OPEN YOUR MASK, PRINCESS!

OPEN YOUR MASK, PRINCESS!
Episode 95 TAK SEBAIK MALAIKAT



Weini tak bergeming meskipun Metta meneriakinya dengan lantang. Ia menebar senyum dan begitu tenang menyilangkan kaki sambil menyandarkan diri pada kursi.


“Udah ngomongnya?” tanya Weini selow.


Metta justru dibuat bingung dengan pembawaan diri Weini yang begitu tenang bagaikan air tanpa arus. Setelah dibentak dan ditantang seperti itu tapi Weini belum menggubris, malah mengeluarkan pertanyaan sindiran.


“Sepertinya udah nggak ada tambahan. Kalo gitu dengarkan baik-baik, aku tidak suka mengulang perkataan. Aku hanya memberi kesempatan untukmu, tapi kayaknya salah deh kamu lebih betah di penjara. Berhubung kasus juga belum ketok palu, belum telat sih ngirim kamu balik ke sana. Aku akan hubungi pengacara dan minta mereka mengabulkan permintaanmu.”


Weini meronggoh tasnya mencari ponsel yang disilent. Ia tak perlu capek adu mulut dengan gadis yang tidak belajar dari pengalaman, cukup bertindak nyata untuk membungkamnya. Metta terkejut hingga duduk kaku menatap Weini yang mencari kontak dari panggilan terakhir.


“Eits… gue nggak bilang mau masuk sana lagi! Hentikan!” Metta menepis ponsel Weini hingga terjatuh ke meja.


Weini menatapnya dengan tajam, ponsel satu-satunya yang ia sayangi ditepis tanpa rasa bersalah oleh gadis tak tahu diuntung itu. “Kamu takut? Ciih… udah terlambat buat menyesal. Kamu memang gak pantas dikasihani. Setelah ini aku akan memproses kembali gugatan, aku serius dengan ucapanku.” Ancam Weini tegas.


“Lu bisa apa kalau tanpa bantuan pria kaya itu. Lu jual diri ke dia kan sampe dia rela lakuin apapun buat lu. Kayak gitu lu banggain? Lebih terhormat gue…”


Cacian Metta terhenti, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Ia reflek memegang pipi dan merasakan panas pada bekas tamparan. Matanya melotot ke Weini penuh kebencian seakan bisa menerkamnya hidup-hidup.


Weini tak sanggup mendengar penghinaan itu, fitnah yang keji disunggingkan padanya langsung membakar amarahnya, melumat habis puing kesabaran yang coba ia kumpulkan. Ia tidak berhati malaikat, tidak sekejam iblis. Tapi bukan berarti tidak bisa membalas kejahatan dengan kejahatan yang lebih parah.


“Hirup sisa udara bebas sepuasmu sebelum diciduk. Kita lihat empat tahun kemudian setelah keluar dari penjara, apa kamu masih sepercaya diri ini menindas orang yang kau anggap lebih rendah? Ayahmu punya harta, kuasa tapi tidak akan bisa membeli reputasi. Nama baikmu selamanya terkubur oleh catatan hitam. Seorang putri konglomerat mantan narapidana yang tidak lulus SMA. Kelak pria mana yang sudi menikahimu jika punya track rekor seburuk itu hahaha…”


Weini sengaja tertawa melengking yang sarat ejekan pada lawannya. Penghinaan yang merendahkan harga dirinya sebagai seorang gadis membuatnya harus memberi sanksi tegas bagi si pelaku. Ia muak melihat wajah gadis yang mematung kaget di hadapannya dan berdiri hendak meninggalkan medan perang. Kali ini ia pergi sebagai pemenang.


“Weini…” Teriak Metta, ia berlari mencegat langkah Weini. Kedua pipinya basah bekas linangan air mata, ia raih kedua tangan Weini kemudian tanpa sungkan berlutut.


Kelas mulai ramai oleh siswa yang kembali dari kantin, puluhan pasang mata menjadi saksi bertekuk lututnya seorang gadis angkuh. Tidak sedikit pula yang inisiatif merekam kejadian seru itu dan menyebarnya di grup sekolah.


“Maaf… jangan gugat lagi.” Metta terisak mohon belas kasihan.


Weini tak berniat memberi jawaban, ditepisnya genggaman Metta dan berlalu begitu saja dari hadapan Metta yang masih bersimpu dalam tangisan.


***


Pasca pembicaraan serius dua bersaudara Li, Chen Kho akhirnya menduduki jabatan sebagai kepala pimpinan perusahaan menggantikan posisi Xiao Jun sementara. Ia punya keleluasaan mengakses dan menggunakan


Sekretaris wanita yang seksi dan cantik melenggang masuk membawa sebuah rantang susun tiga lalu meletakkannya di atas meja. “Tuan Chen Kho, pacar anda mengirimkan bekal makan siang lagi.” Ujarnya dengan nada serak serak basah yang sengaja dibuat-buat.


Chen Kho memutar kursi yang ia duduki hingga berhadapan dengan sekretarisnya. Li An terlalu naïf mengiriminya bekal setiap hari kerja. Sebelum berhasil ditakhlukkan, gadis itu selalu menolak dan terasa menantang bagi Chen Kho namun setelah berhasil mendapatkan hatinya ternyata gadis itu sangat penurut dan jinak seperti kelinci. Chen Kho tak merasa tertantang lagi, ia hanya bertahan dan pura-pura baik. Jika bukan karena tujuan utamanya belum tercapai, ia tak sudi menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan gadis lugu itu.


“Seperti biasa buang pada tempatnya. Aku tak napsu melihat masakannya.” Perintah Chen Kho. Sekretarisnya sudah hapal kebiasaan itu, ia selalu turun tangan membuang isi makanan dalam tong sampah lalu menyisakan


bekal kosong agar dianggap sudah dimakan.


“Buang sekalian rantangnya. Bikin muak aja.” Sambung Chen Kho dengan nada kasar.


“Baik Tuan.” Wanita itu berujar dengan nada yang menggoda. Ia berjalan sembari melenggangkan pinggulnya yang bahenol menuju pintu keluar.


“Tunggu! Letakkan di sana dulu. Aku lapar dan bernapsu memakanmu.” Chen Kho menghampiri wanita yang juga tengah berjalan mendekatinya. Mereka berhenti di tengah ruangan, sekretaris itu dengan genit menarik dasi Chen Kho dan melumat bibirnya.


***


Siang yang sangat panas membuat Weini kegerahan dan terus mengipasi wajahnya dengan buku. Meskipun hanya menuju ke parkiran tapi ia kepanasan lantaran langsung terpapar terik matahari. Ia baru merasa plong ketika masuk ke dalam mobil yang sudah dingin lebih dulu sebelum ia datang.


“Langsung pulang aja pak.” Ujar Weini memberi aba-aba agar supirnya segera meluncur.


Hidup menawarkan perubahan yang drastis bagi Weini, ia terbayang setahun lalu hidupnya masih sangat biasa. Setiap pagi dan siang harus berkejaran dengan waktu untuk pergi dan pulang sekolah, menjadi asisten Haris, sering merasa kesepian karena temannya hanya satu orang yang kini sudah jadi ex teman – sisi. Sekarang roda kehidupan sedikit berputar menuju poros atas, ia mulai mandiri finansial, memiliki ketenaran dari profesinya, menikmati fasilitas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya dan memiliki teman sekaligus pacar. Wajahnya bersemu merah hanya karena membayangkan kekasihnya.


Sayangnya ia tetap merasa kesepian saat sampai di rumah yang kosong. Haris lebih betah di rumah lama dan bersiap memulai kursus lagi. Xiao Jun juga cukup sibuk dengan kerjaan, walau mereka bertetangga tapi tidak setiap hari bisa melihatnya. Tinggallah Weini yang masih pengangguran karena jadwal syutingnya masih seminggu lagi. Direbahkan tubuhnya begitu saja ketika berjumpa dengan spring bed king size yang empuk di kamarnya. Ia berguling ke kanan ke kiri berulang kali.


“Bosaaaan…”  teriak Weini.


Ia jumpalitan di atas kasur dan baru berhenti ketika mendapatkan ide brilian. Senyum nakalnya mengembang menyusul semangatnya yang terkumpul maksimal. Ia bergegas turun dari kasur dan bersiap diri melakukan


rencananya.


***