
"Felix sudah berusaha keras lebih dari siapapun untuk membantu jalannya pertarungan menjadi milik kita. Bahkan saat sedang terlukapun, dia tetap melakukan apa yang bisa dia lakukan." kata Raja Aluias.
"Jangan memuji seseorang saat sedang tidak ada, tidak bisa mendengar, apalagi sedang tidak sadar begini ... itu kebiasaan buruk! puji nanti setelah dia sadar." kata Ratu Sanguiber.
"Sepertinya dia tidak perlu mendengarnya juga, karena dia mirip denganmu!" akhirnya Raja Aluias bisa membalas ejekan Ratu Sanguiber sebelumnya.
"Aku sih memang sudah hebat, walau tidak dipuji sekalipun aku sudah tahu." kata Ratu Sanguiber sombong.
"Makanya ...." kata Raja Aluias.
"Sayang sekali kau tidak bisa melihatnya dalam penampilan Aluias dan memakai mahkota yang sama denganmu." kata Ratu Sanguiber.
"Bahkan tanpa itupun, aku sudah membayangkannya. Dia pasti sangat gagah memakai itu." kata Raja Aluias terdengar bangga mengatakan itu.
"Lebih darimu?!" tanya Ratu Sanguiber.
"Lebih darimu!" balas Raja Aluias.
"Cih!" decak kesal Ratu Sanguiber.
"Em ... dia punya Aura Aluias walau hanya sedi ... kit sekali." kata Cain sampai harus menyipitkan matanya untuk melihat dengan jelas Aura Cairo. Kelihatan sangat berlebihan, tapi yang melakukan adalah Cain jadi normal saja. Goldwin sudah terbiasa dengan hal itu.
"Dia juga punya pedang Aluias." kata Goldwin yang juga sama-sama menyipitkan mata untuk bisa melihat.
"Mereka bertiga mengenalnya." kata Cain melihat Tiga Kembar datang ke arah Cairo berada, "Aku tidak terlalu memperhatikan apa yang ada di kuil dan tidak bisa terus melihat kesana, hanya untuk keperluan mendesak saja." Cain tahu dari senjata itu kalau Cairo adalah pemburu iblis.
Tapi Cairo tidak terlalu memperhatikan Tan, Teo dan Tom ataupun siapapun kecuali satu. Matanya hanya tertuju pada satu orang, "Dia ...." Cairo menunjuk Cain.
"Siapa?! yang singa?! atau yang semut?!" tanya Teo usil.
"Yang memakai baju emas." jawab Cairo.
"Ah, Cain .... " kata Teo dengan nada berlebihan, "Memangnya kenapa dengan dia?!" tanya Teo langsung merubah ekspresinya dalam sekejap. Yang tadinya begitu ceria menjadi sangat penasaran.
"Kalian pernah menceritakan dia, kan ...." kata Cairo mengalihkan pembicaraan setelah melihat ekspresi Teo yang tidak biasa.
"Aku sudah lupa!" kata Teo menggaruk-garuk kepalanya.
"Kak Cairo kenapa kesini?!" tanya Tan merasa harus menanyakan hal itu lebih dulu.
"Apa aku tidak diperlukan?!" Cairo balik bertanya dengan tawa, "Apa aku pulang saja kalau begitu?!"
"Tidak ... tidak ... mana mungkin!" kata Teo heboh.
"Bantuan apapun itu sangat dibutuhkan." kata Tom.
"Aku sudah hampir sampai tadi tapi langsung ada kumpulan serigala yang berlari tiba-tiba, tanpa memperdulikanku terus berlari. Makanya aku juga mempercepat langkahku." kata Cairo menjawab sebelum ditanyai.
"Serigala memang sangat membuatku kagum, bagaimana mereka sangat patuh dan setia pada pemimpin. Bahkan untuk serigala yang ada di Mundclariss sekalipun." kata Tom.
"Serigala memang kabarnya berasal dari Mundebris." kata Tan.
"Maka dari itu mungkin, mereka tidaklah bisa dijinakkan karena merupakan keturunan asli dari Mundebris yang lebih mengutamakan kelompok sesama kaum dibanding berbaur atau dijinakkan oleh manusia. Sama seperti sistem Viviandem." kata Tom hanya asal menebak-nebak.
"Apa aku bisa mendekat kesana?!" tanya Cairo yang sebenarnya daritadi ingin menghentikan obrolan mereka tapi ditahan.
"Tentu saja, memangnya Kak Cairo mau tetap disini hanya untuk menonton?!" kata Teo tertawa.
"Tentu saja tidak!" sahut Cairo tersenyum.
Serigala sudah berbaris dengan Raja Aluias berada ditengah-tengah.
"Banks, kenalkan ... ini namanya ...." Teo bersedia untuk memperkenalkan Cairo sebagai perwakilan dari mereka bertiga.
"Cairo! aku sudah dengar dari Yang Mulia ...." kata Banks.
Teo jadi kehilangan semangatnya, padahal bagi Teo memperkenalkan seseorang adalah hal yang sangat menyenangkan untuknya.
"Permisi sebentar ...." kata Cairo berjalan menuju Cain.
"Kak Cairo mengenal Cain?!" tanya Tan.
"Lebih tepatnya, aku mengenalnya beberapa tahun kemudian." kata Cairo.
Cain tersenyum, akhirnya sudah tahu kenapa nama itu tidaklah asing baginya. Karena memang sudah bertemu dengannya tapi diwaktu yang belum terjadi.
"Dunia mimpi Aluias." kata Cairo.
Cain yang daritadi melipat lengannya saat berbicara, langsung melepaskan lengannya dan ekspresinya berubah.
"Jadi, ini dia ... pahlawan kita sudah datang." kata Cain dalam hati tersenyum, "Kau duduk saja untuk saat ini, belum saatnya kau ikut bergabung." kata Cain.
"Kau yang lebih tua mengatakan untuk menyebutkan apa yang kulihat dari pedang ini!" kata Cairo.
"Jadi, apa yang kau lihat?!" tanya Cain yang tadinya berjalan maju untuk kesamping Raja Aluias tiba-tiba berhenti.
"Perubahan cerita, jadilah dirimu sendiri! ikuti kata hatimu! kebaikan mendatangkan kebaikan." kata Cairo.
Tan, Teo dan Tom dengan seksama mendengarkan dan menunggu reaksi Cain.
"Apa maksudnya ya ...." kata Cain.
"Hahh ...." Tom memukul jidatnya mengira setelah mendengar itu Cain akan langsung tahu.
Tan pergi secepatnya darisana, lebih memilih untuk bertarung dengan yang lainnya.
"Padahal aku sudah mengharapkan sesuatu yang keren, mengecewakan!" kata Teo cemberut.
"Memangnya mau bagaimana lagi?! Jujur saja! Memangnya kalian mengerti apa yang dimaksud itu?! Kalau kalian tahu, coba jelaskan!" kata Cain kesal.
"Kan kau yang selalu tahu segalanya." kata Teo sebal.
"Maka dari itu ...." Cain menahan emosinya.
"Jadi, apa aku tetap harus menunggu?! Diam disini?!" tanya Cairo melihat sekitar yang sedang sibuk bertarung. Rasanya tidak enak jika ia hanya tinggal saja. Sementara yang terlihat istirahat terlihat hanya yang terluka saja.
"Disini juga! Disini!" Teo sibuk menunjukkan lukanya pada Banks untuk ditetesi ramuan.
"Kau kan bisa melakukannya sendiri, Teo!" kata Banks agak kesal, "Lihat Tom! dia bisa melakukannya sendiri!"
"Beda kalau kau yang melakukannya ...." kata Teo merengek.
"Sama saja! Itu hanya perasaanmu saja." kata Banks.
Tapi Teo langsung merinding merasa ada yang menatapnya, Teo menoleh sedikit melihat Ratu Sanguiber yang seperti akan memakannya hidup-hidup. Karena dirinya, Banks jadi teralihkan dari merawat Felix.
"Haha sudah sembuh! Hore!" kata Teo langsung berdiri karena panik.
"Masih ada yang belum!" teriak Banks tapi Teo pura-pura tidak dengar.
Tom menaruh kembali botol ramuan pada tas Banks dan bergabung dengan yang lainnya. Sementara Tan bisa mengobati dirinya sendiri dan ada Tellopper juga yang terus bersamanya. Tan sibuk bertarung dan Telloper sibuk menyembuhkan luka Tan segera. Karena kekuatan Daemonimed yang tiba-tiba menjadi senjata Tan, Tellopper yang seharusnya menjadi senjata sekarang menjadi dokter pribadinya.
Verlin pergi melihat keadaan Zeki saat Tan, Teo dan Tom pergi menyapa Cairo. Luka Zeki sudah dirawat dengan sempurna, tinggal Zeki beristirahat untuk pemulihannya.
"Bertahanlah! kau harus hidup!" kata Verlin memegang dahi Zeki sehingga sinar biru muncul disana. Setelah itu Verlin kembali ke area pertarungan.
Raja Aluias menoleh kekanan dan kekiri pada barisan serigala. Kemudian semua serigala berlarian mendampingi masing-masing Quiris Pasukan Felix.
"Dia adalah Raja Aluias. Kau mau bertarung disampingnya?!" Cain menawari Cairo yang tidak bisa mengalihkan pandangannya pada Raja Aluias.
"Jadi ... dia ...." kata Cairo tidak bisa merangkai kalimatnya.
"Daripada tinggal diam, kau juga harus pemanasan kan untuk pertarungan sesungguhnya nanti. Jadi, bagaimana?!" tanya Cain.
"Tentu saja." sahut Cairo terdengar bersemangat.
Cairo melihat Tan, Teo dan Tom yang juga bertarung tanpa gentar dan terlihat sudah banyak peningkatan dari sebelumnya. Cairo menjadi merasa tertinggal, tapi dia juga tidaklah hanya tinggal diam saja selama ini. Cairo juga terus menerus melatih dirinya semenjak mendapatkan perintah dimimpinya.
Cairo berbalik melihat Felix yang masih terbaring tidak sadarkan diri, "Apa yang telah dilakukannya hingga terluka parah begitu?!" Cairo kembali melihat kedepan, "Tanpa diberitahu pun aku sudah tahu kalau dia adalah yang dimaksudkan oleh Felix dulu. Rambut putih bersinar ...." Cairo masih ingat bagaiamana dia menertawakan itu dulu tapi sekarang dia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
"Bagaimana menurutmu?!" tanya Raja Aluias saat Cain dan Cairo mendekat.
"Ada alasan kenapa mereka sangat mengerikan bahkan untuk manusia." kata Cain melihat serigala begitu sangat membantu lebih dari yang dibayangkan, "Ini ...." Cain ingin memperkenalkan Cairo.
"Aku tahu ... Cairo kan?!" kata Raja Aluias.
Cairo heran bagaimana seorang Raja Aluias bisa mengetahui namanya.
...-BERSAMBUNG-...