
Ed menoleh kebelakang tapi memandang bukan ke arah Felix, "Apa itu tadi?!" tanya Ed.
"Hahh ... ternyata dia punya kemampuan Quiris juga, kukira tidak." kata Felix menghela napas lega mengira kalau Ed bisa melihatnya tapi ternyata tidak, "Dia pasti kesulitan selama ini, dengan kemampuan seperti ini pasti dia banyak diganggu oleh Zewhit." mengingat yang bisa menyentuh Felix saat menggunakan Idibalte level satu hanyalah Quiris atau Zewhit.
"Felix! kau sudah berangkat?!" tanya Tan.
"Ah, iya ... iya ... aku datang!" sahut Felix gelagapan karena sempat dipanikkan oleh Ed tapi ternyata yang dipikirkannya salah. Felix segera berlari menuju lokasi Tiga Kembar berada. Tidak perlu bertanya mereka ada dimana, cukup mendeteksi keberadaan Daisy saja yang memiliki gelang pemberiannya maka dengan mudah bisa Felix temukan.
"Apa yang dilakukan oleh Bu Sissy disini?! apa juga maksud dari model rambut aneh itu?!" kata Teo.
"Penyamaran ...." kata Tom.
"Penyamaran apanya? sangat jelas, dilihat dari manapun dia adalah Bu Sissy." kata Teo.
"Itu karena kita sudah terbiasa melihatnya dari kecil, kalau orang lain pasti tidak akan mengenalinya." kata Tan.
"Begitukah?!" Teo mencoba melihat lagi tapi tetap saja sangat jelas kalau itu Bu Daisy. Bahkan jika memakai masker atau hanya bagian belakang saja dilihat tetap bisa dikenali.
Tan, Teo dan Tom hanya bisa terus berada di dalam mobil. Mungkin mereka bisa berhasil menghindari dua orang yang tadi bersamanya dalam mobil. Tapi tidak bisa menipu manusia yang sedang dirasuki oleh iblis itu. Pasti matanya akan cepat tanggap melihat pintu mobil terbuka tanpa ada seseorang yang membuka.
Daisy terus mengambil gambar dari kameranya sambil bersembunyi diantara barang bawaan kapal.
"Rasanya aneh kalau pertemuan seperti ini diadakan saat masih siang walau sudah menjelang sore sih ... tapi harusnya kan adegan seperti ini cocok kalau malam seperti di film-film." kata Teo.
"Kita tidak tahu apa yang mereka bicarakan, bisa saja mereka tidak berniat melakukan hal buruk." kata Tan.
"Adakah iblis baik yang memasuki tubuh manusia?! lucu sekali kau mengatakan itu!" kata Teo.
"Hanya saja ... seperti yang kau katakan, situasi disini tidak menyiratkan apa yang kita bayangkan. Pelabuhan sedang sangat sibuk-sibuknya, banyak orang berlalu-lalang. Haruskah mereka bertemu dan merencanakan sesuatu saat ini juga?!" kata Tan.
"Kalian ini naif sekali! memangnya, semua hal harus sesuai dengan apa yang kalian bayangkan atau sesuai dengan apa yang kau tonton di tv?! atau ... apa harus malam untuk merencanakan dan melakukan kejahatan?! kalian berdua masih sangat polos!" kata Tom.
"Memangnya kau berbeda?! kau juga selalu mengatakan kalau bisa tenang dalam segala situasi tapi terkadang juga panikan ... tidak ada yang sempurna di dunia ini!" kata Teo.
"Begitupun kejahatan, tidak ada yang sempurna." kata Felix ikut dalam obrolan.
"Kau sudah sampai?!" tanya Tan.
"Aku dibelakang Bu Daisy." jawab Felix.
Tiga Kembar bersamaan melihat ke arah Daisy berada untuk mencari keberadaan Felix.
"Apa yang ibu pikirkan?!" tanya Tan.
"Dua orang yang memakai baju warna-warni itu dari Carlton group sedangkan yang dirasuki iblis itu ... apa kalian tidak ingat?!" kata Felix.
"Carlton group lagi ya?! aku sudah muak dan bosan! bukankah perusahaan itu sudah bangkrut?!" kata Teo.
"Putra dari salah satu pemain permainan tukar kematian ...." kata Tan baru sadar setelah memperhatikan secara teliti.
"Putra Lander yang memiliki perusahaan penyiaran tv itu." kata Tom juga baru ingat.
"Yang gila itu?! membakar perusahaannya sendiri?!" kata Teo heboh.
"Kau tahu dia dirasuki oleh siapa?!" tanya Tan.
"Seseorang yang mirip Efrain ...." jawab Felix tidak menjelaskan secara rinci.
Tanpa merasa takut ketahuan, setelah mendengar perkataan Felix itu Tan seperti melompat langsung membuka pintu mobil dan keluar darisana.
"Kau sudah gila?!" tidak bisa ditetapkan apa itu bisikan atau teriakan Teo dan Tom. Teo dan Tom tidak habis pikir apa yang baru saja dilakukan Tan.
"Yang mirip Efrain, pasti itu Lucy!" kata Tan.
"Adik Efrain?! memangnya kenapa kalau dia?!" Tom keheranan masih belum bisa menerima itu sebuah alasan Tan bertindak nekat.
"Apa yang membuatmu seyakin itu?!" tanya Teo.
"Bukankah kau sendiri tadi yang bilang tidak ada iblis baik yang merasuki tubuh manusia, kali ini pengecualian. Lucy bukanlah sosok iblis seperti yang kalian bayangkan." kata Tan.
"Baru kali ini aku mendengarmu mengatakan omong kosong!" kata Teo.
"Buktinya, Banks juga ...." Tan masih tidak mau kalah.
"Sudah jelas kalau Banks tidak berada dipihak Efrain jadi dia tidaklah jahat." kata Teo.
"Aku heran, kenapa kau selalu memihak padanya. Bahkan dari awal bertemu kau sudah mengaguminya." kata Tom.
"Aku hanya tahu saja ...." kata Tan.
"Hanya ...." kata Tom kesal karena diberi jawaban yang tidak jelas.
"Coba jelaskan Felix, apa yang Bu Sissy pikirkan?!" kata Tan.
"Katanya mereka akan menyelundupkan barang. Lucy meminta kedua orang itu mengambil barang dari kapal nelayan yang akan tiba malam ini. Untuk kalian ketahui saat ini Carlton group membantu melakukan hal ilegal." kata Felix singkat.
"Kapal nelayan?!" kata Tom merasa ada yang kurang.
Kali ini Felix membaca pikiran kedua orang dari Carlton group itu, "Bukan kapal nelayan rupanya ... tapi kapal dari negara tetangga. Ada barang yang diinginkan Lucy dan itu ada disana ...."
"Apa?! jadi maksudmu kapal negara lain memasuki perairan kita seenaknya saja begitu?!" Teo tidak habis pikir.
"Mustahil, bagaimana bisa kapal itu lolos dari penjaga perbatasan ...." kata Tom.
"Entahlah ... kedua orang itu juga tidak tahu. Mereka berdua hanya sebagai perantara saja." kata Felix.
"Sudah kubilang kalau mereka itu orang jahat. Wah ... pertama kalinya kita diselamatkan oleh orang jahat ... terlebih lagi dari Carlton group." kata Teo.
"Malam ini mereka akan melakukan pertukaran." kata Felix.
"Menurutmu kita harus melakukan sesuatu tentang itu?! apa memang tepat kalau kita ikut campur?! bisa jadi ini tidak ada kaitannya dengan kita." kata Tan.
"Kau benar sudah gila ya?!" kata Teo sudah kehilangan kesabaran, "Tentu saja ini ada hubungannya dengan kita sebagai warga negara Yardley sudah seharusnya kita menjaga negara."
"Di Mundclariss kita memang tinggal di Yardley tapi di Mundebris negara tidak terbagi-bagi. Semuanya hanya disebut Mundebris, jadi wilayah negara tetangga juga adalah bagian dari Mundebris disisi lain yang merupakan tanggung jawab kita." kata Felix.
"Baiklah, lagipula kita memang tidak sedang ada sesuatu yang mendesak." kata Tan mengalah.
Dua orang dari Carlton Group dan Putra Lander yang dirasuki oleh Lucy sudah meninggalkan pelabuhan dan sepakat akan bertemu kembali nanti jam 12 malam. Daisy setia menunggu sambil bersembunyi sedang mengetik sesuatu untuk dilaporkan ke stasiun penyiaran tempatnya bekerja.
"Ibu sudah seperti gelandangan saja!" kata Teo melihat Daisy makan sambil bersembunyi diantara kontainer.
"Kau juga sama saja!" kata Tom.
"Bukan hanya aku, kau juga!" balas Teo.
"Entah bagaimana ibu selalu saja mengatasi masalah yang berkaitan dengan Carlton group ...." kata Tan.
Felix dan Tiga Kembar setuju untuk menunggu disana sampai waktu pertukaran tiba. Daisy berencana ikut di perahu nelayan yang akan memancing tengah malam, "Kalau beruntung kita bisa mendapat cumi-cumi." kata Teo.
"Memangnya kita benar akan memancing?!" Tom menggertakkan giginya emosi karena perkataan Teo barusan, "Lagipula ... itu namanya mencuri!"
"Aku bahkan belum melakukan apa-apa ...." kata Teo merasa tidak adil.
Tapi tidak sesuai rencana, hal lain terjadi membuat FT3 bahkan Daisy yang sudah mengikuti dan menyusun rencana dari beberapa minggu lalu harus meninggalkan tempat jaganya.
...-BERSAMBUNG-...