
Cain jadi heboh sendiri setelah kembali ke Mundclariss karena terlihat sudah banyak siswa/siswi Gallagher yang berlalu-lalang memandangi mereka berdua yang hanya memakai pakaian biasa bukannya seragam. Goldwin hanya langsung pergi tanpa sepatah katapun membuat Cain tidak berhenti mengomel karena katanya Goldwin pergi tanpa membantu sedikitpun. Felix yang masih merasa kesakitan menarik Cain untuk masuk ke kamar mandi.
"Kirim pesan ke Tan untuk membawa seragam kesini!" kata Felix masih memegang kepalanya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Cain.
Cain melihat tatapan Felix, "Haha ... mana mungkin baik-baik saja kan ya?!" sambung Cain membuat Felix makin kesal.
Tak lama pesan Tan datang mengatakan seragam mereka berdua diletakkan didalam loker masing-masing. Cain segera ke loker mengambil seragam dan meninggalkan Felix yang masih berusaha menahan rasa sakit dikepalanya itu.
Setelah berganti seragam dan mengambil tas masing-masing yang sudah disiapkan Tan juga, Cain berinisiatif pergi ke Bemfapirav untuk bisa masuk ke dalam kelas yang sedang berlangsung pelajaran pertama.
Felix menerima saja ide dari Cain karena memang sekolah yang ada di Mundclariss juga ada di Bemfapirav hampir sama persis. Entah itu adalah hasil dari ingatan seorang hantu atau memang sengaja ada yang membuatnya begitu.
"Bagaimana bisa sekolah digunakan sebagai tempat persembunyian begini ya?" tanya Cain berjalan santai membuka pintu kelas dan mulai duduk dibangkunya.
Felix mengintip ke luar jendela dan melihat masih banyak orang-orang yang memakai jubah merah di lapangan sekolah sedang asyik tertawa. Cain yang juga penasaran ingin mengintip tapi dilarang oleh Felix dan mereka mulai kembali ke Mundclariss dengan suasana kelas yang sedang mendengar penjelasan Pak Egan.
"Kenapa aku tidak merasakan apa-apa ya? padahal biasanya aku sensitif kalau soal begini? kita ke sekolah terus tapi tidak tahu menahu soal ini!" kata Cain mengatakannya dalam hati agar didengar Felix tapi Felix hanya diam tidak melihatnya sama sekali.
Cain langsung menendang kaki Felix, "Kau dengar aku tidak!" bisik Cain.
Felix tidak bisa berhenti melupakan apa yang baru saja dilihatnya, terlihat ada satu orang manusia yang diikat dengan tangan dibentangkan dan setengah Sanguiber yang langsung bergerombol datang menggigiti lengannya, bukan hanya untuk menghisap darah tapi daging manusia itu juga ikut tercabik oleh gigi mereka.
"Felix?!" Cain memanggil.
Felix hanya menghela napas panjang lalu menatap Cain dan menyuruhnya fokus dalam pelajaran.
"Eh? tadi bapak tidak melihat kalian?" tanya Pak Egan.
Felix dan Cain jadi pusat perhatian, semua murid menatap mereka dan setuju dengan perkataan Pak Egan yang tidak melihat Felix dan Cain dari awal pelajaran.
"Kami daritadi disini pak ...." Cain dengan memasang wajah cemberut, "Bapak tega tidak memperhatikan kami! wah kalian juga ... bikin sakit hati saja!" tambahnya sambil menambahkan bumbu candaan khas Cain.
"Kalian tidak baru saja masuk kelas kan? tapi bapak juga tidak melihat kalian membuka pintu kelas untuk masuk jika memang terlambat ...." kata Pak Egan bingung dan mulai memeriksa absennya yang memang Felix dan Cain tidak diabsen tadinya. Akhirnya Pak Egan langsung menghadirkan mereka berdua.
Jam pelajaran selesai membuat anak-anak yang lain ingin menanyainya tapi tidak jadi karena guru lain untuk pelajaran selanjutnya sudah datang membuat Cain jadi lega. Kecuali ada satu siswi yang tidak berhenti menatapnya yaitu Mertie.
Felix yang tiba-tiba tertawa kecil membuat Dea datang dan langsung mendorong Mertie.
"Pergi darisini! jangan ganggu mereka!" perintah Dea.
Mertie menurut saja tapi masih dengan wajah tidak berhenti tersenyum membuat Cain jadi penasaran dan menatap Felix.
"Dia melihat kita tadi tiba-tiba muncul dan mengatakan kita dari dunia gaib begitu ... hahaha." kata Felix melalui pikiran membuat Cain tertawa.
Dea yang hanya melihat Felix dan Cain saling tatap tanpa berbicara dan langsung tertawa, bingung dan segera pergi darisana karena tidak tahu harus bagaimana ikut pembicaraan, sedang mereka tidak berbicara apapun.
"Aku harus menghentikan ini sesegera mungkin!" kata Felix memandangi jendela dengan mengingat pemandangan berbeda yang ada di Bemfapirav.
Teo dan Tom yang masuk ke kelas Felix dan Cain langsung naik ke atas meja, langsung menatap dengan tatapan yang jelas-jelas tidak berbicara apapun tapi terasa sudah diberi pertanyaan bertubi-tubi.
Dallas yang terlihat keluar kelas membuat Tan memberi tanda isyarat pada Felix. Felix yang melihat itu langsung keluar kelas mengikuti Dallas. Cain dan tiga kembar juga melakukan misi masing-masing. Karena jam pelajaran olahraga dilakukan di dalam ruangan membuat Felix dan Cain jadi lebih mudah mengamati. Dikarenakan jam olahraga kelas Felix dan Cain sama dengan Tan jadi mereka bisa mengawasi tiga orang sekaligus yaitu Dallas, Parish dan Vilvred.
Seperti yang diketahui memang Parish adalah teman sebangku Tan tapi Felix lah yang mengawasi karena kalau Tan pasti akan mudah ketahuan. Jadi Felix menyuruh Tan untuk bersikap biasa saja dan hanya fokus membantu mengawasi Vilvred untuk Cain yang bukan teman sebangkunya itu.
Felix, Cain dan Tan yang tadinya hanya duduk dan mengawasi kini mulai ikut bermain dengan yang lain. Tan dengan tim sekelasnya sedangkan Felix dan Cain dengan tim sekelasnya juga. Kelas mereka berdua kini saling adu lempar bola rahasia. Dimana akan disediakan banyak macam bola dan disembunyikan dibelakang punggung sebelum dilempar agar pemain tim lawan mencoba menebak alat sesuai bola yang dilempar.
Cain yang dilindungi oleh barisan dari teman sekelasnya dan Felix yang menyerahkan bola basket. Segera setelah peluit berbunyi, barisan yang menyembunyikan Cain membukakan jalan agar Cain bisa melempar bola tapi tim lawan menyiapakan pemukul bisbol membuat teman sekelas Cain tidak berhenti tertawa. Tan dan teman sekelasnya yang lain tidak menyerah dan berusaha memasukkan bola basket itu dengan menggunakan pemukul bisbol.
Peraturan permainan sederhana, walau alat dan bola tidak sesuai tetap harus menggunakan segala cara untuk mencetak poin. Vilvred yang menerima lemparan bola Cain langsung memukul bola basket lurus ke atas dan Parish entah darimana langsung datang memukul bola menuju ring basket tapi Dallas menghadang dan mulai memerintahkan timnya untuk maju menyerang.
Felix memberi isyarat agar tidak terlalu asyik dalam bermain dan melupakan misi. Mereka harus membiarkan ketiga orang yang diawasi itu terlihat lebih menonjol dibanding mereka.
Dengan perintah Dallas semua langsung maju menyerang tim kelas Tan yang sedang memegang pemukul bisbol. Cain yang datang dekat Tan langsung mengejek, "Bola baseballnya hilang om?"
Tan tertawa dengan candaan Cain sementara langsung terjadi keributan tiba-tiba. Tan dan Cain yang teralihkan sebentar jadi melewatkan saat Dallas tiba-tiba terjatuh kesakitan. Felix yang sudah ada disamping Dallas terlihat memandang seseorang. Cain dan Tan yang baru tiba tidak mengerti apa yang terjadi langsung ikut saja melihat arah pandangan Felix yang tidak lepas melihat seseorang.
"Apa dia orangnya?!" tanya Cain yang langsung membuat Tan terdiam membisu.
...-BERSAMBUNG-...