UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.529 - UNLUCKY : Perang Besar Pertama Caelvita-119 Part 12



"Dia adalah lawan yang sangat menyusahkan ...." kata Cain.


"Bisa saja kita berada di dalam mimpi selamanya dan tidak menyadari itu adalah mimpi. Menjalani kehidupan sesuai apa yang diatur oleh Bates. Sementara tubuh asli kita selamanya tertidur dan tidak bangun. Semuanya sangat nyata ... tidak ada yang bisa membedakannya saat aku di dalam mimpi tadi dan sekarang." kata Felix bahkan masih agak kurang percaya kalau sudah bangun dan tetap waspada.


"Kalau begitu tanyai aku sesuatu yang khusus ... kalau aku tidak bisa menjawab tandanya itu adalah mimpi." kata Cain.


"Kau sedang dikelilingi oleh Iblis terlebih lagi ada Efrain, walau segel pikiranmu kuat ... setidaknya pasti akan ada saja celah untuk mereka masuk dalam pikiran." kata Zeki.


"Terlebih lagi itu memang juga agak kurang meyakinkan untuk digunakan. Kau tahu kan, Bates pernah menemui kita sebelumnya saat belum punya kekuatan seperti sekarang. Bahkan sebelum kau mengetahui identitasmu sendiri." kata Felix.


"Ciri khas Bates adalah mengawasi lawannya dalam jangka waktu lama untuk mengenal lawan dengan baik sehingga bisa membuat mimpi yang realistis. Bukan hanya lawan tapi orang terdekat lawan juga ... untuk membuat semuanya sempurna." kata Banks.


"Ini seperti bukan dunia pikiran, dimana kita bisa melawan balik atau mempertahankan diri. Cara satu-satunya untuk selamat adalah bangun. Di dalam dunia pikiran kita bisa menciptakan sesuatu untuk membantu melawan balik. Tapi, ini ... hanya Bates yang memasukkan kita dalam sebuah mimpi." kata Felix merasa tidak menemukan solusi.


"Oh, ayolah ... Felix! kita pasti bisa melewati ini." kata Cain mencoba menghibur.


"Sepertinya aku sedang dalam mimpi sekarang." kata Felix merasa aneh dengan sikap Cain.


Cain memukul kepala Felix, "Aku ini asli!"


"Kalau begitu katakan apa yang bisa dilakukan untuk melawannya?! bukankah kau sudah melihat ini terjadi ...." kata Felix menantang.


"Quiris yang bisa mengalahkannya belum datang ...." kata Cain.


"Apa maksudmu?! pertarungan sudah berlangsung daritadi ... kau bilang masih ada yang belum datang?! itu tandanya dia tidak akan datang! kau itu bodoh atau apa?!" kata Felix mengomel.


"Bisa saja kan dia terlambat ...." kata Cain.


"Jangan terlalu berharap, jadi maksudmu ... ada yang berbeda sekarang?! Quiris yang bisa melawan Bates itu tidak datang ... jadi masa depan sepertinya akan bergeser dan berubah sedikit." kata Felix.


"Belum datang!" Cain menekankan.


"Memangnya kau menawarkan apa?! sampai-sampai begitu percaya kalau masih ada yang akan datang?!" kata Felix.


"Kesetiaan ... memangnya ada lagi yang lebih penting daripada terlihat baik di depan Caelvita." kata Cain kelihatan tidak tahu malu mengatakan itu dengan bangganya, "Lagipula ... coba bayangkan kalau kita menang disini, semua pasukan ini akan mendapat gelar pahlawan yang Setengah Quiris biasanya tidak biasa dapatkan dan mendapat poin juga darimu dan dari kerajaan mereka berasal karena membantu Caelvita."


"Itu kalau menang, masalahnya kita akan kalah ... tidak ada yang bisa melawan Bates." kata Felix.


Efrain dan Bates hanya terlihat berdiri dari kejauhan. Sangat kelihatan dari wajah mereka kalau sudah memastikan akan menang. Tidak peduli bagaimana pasukan melawan sekuat tenaga kalau pemimpin kalah, pasukan juga otomatis akan kalah.


"Kau bisa mengalahkannya ... level dunia pikiranmu tinggi, itu menandakan kau sangatlah cukup untuk melawan Bates. Kau pasti pintar menyadari situasi. Buktinya kau berhasil keluar juga ...." kata Cain.


"Cukup?!" Felix tidak tahu apa harus tersinggung atau senang mendengar itu.


"Ayo, kita maju ... mereka pasti menertawakan kita sekarang karena begini ...." kata Cain.


"Tidak perlu memperdulikan soal harga diri pada saat berperang. Toh pemenang akan menjadi penulis sejarah dan yang kalah akan menjadi pecundang. Sehebat apapun kita ... kalau kalah, akan tercatat buruk juga. Sebaliknya, sememalukan apapun itu tindakan kita di medan pertempuran, akan tetap dicap sebagai pahlawan. Karena yang menang yang memegang penulisan sejarah." kata Felix.


"Aku sangat yakin tidak bermimpi sekarang, mendengarmu berpidato seperti orangtua ...." kata Cain.


"Sudah cepat, ayo maju! kalian lama sekali berdebat dan malah membuang-buang waktu saja. Tidak ada juga hasil yang kalian dapatkan ...." kata Goldwin menohok.


"Okey, ayo!" kata Felix dan Cain berlari bersama.


Begitupun Efrain dan Bates yang melihat undangan bertarung kembali diterima.


"Kenapa kau berhenti?!" tanya Cain.


"Apa yang kau lakukan?!" tanya Cain panik.


"Aku masih dalam mimpi ...." kata Felix.


"Tidak, kau sudah sadar Felix ... kau tidak ingat?!" kata Cain menghentikan Felix.


Felix mendorong Cain menjauh dan memenggal kepalanya sendiri dan terbangun lagi dipangkuan Cain.


"Kau akhirnya bangun Felix?! kau tidak tahu bagaiamana khawatirnya aku ... Banks, Zeki sudah mencoba membangunkanmu tapi kau tidak bangun-bangun juga. Bagaimana kau bisa bangun?!" kata Cain.


"Oh, jangan lagi ...." Felix merasa bosan mendengar hal yang sebenarnya sama hanya saja dibuat seakan berbeda, "Aku masih di dalam mimpi lagi kah?! bagaimana dia bisa membuat semuanya sangat normal ... bahkan ekspresi, cara bicara dan ucapan mereka sama. Sudah mengetahui juga bagaimana mengatur ini secara sempurna sehingga aku tidak sadar sedang berada di dalam mimpi. Kalau tidak menyadari Banks yang tidak ikut maju membantuku dan Cain padahal sedang kesulitan tanpa solusi ... pasti aku tidak akan sadar kalau masih berada di dalam mimpi." sambungnya dalam hati.


"Aku tidak tahu, bagaimana kau menyadarinya itu adalah mimpi dalam mimpi. Apa aku membuat kesalahan?! padahal aku yakin semuanya sudah sempurna. Bahkan sampai kau terus bertarung dan selesai bertarungpun tidak akan sadar kalau sedang bermimpi. Aku bahkan sudah menyiapkan kehidupan yang sempurna setelah peperangan tanpa sadar kau masih di dalam mimpi menjalani kehidupan normal." kata Bates menjaga jarak.


"Tidak menutup kemungkinan aku masih di dalam mimpi sekarang, bahkan kepribadian sudah dia pelajari dan sesuatu tentang Cain dia juga tahu ...." kata Felix dalam hati seperti berada di jalan buntu. Mau berputarpun jalan pulang sudah hilang juga, "Tidak ada cara lain selain hanya terus maju dan terpaksa membuat jalan sendiri di jalan buntu ini."


"Kita gantian, aku melawan Bates kau lawan Efrain. Pasti akan sulit, kalau lawan berbeda-beda. Sementara menyiapkan mimpi pasti sulit karena masing-masing orang sudah disiapkan berbeda. Kita berpikiran saja kalau dia tidaklah sehebat itu, iya kan?!" kata Cain lewat pikiran.


"Apa kali ini aku benar berada di dunia nyata?! apa aku benar sudah bangun?! dari Cain ... yang menggunakan pikiran untuk berkomunikasi sepertinya begitu. Karena Efrain pasti akan mendengar pembicaraan langsung, sedangkan lewat pikiran adalah langkah tepat untuk berkomunikasi menyusun strategi." kata Felix dalam hati masih terus berpikir.


"Baiklah, itu patut dicoba ... ayo kita maju! daripada harus menunggu diserang tanpa persiapan." kata Felix.


"Saya juga akan membantu, Yang Mulia ...." kata Banks membuat pelindung pada Zeki agar tidak ada yang menyerangnya pada saat masih belum bisa bertarung dan tidak ada yang menjaga.


"Kelihatannya kau masih harus merawatnya ...." kata Cain melihat luka Zeki yang belum sepenuhnya sudah disembuhkan. Karena luka pedang pada dada Zeki yang besar dan luka bakar lainnya yang juga masih perlu perawatan sehingga Cain merasa Banks tidak harus ikut membantu.


"Kali ini Banks mau membantu ... apa aku benar sudah bangun sekarang?!" kata Felix dalam hati.


"Biar aku dan Felix yang maju dulu, kalau terjadi sesuatu yang mendesak baru kau maju." kata Cain.


"Apa Cain memang suka memerintah begini?! atau aku sedang dalam mimpi lagi?!" Felix kebingungan.


Felix dan Cain kembali maju bersiap menyerang. Kali ini Cain melawan Bates dan Felix melawan Efrain seperti yang sudah direncanakan.


Felix merasa bertarung dengan kekuatan fisik lebih mudah dibanding dengan menggunakan pikiran. Walau serangan Efrain begitu kuat tapi menurut Felix itu lebih baik daripada harus berpikir dua kali lipat melawan Bates.


Saat sibuk bertarung, Cain kelihatan jatuh tertidur. Felix menggunakan segala kekuatannya untuk pergi ketempat Cain berada saat Bates sepertinya akan membunuh Cain saat sedang tertidur.


Goldwin membawa Cain pergi darisana dan Felix menahan serangan Bates kemudian mundur juga memeriksa keadaan Cain.


"Kali ini Cain yang tertidur, apa dia tahu bagaimana bangun dari mimpi ...." Goldwin khawatir.


"Jangan khawatir! dia akan bangun!" kata Felix.


"Bagaimana ...." tanya Goldwin.


"Begini!" Felix menusuk kepalanya sendiri hingga tembus kebelakang dan kembali bangun, "Hahh ...." Felix memegang kepalanya, masih mengingat rasa sakit yang baru saja dirasakannya.


"Luar biasa, kau bangun. Apa yang membuatmu sadar itu adalah mimpi?!" kata Bates menyeringai.


"Awalnya, aku sudah menyadari ada yang aneh saat Cain berbicara lewat pikiran. Kenapa tidak menggunakan Jaringan Alvauden?! tapi aku masih ragu ... karena Cain pasti khawatir mengganggu mereka yang sedang sibuk bertarung saat ini sehingga hanya mengatakannya langsung padaku. Tapi saat hanya Cain yang tertidur sementara Goldwin tidak, saat itulah aku sadar kalau masih di dalam mimpi. Menurutku Cain dan Goldwin pasti sudah terikat sempurna setelah apa yang dilalui selama ini sehingga apa yang terjadi pada Cain, Goldwin juga akan mengalami hal yang sama atau setidaknya kalaupun tidak ikut tertidur pasti Goldwin akan setengah sadar atau merasakan pusing karena mereka sudah selayaknya satu tubuh. Tapi tidak ...." kata Felix dalam hati, "Gawat, aku seperti berada dalam mimpi yang tidak berujung. Aku sedang dalam masalah besar."


...-BERSAMBUNG-...