, ia siap dengan segala yang akan terjadi selanjutnya. Matanya otomatis terpejam saat melihat Xiao Jun kian dekat, ciuman pertama mereka akan segera mencetak sejarah.
“Aaaahhhh …” teriak Grace shock. Badannya menggeliat, meronta-ronta sekuat tenaga.
Ekspektasi Grace kelewat berlebihan, berharap mendapat belaian mesra namun yang ada malah Xiao Jun meraih selimut dan membungkusnya bak lemper. Tenaga seorang gadis tak sebanding dengan tenaga pria, Xiao Jun bahkan tak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk menutupi aurat Grace. Setidaknya ia berhasil mempertahankan akal sehat yang nyaris goyah melihat kemolekan tubuh seorang gadis muda. Dan ini kali pertama mata Xiao Jun dinodai oleh penampilan fisik terbuka yang menggairahkan, hanya saja ia berharap melihat pertama kali dari kekasihnya ketika mereka sungguh disahkan pernikahan. Apa daya hidup terkadang tak memberikan harapan sebagai kenyataan, semua tak bisa dikendalikan sesuai kemauan.
“Lepasin aku! Dear, aku kepanasan!” pekik Grace memberontak menendangi bedongan di seluruh tubuhnya.
“Kamu pasti bisa lepasin sendiri. Tolong pakai kembali pakaianmu, kuantar kau pulang. Aku tunggu di luar!” Xiao
Jun menyeringai, ada kepuasan tersendiri bisa menaklukkan gadis nakal itu dan terlebih ia mampu mengendalikan hasratnya untuk tidak menikmati yang bukan miliknya.
Grace tak terima melihat sikap Xiao Jun yang memilih berlalu begitu saja, sekuat tenaga ia meronta sebelum pria itu menghilang dari hadapannya. Upaya keras itu akhirnya bisa melepaskan satu tangan Grace keluar dari ikatan selimut, ia segera melepaskan diri dan menarik tangan Xiao Jun dari belakang. Posisi Xiao Jun yang belum jauh dari ranjang serta kekuatan Grace yang tak terduga menariknya kencang sehingga tubuh Xiao Jun terseret jatuh menimpa Grace.
“Kenapa kamu pergi? Apa aku segitu tak menarik?” Desis Grace lembut, tangannya dengan manja merangkul lagi di lehar Xiao Jun.
“Apanya yang berlebihan? Kita bukan hanya pacaran tapi sudah satu jenjang lagi menuju pernikahan. Dilakukan sekarang pun tak masalah kan?” protes Grace dengan keras kepala.
“Setidaknya kamu harus pastikan pasanganmu bersedia. Kalau kau sangat ingin, lakukan saja sendiri puaskan dirimu.” Xiao Jun mencengkeram tangan Grace agar melepaskan rangkulannya. Ia mulai muak meladeni trik licik gadis itu.
“Setidaknya beri aku ciuman pertama!” Grace masih punya nyanyi menawarkan ciuman setelah ditolak berkali-kali, urat malunya mungkin sudah putus sejak awal ia membulatkan tekad menggoda pria itu. Kini ia saling bertatapan dengan jarak dekat, Grace yakin tatapan intens tanpa kedipan bisa menggiring pada akhir sebuah ciuman panas. Setelah itu barulah ia mulai menuntaskan sisanya.
Xiao Jun bergegas bangun, percuma mencoba memberi pengertian jika diberi hati tetap minta dikasih jantung. “Pakai bajumu sekarang! Aku tunggu di luar! Oya, kuperingatkan yang terakhir kali, jangan ulangi lagi. Hargai dirimu, jika aku mau tak perlu kau paksakan.”
Grace masih menolak percaya apa yang barusan dikatakan Xiao Jun, ia berakhir penolakan. Parahnya lagi, Xiao Jun merasa dirinya tak punya harga diri. Ia terdiam, lelah dengan segala usaha sia-sia. Apa yang bisa ia lakukan sekarang dalam kekalahan? Memunguti helai bajunya yang berserakan dengan mata mengabur oleh air mata. Buta cinta telah merendahkan dirinya pada titik terendah.
“Apa kamu tidak mencintaiku? Aku tahu kita dijodohkan tapi apa cinta itu tak kau rasakan? Hahaha … mungkin hanya aku yang merasakan dan kamu … tidak!” Grace mencecar diri sendiri, bertanya seolah Xiao Jun ada di hadapannya. Menertawakan kebodohan yang tidak ia pikir sebelumnya, sekarang ia tak tahu harus bagaimana
bersikap menghadapi Xiao Jun.
Di luar pintu Xiao Jun mendengar semuanya, bukan karena ruangannya yang memantulkan suara namun kepekaan sihirnya cukup kuat sehingga mampu menembus pendengaran di dalam. Ia menundukkan kepala, memikirkan kegalauan pikiran tentang sikap selanjutnya terhadap gadis itu. Cinta membuat si hati lemah menjadi kuat, pun mampu melemahkan hati si kuat. Bak air yang mampu melubangi batu karena kegigihannya, cinta pun bisa tumbuh karena terbiasa. Xiao Jun menyadari bahwa ia telah membuat seorang gadis baik kehilangan akal sehat dan
melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Tapi bukan keharusannya pula bertanggung jawab atas segala konsekuensi yang gadis itu lakukan.
Grace membuka pintu dan keluar dengan tatapan kosong. Semangat membaranya lenyap, tiada lagi gadis agresif seperti saat ia masuk. Ia bahkan tak berani menatap Xiao Jun dan berjalan seakan nyawanya tertingal di dalam kamar.
Xiao Jun menemani Grace sepanjang jalan menuju paviliun para nona Li, hingga di persimpangan jalan akhirnya Grace buka suara. “Nggak usah repot, aku bisa sendiri. Aku langsung ke vila, bibi Gu pasti udah nungguin.”
“Pulang dan ganti bajumu dulu, Bibi Gu tak segan menghukum melihat penampilan terbukamu.” Xiao Jun masih berbaik hati memberi saran, ia kenal betul karakter Bibi Gu yang sudah dipercaya sebagai pendidik para nona bangsawan dan tak ragu memberi hukuman.
Grace bingung dan diam, haruskah ia senang mendengar saran itu? Xiao Jun telah menolaknya namun masih memberikan perhatian kecil seolah menyuntikkan harapan di ambang keputus-asaan. Aku akan terus membuatmu jatuh cinta, apapun caranya …
***