UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.62 - Goldwin vs Iblis Buaya



Gedung perusahaan kebanyakan sudah mematikan lampu, kini mereka berjalan di lorong yang gelap. Mertie mulai ragu-ragu melangkahkan kakinya. Cain yang melihat itu tidak menyalahkan karena memang suasana disana saat itu sangatlah menyeramkan. Cain sendiri tidak berhenti merinding dan ingin sekali menanyakan ada aura apa disini pada Goldwin tapi karena ada Mertie tidak bisa dilakukan.


Sampai di depan ruangan kontrol cctv yang sangat sepi seperti tidak ada orang di dalamnya, Cain memberanikan diri untuk langsung masuk membuat panik Mertie yang hendak menariknya kembali tapi gagal dan berakhir mengikutinya dengan pasrah.


Suara jantung Mertie berdebar keras sampai-sampai serasa kesulitan bernapas dan berkeringat dingin, "Haha ... santai saja!" kata Cain menghibur karena mendengar suara debaran jantung Mertie yang keras.


"Bagaimana bisa kau sesantai ini?" tanya Mertie mulai mengatur napas.


"Pertanyaan yang sama!" sahut Goldwin setuju dengan Mertie.


Cain hanya mulai tertawa kecil dan mulai melihat seluruh penjuru sudut kamera cctv yang ada di monitor dan mulai mengingatnya satu-satu sedangkan Mertie mengeluarkan buku kecil untuk mencatatnya.


Tak lama kemudian terdengar suara percakapan dua orang yang sedang menuju ke tempat mereka berada sekarang. Mertie panik mencari tempat bersembunyi tapi Cain masih dengan santainya melihat monitor.


"Bagaimana ini?" Mertie panik begitupun Goldwin, "Apa aku harus menutup pintunya? katakan aku harus bagaimana?" tanya Goldwin heboh.


Mertie dan Goldwin yang sudah betul-betul panik saat suara gagang pintu akan dibuka tapi Cain hanya dengan santainya menarik Mertie masuk ke dalam kolom meja yang ada di belakang.


Debaran jantung Mertie sudah tidak karuan saat dua orang petugas memasuki ruangan dengan tidak berhenti mengobrol. Cain mulai membuka tirai meja dan mengintip untuk kembali melihat sudut kamera cctv yang belum diingatnya.


"Bagaimana bisa kau sesantai ini?" bisik Mertie.


"Aku terkejut sosok Hantu Merah Muda adalah penakut seperti ini!" balas Cain mengejek.


Mertie ingin tertawa tapi ditahan dan akhirnya mulai tenang, kemudian mencatat lagi sudut kamera yang belum dicatatnya tadi.


"Matikan lampu!" Cain menatap Goldwin.


"Uh? Eh? sekarang? tunggu ... kau sudah bisa berbicara melalui pikiranku sekarang?"


"Nanti aku jawab di sesi tanya jawab! sekarang bukan waktunya!" Cain dengan nada usil.


Goldwin kemudian membenturkan kakinya ke lantai dan sebuah percikan emas bersinar membentuk garis dan entah menuju kemana lalu tak lama lampu pun mati. Dua orang petugas itu langsung heboh dan mulai berbicara melalui Radio Walkie Talkie menanyakan apa yang terjadi.


"Siapa itu?" tanya salah seorang petugas saat pintu ruangan terbuka.


Itu adalah ulah Cain dan Mertie yang sudah berhasil keluar dari sana. Petugas yang satunya ingin menyenteri tapi senter yang dipegangnya tidak bisa menyala.


"Apa ini keberuntungan lagi?" tanya Mertie.


"Keberuntungan dari mana?!" kata Goldwin sarkastik.


Cain hanya membalas dengan senyuman saat lampu sudah mulai menyala kembali. Mereka bertiga kini sedang berada di tangga darurat tapi dibagian titik buta cctv.


"Jadi sekarang kita mulai?" tanya Mertie.


"Kau siap?" tanya Cain.


Mertie hanya mengangguk, "Yakin kau bisa sendiri?" tanya Cain meragukan.


"Jangan khawatir, biar begini ... aku belum pernah melakukan kesalahan sedikitpun sebagai Hantu Merah Muda."


"Ck, bangga ya!" decak kesal Cain.


"Haha ... ayo!" kata Mertie meyakinkan Cain dan mereka berdua mulai berjalan terpisah berlawanan arah sebisa mungkin melewati titik buta cctv atau menggunakan properti yang ada untuk bersembunyi tapi lampu yang memang sengaja sudah dimatikan oleh perusahaan membuat mereka bisa lebih tenang.


"Bagaimana dia?" tanya Cain saat Goldwin kembali setelah menyuruh Goldwin mengikuti Mertie tadi.


"Dia santai sekali, tidak seperti tadi yang panik sekali."


Mertie juga mulai memasang benda kecil yang ia bawa seperti Cain dari lantai 1 sampai 10 sedangkan Cain dari lantai 11 sampai 20 dan setelah itu mereka berjanji akan bertemu di parkiran bawah tanah.


"Memangnya benda itu apa gunanya?" tanya Goldwin saat Cain berhasil masuk ke dalam ruangan direktur dengan bantuan Goldwin.


"Ah, ini ... ada deh! kalau dibilang sekarang kan jadi tidak keren ... hahaha."


Goldwin terkejut lagi saat Cain bisa menjawab pertanyaan lewat pikirannya ... akhirnya Goldwin menambah segel pada pikirannya untuk membatasi Cain bisa masuk membaca pikirannya, "Anak ini ... bahkan sudah berani ingin mencoba mengendalikanku ... walau dia mungkin tidak menyadarinya."


Sudah jam 3 subuh tapi mereka masih belum selesai memasang semua benda kecil berwarna hitam itu.


Goldwin menghela napas karena bosan, "Sedikit lagi!" kata Cain lewat pikiran lagi.


"Darimana kau belajar berbicara lewat pikiran begini?" tanya Goldwin.


"Hanya mencoba saja seperti yang dilakukan Felix ternyata aku bisa juga walau tidak seperti Felix yang bisa melakukannya dengan semua orang sepertinya aku hanya bisa melakukannya denganmu ...."


"Lama-lama kau ini jadi tidak seperti Leaure pada umumnya yang aku kenal, kau berbeda sekali ...." Goldwin tiba-tiba berhenti berbicara dan berubah wujud menjadi singa besar dan mengaum keras.


"Ada apa?" tanya Cain sontak menutup telinganya.


"Ada iblis mendekat, tetap dibelakangku!" kata Goldwin.


"Wah ... wah ... seorang Unimaris? Leaure pula! apa yang kau lakukan disini? bukankah Viviandem masih belum dibangkitkan ... bagaimana bisa kau berkeliaran di Mundclariss tanpa Tuanmu?!" tanya seseorang yang tidak bisa dilihat oleh Cain karena ada Goldwin yang menghalangi.


"Bukan urusanmu pengkhianat! pergi dari sini sebelum kurobek-robek kau menjadi potongan tak berbentuk!" ancam Goldwin.


"Oh hohh ... berani sekali seorang Leaure mengancam? bukankah kalian itu bertugas melindungi?"


"Kalau Viviandem Leaure bertugas melindungi seseorang, Unimaris Leaure bertugas melindungi Tuannya ... jadi kalau kau berani menyentuh Tuanku ... ya ... tidak apa-apa jika aku membunuhmu! karena sudah menjadi tugasku ...."


"Oh begitu?" setelah selesai berbicara iblis itu langsung menyerang Goldwin.


Akhirnya Cain melihat sosok iblis itu yang pernah ia lihat sebelumnya. Iblis buaya yang pernah mengganggunya saat di kelas, "Kau anak yang waktu itu kan? haha ... sudah kuduga kenapa auramu sangat kuat menarik para iblis dan Zhewit berdatangan ... ternyata kau seorang Leaure ...."


"Pergi dari sini! ini peringatan terakhirku!" Goldwin menghindari serangan iblis berwajah buaya itu dan langsung membantingnya ke lantai dengan menginjak mulut buaya itu.


Gedung perusahaan serasa berguncang membuat Cain panik, "Goldwin!" Cain takut gedung itu akan roboh jika pertarungan mereka berdua berlanjut.


Goldwin menghela napas mengetahui kekhawatiran Cain dan mulai menendang buaya itu menjauh.


"Baiklah, kau menang hari ini!" kata iblis buaya itu mulai ingin pergi.


"Tunggu!" teriak Cain, "Apa yang kau lakukan disini?"


Iblis buaya itu hanya tersenyum memunculkan gigi-giginya dan pergi melalui gerbangnya yang berwarna jingga dan masuk ke dalam Mundebris.


"Permata apa yang ada di gerbangnya tadi itu?" tanya Cain.


Goldwin kembali ke wujud kucing, "Batu permata Imperial Topaz, ciri khas dari kaum iblis."


"Apa yang dilakukannya disini?" tanya Cain lagi.


"Aku sebenarnya tidak ingin memberitahumu tapi di gedung ini banyak sekali jasad manusia yang disembunyikan," jawab Goldwin membuat Cain tambah merinding.


...-BERSAMBUNG-...