OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 399 PEMULIHAN HARIS



Xiao Jun perlahan mengetuk pintu kamar ayahnya sebelum masuk, akan lebih baik baginya memperhatikan kesopanan sekalipun ia adalah tuan rumahnya. Terdengar suara pintu dibuka dari dalam, Xiao Jun tersenyum melihat wajah ayahnya yang tampak lebih segar ketimbang semalam.


"Apa ayah masih istirahat? Maaf aku mengganggumu." Ujar Xiao Jun seraya menundukkan kepala.


Haris tersenyum tipis, ia malah melebarkan daun pintu. "Masuklah, kita bicara di dalam saja." Pinta Haris.


Xiao Jun dengan patuh mengikuti langkah ayahnya. Pintu tertutup rapat, tak menyisakan celah bagi siapapun untuk mendengarkan percakapan mereka. Haris duduk di sofa kamarnya, sedangkan Xiao Jun ikut duduk di hadapan ayahnya.


"Apa Dina sudah aman sekarang?" Tanya Haris.


Xiao Jun mengangguk, "Dia sudah kuberi pengawal profesional, sekarang dia berangkat liburan ke manapun dia suka."


Haris manggut-manggut, ia yakin gadis itu pasti menikmati masa-masa sekarang. Setidaknya biarkan hatinya merasa senang, dan dia akan bungkam dengan aman.


"Tapi sebelum pergi, aku sempat bertanya padanya tentang ciri-ciri wajah asli Weini." Ujar Xiao Jun yang langsung mendapat delikan dari ayahnya.


"Kamu penasaran juga ternyata...." Goda Haris. Rasanya mereka memang harus sedikit melonggarkan urat yang sejak kemarin tegang.


Xiao Jun tersenyum penuh arti lalu mengangguk, "Rasanya kurang adil saja, aku kekasihnya tapi bukan orang pertama yang melihatnya buka topeng. Malah sekarang dia ada di tangan Chen Kho." Geram Xiao Jun reflek mengepalkan tangan.


Haris tetap bersikap tenang, walau ia pun penasaran dengan wajah Weini. Sejak kecil membesarkannya dalam wajah berbalut topeng. Ingatan Haris yang tersisa tentang Yue Hwa kecil hanyalah kecantikan yang sangat oriental, Weini tidak mirip dengan saudaranya, bahkan tidak mewarisi wajah ayah dan ibunya. Ia sungguh terlahir dengan kecantikan tunggal, aura yang lembut namun tegas, serta kebaikan hati yang terpancar dari raut wajahnya.


"Sabarlah sebentar lagi, tenagaku pasti pulih total." Ujar Haris menenangkan putranya.


Xiao Jun menatap serius ayahnya, ganjalan di hatinya harus dilontarkan. "Ayah, kenapa ayah yang serba tahu tetap tidak bisa menghindari serangan dia? Apa sehebat itu dia?"


Haris mengetuk jemarinya pada meja di depan sofa, ia sudah tahu Xiao Jun pasti bertanya demikian. "Nak, setinggi-tingginya kesaksian, ayah tetap manusia. Jika ada hal yang tak bisa dilihat, maka itu memang harus terjadi. Akan sangat membelenggu bagi kita saat tahu seperti apa ajal kita. Bukan enak bagi ayah untuk jadi serba tahu, dan ternyata bagian yang tidak terlihat itu justru mengejutkan. Ayah tak menyangka akan ada kesempatan kedua untuk hidup."


Xiao Jun menatap sedih ayahnya, ia baru tahu bahwa beban batin Haris cukup berat. Menjadi orang hebat, bukan sebuah kebanggaan yang patut disombongkan. Namun justru bisa membuat seseorang terbebani. "Maafkan aku ayah, tak memahamimu."


Haris menepuk pelan pundak putranya, "Sudahlah, fokus melihat ke depan saja. Nona Yue Hwa membutuhkan bantuan kita. Dia mungkin masih tertidur hingga sekarang. Aku bisa bayangkan kekuatannya dikerahkan semua untuk memerintahkan chip sihir ini bergerak."


Di tangan Haris, chip yang dulu berada di dalam tubuh Weini itu digerakkan. Benda mungil itu melayang-layang di hadapan Xiao Jun, dengan sinar kemerahan yang bisa memantul seperti cermin. Xiao Jun menatap takjub dengan kekuatan ayahnya, belum pulih tetapi sudah sekuat itu. Bahkan Xiao Jun hanya sanggup merasakan getaran sihir dalam benda itu namun tak bisa menggerakkannya.


"Ayah, sebenarnya waktu aku pulang ke Hongkong, di rumah lama kita itu... Aku melihat roh leluhur kita di dalam sebuah ruangan. Dia memberiku sesuatu yang katanya berguna suatu saat." Jelas Xiao Jun, ia belum menceritakan itu pada ayahnya dan merasa mungkin benda pemberian leluhurnya akan berguna saat ini.


Haris menatap serius pada Xiao Jun, dari raut wajahnya ia terlihat tertarik. "Lalu di mana bendanya?"


Xiao Jun agak ragu, ia menunduk saat menjawabnya. "Itu... Langsung disimpan dalam kotak dimensi, tapi aku sampai sekarang belum menguasi cara membukanya." Jawab Xiao Jun sungkan mengakui kelemahannya.


Haris manggut-manggut, ia mengerti kemampuan Xiao Jun memang belum stabil dan tak akan menyalahkannya. "Oh, apa maksudmu benda ini?"


Di hadapan Xiao Jun, Haris memelintir jemarinya seperti gerakan memetik buah, kemudian Xiao Jun dibuat takjub dengan sinar keemasan yang memancari wajah Haris karena dimensi lain yang terbuka, persis saat Xiao Jun melihat penampakannya roh leluhurnya yang hanya terlihat pancaran sinar keemasan. Sebuah benda yang dimaksud Haris muncul melayang-layang tepat di depan wajahnya, lalu perlahan ditangkap oleh Haris.


Sebuah plakat dari emas yang berukir mantra-mantra yang tak dipahami Xiao Jun, dijulurkan oleh Haris ke hadapannya. Lewat bahasa tubuh, Haris memberikan plakat itu dan segera berpindah tangan pada Xiao Jun.


Senyumnya mengembang, benda ini memang benar yang diberikan leluhur untuknya.


Haris menggeleng lemah, "Nak, setelah ini kamu harus serius berlatih. Minimal setarakan dengan kemampuan ayah, biar bagaimanapun kamu adalah pewaris klan Wei." Ujar Haris pelan, takut menyinggung perasaan putranya.


Xiao Jun tak merasa tersinggung, ia justru termotivasi untuk mahir. "Baik ayah, mohon bimbinganmu. Maaf, aku pikir ayah menyerahkan pewaris kepada Weini." Ucap Xiao Jun hati-hati.


Haris tersenyum tipis, "Itu dulu... Karena aku sempat pesimis bisa hidup lebih lama. Rupanya takdir masih cukup baik pada kita, mempertemukan kita lebih cepat dari yang kukira. Aku akan mentransfer kekuatanku kepadamu kelak, minimal kita harus setara. Tapi tetap saja, kau harus berbesar hati karena yang lebih unggul dari kita, tetaplah nona Yue Hwa."


Xiao Jun mengangguk setuju, "Terimakasih ayah, aku akan berusaha."


💖💖💖


Ballroom hotel yang disewa Lau khusus untuk konferensi pers siang ini, tampaknya terlalu kecil lantaran wartawan yang hadir jauh lebih dari prediksi hingga harus berhimpitan dalam ruangan. Presscon mendadak ini membuat Bams kewalahan mengatur segalanya dengan baik, bahkan undangan pun bersifat terbuka dan tanpa perlu menunjukkan kartu undangan.


Bams merasa gugup melihat keriuhan segerombolan manusia pencari berita, ia bukan tipe orang yang suka menghadapi media, meskipun pekerjaannya di bidang entertainment. Namun bos besarnya - Xiao Jun, mengembangkan tugas ini padanya, hingga ia tak punya pilihan lain. .


Kepanikan Bams sedikit mencair saat melihat Lau dan tim pengacara berjalan masuk ke ruangan. Mereka akan duduk satu meja nantinya, dan itu cukup melegakan karena Bams tidaklah sendiri.


Lau tersenyum tenang kepada Bams, hanya tidur beberapa jam sudah cukup mengembalikan semangat dan energinya. Sedangkan Bams justru terjaga hingga sekarang, ia tak bisa tidur saking paniknya harus menghadapi presscon siang ini. Kini Lau dan tim pengacara serta Bams sudah menempati tempat duduk yang disediakan.


Bams kembali kaget melihat kedatangan seseorang yang tak terduga, kedatangan orang inipun membuat sorot kamera tertuju padanya. Namun yang disorot malah tenang-tenang saja berjalan mendekati meja Bams.


"Yoo... Pak sutradara, bisa geser sedikit? Gue bakal nemenin lu duduk di sini." Sapa Stevan dengan gaya santainya, padahal Bams tegang bukan main.


"Ngapain lu ke sini? Mau nambah-nambah sensasi? Mending lu minggir deh mumpung belum mulai, hindari wartawan dulu." Bams mengibas tangannya, berharap bisa menyingkirkan Stevan dengan cara itu.


Stevan malah nyengir, ia tak peduli apa yang dicemaskan Bams lalu menggeser paksa Bams agar memberikan sedikit celah untuknya duduk di bangku kosong yang menjadi sekat pemisah Bams dan Lau.


"Gue ke sini buat bantuin lu. Kalau bukan karena Weini, gue nggak mau nongolin muka di sini." Ujar Stevan yang sadar Bams melototinya terus karena tak puas dengan sikap seenaknya.


"Lu tahu apa? Bukannya lu nggak ada di tempat waktu itu?" Selidik Bams heran.


Stevan hanya diam, ia merasa tak perlu mengeluarkan jawaban. Pandangannya justru terarah pada Fang Fang yang duduk di kursi belakang, menjaganya dari kejauhan.


🎬🎬🎬


Bersambung....


Nah episode kali ini, author tampilkan dulu sosok Stevan ya. Pria yang dulu tergila-gila pada Weini ini, sempat membuat sebel readers kan di awal-awal, hehe.... Tapi sebenarnya dia baik, hanya saja cinta memang nggak bisa dipaksakan dan dia juga berbesar hati mengikhlaskan Weini untuk Xiao Jun.


Stevan dideskripsikan memiliki paras tampan, kulit putih cerah, tinggi, sifatnya juga slow, agak usil kadang, ya pokoknya cakep dah sampai bikin fansnya meleleh. Dan semoga sesuai dengan ekspektasi kalian juga ya, menurut author wajah Stevan cocok diwakilkan sama pria ini.


So, gimana guys? Boleh juga kan tampang Stevan ini?