OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 2 WHO AM I?



 


 


Aku tahu, akan ada pelangi setelah gerimis pergi di siang hari. Namun akankah ada


bahagia setelah petaka ini pergi?


***


Sekelompok pria berperingai antagonis, gesit menelusuri setiap sudut jalan, bangunan yang


mereka intai. Sasarannya hanya satu, dan itu harus segera mereka lenyapkan


sebelum matahari terbit.


“Kau sudah menghabisinya?” suara Li San di ujung handphone.


Ia berharap kabar baik yang akan didengar.


“Beri kami waktu, Tuan. Aku akan mengabari kembali nanti.” Ujar pesuruhnya.


Percakapan berhenti. Li San *** handphonenya. Apa susahnya mengatasi seorang anak? Liang


Jia, orangmu lihai juga. Geram Li San yang mulai habis kesabaran.


***


Suara ledakan yang menggelegar disusul batu-batu kerikil yang menghujani gudang persembunyian Wei


dan Yue Hwa. Wei berusaha mencari strategi baru, di luar perkiraan musuh sudah


mencium keberadaan mereka. Sihir yang ia gunakan untuk mengelabui perhatian musuh


beransur musnah.


“Wei, kita harus bagaimana sekarang?” Yue Hwa berusaha tenang. Ia sudah mulai bisa mengontrol


rasa takutnya.


“Nona, ini saatnya kita berpencar sementara. Keluarlah dari pintu belakang, aku akan mengalihkan


perhatian mereka dengan sihirku. Bawa jimat ini, jangan sampai sobek. Mereka tidak


akan bisa melihatmu meskipun bertemu. Tunggu saya di kuil yang biasa dikunjungi


Nyonya di Kowloon.” Wei menyodorkan secarik kertas kuning lalu mendorong tubuh


mungil Yue Hwa agar segera meninggalkan tempat itu.


“Aku akan menunggumu kembali Penjaga Wei.” Yue Hwa memalingkan wajah dan berlari keluar sesuai


arahan Wei. Bulir-bulir bening membasahi pipi, membasuh serta rasa perih akan


nasib yang kini mempermainkannya.


Wei keluar dengan tenang, setidaknya ia yakin majikan kecilnya sudah menjauh dari cengkraman


musuh. Kini ia harus menghadapi serombongan pria berdarah dingin hidup atau


mati.


“Serahkan gadis itu!”


“Bahkan mati sekalipun, tidak akan kuserahkan pada tuan kalian!” Wei mengucap mantera, gudang


persembunyiannya kembali ke wujud asli. Mereka kini berdiri di tengah jalanan


sepi. Dan pertikaian itu dimulai.


***


Langit senja berwarna merah, kala matahari membenamkan sinarnya di ufuk barat. Sekawanan burung gereja


beterbangan bebas tanpa beban, sangat kontras dengan perasaan gadis kecil yang


sudah sekian lama menanti kembalinya sang pahlawan. Pandangannya sigap


mengitari sekeliling, berharap ada sosok yang ia kenal menjemputnya pergi dari


tempat ini.


Ia kesepian di tengah keramaian massa. Tidak ada satupun yang ia kenal, bahkan tidak ada satu


orangpun yang peduli padanya. Rasa lapar dan haus mulai terasa, namun ia hanya


bisa menelan ludah dan mencekik perutnya untuk menahan diri. Wei hanya membekalinya


secarik jimat. Ia tidak memiliki uang sepeserpun.


Angin dingin berembus, langit senja berganti gelap pekat. Suasana malam di depan kuil masih terasa


hidup dengan aktivitas lalu lalang orang dan ramainya kios makanan di sekitar. Yue


Hwa merapatkan jas hitam milik Wei yang masih ia kenakan. Tubuhnya nyaris


tenggelam oleh ukuran jas dewasa tersebut. Aroma tubuh Wei dari jas itu sedikit


menenangkan Yue Hwa, setidaknya ia merasa tenang, ada pria baik yang bisa melindunginya.


Namun di mana ia sekarang? Mengapa tidak kunjung datang?


Ywe Hwa menyandarkan diri di samping kios mie, ia masih bisa menatap ke arah gerbang kuil dari sana.


Lelah dan lapar memaksanya untuk pindah ke posisi yang lebih nyaman.


“Hoaaammm…” ia menguap panjang. Pelarian sepanjang hari membuatnya kehilangan waktu tidur siang. Ya,


begitulah rutinitasnya di rumah mewah orangtuanya. Bahkan kemarin ia masih


makan malam bersama dan bersenda gurau dengan kakak-kakaknya. Mengapa dalam


sekejab suasana itu berubah mengerikan? Apa salah yang ia lakukan sehingga


ayahnya ingin menghabisinya? Wei yang belum juga muncul membuat Yue Hwa lelah


dalam penantian dan tertidur.


***


Liang Jia masih disekap dalam kamarnya. Sejak kemarin ia tidak selera menyantap apapun meskipun para


pelayan berulang kali membawakan makanan. Ia berubah menjadi tahanan rumah atas


kesalahan telah menyelamatkan nyawa putrinya.


Suara derit pintu membuyarkan lamunan Liang Jia, seorang pengawal setia Li San masuk tanpa


permisi. “Nyonya, anda dipanggil menghadap Tuan besar di Aula!”


Lengan Liang Jia ditarik paksa untuk ikut. Wanita terhormat itu memberontak, ia tak rela diperlakukan


seperti itu. “Lepaskan! Aku bisa berjalan sendiri.”


Li san sudah duduk di singgasananya, tatapan tajam yang bisa menelanjangkan pikiran siapapun yang


menjadi lawan. Di ujung pintu aula, sosok wanita tercinta mulai terlihat. Ia memincingkan


mata untuk menyambutnya. Kini secinta apapun ia pada wanita yang sudah


memberikanya 5 putri yang cantik, tidak akan menggoyahkan niatnya untuk


membunuh si putri bungsu.


“Duduklah, jangan terlalu formal.” Ujar Li San kepada nyonya rumahnya.


“Terima kasih Tuan Li. Aku sudah lelah duduk sepanjang hari.” Enggan kalah, Liang Jia menolak dengan


caranya.


“Kau tidak boleh menyalahkanku. Sudah 6 tahun aku memberi kesempatan hidup untuknya sembari


menunggumu memberikanku seorang putra yang kau janjikan. Tapi sudahlah, aku


memanggilmu kemari bukan untuk menghakimi. Ada hadiah yang akan kuberikan.”


Li san mengangkat tangan kiri, memberi kode kepada para pengikutnya. Seorang pria masuk membawa


sebuah tampah yang ditutupi kain hitam. Li San menjentikkan jari telunjuk kiri,


kemudian pria itu mengangguk patuh lalu berjalan ke arah Liang Jia. Pria itu


menyibak kain hitam penutup tampah. Seketika itu mata Liang Jia terbelalak,


seluruh tubuhnya bergetar melihat sepotong kepala dari orang yang sangat ia


percaya.


“Tidaaaakkk!” Liang Jia menutup mata dengan sapu tangannya. Pemandangan di depan tak mampu disimaknya


lagi. Air matanya mengucur, membayangkan betapa berdosanya ia pada pria itu. Bagaimana


ia mampu menghadapi kehancuran keluarga Wei tanpa kepala keluarga. Dan ini


semua karena salahnya.


“Orangmu sudah tamat riwayat. Meskipun orangku belum bisa menemukan putri kita, tapi cepat atau


lambat ia pasti menyusul nasib Wei. Sudah kukatakan padamu, jangan melawanku!”


gertak Li San penuh kemenangan.


Liang Jia menunduk, sepatah katapun tak mampu terucap. Penyesalan, kemarahan, kesedihan, dan


perasaan lain yang susah dijelaskan berkecamuk jadi satu. Ia tidak lagi fokus


mendengar apapun yang dilontarkan suaminya yang kejam itu.


“Pengawal, bunuh seluruh keluarga Wei! Jangan ada sisa dari keluarga pengkhianat itu!” Li San


mengeluarkan perintah lagi.


“Siap Tuan.” Puluhan pria setia Li San segera berlutut hormat menerima tugas itu.


“Tidaaakkk! Tuan Li, harap ingat kembali kebaikan leluhur Wei terhadap keluarga Li. Jangan karena


masalah keluarga ini, anda mengabaikan titah leluhur untuk selalu berhubungan


baik dengan klan Wei.” Liang Jia berusaha mencegah kesadisan terburuk yang


direncanakan suaminya. Ia berharap hutang budi leluhur bisa mengubah pikiran


prianya.


“Hmm…  Pengawal, bawa anak dan istri Wei hidup-hidup!”


Li San ternyata masih punya hati nurani untuk merubah titahnya. Liang Jia berlutut mengucapkan terima


kasih atas perubahan keputusan itu.


“Kau jangan senang dulu, kita lihat apa yang akan dilakukan kepada mereka. Pengkhianat tetap


pengkhianat.” Sergah Li San tegas.


Liang Jia bungkam. Jawaban telak dari suaminya berhasil menakutinya. Entah rencana jahat apa yang


diskenariokan untuk keluarga Wei. Maafkan


aku, sungguh maafkan aku Wei.


***


Derap langkah sepatu memecah keheningan jalan. Malam kian larut, aktivitas warga perlahan surut. Namun


tidak ada yang menyadari ada seorang gadis kecil yang nyenyak dalam lapar dan


haus. Tidur berselimut angin malam yang menembus pakaiannya, meskipun ia


memakai jas hitam peninggalan Wei.


Suara sepatu semakin jelas terdengar, membangunkan Yue Hwa dari tidurnya. Samar-samar penglihatannya


menangkap sosok seorang pria. Ia terkesiap.


“Penjaga Wei? Apa ini kamu?”


***