OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 39 BUKAN KAMU, TAPI DIA!



Kondisi kesehatan Xin Er kian memburuk, tubuhnya melemah serta batuk yang semakin intens. Liang Jia tak sanggup melihat keadaan memprihatinkan itu, ia sudah lama berencana membawa pelayan yang sudah ia


anggap saudara itu pergi berobat ke luar negeri. Namun selalu berujung penolakan secara halus.


“Ibu, diminum dulu obatnya.” Li An membawa semangkuk obat tradisional yang ia rebus.


Mangkuk tanah liat itu berpindah tangan, Xin Er meninumnya perlahan selagi hangat. “Aku beruntung masih ada kamu di sini.”


“Ibu tidak usah kuatir. Li An akan merawat ibu.” Ujar Li An penuh perhatian. Putri kedua Xin Er itu merasa dirinya yang paling beruntung di antara ketiga saudaranya karena dapat berbakti pada wanita yang telah melahirkan mereka.


Segerombol pengawal berdatangan dan merusak suasana hangat ibu dan anak. Mereka terkepung pria-pria berbadan kekar dan berwajah bengis.


“Tangkap gadis itu!” Yue Xiao meneriakkan perintah. Pasukan yang ia bawa langsung menyeret Li An tanpa rasa kasihan. Memisahkannya dari ibu yang sudah tidak berdaya.


“Li An… Nona kumohon ampuni anakku.” Xin Er bersujud dalam tangisan. Tangannya merangkap demi sebuah belas kasihan.


“Bibi, ini bukan perintahku. Mohon saja pada ayahku, lihat apa beliau bisa bermurah hati lagi pada keluarga pengkhianat.” Yue Xiao begitu sinis. Ia tidak peduli ucapannya melukai perasaan orang yang lebih tua.


“Nona, hukum saja hamba! Hamba mohon ampuni ibuku.”


Li An mengiba demi keselamatan ibunya. Kedua tangannya sudah diborgol dan ia digeret paksa oleh dua pria.


Yue Xiao merasa di atas angin, menyaksikan secara langsung gadis yang tidak ia sukai menderita ternyata bisa membuatnya senang. Xin Er berusaha mengejar Li An tetapi pengawal lainnya dengan sigap menyingkirkannya. Ia dibiarkan tersungkur di lantai dan pingsan.


Li An digiring menuju paviliun utama, di mana Li San gemar bertindak sesukanya. Terlebih Liang Jia masih berlibur keluar negeri bersama ketiga putri . Hanya Yue Xiao yang paling tidak suka melancong dan memilih menghabiskan waktu akhir tahun di rumah.


“Ayah, Yue Xiao mohon keadilan. Putri keluarga pengkhianat ini sentiment padaku dan ketiga kakak. Ia pernah sengaja merusak pakaian kami, menyajikan makanan yang membuat alergi kakak kumat, dan semakin tidak tahu diri karena merasa disayang ibu.” Yue Xiao mengadukan sebuah fitnah keji. Ia percaya dukungan sang ayah sepenuhnya berada di pihaknya.


Tamat riwayatmu sekarang, kutu kecil! Yue Xiao terbahak dalam hati, ialah sang pemenang.


“Apa kau berani mengelak dari kesalahanmu?” suara bariton Li San sangat menakutkan. Tanpa perlu bertatapan, suaranya saja bisa menyiutkan lawan.


“Hamba tidak berani.” Li An hanya bisa pasrah. Tidak akan ada yang percaya padanya, jadi percuma membela diri. Jika ia melawan kehendak tuan besar, nyawa ibunya mungkin akan terancam.


“Aku sudah bermurah hati membiarkan kamu dan kakakmu pulang, apa ini balasannya? Kamu tidak bisa patuh pada aturan keluarga Li?” gertak Li San.


“Hamba pantas dihukum.” Li An terus bersujud.


“Bagus kalau kau tahu diri, sebelum aku menyeret ibumu juga. Tapi kau sudah minta dihukum. Mulai hari ini, kamu keluar dari rumahku. Tinggal saja di rumah lamamu sendirian sampai aku memutuskan hukumanmu berakhir. Bahkan ibumu pun tidak diijinkan bertemu denganmu. Jika melanggar, kau dan ibumu akan kupenggal.”


Yue Xiao terkejut mendengar keputusan ayahnya. Hukuman itu terlalu ringan, sangat jauh dari ekspektasi. Ia mengira perempuan itu akan dikurung hingga mati, tapi malah dibebaskan dari rumah ini.


“Ayah, apa tidak terlalu mudah baginya? Dia seperti memperoleh kebebasan di luar padahal ia melakukan kejahatan pada kami.” Yue Xiao menyatakan protes. Sejak kapan ayahnya mempunyai hati nurani? Perempuan


itu hanya anak seorang pengkhianat, ia tak layak mendapat pengampunan. Namun malah secara tak langsung diberi kebebasan.


“Ayah sudah menghukumnya. Keputusan ayah tidak perlu persetujuan dari siapapun. Yue Xiao, kau juga harus belajar bersikap elegan dan menjaga martabatmu sebagai gadis keturunan Li.” Li San berdiri hendak meninggalkan ruang eksekusi.


“Baik ayah.” Yue Xiao tak bisa membantah, kharisma ayahnya begitu kentara. Siapa yang berani berkata ‘tidak’ padanya sama saja mencari mati.


Li An diseret keluar oleh pengawal, ia bahkan tidak diijinkan berpamitan dengan Xin Er. Semua barangnya diambil oleh pelayan, ia  hanya bisa menunggu di depan gerbang rumah. Layaknya daun kering yang beterbangan mengikuti kemana angin bertiup, ia berjalan gontai menuju kenangan masa silam. Tanpa disadari, dua pasang kaki mengikuti jejaknya dari belakang. Memonitori setiap gerak geriknya hingga sampai ke rumah lamanya yang lebih layak disebut gudang tua.


“Jadi di sini kediaman Wei, sang guru besar sihir aliran putih?” Chen Kho bersembunyi di belakang pohon beringin di seberang rumah Wei. Hampir setengah tahun mencari informasi tentang Wei, tetapi tidak seorang pun yang mengungkitnya. Bahkan istri dan anak Wei pun bungkam, namun kini Li An menjawab rasa penasarannya.


“Apa kita harus menyerangnya tuan?” pengawal Chen Kho sigap hendak melakukan penyerangan.


***


Totalitas memang diperlukan dalam setiap pekerjaan, tapi adakalanya yang professional pun bisa melakukan kesalahan. Apesnya, Weini tengah mengalaminya. Ia sudah terbiasa beracting di depan para kru, menghadapi


silaunya cahaya dan kamera berbagai angle. Tapi kenyamanan itu lenyap gara-gara kehadian Haris. Ia terus mendesak Weini agar diijinkan ikut ke lokasi syuting.


“Weiniiii… ekspresi lu kemana??? Ini udah take ke sebelas dan lu masih error!” Bams mengoceh. Artis andalannya bisa bertingkah seperti amatiran, padahal mereka kejar tayang menjelang cuti menghadapi ujian nasional yang diajukan Weini.


Haris mulai sadar kesalahan yang dilakukan berulang oleh Weini dikarenakan canggung padanya. Ia mulai merasa iba, gadisnya mendapat teguran dan makin merasa tertekan. Terpaksa Haris mengeluarkan sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan. Dengan kekuatan sihir, ia menghipnotis Weini dari kejauhan.


“Bekerja seperti biasa, jangan hiraukan ayah. Ayah di sini sebagai kru part time, bukan untuk mengawasimu.” Lewat telepati, Haris memengaruhi alam bawah sadar Weini. Suara hati Haris terngiang berulang kali dalam pikiran Weini, gadis itu akhirnya mendapat kepercayaan diri lagi hingga syuting kelar dengan lancar.


“Om, makan bareng yuk. Aku punya tempat makan yang recommended banget chinnese foodnya.” Stevan datang menghampiri Haris yang duduk di pojokan ruang peralatan. Haris menyambut ramah kehadiran Stevan, mereka berjabat tangan dan tampak akrab.


“Tawaran yang menarik, anak muda. Om ikut saja, kebetulan sudah lapar juga.” Haris tanpa basa basi menerima ajakan Stevan.


“Ayah, apa kerjaanmu sudah beres? Perlu kubantu?” Weini menghampiri dengan tergopoh, ia ingin bergegas pulang bersama Haris, namun yang ia dapatkan justru pemandangan langka. Sejak kapan Stevan akrab


dengan ayahnya?


“Hei, Nak. Stevan ajak kita makan malam bersama. Katanya ada masakan chinnese yang enak loh di dekat sini.” Ujar Haris bersemangat.


Weini nyaris tak mengenali ayahnya, mengapa pria itu dengan entengnya menerima ajakan makan orang lain padahal biasanya ia sangat tertutup dalam hal bergaul.


“Yuk, keburu makin malam nih.” Stevan tak mau mendengar penolakan, lebih baik ia segera ambil tindakan tanpa menunggu persetujuan Weini.


***


Weini sudah cukup lelah kerja seharian, ia tak mau menguras tenaga untuk membantah lagi. Cap cay seafood, sup kepiting, mie panjang umur, ikan kakap merah bakar, dan tumis sayur kailan terhidang di hadapannya. Sedari tadi ia hanya menjadi penonton pasif yang menyaksikan dua pria di depannya terlibat obrolan seru dan sesekali tertawa lepas. Ia memilih menyumpal mulut dengan makanan daripada diajak bergabung dalam pembicaraan yang


membosankan.


“Jadi kemana kamu menculik Weini di malam tahun baru, nak Stevan?”


Pertanyaan Haris barusan langsung membuat Weini tersedak makanan. Segelas air putih yang masih utuh pun diteguknya hingga habis. Pertanyaan apaan itu? Haris sungguh mengejutkan, Weini bersikukuh merahasiakan siapa pria yang bersamanya di malam itu dan kini Haris salah orang.


“Ayah, stop deh. Bukan dia!” bisik Weini sembari mengirim isyarat lewat tatapan.


Stevan terkejut sejenak, ia memang mengajak Weini keluar malam itu namun ditolak. Tapi sekarang Haris mengira Weini pergi bersamanya. “Ehem… kami pergi lihat kembang api, om.”


Haris tersenyum simpul. Weini justru gelagapan. Buat apa Stevan mengakui sesuatu yang tidak ia lakukan. Weini menatapnya penuh tanya, namun Stevan melempar senyuman manis dan makin membuat Weini serba salah.


“Lain kali kalau antar jemput Weini, masuk ke rumah aja. Nggak usah sungkan.” Haris malah memberi lampu hijau pada Stevan. Kini pria muda itu mendapat angin segar untuk mendekati Weini.


“Ayah… bukan kak Stevan. Aku nggak pergi sama dia.” Celetuk Weini. Ia enggan membiarkan kesalah pahaman berbuntut panjang terjadi.


“Kamu masih malu-malu saja, dasar anak muda.” Haris malah tertawa. Ia tak memerdulikan niat Weini menyampaikan kebenaran.


“Terima kasih, om. Lain kali saya pasti akan lebih sopan.” Stevan bernyanyi dalam hati. Mendapatkan hati orangtua tentu sudah selangkah menuju hati gadis yang ia cintai. Persetan siapa yang keluar dengan Weini malam itu, yang jelas selanjutnya ia lah pemenangnya.


Sial, kalau tahu gitu mendingan kubiarkan Xiao Jun bertemu ayah. Plis deh ayah, bukan Stevan tapi dia…


***