
Cain bingung harus pergi ke pabrik atau ke peternakan, "Katamu dia menyiksa seseorang di peternakan ... jadi kita ke peternakan saja!" ajak Mertie terlalu terburu-buru.
"Tidak, kita ke pabrik!" kata Cain yakin.
"Kenapa kau memilih kesana? seperti yang kau katakan kan di pabrik mereka sudah dalam keadaan meninggal dibawa kesana ... dan secara logisnya, bagaimana dia membawa orang ke pabrik untuk dibunuh yang memiliki penjagaan dan cctv lengkap?!" Mertie menentang Cain.
"Percaya saja padaku!" kata Cain dengan wajah serius.
"Tapi ... hahh ... kau yakin? nyawa orang dipertaruhkan saat ini?" Mertie masih tidak mempercayai Cain.
"Kumohon kali ini percaya saja denganku! firasatku mengatakan dia dibawa kesana!"
"Firasat? bermodalkan firasat?!" Mertie semakin tidak percaya.
***
Mereka berdua kini sekarang sudah ada diluar pabrik, "Hahh ... aku tidak percaya mengikutimu hanya berdasarkan firasat ... eh itu ...." Mertie berhenti mengomel.
"Kenapa kau berhenti mengeluh?" Cain jadi tidak terbiasa tidak mendengar ocehan Mertie yang dari perusahaan tidak berhenti.
"Itu ... mobil Ted, kakak Era! dia benar kesini!"
"Sudah kubilang kan ... firasatku tidak pernah salah!" Cain membanggakan dirinya sendiri.
"Ya ... ya ... kerja bagus! katakan itu pada firasatmu!"
"Bisa-bisanya kau masih sempat membuat lelucon ... hahaha," Cain tertawa kecil, "Kau dengar itu firasatku, kau hebat!" sebenarnya Cain sudah berpikiran bahwa hanya anak kecil yang dibawa ke peternakan dan orang dewasa dibawa ke pabrik.
"Sekarang bagaimana kita bisa masuk kesana?!" tanya Mertie mulai berpikir.
"Tapi kau tahu siapa perempuan yang dibawa tadi?" tanya Cain.
"Dia sekretaris pemilik perusahaan Carlton Group ... ayahnya Era!" jawab Mertie.
"Kau yakin akan ada juga jalan rahasia disini?" tanya Cain mengikut saja dibelakang Mertie mengelilingi pabrik yang sudah diketahui Cain bahwa Mertie mencari jalan rahasia.
"Pasti ada!" Mertie berhenti tiba-tiba di depan sebuah toko perhiasan membuat Cain yang berjalan dibelakang menabrak Mertie.
"Kalau memang mau membuat jalan rahasia ya memang hanya toko ini yang bisa ...." kata Cain merapikan rambutnya.
Mertie mencoba menekan nomor password pintu toko dengan ulangtahun Era tapi salah bahkan sidik jari Era juga tidak berguna lagi, dicobanya semua ulangtahun anggota keluarga Carlton tapi tidak ada juga yang benar, "Jadi apa?" Mertie berpikir.
"Sisa satu password lagi, kalau kau salah lagi ... kali ini pintu akan otomotis terkunci dan hanya bisa dibuka memakai sidik jari atau kartu ...." kata Cain semakin membuat Mertie tidak bisa berpikir.
"Kau ini tidak membantu sama sekali!" kata Mertie menendang Cain.
Cain menahan agar tidak berteriak kesakitan, "Kk ... kauu!"
Mertie mundur dari pintu dan mengambil batu, "Jangan! alarm akan berbunyi!" Cain panik melihat Mertie hendak melempar pintu yang terbuat dari kaca itu.
Mertie menjatuhkan batunya, "Ah! aku sudah tahu!" segera ditekannya password dan pintu terbuka.
Mereka berdua bergegas mencari pintu rahasia yang biasanya menyatu sempurna dengan lantai, "Disini!" bisik Mertie yang langsung turun duluan.
Cain juga ikut turun tapi langsung ada yang membekap mulutnya, "Mmmmm!" tak lama kemudian kesadaran Cain menghilang.
"Cain! Cain! CAIN!" teriakan keras yang membuat Cain terbangun.
"Huhh ... kau ini ditinggal sebentar saja sudah membuat masalah begini!" kata Goldwin yang duduk dipangkuan Cain, "Sekarang cepat masuk ke Bemfapirav saja! cuma itu satu-satunya cara sekarang!"
"Tidak ... tidak ... HENTIKAN!" teriak Cain.
"Tutup matamu! pura-pura saja tidak melihat ... dia sudah tidak bisa kau tolong lagi!" kata Goldwin saat Cain melihat perempuan yang ingin diselamatkannya kini sedang di pukul menggunakan palu oleh Ted.
"Aaaaaaa! aku mohon hentikan!!!" Cain berteriak sekeras mungkin.
"Cain, ayo pergi dari sini ... yang utama adalah keselamatanmu dulu!" kata Goldwin, "Cain! sadarlah! lihat Mertie disampingmu ... dia juga harus kau selamatkan ... dan aku ini Leaure murni yang sangat membenci bau darah ... berada disini saat ini sudah seperti neraka bagiku!" Goldwin mencoba membujuk Cain.
"Ternyata kalian yang membawa kedua anak kemarin di peternakan? kemana anak yang satunya? kalau kau memberitahuku aku bisa membunuhmu tanpa rasa sakit ...." kata Ted mulai memotong leher perempuan itu membuat Cain sekarang semakin tidak bisa mengendalikan amarahnya.
"Hentikan!!!" teriak Cain.
"Sepertinya seru juga kalau penonton bertambah ...." Ted berjalan ke arah Mertie yang diikat di kursi.
"Kau mau kemana? tidak! hentikan! jangan sentuh dia!" teriak Cain.
Ted tidak memperdulikan Cain dan mulai menampar Mertie yang masih tidak sadarkan diri.
"Hentikan! kumohon!" Cain mulai mencoba melepaskan tangan dan kakinya dari ikatan tapi itu hanya membuat tangan dan kakinya luka.
Setelah beberapa kali ditampar oleh Ted, Mertie mulai bangun.
"Mertie!" teriak Cain.
Ted kembali ke aktivitasnya tadi membuat Mertie yang baru sadar berteriak histeris melihat pemandangan dihadapannya sedangkan Ted hanya tersenyum puas.
"Cain! sadarlah!" teriak Goldwin pada Cain yang kini hanya diam membatu, "Kau mau Felix datang kesini? huh? jika dia merasakan kau dalam bahaya dia bisa terbangun bahkan sebelum kekuatannya pulih jika merasakan Alvaudennya dalam bahaya ... bukannya kau tidak ingin merepotkan dia? begitu bukan?"
Perkataan Goldwin membuat Cain mulai sadar dan pikirannya mulai ditenangkan, "Tentu saja, ayo kita pergi dari sini sekarang!" kata Cain sambil masih menatap kepala perempuan tadi yang kini dimasukkan kedalam sebuah kotak kaca.
"Aku akan membawa Mertie, kau harus cepat ikut juga!" kata Goldwin mulai melompat ke pangkuan Mertie dan langsung menghilang.
Ted yang sadar akan hal itu langsung berlari ke kursi Mertie dan berbalik melihat Cain yang juga ikut menghilang sekarang.
"Aku minta maaf!" kata Cain yang sudah sampai di Bemfapirav.
Ted berteriak keras dan melemparkan segala macam barang diruangan itu untuk melampiaskan amarahnya, "Bagaimana ini bisa terjadi? apa ini hanya halusinasiku saja karena pengaruh obat-obatan ... apa aku sudah mulai gila juga? TIDAK!!!"
Sementara itu Mertie yang tidak sadar ada di dunia mana hanya diam saja. Goldwin segera melepaskan ikatan Cain yang terlihat tidak sedang baik-baik saja.
"Kau terlalu ceroboh masuk kesana padahal kemarin kau menyelamatkan kedua anak itu ... kau pikir dia tidak akan menjaga ketat ruangan rahasianya?!" kata Goldwin semakin memperburuk keadaan.
Mertie yang daritadi tidak berhenti menangis dan Cain hanya menunduk tidak memperlihatkan wajahnya, "Mau sampai kapan kalian begini?! ayo cepat kita pergi dari tempat ini dan kembali ke Mundclariss!" perintah Goldwin.
Tapi mereka berdua kini malah membaringkan diri, "Hahh ...." Goldwin mulai frustasi mengurus mereka berdua, "Sudah 30 menit berlalu waktu Bemfapirav ... kau sudah melewatkan 6 jam waktu Mundclariss!" kata Goldwin yang akhirnya membuat Cain bangun.
"Ayo, Mertie! kita pergi darisini!" Cain mencoba membangunkan Mertie.
"Kalau di Mundebris saat ini pasti kau sudah melewatkan 12 jam! ayo cepat ... sudah jam 7 pagi di Mundclariss, kau tidak mau berangkat ke sekolah?!" kata Goldwin.
"Kita dimana?" tanya Mertie.
"Hahh ... baru sadar juga dia!" kata Goldwin kesal tidak diperhatikan.
"Apa ini mimpi? apa itu tadi mimpi? iya kan Cain?" tanya Mertie yang mulai memaksa Cain untuk menjawab.
"Itu bukan mimpi! Sekretaris itu tidak bisa kita selamatkan ... Ted sudah menunggu kita di pintu masuk!" kata Cain membuat Mertie langsung terduduk lemas dan menangis.
"Sekarang kita ada di dunia hantu ... namanya Bemfapirav, waktu disini berbeda dengan waktu di dunia manusia jadi kita harus segera pergi darisini! meski sulit untuk dipercaya tapi sekarang ayo kita kembali dulu!" Cain mulai menarik Mertie berjalan menjauh dari lokasi pabrik yang ada di Bemfapirav dan mulai membawa kembali Mertie ke Mundclariss Sontak Mertie langsung menutup matanya karena silau matahari.
Mertie takjub dengan kejadian barusan yang dari dunia gelap dengan hanya berjalan seperti biasa dan langsung disambut sinar matahari. Mertie mulai menatap Cain, "Aku tahu apa yang kau pikrikan tapi aku bukan dukun!" kata Cain membuat Mertie mulai tersenyum.
...-BERSAMBUNG-...