UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.258 - Seseorang Yang Meminta Untuk Diselamatkan



"Tapi, Balduino terlihat bukanlah orang yang suka mengerjai ...." kata Felix berjalan mendekat ke meja Balduino yang terlihat sedang menundukkan kepalanya di atas meja.


"Dia tidur lagi?!" kata Teo melihat Balduino, "Dia selalu saja tidur!"


"Kau juga sama! tidak pantas kau mengatainya!" kata Demelza yang duduk di belakang Teo.


"Ck!" Teo berdecak kesal.


Felix melihat tulisan di papan tulis, "Belajar sendiri!" itu biasanya terjadi jika guru yang mengajar sedang ada keperluan lain yang mendesak sehingga tidak masuk mengajar. Banyaknya kelas di Gallagher untuk tiap tingkatan membuat guru yang sama bidang profesinya tidak bisa menggantikan karena harus mengutamakan tanggung jawab kelas masing-masing.


"Jadi tadi kenapa ada suara teriakan?" tanya Felix melihat sekeliling kemudian memilih Demelza untuk dibaca pikirannya. Bagaimanapun juga dialah si Ratu Gosip, pasti tahu apa yang terjadi tadi, Felix juga mencoba membangunkan Balduino.


"Muncul lagi korban baru dari pelaku baru pembunuhan yang lupa setelah membunuh. Tapi kenapa berteriak segala?" Felix mencoba mencari ingatan lainnya, "Ah, ada yang memposting video di internet ... ada-ada saja! seharusnya hal seperti itu tidak dibagikan, membuat banyak orang menjadi saksi saja yang seharusnya saksi hanyalah satu. Sudah cukup satu orang yang trauma dan menerima beban tanggung jawab untuk menangkap pelaku ... kenapa dia tidak bangun juga?" Felix mulai merasa ada yang aneh dengan Balduino yang tidak kunjung bangun juga.


Akhirnya Felix menarik Balduino untuk bangun dan bersandar tapi Balduino dalam keadaan tidak sadar. Bukannya tidur tapi pingsan, "Hahh?!" Teo datang melihat keadaan Balduino, "Apa yang terjadi?" seisi kelas mulai ribut lagi, bahkan suara bell tanda istirahat dikalahkan dengan suara panik dari kelas itu. Ada yang berlari panik ke ruang guru, ada juga yang langsung menelepon telepon darurat ke Gedung Kesehatan Sekolah yang terpasang di dekat pintu kelas.


Teo menatap Felix meminta jawaban tapi Felix hanya balik menatap saja. Tan dan Tom juga ikut datang setelah Balduino dibawa ke gedung kesehatan.


"Kita harus menyelamatkannya!" kata Felix.


"Huh?" Tan dan Tom menoleh ke arah Felix.


"Rohnya sedang tidak ada di dalam tubuhnya!" kata Felix.


"Seperti yang pernah terjadi pada Cain?" tanya Tan.


"Tidak! Cain dulu mengeluarkan rohnya dengan kemauannya sendiri." jawab Felix.


"Apa maksudnya? jadi ada yang mengeluarkan paksa rohnya Balduino?" tanya Teo.


"Hanya setengah roh nya saja yang diambil paksa entah dibawa kemana, tapi setengah roh nya sengaja Balduino tinggalkan di dalam tubuhnya." jawab Felix.


"Apa lagi maksudnya itu?" tanya Teo.


"Balduino sepertinya terpaksa meninggalkan setengah roh nya untuk memberiku pesan. Tapi karena itu, setengah roh nya tidak sadar saat ini entah dibawa kemana ...." jawab Felix.


"Memangnya apa yang dia bilang?" tanya Tom.


"Katanya, dia harus diselamatkan!" jawab Felix.


"Walaupun kita seharusnya menolongnya, dia itu tipe yang jujur sekali dan tidak tahu malu ya?!" kata Tom.


"Terakhir dia melihat sosok Hantu Jari Kelingking itu datang. Makanya aku ke kelasnya tapi sudah terlambat ...." kata Felix.


"Padahal sebisa mungkin aku tidak ingin terlibat dengan hantu!" keluh Teo.


"Aku sih bukannya tidak ingin tapi masih belum siap ... bahkan setelah berlatih berulang kali dengan bermimpi seram tiap tidur. Masih saja ...." kata Tom.


"Masalahnya, hantu itu adalah anak buah Efrain ... mau kita mau atau tidak mau tetap saja memang tidak bisa ...." kata Tan.


"Baru kali ini aku melihat kalian begini ...." kata Felix heran.


"Jujur saja, aku tidak mempercayai Balduino!" kata Tom terus terang.


"Kalau aku belum sepenuhnya, tapi setidaknya lebih dari kalian ...." kata Teo.


"Ya ... tidak ada pilihan lain selain mencurigainya!" kata Tom.


"Tapi, setidaknya kita harus memeriksanya! seseorang yang tidak meminta pertolongan saja, kita tolong. Apalagi yang memang meminta ...." kata Teo.


"Maka dari itu sangat mencurigakan!" kata Tom.


"Kali ini biar aku saja yang periksa dulu ... setelah mendapatkan sesuatu baru aku mengabari kalian lagi." kata Felix.


"Aku ikut denganmu kalau begitu!" kata Teo.


"Jangan mengambil kesempatan ini untuk bermalas-malasan agar tidak ikut mengejar tugas melakukan kontrak!" kata Tom.


"Kau ini menganggapku apa?! kau tidak lihat aku sedang berniat melakukan sesuatu yang terpuji ... menolong teman sekelas!" kata Teo.


"Hei, para dukun!" teriak seseorang dari belakang.


"Kami bukan dukun!" balas Tan, Teo dan Tom kompak dengan eksperesi dan nada kesal.


"Baiklah ... baiklah ... santai saja! seperti kalian akan memakanku saja ...." kata Mertie.


"Ada apa?" tanya Felix.


"Kau lihat video yang tersebar di internet itu?" tanya Mertie.


"Tidak, saat mau kunonton sudah dihapus!" jawab Tom.


"Teman sekelasku semua melihatnya tapi aku tidak melihatnya!" kata Teo.


"Kau?" tanya Mertie pada Tan.


"Aku juga tidak! Teo yang memegang handphone." jawab Tan.


"Kau ...." Mertie menatap Felix, "Hahh ...." kemudian menghela napas setelah mengingat bahwa Felix tidak punya handphone.


"Video yang tersebar di internet itu dari saksi yang merekam kejadian pembunuhan tadi malam. Saksi itu sepertinya takut untuk menunjukkan dirinya jadi dia hanya menyebarkannya langsung lewat internet. Tapi yang menjadi sorotan adalah cara membunuh pelaku pembunuhan itu sangatlah tidak manusiawi bahkan untuk seorang psikopat sekalipun. Memang kita hanya mendengar kondisi korban tapi ternyata lebih seram dari yang kita pikirkan selama ini ... terlebih lagi pelaku yang ditangkap sudah 9 orang. Bukankah itu aneh? memangnya ada penyakit psikologis secara serentak begini? seperti wabah saja ... ini seperti sudah direncanakan! perkiraanku ada yang menghipnotis pelaku untuk membunuh sehingga setelah membunuh dia lupa ... aku akan mencari video yang dihapus itu dengan menghack Kementrian Kominfo. Pasti mereka masih menyimpan videonya ... lebih baik kalian lihat sendiri nantinya!"


"Tidak usah! aku mempercayaimu! kumpulkan lebih banyak lagi bukti untuk meyakinkanku ... kalau memang kau menemukan sesuatu yang berkaitan dengan supranatural dengan kasus ini, bahkan tanpa kau minta kami akan langsung turun tangan tapi untuk saat ini biarkan pihak polisi dulu yang bekerja ...." kata Felix yang barusan melihat video itu dari ingatan Mertie saat sedang menjelaskan.


"Jadi kalau tidak ada hubungannya kalian tidak akan membantu?" tanya Mertie tercengang.


"Akan! tapi itu kalau pihak kepolisian tidak bisa menangkap pelaku tapi selama ini semua pelaku tertangkap ... apalagi pelaku yang masuk video itu, pasti akan ditangkap juga. Buat apa kita membantu kalau bantuan kita tidak dibutuhkan ...." kata Tom.


"Bagaimana kalau aku menemukan bukti bahwa semua pelaku telah di tes kejiwaannya dan tidak ada yang menunjukkan tanda psikopat?" kata Mertie.


"Bisa saja dia berbohong! psikopat adalah aktor yang hebat!" kata Tan.


"Mana buktinya?" tanya Teo.


Disisi lain, Felix sedang memikirkan Balduino yang saat ini roh nya besar kemungkinan sedang dibawa oleh Hantu Jari Kelingking. Terlebih lagi hanya setengah roh saja karena setengah roh kesadarannya masih ada di dalam tubuhnya walau kini tubunya dalam keadaan koma. Roh Balduino saat ini yang dibawa tidak sadarkan diri, tidak bisa melakukan apa-apa, tidak bisa melawan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Entah kenapa, aku merasa harus menolongnya!" kata Felix dalam hati.


...-BERSAMBUNG-...