OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 425 BERTEMU UNTUK BERPISAH



Su Rong membantu Lau menyuguhkan minuman untu tamu yang masih dalam suasana haru. Ruang tengah apartemen Xiao Jun begitu kentara dengan kehangatan sebuah keluarga yang utuh, bahkan lengkap dengan dua orang bonus keluarga baru.


Beberapa gelas kosong sesuai jumlah orang di sana, plus satu teko berisi teh hangat tersaji di atas meja.


"Biar kubantu paman." Seru Li An yang langsung inisiatif mengambil alih teko dari jangkauan Lau, kemudian menuangkan dalam gelas-gelas itu.


"Terima kasih, nona Li An." Seru Lau tersenyum tulus.


Haris dan Xin Er duduk di sofa yang bersebelahan, setelah pelukan mengharukan yang mengawali perjumpaan mereka, kini suasana jauh lebih kondusif.


"Maaf, aku membuatmu tertekan karena perintahku. Setelah kupikir ada baiknya kita sekeluarga berkumpul di satu titik, supaya lebih mudah menjaga kalian." Gumam Haris yang merasa tak enak telah membebani pikiran Xin Er.


Xin Er justru takut suaminya menganggap ia tak patuh, namun keinginannya untuk bertemu Haris telah membuatnya berpikir nekad.


"Aku juga minta maaf, tapi benar apa yang kamu katakan, lebih baik kita berkumpul, susah senang hadapi bersama. Kita sudah terpisahkan cukup lama dan menderita masing-masing, walaupun kali ini harus menghadapi ancaman serius, aku lebih tenang karena ada di dekat kalian."


Haris manggut-manggut, tak lama kemudian ia harus angkat bicara lagi, menyatakan sesuatu yang mungkin tak diharapkan istri dan anaknya.


"Sebenarnya hari ini kami sudah bersiap pergi menyelamatkan nona Yue Hwa...."


Haris menjeda perkataannya saat melihat gurat wajah Xin Er tampak sedih.


"Maaf, kami datang di saat tidak tepat." Lirih Xin Er.


"Tidak, kamu jangan menyalahkan diri sendiri. Untung saja kalian sampai sebelum kami meninggalkan tempat ini. Maksudku seperti itu, kita ambil hikmahnya saja." Gumam Haris lembut.


Li An tersenyum kecil, "Ayah, sebenarnya ibu sudah merencanakan ini sejak tadi malam. Memang terkesan mendadak, tapi ibu menuruti firasatnya, katanya kita pasti bisa bertemu jika kami berangkat secepatnya. Ibu sudah sangat merindukan ayah, dan ingin bertemu sebelum ayah pergi."


Li An dengan percaya diri membuka rahasia ibunya, walaupun ia mendapatkan delikan dari Xin Er. Tetapi pada akhirnya mereka hanya tertawa bersama.


"Jun, apa rencana kalian? Ibu mohon kalian pergi dengan selamat, pulang tanpa kurang apapun. Jaga diri kalian baik-baik, ibu menunggu kalian kembali." Lirih Xin Er sambil menatap Xiao Jun penuh arti.


Xiao Jun mengangguk patuh, senyumnya pun lembut membalas perhatian ibunya.


"Ibu tenang saja, kami pasti pulang dengan selamat dan membawa nona Weini. Selama kami pergi, paman Lau akan tetap di sini menjaga kalian."


Lau yang mendengar titah itu langsung mengangguk patuh, ia siap ditempatkan di mana saja, asalkan berguna untuk tuannya.


Xin Er menatap ragu pada Xiao Jun dan Haris, "Apa tidak mengacaukan rencana kalian? Lau bukankah lebih diperlukan di sana bersama kalian? Kami akan baik-baik di sini, Li An sudah pernah kemari, dan sebelum kalian pulang, kami tidak akan keluar dari sini."


Xiao Jun menggelengkan kepalanya dengan pelan, senyumnya belum juga luntur untuk ibunya. "Tenang saja ibu, orang yang kami andalkan sekarang adalah pengawal baruku."


Xiao Jun menunjuk Su Rong, pengawal muda itu langsung menunduk hormat saat Xin Er dan yang lainnya memperhatikannya.


"Paman Lau lebih aku perlukan di sini untuk mengawasi bisnis, dan juga menjaga kalian serta Grace. Dia sudah kembali ke Jakarta, pengawalnya masih terluka, aku tidak bisa mengabaikan keselamatan Grace begitu saja. Ku harap paman Lau bersedia mengurus para wanita di rumah ini selama kami pergi."


Gumam Xiao Jun dengan santai, ia sengaja mencari kata-kata yang lebih ringan agar tidak merusak suasana hangat.


Xin Er terlihat berpikir, begitupun Li An yang langsung merasa tak senang mendengar nama Grace.


"Nona Grace kembali ke Jakarta? Apa dia masih punya tujuan di sini?" Tanya Xin Er yang belum sepenuhnya mengerti kondisi hubungan Xiao Jun dam Grace secara detail.


"Jun, apa dia masih mengejarmu?" Celetuk Li An menimpali pertanyaan ibunya.


Li An menundukkan kepala, ia belum bisa menjawab Xiao Jun. Namun genggaman tangan Wen Ting yang sedari tadi diam mendengarkan mereka, rupanya sangat berpengaruh menenangkan hati Li An. Sentuhan itu memberikan dukungan berarti pada Li An untuk yakin membuka hati.


"Baiklah, aku mengerti Jun. Masa lalu biarkan saja, aku tidak bisa membebankan kesalahan orang lain pada dia yang tidak ada andilnya. Mendengar ceritamu tentang dia, aku ikut lega Jun." Ujar Li An dengan mantap, setelah itu ia menatap Wen Ting dan memberikan senyuman terbaiknya.


"Syukurlah nona Grace bisa bersikap lapang menerima kenyataan, kelak semoga tidak ada lagi penghalang hubunganmu dengan nona Yue Hwa, Jun. Kalian sudah mengantongi restu kami." Gumam Xin Er yang merasa sangat lega.


Xiao Jun mengangguk senang, "Terima kasih ibu dan kakak. Oya, apa kalian tidak keberatan jika Grace tinggal di sini juga? Sebenarnya dia tinggal di unit depan, tapi aku cemas keselamatannya. Lebih baik kalian berkumpul agar Lau lebih muda mengawasi."


Li An mengangguk mantap, "Ya, aku tidak keberatan, tidak ada alasan untuk menolaknya."


Haris tersenyum melihat keakraban keluarganya serta kelapangan hati Li An memaafkan masa lalu. Namun kebersamaan ini harus segera disudahi sejenak.


"Baiklah, ayah rasa sudah saatnya kita berangkat."


Seluruh perhatian tertuju pada Haris, mereka hening sejenak namun beberapa di antaranya mengangguk patuh.


Haris masih menggenggam tangan Xin Er, tetapi kali ini ia harus melepaskan lagi tangan itu. Ia menatap lekat pada Xin Er, memohon kepercayaan wanita itu sekali lagi.


"Aku harus pergi lagi, aku pasti kembali."


Gumam Haris yang tahu isi hati Xin Er.


"Aku akan selalu mendoakanmu di sini, aku akan berpuasa daging selama kalian pergi, tak akan berhenti mendoakan keselamatan kalian, dan akan menjaga diriku baik-baik agar tidak membuat kalian khawatir." Lirih Xin Er, ia dengan lapang membiarkan tangan Haris terlepas dari genggamannya.


Haris, Xiao Jun, Wen Ting dan semuanya berdiri, mereka saling berpelukan hangat sebelum benar-benar pergi.


"Aku janji, ini pertempuran terakhirku. Setelah ini, aku akan di sisimu, hingga maut menjemput." Bisik Haris lembut di telinga istrinya.


"Aku percaya sepenuhnya padamu, pergilah jemput kemenangan kalian segera." Balas Xin Er dengan bisikan pula.


Sementara Li An membungkuk hormat pada suaminya, sebagai formalitas bahwa ia akan patuh pada suaminya meskipun berjauhan.


"Kamu harus kembali segera dengan selamat, karena anak kita membutuhkan ayahnya." Bisik Li An.


Wen Ting terkesiap, matanya terbelalak seolah tak percaya apa yang ia dengar.


"Kamu hamil? Aku akan segera jadi ayah?"


Pekik Wen Ting yang saking bahagianya hingga semua menatap ke arah mereka.


Li An tersenyum malu, ia menyimpan rahasia itu begitu rapat bahkan Xin Er pun belum mengetahuinya. Ia sengaja menyembunyikan kabar baik itu karena ingin Wen Ting menjadi orang pertama yang tahu, dan ia ingin menyampaikan langsung. Ia menghindari tatapan suaminya dengan berbalik badan, namun yang terjadi justru Wen Ting menariknya ke dalam pelukan.


💟💟💟


Hi guys, thanks sudah mengikuti cerita ini. Mohon dukungan like dan komentarnya ya.


Baca juga novel author yang berjudul PUBER KEDUA. Makasih.