
Empat hari sebelum Felix bangun.
Cain dan Mertie bertemu di dalam perpustakaan untuk mendiskusikan rencananya hari ini untuk bisa masuk ke Perusahaan Carlton Group.
"Sebenarnya ada yang ingin aku beritahu dulu ... emm ...." Cain jadi ragu-ragu mengatakan kalau pabrik daging yang mereka datangi sepertinya memakai daging manusia juga, "Menurutmu? emm ...."
"Emm apa?" Mertie mulai kesal menunggu kelanjutan kalimat Cain.
"Menurutmu bagaimana kalau daging yang dipotong-potong kecil kemarin itu adalah daging manusia?"
"Banyak macam-macam potongan daging, aku sudah mencarinya ...." Mertie yang tadi penasaran dengan apa yang akan dikatakan Cain ternyata sesuatu yang tidak masuk akal, "Kau ini terlalu banyak membaca buku fantasi, sesuatu seperti itu tidak ada di dunia nyata!"
"Aku kan hanya menanyakan bagaimana menurutmu, ck!" decak kesal Cain tidak ingin menakuti Mertie, "Apa selanjutnya biar aku saja sendiri yang pergi? kau menunggu diluar saja ... nanti kalau aku butuh bantuan baru aku panggil ... bagaimana?"
"Kau ini suka sekali bekerja sendiri?!"
"Aku ini tipe yang suka bekerja sama ...." balas Cain, "Hanya saja jika berbahaya seperti ini lebih baik aku sendiri saja!" sambungnya dalam hati.
"Aku sudah menyusun rencana untuk hari ini sesuai dengan saranmu ... walau sebenarnya rencanamu memang lebih mudah dengan banyak orang," Mertie membuka buku catatannya.
"Akhirnya kita bisa melihat bagaimana aksi Hantu Merah Muda?" Cain dengan nada usil.
Mertie hanya menghela napas dan mulai menjelaskan.
"Oooow seperti yang diperkirakan dari Hantu Merah Muda!"
"Kau ini bisa serius gak sih? hahh ... aku jadi berharap ada Felix disini!" keluh Mertie.
"Aku benar-benar merindukannya!" kata Cain dalam hati, "Baiklah ... sampai jumpa nanti!"
***
"Kau menginap dimana semalam?" tanya Tan.
"Di rumah Ibu Sissy!" jawab Cain menyuap makanannya.
Teo dan Tom memukul kepala Cain membuat Cain jadi tersedak makanan, "Uhhuk ... uhhuk! ah, kalian menginap disana juga ya?" Cain tertawa.
"Memangnya kau punya kekuatan bisa tiba-tiba menghilang jadi kami tidak bisa melihatmu ... begitu?!" Teo kesal dibohongi.
"Sudah kubilang kalian tidak perlu mengkhawatirkanku!" kata Cain, "Lagipula memang sepertinya aku punya kekuatan seperti itu ...." lanjutnya dalam hati sambil tertawa.
"Memangnya siapa yang mengkhawatirkanmu?! kami hanya bertanya kau menginap dimana?" kata Tom sambil marah-marah.
"Kalau tidak khawatir kenapa kau lebay begini?!" Cain kaget dengan nada tinggi Tom.
"Kau tidak datang menjenguk Felix kemarin?" tanya Tan.
"Tidak ...." sahut Cain padahal sebenarnya dia datang sebentar melihat Felix tadi subuh sebelum ke sauna dan datang lagi saat akan ke stasiun kereta bawah tanah, kebetulan sauna yang ia tempati dekat dengan rumah sakit.
"Apa kalian bertengkar?" tanya Teo dan Tom.
"Bisa gitu ya bertengkar saat Felix sedang tidak sadarkan diri ...." Cain jadi memasang wajah datar.
"Bisa jadi, kalian kan ahlinya kalau soal bertengkar ...." kata Tan tidak seperti biasanya.
***
"Sekarang aku bahkan malu menampakkan wajahku dihadapan Felix, tapi sudah sangat merindukannya seperti ini ...." Cain datang lagi di depan pintu kamar Felix sebelum bertemu Mertie.
Tidak seperti kemarin saat di pabrik, keamanan di perusahaan sangatlah ketat sudah tidak bisa memakai akal-akalan bertemu orangtua lagi tapi berkat tambahan saran Cain, misi mustahil itu bisa menjadi mungkin dikombinasikan dengan ide awal Mertie.
Sekali sepekan di perusahaan Carlton mengadakan demo memasak dan kebetulan itu adalah besok seperti informasi yang didengar kemarin di pabrik daging yang menyediakan boks es untuk ditempati daging yang akan dibawa ke perusahaan. Jadi mereka berdua berniat menyusup masuk ke dalam mobil yang akan membawa daging itu dan masuk ke dalam salah satu boks es besar yang sudah dimasukkan terlebih dahulu tadi malam dan disimpan paling ujung dan kunci serep gembok mobil juga sudah diambil.
Ban mobil yang tiba-tiba meletus ditengah jalan karena ulah Cain dan Mertie dengan memperkirakan rute jalan yang akan dilewati mobil mereka menunggu di jalan dan menaburkan paku di jalan membuat mobil berhenti dan mereka berdua punya kesempatan untuk bisa masuk ke dalam mobil.
Karena akan digunakan besok siang jadi mereka tidak perlu terburu-buru dan mulai memanggil bengkel keliling yang tersedia 24 jam tapi ternyata ada bengkel yang dekat dengan lokasi tempat ban terkena paku. Walau karyawan yang menyetir dan satu lainnya kesal karena mengira itu ulah bengkel menaruh paku disana tapi tak ada pilihan lain selain membawa mobil kesana dengan mulai memanggil para pekerja bengkel untuk membantunya.
Sementara itu Mertie yang kedinginan di dalam mobil pendingin itu membuka penutup boks dan mengambil banyak daging yang ada di boks lain untuk membuatnya lebih hangat.
"Kau kedinginan?" tanya Cain kaget saat penutup boksnya dibuka dan mulai membantu mengambilkan daging dari boks lain untuk dimasukkan dalam boks Mertie.
"Kau tidak kedinginan?" tanya Mertie.
"Dingin tapi masih bisa ditahan," kata Cain padahal sebenarnya dia tidak merasa dingin sama sekali, "Apa semua keturunan Leaure bisa tahan dingin ya?" tanyanya dalam hati.
Setelah terdengar suara mesin dinyalakan menandakan ban mobil selesai diperbaiki, mobil dirasakan mulai bergerak.
Mobil mulai berjalan dengan waktu yang lumayan lama dan setelah dirasa mobil berhenti dan suara mesin dimatikan, Mertie dan Cain saling tatap dan mulai menutup boks masing-masing.
Suara pintu dibuka membuat Cain dan Mertie jadi deg-degan. Dua orang mulai mengangkut boks es itu dan saat giliran boks Cain dan Mertie diangkat terdengar yang mengangkat tidak berhenti mengeluh, "Hahh, berat sekali ini!"
"Apa kita juga harus memasukkan ini ke dalam kulkas?" tanya salah satu orang yang mengangkat tadi setelah sampai di ruangan demo masak yang merupakan dapur besar biasa untuk latihan memasak daging bagi calon karyawan Restoran Carlton atau juga tempat untuk mengembangkan menu baru yang langsung dipersentasikan dihadapan karyawan lain.
"Tidak perlu, biar saya saja!" jawab seorang perempuan.
"Gawat!" kata Cain dan Mertie bersamaan panik walau berbeda tempat boks.
Didengarnya langkah kaki high heels yang berjalan kesana kemari sepertinya memasukkan daging kedalam kulkas. Tak lama kemudian suara telepon perempuan itu berdering beberapa kali tapi tak ada percakapan lalu suara high heels itu seperti mulai menjauh. Kesempatan itu diambil Cain dan Mertie untuk cepat keluar dari sana.
"Kau ini ceroboh sekali!" kata Goldwin yang tiba-tiba mengagetkan Cain saat membuka boks.
"Kau kenapa?" bisik Mertie.
Cain hanya menggeleng-geleng dan mulai melihat sekeliling ruangan, "Ayo kita ke ruang cctv!"
"Kalau aku tidak membuat panggilan palsu tadi, kau dalam masalah!" Goldwin tidak berhenti mengomel, "Aku sudah membuat cctv jadi tidak merekam kalian, mau apa lagi kesana?"
Cain hanya diam mendengar keluhan Goldwin terus menerus, "Tapi sebenarnya ini adalah hal nekat juga dengan menggunakan keberuntungan tidak akan dilihat oleh pengawas cctv, bagaimana kalau ada yang melihat kita?" Mertie yang awalnya tidak setuju dengan ide nekat Cain itu.
"Tenang saja, semua akan baik-baik saja!" kata Cain santai.
"Kupikir dia tidak terlalu mengerti penjelasanku ternyata anak ini lebih cerdas dari perkiraanku!" kata Goldwin dalam hati.
"Kau ini sudah pintar menggunakanku sebagai Unimaris ya!" Goldwin jadi menyesal sendiri memberitahu bahwa Bangsawan Viviandem biasanya bisa memiliki Unimaris untuk diajak kerja sama. Goldwin yang merupakan Unimaris Leaure pasti memiliki kekuatan melindungi dan menyembunyikan Viviandem yang menjadi partnernya.
...-BERSAMBUNG-...