
“Ayah sudah nggak apa-apa, tenanglah.”
Weini mendapat jawaban yang berusaha meyakinkannya bahwa Haris sudah membaik, namun ia tetap cemas. Ia terus menghubungi Haris dan meminta pria tua itu bersiap, begitu sampai di rumah, ia akan membawanya ke
rumah sakit.
“Kita konsultasi ke dokter sebentar, ayah. Jangan remehkan asam lambung.” Lirih Weini, ia sungguh cemas. Meskipun tak mengerti mengapa Haris yang punya pola hidup sehat dan makan teratur bisa terkena penyakit silent killer itu.
Xiao Jun melirik Weini yang kini memegang ponselnya, pembicaraan via telpon itu sudah berakhir. “Percaya saja pada ayah, dia pasti lebih mengerti kondisi tubuhnya.” Ujar Xiao Jun berusaha menenangkan Weini. Sebenarnya ia pun merasa sedikit bersalah, karena sakitnya Haris pun termasuk sepaket rencana yang diusulkan Dina.
Weini berusaha percaya, apa yang dikatakan Xiao Jun memang benar. Sejak dulu Haris memang tipe yang bisa menyembuhkan diri sendiri. Mungkin kali inipun, Haris sudah menangani keluhannya dan tak perlu penanganan
medis lagi. Setelah perasaannya sedikit lega, Weini malah teringat hal yang ingin ditanyakan pada Xiao Jun. Yang lalu memang sudah berlalu, tapi ia perlu tahu alasan Xiao Jun bertanya dengan kasar padanya waktu itu.
“Ah, saat itu … Apa maksudmu bertanya siapa aku?” Weini menatap Xiao Jun yang serius menyetir, ia yakin pria itu masih bisa berkonsentrasi meskipun pertanyaan itu terdengar mengejutkannya.
Xiao Jun tersentak, ia sudah memprediksi bahwa Weini akan membahas masalah lalu, tetapi tetap saja ia masih berdebar kencang mendengar penghakimannya tiba. Ingatan Xiao Jun diputar saat Li An memberinya wejangan.
Sabda Li An : “Ingat, wanita itu nggak suka dibohongi. Tapi kadang mereka lebih suka dibohongi daripada tahu kenyataannya lebih menyakitkan. Kalau dia bahas masalah kemarin, bilang saja kamu lagi mabuk saat itu jadi ngelantur dan nggak ingat apa yang kamu omongkan.”
Xiao Jun menggelengkan kepala, menepis bayangan wajah Li An beserta ekspresinya yang terngiang dalam ingatannya. Ide Li An memang bagus, tetapi tidak sesuai dengan hati Xiao Jun. Ia tak nyaman memakai cara
seperti itu, namun tiba-tiba seakan ada kontak telepati, bayangan dan suara Li An terngiang lagi.
Sabda Li An season 2 : “Awas kalau kamu sampai gagal baikan sama dia malam ini, jangan harap tidur di apartemenmu. Jangan pulang sebelum sampaikan kabar baik untukku.”
Xiao Jun menghela napasnya, ia tak akan diam lebih lama. Weini perlu jawaban, jangan biarkan seorang gadis menunggu terlalu lama. Weini meliriknya dengan tatapan penantian serta sorotan penuh pengharapan.
“Itu … Saat datang dan melihatmu dalam posisi dekat dengan pria lain. Rasa marahku tak tertahankan, aku bertanya untuk mengingatkan posisimu. Siapa kamu? Kamu adalah milikku, jangan terlalu dekat dengan pria
selain aku.” Jawab Xiao Jun, mantap. Alasan yang ia lontarkan ini jauh lebih masuk akal ketimbang alasan yang dikarang oleh Li An.
Weini menunduk setelah mendengar pengakuan Xiao Jun, betapa manisnya rasa cemburu itu hingga membutakan akal sehat. Ia tak memberi komentar sejenak, membiarkan suasana hening mendominasi mereka meski hanya sesaat.
“Oh, kamu masih nggak percaya sama Stevan? Kami hanya rekan kerja, dia habis pingsan waktu kamu datang. Sekarang dia sudah berhasil mengalihkan perasaan sayangnya hanya sebatas menganggapku adik. Kalau mau
saingan marah karena cemburu, mungkin yang lebih pantas marah adalah aku.” Ujar Weini dengan tenang.
Xiao Jun mengangguk, “Maaf … Itu tidak akan terulang lagi.” Lirihnya.
Weini hanya tersenyum, dalam hati ia berharap semoga masalah di antara mereka tak akan terjadi lagi. Ia ingin menjalani masa pacaran yang manis dan normal seperti kebanyakan pasangan yang dimabuk cinta. Berharap semuluk itu tidak ada salahnya kan?
pertunangan.” Ujar Xiao Jun, ia menoleh hanya untuk menebar senyum kemudian kembali fokus menyetir.
Weini terdiam sejenak, ia sependapat dengan Xiao Jun bahwa belakangan ini Grace mulai berubah bahkan terkesan aneh. Semula ia mengira hanya kebetulan, namun dua hari ini ia melihat Grace mulai menyerupai gayanya. Bukan cuma Weini yang berpikir begitu, Dina dan Stevan juga sependapat. Grace seperti tengah berusaha menarik perhatian seseorang di sana.
“Ah, dia beberapa hari ini memang agak berubah. Tadinya aku pikir dia sangat sulit dihadapi, ternyata setelah lebih kenal, dia tidak seburuk yang dikira. Jun, kurasa dia mulai tertarik pada seseorang, tapi dia sendiri mungkin belum menyadarinya.” Gumam Weini.
Xiao Jun mengernyitkan dahi, “Siapa?”
Weini mendelik, “Cepat banget jawabnya, kamu penasaran atau merasa patah hati karena cintanya berpaling ke yang lain?” Tuding Weini sok bawel.
Xiao Jun tertawa kecil, ia menggelengkan kepala kemudian satu tangannya menggaruk dahi. Tak habis pikir mengapa Weini punya pikiran sesempit itu. “Bukankah itu kabar bagus kalau dia suka sama pria lain, mungkin
benar ungkapan tentang cinta baru untuk mengganti cinta lama.”
Gentian Weini yang mengernyitkan dahi, sepertinya ungkapan itu tidak asing baginya. “Siapa yang bilang itu?” Tanya Weini pelan.
Xiao Jun tersenyum, tanpa memandang gadis di sampingnya, ia pun menjawab. “Stevan. Dia pernah bilang gitu waktu kasih saran soal Grace.”
Weini terpukau, benang merahnya bisa ditarik juga. “Kamu tahu siapa yang aku curiga disukai Grace?”
Xiao Jun dan Weini saling bertatapan kemudian tanpa direncana dengan kompak menjawab, “Stevan.” Begitu tersadar mereka menyahut bersamaan, keduanya terdiam sebentar lalu tertawa bersama.
Cinta yang baru untuk cinta yang lama, terdengar simpel namun ternyata efektif untuk menyembuhkan hati yang luka. Dan kaum milenial sering menyebutnya dengan istilah – move on. Namun yang pasti, jodoh itu tidak akan tertukar. Yang memang untukmu, pasti akan jadi milikmu. Bagaimanapun kamu mengelaknya, pada akhirnya kalau jodoh sudah tiba ketidak-sukaan akan berubah cinta.
***
“Ayah tampak segar rupanya.” Weini mengomentari penampilan Haris yang terlihat fresh, sehat dan masih sangat kuat. Fakta itu menggulungkan pikiran negatif yang membuat Weini ketakutan beberapa saat lalu, ia membayangkan kondisi ayahnya yang terkulai kesakitan seraya memegangi perut. Ternyata, Haris tidak kehilangan pesona dan kegagahannya.
“Sudah ayah bilang nggak apa-apa, sudah sembuh.” Gumam Haris. Mereka bicara di depan pintu, Weini tak sabar untuk menanyakan kabarnya dan langsung menodong perhatian begitu pintu terbuka.
Xiao Jun berdiri di belakang Weini, senyum dan anggukan hormatnya langsung ia lakukan ketika Haris menatapnya. Betapa bahagianya ia yang telah mendapatkan pengakuan dari ayah kandungnya, mereka tak perlu berpura-pura saling tidak kenal lagi, kecuali di hadapan Weini.
Xiao Jun pamit dari sana, membiarkan Weini beristirahat atau sekedar menghabiskan waktu bersama Haris. Masih ada hal yang perlu dilakukan menjelang surprise party untuk Weini. Pria itu mengetik sebuah pesan yang ditujukan sekaligus pada dua penerima – Li An dan Dina.
Misi berhasil, thanks.
***