UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.96 - Suasana Makan Malam di Sekolah



Felix yang mengetahui jika salah satu penumpang pesawat yang pernah diselamatkannya itu bisa jadi adalah ibunya dan saat sedang bimbang begini datanglah ayahnya untuk meyakinkan saat ragu seperti ini. Jika memang benar bahwa Felix masih punya kedua orangtua tapi kenapa selama ini ia tinggal di panti asuhan? bahkan dengan identitas mereka yang Viviandem, bagaimana mereka bisa hidup bahkan sebelum Felix membangkitkan Viviandem. Apakah karena ia adalah orangtua dari Caelvita makanya diberi perlakuan spesial dan bisa tetap hidup. Tapi kenapa selama ini tidak pernah datang menemui Felix sekalipun? kenapa membuat Felix mendapat gelar sebagai anak yatim piatu? disaat ia memiliki kedua orangtua yang nyatanya masih hidup.


Di depan gerbang masuk banyak anak berlalu-lalang yang kelihatan membawa banyak barang menandakan mereka yang termasuk dalam gelombang pertama untuk mengikuti pelatihan. Sedangkan yang lain harus menunggu minggu depan lagi. Felix dan kawan-kawan beruntung karena masuk di gelombang pertama. Minggu depan sudah masuk libur musim dingin dan harus meluangkan waktu untuk ikut pelatihan lagi disaat yang lain asik liburan.


Ketika semua anak yang akan ikut pelatihan sangat tidak sabar menunggu untuk hari cepat berlalu dan bisa memulai pelatihan. Lain lagi bagi Felix yang serasa ingin menghentikan waktu saat itu juga. Entah apa yang akan terjadi saat malam tiba nanti. Mungkin hanya sebatas perasaan Felix saja tapi Cain tidak bisa tinggal diam. Mungkin Cain terlihat biasa dan sangat santai dihadapan Felix tapi diam-diam ia mulai membuat pelindung diseluruh sekolah. Bahkan ditumbuhan sekalipun ia olesi dengan darahnya. Memang belum terjadi apa-apa tapi saat Cain melihat anak-anak berlarian saling mengejar dan bercanda akhirnya Cain mengerti perasaan Felix. Ketakutan melihat perubahan dari senyuman dan tawa itu.


"Tanganmu kenapa?" tanya Mertie melihat ujung jari Cain berdarah semua.


"Kena duri tangkai bunga mawar!" jawab Cain.


"Pintar juga kau berbohong, kenapa tidak sekalian saja kau bilang terkena salju!" kata Mertie tersenyum miring.


"Mana bisa salju melukai sampai segininya?!" kata Cain tertawa.


"Ya kan? mana mungkin?!" Mertie dengan wajah mengejek, "Seperti halnya dengan alasan terkena tangkai bunga mawar!" lanjut Mertie.


"Maaf ya, jangan samakan alasanku yang realistis dengan alasanmu yang mustahil itu!" Cain mulai berjalan menuju kursi yang ada di taman.


"Ini! aku tidak tahu kalau luka tusukan tangkai bunga mawar akan mempan sih ...." Mertie meletakkan plester luka dengan nada usil.


Memang aneh jika Cain mengatakan itu ditusuk oleh duri tangkai bunga mawar sedangkan semua ujung jarinya kini berdarah. Mana mungkin semua ujung jari Cain bisa terkena duri mawar sekaligus.


Kelas Bu Farrin akan segera dimulai dan Cain bergegas kembali ke kelas. Tapi secara kebetulan Bu Farrin bersamaan masuk ke dalam kelas dengan Cain. Saat Cain membukakan pintu untuk Bu Farrin tak lama setelah lewat dekat tangan Cain yang ditempeli plester membukakan pintu tiba-tiba Bu Farrin pingsan di depan pintu. Semua anak yang ada di dalam kelas bergegas berdiri membantu Bu Farrin dan yang lainnya memanggil bantuan.


"Ada apa ini?" tanya Felix pada Cain lewat tatapan saat jarak mereka terpisah, Felix ada di dalam kelas dan Cain berada di luar kelas.


Cain hanya menggeleng-gelengkan kepalanya terlihat dari jendela kelas.


"Apa darahmu yang membuat Bu Farrin begitu?" tanya Felix yang mulai berada di samping Cain saat anak-anak memberi jalan untuk bisa keluar dan tinggal sedikit anak yang tinggal di kelas karena mengantar Bu Farrin.


"Masa baru sekarang berfungsi? tapi Setengah Sanguiber yang lain baik-baik saja!" kata Cain dengan menyilangkan kedua tangannya, "Dia mungkin hanya tidak enak badan saja!"


"Mungkin dia kekurangan darah!" kata Felix yang membuat Cain jadi tertawa terbahak-bahak.


***


Sore hari menjelang malam biasanya anak-anak akan bersiap ke ruang belajar mandiri untuk membuat kesimpulan pelajaran selama seharian belajar tapi yang mengikuti pelatihan harus sudah mulai datang untuk absen di tempat aula utama sekolah dan mendapat gelang lengan bertuliskan Osis dengan tanda tanya.


"Apa kita seharusnya menulis kesimpulan dulu kak? bagaimana kalau kami ketinggalan kesimpulan pelajaran hari ini karena pelatihan?" tanya Demelza.


"Menjadi anggota osis adalah dilema saat ingin tetap mengejar materi dan juga tetap aktif menjadi anggota osis. Seharusnya kalian sudah membuat kesimpulan saat selesai satu pelajaran tadi karena mengetahui akan dilaksanakan pelatihan!" jawab Loreen, seorang kakak kelas yang terlihat jutek.


Semua anak kemudian mengganti pakaian dengan kaos dan hoodie dengan celana training yang telah dibagikan. Cain hanya memakai kaos lengan pendek saja dan Felix memakai hoodie. Mereka kini duduk berdampingan di dalam aula untuk mengikuti materi pertama.


"Aneh ya rasanya akan menginap di sekolah!" bisik Cain.


"Kau terlihat bahagia sekali!" kata Felix yang melihat ekspresi Cain yang sangat jelas sedang sangat bahagia.


"Aku hanya bersemangat saja!" balas Cain.


"Jangan membuat pengawasanmu jadi longgar, kita disini bukan hanya untuk ikut pelatihan tapi melindungi anak-anak yang lain!" kata Felix.


"Haha ... siap bos!" sahut Cain dengan nada ceria.


Materi pertama adalah Psikologi oleh Dokter Psikiater sekolah yang sering memberi konsultasi pada anak-anak. Ia mengajarkan mulai dari psikologi umum anak SD kemudian bagaimana cara untuk bisa siap masuk dunia osis dan apa manfaat memasuki osis. Cara membawakan materinya sangatlah menarik jadi tidak membuat mengantuk. Diakhir materi anggota pelatihan osis membagikan sebuah kertas dengan pertanyaan tentang materi tersebut.


"Serasa ujian!" keluh Teo dibelakang kursi Felix dan Cain.


Setelah itu materi kedua ditunda dulu dan anak-anak menuju ke ruang makan.


"Makan malam di sekolah?!" kata Tom dengan wajah sumringah.


Dengan langit yang terlihat gelap dari balik dinding kaca ruang makan membuat suasana makan menjadi sangat aneh karena biasanya kalau makan siang jelas terlihat pemandangan di luar karena sinar matahari.


"Andaikan ada asrama ya di sekolah? pasti akan menyenangkan tinggal di sekolah ...." kata Teo.


"Tidak perlu lagi naik bus, jalan kaki, kecapean karena perjalanan pulang ke panti ...." sambung Cain.


"Dan kita jadi punya lebih banyak waktu bermain karena mengurangi perjalanan itu!" Tom dengan ekspresi yang dilebih-lebihkan.


"Katanya memang gedung baru yang sedang dibangun itu akan menjadi asrama tapi bagi tingkat SMP dan SMA saja. Untuk SD masih diperdebetakan!" kata Tan.


"Benarkah? jadi nanti kalau SMP kita bisa tinggal di sekolah dong? wah serunya ramai dengan anak-anak yang lain!" kata Teo.


"Tapi tinggal di asrama tidak di wajibkan! hanya bagi yang mau saja ... bisa jadi hanya orang seperti kita yang akan tinggal!" kata Felix.


Perkataan Felix itu membuat mereka jadi tidak bersemangat dan mulai menyuap makanan dengan terpaksa.


"Kau itu memang perusak suasana!" kata Cain.


...-BERSAMBUNG-...