OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 64 MENGHILANGNYA KABAR DARIMU



Seorang artis dilarikan ke rumah sakit elit X dalam keadaan tidak sadarkan diri. Hingga berita ini disiarkan, belum diketahui identitas serta penyebab sang artis dibawa ke rumah sakit. Namun yang menarik perhatian adalah kehadiran aktor tampan Stevan yang ikut mengantarkan korban. Awak media mulai berspekulasi bahwa artis malang yang tengah dirawat itu adalah Weini. Sayangnya pihak rumah sakit maupun tim managemen artis belum ada yang bersedia memberikan konfirmasi…


***


Tut… tut… tut… nomor yang anda tuju tidak menjawab.


Puluhan kali sudah Dina menghubungi sebuah nomor namun selalu mendapat jawaban yang sama, tidak terjawab!


“Apa dia sudah pergi? Tapi kok masih tersambung?”


Dina kebingungan. Di sela kepanikan dari awal Weini kecelakaan hingga dibawa ke rumah sakit, di dalam benaknya hanya ingin segera mengabari tuannya, Xiao Jun. Beberapa chat, voice message pun tidak dibaca hingga sekarang.


Siapa lagi orang terdekat Weini yang harus dihubungi selain Xiao Jun? pikir Dina. Sesaat kemudian ia berteriak kencang, “Arrrrghhhh” sekeliling lorong rumah sakit yang hening tanpa siapapun mendadak bermunculan


beberapa keluarga pasien dari balik pintu kamar inap. Dina mendapatkan sorotan sinis karena kegaduhan yang ia timbulkan.


“Maaf… maaf” Dina menundukkan kepala ke segala penjuru. Wajah-wajah yang merutukinya menghilang masuk ke dalam ruangan lagi.


***


Haris baru saja mengemasi buku-bukunya saat kelas sepenuhnya kosong. Ia berencana memasak makanan kesukaan Weini sembari menunggunya pulang nanti malam. Sebelum jauh melangkah, ponsel dalam sakunya bergetar. Meskipun disilent namun getaran saja cukup membuat Haris peka dengan panggilan masuk.


“Panjang umur”. Haris tersenyum melihat Weini yang menelpon.


“Kau sudah selesai kerja?” Haris langsung bertanya tanpa menyapa dulu.


“Paman, ini Dina manager Weini.”


Deg! Haris langsung merasakan firasat buruk ketika mendengar suara Dina yang panik.


“Weini kenapa?” todong Haris


“Dia kecelakan di lokasi syuting. Sekarang dibawa ke rumah sakit X. Paman…”


“Aku segera ke sana.” Haris menutup telpon sebelum Dina selesai berbicara. Diraihnya kunci motor dan helm, menembus jalanan dengan roda dua lebih efektif waktu ketimbang terjebak macet dengan mobil.


***


Stevan berdiri gelisah memandangi ruang ICU yang masih tertutup. Tiga puluh menit berlalu tapi dokter belum memberi kepastian tentang kondisi Weini. Stevan mengepal tangannya lalu mendaratkan tinju pada tembok. Kemarahannya lebih ditujukan pada dirinya yang terlalu meremehkan Lisa.


“Temboknya nggak bakal jebol, tapi tanganmu palingan retak tulang kalau nggak berhenti sekarang.” Ujar Dina yang prihatin melihat Stevan menyiksa diri.


Stevan menahan kepalannya, ia berhenti berbuat konyol bukan karena takut diejek Dina. Harga dirinya masih tinggi untuk menjaga image, ia tidak akan memperlihatkan kelemahan di depan orang lain.


“Keluarga pasien Weini.” sebuah panggilan dari dokter yang barusan keluar dari ruang ICU.


Stevan bergegas menghampiri dokter tanpa menghiraukan nyaris saja ia menyenggol pundak Dina. “Bagaimana keadaannya dokter?” Stevan sangat cemas, raut wajahnya yang serius terlihat sangat tegang.


“Tulang lengannya retak dan sedikit mengalami gegar otak. Kami perlu persetujuan keluarga untuk melakukan tindakan operasi. Anda keluarganya pasien?” dokter bertanya pada Stevan.


Dina dan Stevan saling berpandangan, mereka bukan orang yang tepat sebagai pengambil keputusan. Dalam kondisi terdesak ini, keluarga sesungguhnya belum juga hadir sementara kondisi Weini memerlukan tindakan segera.


“Ya, aku keluarganya. Di mana saya bisa tanda tangani persetujuan?” Stevan mengambil inisiatif sebagai wali keluarga. Dina hanya bisa terpaku diam tanpa bisa menolak maupun membenarkan tindakan sepihak Stevan.


“Tunggu, ijinkan saya melihat kondisinya. Saya ayahnya, biar saya yang memutuskan!” Haris berlari kencang mencegah seseorang merebut haknya sebagai wali.


“Paman…” Stevan serba salah, ia nyaris saja bertindak sembarangan namun semua itu karena ia terlalu mengkhawatirkan keselamatan Weini.


Dokter tampak keberatan mengijinkan pasien dijenguk di saat ia memerlukan tindakan segera. “Mohon maaf pak, kondisi pasien sekarang mulai kritis. Kita tidak bisa mengulur waktu lagi demi keselamatan pasien. Saya


perlu tanda tangan keluarga untuk menyetujui tindakan operasi segera.”


Dokter tidak bisa berdebat lagi, “Baiklah, paling lama lima menit bapak membesuknya. Pakai masker dan penutup kepala sebelum masuk.”


“Terima kasih dokter.” Haris tak membuang waktu lagi, ia berlalu tanpa sempat menyapa Dina dan Stevan.


Haris menatap tubuh yang terbaring dengan berbagai peralatan medis di sekeliling. Mata yang terpejam dengan selang infus yang tertancap di pergelangan tangan. Haris mengamati sudut kamera CCTV lalu merapalkan sebuah mantera dan terjadilah fatamorgana.


Tangan Weini yang terluka disentuh pelan oleh Haris. Hmmm… lumayan. Ia sudah kehilangan banyak darah, jika operasi malah beresiko donor darah. Darahku tidak cocok, akan repot mencari darah di saat genting. Pasca


operasi pun akan butuh waktu pemulihan yang lama, Weini akan kehilangan semangat dengan kondisi yang terbatas. Lebih baik kugunakan ini untuk membantu penyembuhannya.


Haris menempelkan tangan pada kulit lengan Weini yang terluka, dipusatkannya konsentrasi untuk mentransferkan energi. Tulang yang retak di dalam perlahan merekat walaupun masih terdapat sel-sel rusak bekas perdarahan.


Kau sudah aman, Weini. Haris tersenyum lega, sekarang saatnya ia mencari tahu apa yang terjadi dan akan mengambil tindakan tegas pada siapapun yang mencelakakan Weini.


***


Pihak managemen akhirnya angkat bicara tentang kabar kecelakaan yang dialami seorang artis. Klarifikasi itu menguak prediksi publik yang menduga artis malang itu adalah Weini, artis pendatang baru yang terpopuler saat ini. Kecelakaan di lokasi syuting itu akibat kelalaian tim dan mengakibatkan sang artis harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit X…


***


Simpang siur berita di berbagai media tentang kecelakaan Weini mendadak viral. Pro dan kontra dari fans dan haters pun bermunculan. Dina menutup akses internet dari ponselnya, hati dan pikirannya sangat penat dan tak mampu menampung apapun lagi. Yang paling ia inginkan saat ini adalah kondisi Weini segera stabil.


Haris keluar dari ruang ICU. Stevan dan Dina langsung berdiri melihat sosok itu muncul. Sihir yang ia lakukan untuk


mengelabui perhatian hilang sekejab. Haris menyebar pandangan antara dua orang yang bersama Weini di TKP. Ia sedang memilih dengan siapa ia akan menginterogasi. Namun ia harus menyelesaikan urusan dengan tim medis yang menangani Weini.


Dokter yang menunggu di luar ruangan datang menyodorkan secarik kertas. “Bapak, silahkan menyetujui tindakan operasi. Kami harus lakukan segera sebelum perdarahan semakin parah.”


Haris menerima kertas yang terjulur itu namun tidak membaca ataupun menandatanganinya. “Terima kasih Dokter, saya sudah memutuskan untuk tidak mengambil langkah operasi. Selebihnya dokter bisa melakukan tindakan perawatan intensif.”


Keputusan Haris mengejutkan tiga pasang telinga yang mendengar. Dokter sudah menjelaskan resikonya namun Haris malah bersikukuh tidak perlu operasi. Keputusan yang terdengar konyol, mengapa seorang ayah tega


membiarkan nyawa anaknya seperti permainan.


“Pak, apa anda siap menanggung akibat terburuknya? Ini menyangkut nyawa anak bapak.” Dokter masih belum menyerah, kondisi pasien lebih perlu operasi dibandingkan perawatan pemulihan.


“Paman, jika ada kendala biaya saya bisa membantu. Paman jangan kuatir soal itu.” Stevan dengan hati-hati menawarkan bantuan. Masalah uang terdengar sangat sensitif, bisa saja menyinggung perasaan seseorang.


“Dokter, saya berterima kasih atas kekhawatiran anda. Tapi saya bersedia menandatangani persetujuan rawat inap dan perawatan intensif pada putri saja dengan segala resikonya.” Haris konsisten pada keputusannya.


“Nak Stevan, ini bukan soal biaya. Percayalah pada paman. Kita semua mau yang terbaik untuk Weini.” Haris menatap Stevan penuh kehangatan hingga pria muda itu mengangguk nurut.


“Dokter, saya minta tolong kontrol ulang kondisi pasien.” Pinta Haris pada dokter yang masih berdiri di hadapannya.


Dokter itu mengangguk, sebelum kembali ke ruangan ia mengingatkan kembali pada Haris. “Baiklah pak. Silahkan selesaikan administrasi dan tanda tangani surat persetujuan rawat inap di bagian kasir.”


Haris mengangguk setuju.


“Dina, bisa temani paman mengurus syarat itu?” Haris melirik Dina. Gadis itulah yang ia pilih untuk menjelaskan apa yang terjadi.


“Eh… oke paman.” Dina menatap Stevan, ia akan mempercayakan perkembangan kabar Weini padanya sebelum menyusul langkah Haris.


Ponsel Dina berdering sampai-sampai ia kelabakan karena lupa silent. Dengan sergap ia meronggoh ponselnya dari tas.


“Eh, Paman aku pasti menyusul setelah angkat telpon penting ini.” Seru Dina yang langsung berlari mencari tempat sepi untuk mengangkat panggilan masuk.


OM LAU MEMANGGIL…