UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.427 - Sesama Target Yang Kembali Ke Dunia Nyata



Hampir tiga hari Tan, Teo dan Tom hanya terus di kamar asramanya tanpa keluar walau sejengkal dari pintu keluar kamar. Felix lah yang terus membawakan makanan untuk mereka.


"Padahal mereka pernah terluka juga seperti ini tapi sepertinya ... ini bukan karena luka mereka melainkan efek dari Dunia Zewhit." kata Felix dalam hati.


"Rasanya jika tidak tidur selama setahun juga tidak apa-apa, aku sudah memenuhi jatah tidurku." kata Teo disela-sela suapannya.


"Kami baik-baik saja!" kata Tan melihat kekhawatiran di mata Felix.


"Aku tidak mengatakan apa-apa ...." kata Felix.


"Tapi ada tulisan yang muncul di atas kepalamu saat ini! khawatir! ada banyak sekali!" kata Tan menunjuk sesuatu di udara sebagai lelucon.


Sementara Tom sibuk menonton berita di smartphone nya. Sepertinya tinggal lama di dalam asrama tanpa melihat dunia luar membuatnya seperti miskin informasi. Tom ingin mengimbangi pengetahuannya walau tanpa harus keluar melihat apa yang terjadi diluar sana, "Sepertinya korban dari Gerbang Neraka terus bertambah ...." kata Tom melihat berita korban meninggal dengan jumlah yang bukan sedikit.


"Tentu saja, tapi tidak masalah ... aku juga terus memantaunya!" kata Felix.


"Bagaimana bisa?! kau selalu bersama kami ... ow begitu ...." Tan akhirnya tersadar ketidakhadiran Banks.


"Banks meski sekarang Zewhit tapi dari kaum iblis, dia bisa mendeteksi batu imperial topaz tanpa harus bersusah payah seperti kita yang harus memeriksa satu per satu desa atau kota." kata Felix.


"Jadi bagaimana katanya?!" tanya Tom penasaran.


"Belum ada laporan terbaru tapi sebelumnya dikatakan kalau misi dari penciptaan Gerbang Neraka sudah mulai meningkat tentunya itu memperlambat Efrain juga. Banks saat ini juga sibuk melakukan hal lain. Aku tidak menugaskannya pada satu misi saja. Tapi ada beberapa ...." kata Felix.


"Kau terlalu berlebihan pada guruku ...." kata Teo.


"Seperti yang pernah aku katakan, sebelum menjadi guru kalian ... dia lebih dulu menjadi guruku. Akupun tidak enak terus membuatnya melakukan sesuatu tapi dia sangat bisa diandalkan dan saat ini kita kekurangan orang. Banks dengan mudah bisa memenuhi tempat yang kosong dan semua yang dilakukannya tidak pernah mengecewakan." kata Felix.


"Dia Daemonimed tingkat satu dan kau memperlakukannya seperti kami ...." kata Tan.


"Kalian?! memangnya aku memperlakukan kalian seperti apa?!" Felix merasa ada yang salah dari ucapan barusan.


Tan hanya menggerakkan bahunya dengan ekspresi yang membuat Felix tersinggung tapi diabaikan.


"Apa aku perlu memanggil Dokter Mari?" tanya Felix.


"Luka kami sudah hampir sembuh ... yang mengganggu hanya tinggal pusing saja. Tapi pusing, tidak seberapa dengan malam-malam pertama memasuki Dunia Zewhit. Ini sih bisa kami tahan ...." jawab Tom.


"Kau sudah makin lihai saja meramu ramuan ...." kata Felix memuji Tan.


"Aku hanya mengikuti seperti yang diajarkan Banks, yang utama harus kupelajari adalah bagaimana merawat luka saat sedang bertarung, bagaimana membuat kita bisa bertahan dengan luka yang ada sementara masih dalam keadaan bertarung dan bagaimana membuat luka bisa sembuh dengan cepat setelah bertarung." kata Tan.


"Selanjutnya kami harus melindungimu, sangat menyebalkan disaat yang bisa menyembuhkan malah terluka. Kami tidak tahu harus berbuat apa!" kata Teo.


"Ya, aku hanya tahu satu ramuan yang berwarna biru bisa menahan perdarahan dan rasanya sangat dingin itu. Selain itu aku tidak tahu lagi ...." kata Tom juga mengeluh.


"Kau pikir hanya ada satu ramuan yang berwarna biru, beruntung aku membawa hanya satu. Banyak ramuan yang berwarna biru dan manfaatnya juga berbeda. Kau bisa saja membunuhku kalau hanya memanfaatkan pengetahuan itu." kata Tan sedang kaget dengan ucapan Tom yang tidak terduga itu.


"Aku lebih fokus dengan teori bela diri!" kata Tom mengelak untuk belajar ramuan.


"Kau tahu kan kalau aku lemah soal yang begituan ...." kata Teo mengeles dengan alasan yang sudah sering diucapkan.


"Baiklah, kalau begitu ... selanjutnya lindungi aku dengan ilmu bela diri super kalian supaya ilmu ramuanku bisa membantu kalian!" kata Tan sarkastik tapi hanya diterima sebagai lelucon oleh Teo dan Tom.


***


Satu minggu berlalu, keadaan Tiga Kembar sudah mulai kembali pulih seperti normal lagi. Felix sangat lega bahwa mereka tidak mendapat dampak buruk setelah memasuki Dunia Zewhit dan lebih parahnya karena harus menjadi target.


Sementara itu, Zewhit Badut dan Zewhit Kurcaci tambah sibuk lagi menganggu anak-anak di sekolah. Libur musim panas akan berlalu dan musim panas juga akan berlalu. Mungkin karena itulah mereka tidak terkendali, sebab tidak lama lagi mereka harus kembali ke Bemfapirav saat musim panas berakhir.


"Kau menunggu seseorang?!" tanya Tom melihat Mertie hanya berdiri terus di tengah jalan.


"Hahh ... untung ada kalian!" kata Mertie begitu lega tidak harus berjalan sendirian di lorong sekolah yang gelap.


Tapi keberadaan Tan, Teo dan Tom tidaklah seberguna yang diperkirakan Mertie. Bahkan mereka bertiga juga ikut panik saat Zewhit Badut dan Kurcaci memunculkan diri.


"Kalian seharusnya tidak takut, tapi teriakan kalian lebih keras dariku." kata Mertie meremehkan.


"Semua yang punya mata normal pasti akan terkejut melihat mereka dan tentunya kami juga manusia yang punya jantung, mana ada manusia tidak berdebar panik melihat mereka." kata Teo membela diri.


Kedua Zewhit itu hanya berlalu pergi dengan tawa keras dan cara yang unik setelah mendapat rasa takut mereka berempat.


"Memang benar ...." kata Mertie setuju.


Felix tidak terlihat ada di ruang makan besar sekolah untuk makan malam.


"Dia ada dimana Teo?!" tanya Tom terang-terangan sudah tahu kalau Teo punya kekuatan untuk mengetahui keberadaan Felix.


"Ah, eh itu ...." Teo gelagapan menanggapi, tidak tahu kalau Tom akan tahu begitu cepat, "Dia ...." Teo mencoba mencari Felix, "Dia tidak ada di sekolah."


"Jadi, dia ada dimana?!" tanya Tan.


"Mana aku tahu, aku belum bisa melacak keberadaannya kalau diluar area sekolah." jawab Teo keceplosan.


"Jadi akhirnya kau mengaku juga kalau memang punya kekuatan seperti itu ...." kata Tom menyeringai.


"Iya, memang! puas kalian?!" kata Teo sebal membuat Tan dan Tom tertawa.


Demelza terlihat seperti biasa makan sendirian dipojok ruangan. Tiga Kembar saling melirik satu sama lain dan setuju untuk bergabung di meja Demelza.


"Kalian sedang apa?!" tanya Demelza heran ada yang datang ke meja yang sama dengannya.


"Kau tahu, aku sangat suka tempat ini tapi kau selalu saja disini jadi aku terus mengalah tapi malam ini, aku ingin makan disini!" kata Teo.


"Aku juga bergabung kalau begitu!" kata Osvald.


Mereka akhirnya tahu kalau Demelza tidaklah seburuk itu dan ternyata memiliki kisah yang membuatnya terpaksa membangun sebuah kepribadian yang buruk untuk menghibur dirinya sendiri dan terlebih lagi untuk bertahan hidup.


"Apa kami bisa sesekali bergabung makan dengan meja yang sama denganmu?" tanya Tan.


Demelza terdiam heran tidak tahu harus merespon bagaimana, "Apa kalian ingin sebuah informasi?!"


"Memangnya harus begitu?!" kata Tan.


"Biasanya tidak ada yang mendekatiku kalau bukan untuk mencari informasi atau mendengar cerita baru dariku." kata Demelza.


"Kami tidak butuh itu dan kau juga tidak perlu melakukan itu untuk mendapatkan teman makan dan teman mengobrol ...." kata Teo.


"Baiklah, aku sih tidak masalah ...." Demelza dengan ekspresi seperti terganggu tapi tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya.


Tom menatap Osvald, "Jika Demelza dan Charleston punya kesamaan berarti Osvald pun pasti punya kesamaan dengan Calvin. Aku sudah lama mengenalnya tapi aku tidak tahu bagaimana dia hidup selama ini karena hanya selalu terlihat baik-baik saja. Demelza memunculkan rumahnya sebagai senjata jadi mudah ditebak apa yang membuatnya sama dengan Charleston tapi Osvald hanya memunculkan selimut dan memeluk Calvin. Sulit menebak hanya dengan itu ...."


"Apa?!" tanya Osvald merasa terus diperhatikan Tom.


"Aku jadi berpikir, aku ternyata tidak begitu mengenalmu ...." kata Tom.


...-BERSAMBUNG-...