
Udara kota Jakarta kembali dihirup oleh Xiao Jun, sebulan saja meninggalkan kota ini ternyata cukup membuatnya rindu. Ada semacam rasa yang tak bisa ia ungkapkan tentang kota itu, bukan sekedar ketertarikan atau ketergantungan, yang pasti kedatangannya kali ini dengan tekad membongkar persembunyian ayahnya. Sementara Grace beringsut tanpa semangat mengekori Xiao Jun dan Lau yang berjalan di depannya. Sekujur tubuhnya nyaris kehabisan tenaga, sungguh perjalanan yang melelahkan, bukan karena lama di jalan yang membuatnya kehilangan semangat, tetapi karena sikap dingin Xiao Jun yang tanpa toleransi. Grace bisa merasakan bahwa ia dianggap tidak ada oleh pria itu.
Xiao Jun tersenyum tipis kala langkahnya mulai mendekati apartemennya. Tak ada yang berubah, hanya sebulan saja tentu tak banyak perubahan yang terjadi. Dalam hati Xiao Jun menertawakan dirinya, ia terlalu banyak berpikir.
“Nona, ini apartemen anda. Selamat beristirahat.” Ujar Lau mengantarkan Grace pada tempat tinggalnya yang berselisih satu unit dengan Xiao Jun.
Grace memincingkan mata, ia belum jelas yang dimaksud Lau. “Loh, bukannya kita tinggal bersama?” Tanya Grace terheran-heran. Ia melihat Xiao Jun masih berjalan hingga berhenti di depan pintu.
Lau menggelengkan kepala, “Tuan muda sudah menyiapkan apartemen ini untuk anda, selama belum menikah, anda berdua memang belum pantas tinggal satu rumah, nona.”
Grace menggigit bibir bawahnya, cukup sudah! Emosinya sudah sangat membuncah, ia berlari menyusul Xiao Jun. Lau dan Fang-Fang ikut berlari menghampiri gadis itu.
Grace meraih tangan Xiao Jun yang sedang memencet tombol password, kedua matanya berkaca-kaca. “Apa maksudmu? Kau bawa aku ke sini tapi tinggal berjauhan, kau tega biarkan aku kesepian? Aku mau tinggal
bersama di manapun kamu tinggal!” protes Grace, suaranya menggema di tengah suasana hening.
Xiao Jun melepaskan genggaman tangan Grace dengan tangan yang satunya. Ia menatap gadis itu dengan tatapan dingin, seperti yang sepanjang hari ia lakukan. “Paman Lau sudah jelaskan, masih kurang jelas?” cibir Xiao Jun, sinis. Ia tahu gadis itu tidak bersalah, tak pantas pula diperlakukan dingin, hanya saja Xiao Jun tetap bersikukuh menjaga jarak dan mengendalikan sikap, agar gadis itu tidak semakin berharap.
Grace menatap tajam pada Xiao Jun, tanpa berkedip. Ia menuntut perhatian lewat sorot mata yang menahan tangisan. Baru Grace sadari sakit hati karena cinta, bisa membuat seorang gadis periang dan cuek sepertinya
menjelma gadis cengeng dan berhati lembek. Menanggalkan logika untuk sekedar sadar bahwa ia tengah mempermalukan dirinya yang seperti pengemis cinta.
“Tidak! Pokoknya aku mau satu rumah denganmu. Kalau tidak ....” Grace berhenti bicara, memikirkan ancaman yang belum tercetus di pikirannya.
“Apa?” Tanya Xiao Jun sinis, ia tak terlihat takut dengan apa yang ingin dilakukan Grace.
Grace malah ciut melihat sorot tajam mata Xiao Jun, bukannya meluluhkan pria itu, yang ada Grace justru memancing emosinya. “Ng ….” Grace menundukkan wajah, ia mulai kebingungan.
“A … aku akan tidur di luar sampai kau ijinkan aku masuk!” ancam Grace.
Xiao Jun menyeringai, gertakan konyol itu tak akan menggugah hatinya. “Silahkan! Jangan repoti aku kalau masuk angin.” Balas Xiao Jun cuek, ia kembali fokus memencet enam digit paswordnya.
Grace mematung dengan kesal, ia tentu tidak berani membuktikan ancamannya. Apalagi Xiao Jun terlihat datar saja, kekonyoan itu hanya akan membuatnya kehilangan muka di depan umum. Grace kembali beringsut pergi
dari hadapan Xiao Jun, menabrak pundak Fang-Fang yang persis berdiri di belakangnya. Kedua gadis itu kembali pada kamarnya, sesuai instruksi Lau.
Bunyi tolakan mesin membuat Xiao Jun menggerutu, satu kali lagi ia melakukan kesalahan maka secara otomatis pintunya akan terblokir. “Paman, apa kau mengganti passwordnya?” pekik Xiao Jun kepada Lau yang berada di depan kamar Grace. Kedua gadis itu sudah masuk ke apartemen mereka. Lau bergegas menyambangi tuan muda itu.
“Tidak, paswordnya masih yang dulu tuan.” Lau mengernyitkan dahi, mengapa nomor itu bisa salah?
“Siapa yang merubahnya?” gumam Xiao Jun. Ia seketika terperanjat, ada sesuatu yang dipikirkannya. Tombol bel di dinding langsung ia pencet berulang kali, firasatnya berkata ada sesuatu yang tidak beres di sana.
“Tuan?” Lau tak mengerti maksud Xiao Jun yang terus memencet bel.
Lau menatap pintu dengan cemas, ia baru ingat sebelumnya ada serombongan orang yang menyingkirkannya dari kantor. Jika kantor saja bisa dimonopoli, apalagi tempat tinggal ini mungkin sudah jadi area kekuasaan mereka.
Terror bel nyatanya tidak mempan, belum ada respon dari dalam hingga menimbulkan kesan bahwa tidak ada penghuni. Xiao Jun semakin murka, ia terpaksa harus melakukan hal paling buruk. Ia mengeluarkan tenaga
penuh, memusatkan konsentrasi untuk merobohkan pintu.
“Tuan, apa yang anda lakukan? Jangan gegabah mengeluarkan ilmu, setiap sudut terpasang CCTV.” Lau mencegat Xiao Jun melakukan tindakan ceroboh yang terhasut emosi sesaat. Ia menepuk pundak tuan mudanya agar buyar konsentrasi.
Xiao Jun membuka mata, menetralkan tenaga dalam yang terlanjur dikumpulkan. Hampir saja ia mengeluarkan sihir untuk merobohkan pintu, beruntung Lau cepat mengingatkannya. “Kalau begitu kita dobrak manual pintu ini, tidak ada yang akan menyalahkanku merusak rumahku sendiri kan.”
Lau menuruti permintaan Xiao Jun, mereka bergantian menubrukkan tubuh ke pintu hingga sistem keamanannya berbunyi. Xiao Jun tak ambil pusing, lebih bagus lagi jika ada petugas keamanan yang menghampiri, sekalian ia bisa melaporkan penghuni illegal di unitnya. Sebelum petugas yang diharapkan Xiao Jun sampai, pintu itu akhirnya terbuka dari dalam.
Seorang pria dengan piyama tidur terlihat gugup dan pucat menatap Xiao Jun yang ekspresinya sangat menakutkan. Ia tak sendiri, di belakangnya ada seorang wanita yang juga mengenakan daster dan gemetaran. Wanita itu tidak mengenali Xiao Jun, ia hanyalah penerjemah lokal yang direkrut tim professional Chen Kho. “Siapa kalian?” Tanya wanita itu, gertakannya terdengar bergetar saking ketakutan.
“Hormat pada tuan muda Xiao Jun.” pria berpiyama itu langsung bersujud pada Xiao Jun, membuat wanita itu semakin bingung. Pria itu berbahasa mandarin dan tak memerlukannya sebagai penerjemah.
“Lancang! Kalian siapa beraninya tinggal di sini!” bentak Lau murka, tidak perlu Xiao Jun yang buka suara, pengawalnya lebih sigap mengurusi masalah ini.
“Ampun tuan muda, kami … kami hanya orang kantor yang disuruh tinggal di sini. Kami tidak tahu ini rumah tuan muda.” Pria berpiyama itu menyembah Xiao Jun, ucapannya terbata-bata mencemaskan nasib selanjutnya.
Xiao Jun mengisyaratkan Lau untuk menyingkirkan apapun yang menghalangi jalan masuknya. Dua orang itu disuruh menyingkir dengan segera. Xiao Jun melangkah masuk, kemarahannya makin menjadi melihat desain
ruangan yang sudah berubah. Ia bergegas menuju kamar utamanya, banyak barang berharga yang ia taruh di sana. Coba saja mereka berani menyentuhnya, Xiao Jun tak segan menghabisinya dengan kedua tangannya.
“Siapa lagi yang tinggal di sini? Keluar!” bentak Xiao Jun. Ia membuka pintu kamarnya dan masuk memeriksa segala yang ada. Foto keluarganya yang disembunyikan dalam laci meja, alat-alat sihirnya, semua masih tergeletak di tempat asal. Pria itu menghela napas lega, ia kembali menyoroti kedua tersangka dengan tatapan nanar.
Tiga orang lagi berjalan keluar dari kamar tamu dan kamar Lau, salah satunya adalah pengawal yang pernah melukai Stevan. Ketika melihat Xiao Jun, pengawal itu berlutut hormat. Layaknya penjahat yang berhasil
ditakhlukkan, mereka bertekuk lutut sebelum perang.
“Siapa yang mengijinkan kalian tinggal di sini? Beraninya melangkahi kekuasaanku! Jawab! Siapa tuanmu!” bentak Xiao Jun pada pengawal itu.
“Ampun tuan Xiao Jun. Tuan Chen Kho yang mengutus kami. Mohon ampuni nyawa kami.” Pengawal itu menyembah Xiao Jun, ia tahu ketika keadaan seperti ini, bahkan Chen Kho pun tak sudi menolongnya.
Xiao Jun menggertakkan gigi, pria tak tahu diuntung itu sangat mengacaukan segalanya. Dalam sekejab saja bisa merusuhi segala yang Xiao Jun miliki di sini.
“Paman, kirim mereka pulang sekarang juga. Aku tidak mau melihat apapun dari kalian tertinggal di rumahku!”
***