OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 59 PERASAAN DI UJUNG TANDUK PERPISAHAN



H – 1 resepsi pernikahan


Seisi kediaman keluarga Li bersibuk ria menyambut hari kebesaran Yue Yan. Sang calon mempelai wanita sudah menjalankan tradisi pingit sejak seminggu lalu. Kesempatan itu pula dipergunakan untuk mempercantik diri, ia memanggil ahli spa untuk menghaluskan kulit yang bawaannya memang sudah halus lembut. Mulai dari rambut sampai ujung kaki mendapatkan perawatan ekstra.


Yue Fang yang paling setia menemani kakaknya setiap saat. Ini kesempatan terakhir mereka bisa dekat dan bebas menghabiskan waktu bersama sebelum Yue Yan berubah status menjadi istri seorang konglomerat.


“Fang, kau juga sekalian luluran dan rias kukumu. Besok kau harus jadi pengapit pengantin yang cantik, mana tahu ada pangeran yang jatuh hati.” Goda Yue Yan.


“Mana ada pangeran di jaman ini. Palingan pria kaya yang manja dan sombong. Huh…” ujar Yue Fang tak tertarik.


“Kakak tidak menawari kami untuk perawatan juga? Kok hanya Yue Fang yang diperhatikan?” protes Yue Xiao yang tiba-tiba sudah berdiri di dalam kamar bersama Yue Xin.


“Adik pertama dan adik ketiga, sejak kapan berdiri di situ? Mari masuk, kalian juga bebas melakukan perawatan apapun yang kalian suka.” Yue Yan girang melihat saudaranya berkumpul semua.


“Terima kasih kakak. Besok adalah hari pentingmu dan juga terakhir kalinya kita dapat berkumpul. Adik ingin memberikan pesta lajang sebagai pelepasan status lama kakak. Segala persiapan sudah selesai, tinggal


menunggu kehadiran kakak di kediamanku.” Ujar Yue Xin sepenuh hati.


“Wah, aku sangat terharu mendengar perhatian kalian. Kakak harap setelah ini, kalian bertiga hidup rukun dan saling melindungi. Satu persatu dari kita nantinya akan pergi dari rumah dan berkeluarga, mungkin akan sulit bagi kita berkumpul lagi. Tapi sampai matipun persaudaraan kita tak terpisahkan.” Yue Yan memberi nasihat pada ketiga adiknya, ia berharap Yue Fang tidak akan didiskriminasi oleh keduanya.


“Kami mengerti kakak.” Ujar mereka bertiga kompak, sesuai aturan tata karma yang diajarkan di keluarga Li.


“Kabarnya besok petinggi Negara dan rekan bisnis ayah dari luar negri banyak yang datang. Pernikahan kakak disorot sebagai pernikahan tersohor di Hongkong tahun ini. Keluarga kita ternyata bisa menandingi pamor selebritis terkenal, padahal kita hanya putri seorang penguasa bisnis.” Yue Xiao berdecak kagum menceritakan berita yang ia baca dari berbagai situs internet dan siaran TV.


“Walau hanya anak perempuan keluarga Li, status keluarga kita sangat terhormat sejak dulu. Selebritis bukan level kita sebenarnya. Andai saja ayah memberi kebebasan pada kita untuk berkarier, aku juga ingin jadi artis. Tapi status ini merantai tangan dan kaki kita, apa yang bisa kita lakukan selain menunggu perjodohan dengan keturunan rekan bisnis


ayah.” Ungkap Yue Fang sedih membayangkan impian yang hanya tinggal angan.


“Ya, kita tidak punya hak memilih pasangan hidup. Semua sudah diatur ayah, aku bahkan tidak pernah berani jatuh cinta pada siapapun.” Keluh Yue Xin.


“Apa segitu tidak bergunanya anak perempuan? Enak betul ya anak laki-laki yang diadopsi ayah, ia bebas terbang seperti elang. Mungkin dia juga tidak akan terjerat perjodohan bisnis seperti kita.” Timpal Yue Xiao. Ajang temu kangen itu berubah jadi sesi curhat.


Yue Yan menatap ketiga adiknya penuh prihatin. Mau apalagi memang beginilah takdir terlahir sebagai putri Li San. Andai adik ke empatnya masih hidup pun pasti tidak terlepas dari lingkaran ini. Kadang Yue Yan berpikir, yang patut dikasihani adalah dirinya atau Yue Hwa? Gadis yang menghilang puluhan tahun itu belum tentu sudah mati, bisa saja ia sedang menikmati hidup yang lebih baik ketimbang kakak-kakanya di sini.


“Kau mengungkit soal dia bikin aku ingat sesuatu. Besok dia juga hadir, ayah mewajibkannya pulang. Jadi sudah pasti dia akan berdiri satu barisan dengan kita. Terakhir bertemu dia hanya seoarnag bocah 7 tahun, seperti apa rupanya sekarang?” ujar Yue Xin


“Aku tak sudi memanggilnya adik! Dia tidak sedarah dengan kita!” seru Yue Xiao lantang.


Yue Yan menggeleng kepala, jika sudah mengungkit soal Xiao Jun maka tensi kedua saudaranya langsung meningkat. “Sudah-sudah. Adik bukankah kau sudah menyiapkan pesta? Aku sudah siap, ayo kita senang-senang sepuasnya!”


***


minuman dan cemilan lalu kabur lagi. Ia belum tahu alasan yang tepat untuk lolos dari penghakiman Weini.


“Kak Dina, mana naskahku?” tanya Weini yang belum bebas bergerak lantaran rambutnya sedang dicatok curly.


“Eh, bentar non.” Dina berlari keluar meminta kepada tim kreatif kemudian kembali secepat kilat sambil ngos-ngosan mengatur napas. Diberikannya sebandel kertas print out berisi naskah untuk dua episode.


Weini bisa menebak rasa takut Dina, seseorang yang merasa bersalah tentu akan dihantui rasa takut saat bertemu dengan orang yang jadi korbannya. Lumrah saja, itu hal yang manusiawi.


“Kak Dina, aku perlu bicara empat mata.” Ujar Weini ketika dirinya sudah selesai dirias. Tim Make up artis yang menghandel Weini pun satu persatu berpamitan keluar, kini tinggal Dina yang tak bisa kabur dari sarang macan.


“Emm… yang kemarin non aku… non lari sangat cepat meninggalkanku di belakang. tiba-tiba Om Lau menelponku dan bilang sudah ke rumah sakit. Aku langsung mencari nona untuk mengabarkan tapi nona nggak ada di kantor lagi.” Jenius banget alasan Dina bahkan jika Weini belum tahu kronologi aslinya mungkin akan tertipu.


Weini menghela napas berat, “Huft… sudahlah kak. Aku sudah tahu yang sebenarnya. Xiao Jun yang memberitahuku.”


Xiao Jun memberitahu nona? Tamat riwayatku. Pekik Dina dalam hati. “Jadi non sudah tahu semuanya?”


Weini mengangguk, “Kau diminta paman Lau untuk menjebak kami agar kami baikan. Anyway makasih kak.” Ujar Weini sembari tersenyum.


“Oh… jadi hanya itu aja kan yang tuan Xiao Jun bilang?” Dina merasa plong, boroknya tidak terbongkar semua.


“Heh? Apa masih ada rahasia lain?” weini tampak curiga, apa masih ada hal lain dari Dina yang tidak ia ketahui.


Dina gelagapan, ia semaksimal mungkin memasang raut tak bersalah. Jangan sampai Weini tahu ia sudah menerima uang hampir 200jt dari transaksi informasi tentang dirinya. “Nggak non, nggak! Hanya itu aja suwer!”


Nyawa Dina diselamatkan olh seorang kru yang mengetuk pintu hingga perhatian mereka beralih. “Weini, sudah waktunya take!”


Interogasi Weini terhenti sebelum ia masuk ke sesi curhat. Dina menariknya keluar agar segera ke studio. Kata-kata Xiao Jun yang pamit pulang ke Hongkong terus terngiang saat pikiran Weini kosong. Ia sebenarnya ingin mendengar saran Dina, apakah berlebihan kalau ia mencari Xiao Jun sebelum ia pulang? Kesempatannya hanya tinggal hari ini.


***


Haruskah kuucapkan kata pisah, di saat aku masih mengharapkan pertemuan?


Sudikah ia menerima kenyataan bahwa aku tak ingin kehilangan dirinya?


Di saat aku mulai menyadari arti pentingmu, justru kau pergi menjauh.


Jangan salahkan aku, bila kuperjuangkan perasaaan ini. Jika soal cinta, aku tak akan pernah menyerah


_Quote of Weini aka Yue Hwa_