UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.120 - Pelaku Pembunuhan Ted



"Jadi bagaimana dengan penghargaan itu? kalau kau tidak mau aku akan coba berbicara dengan Pak Egan ...." kata Tan.


"Tapi bagaimanapun juga, sebaiknya kamu menerima itu!" teriak Mertie dari belakang.


"Hantu tidak usah ikut campur!" kata Teo mengejek.


"Kalau begitu seharusnya kau tidak usah memperdulikanku berbicara kalau aku ini memang hantu!" balas Mertie.


"Sejak kapan kau mengikuti kami? sejak kapan kau mendengar pembicaraan kami?" tanya Tom.


"Mengikuti? aku hanya berjalan saja ... walau aku berjalan dibelakang kalian, bukan berarti aku ini mengikuti ya! lalu apa maksudmu yang mendengar pembicaraan? kau pikir aku ini suka menguping pembicaraan orang lain?!" Mertie jengkel dan mulai berjalan mendahului mereka.


"Menurutku memang sebaiknya kau terima saja Felix! cukup tutup matamu dan terima ...." kata Tan.


"Tapi Cain belum datang juga ya?" tanya Teo mencari keberadaan Cain di dalam kelas setibanya.


Tan langsung menelepon nomor Cain tapi sambil memandang Felix, "Apa yang terjadi dengan Cain? apa dia baik-baik saja? firasatku mereka berdua sudah melakukan hal besar ...." kata Tan dalam hati membuat Felix tetap memasang ekspresi datar seperti tidak mendengar apa-apa.


Kelas sudah mau mulai tapi Cain belum datang juga, "Dia pasti datang!" kata Felix terus meyakinkan dirinya sendiri, "Tapi dia itu lemah sekali ... apa benar dia bisa memundurkan waktu 49 hari? hahh ...." Felix frustasi.


Pintu kelas terbuka dengan cara kasar oleh seseorang yang berlari seperti kehabisan napas, "Maaf pak, saya terlambat ...." kata seseorang yang ditunggu-tunggu oleh Felix.


"Cain?" Felix dengan senyum lebar, "Dari awal aku memang sudah yakin kalau dia bisa!"


"Ow, Pahlawan Cilik!" sorak anak-anak di kelas setelah Cain masuk.


"Pahlawan cilik ... jangan lupa nanti ikut bapak menerima penghargaan jam 12 siang di kantor gubernur!" kata Pak Egan dengan nada bercanda.


"Ow ... ho ... siap pak!" kata Cain membuat anak-anak di kelas meneriakinya, "Tapi sebenarnya daripada cuma penghargaan yang hanya kertas untuk dipajang kenapa bukan sekalian uang saja pak? kan sama-sama kertas pak?!" keluh Cain sambil bercanda.


Tan memperhatikan Cain dari ujung kaki sampai ujung kepala, "Apa dia benar-benar baik-baik saja?" Tan khawatir tapi setelah diperhatikan tidak ada luka sama sekali dan Cain pun masih bisa membuat lelucon seperti itu menunjukkan dia benar-benar baik-baik saja.


Cain menuju tempat duduknya disamping Felix, "Kau pasti khawatir kan? dan tidak menyangka aku bisa kembali ke 49 hari yang lalu?" kata Cain dengan ekspresi menjengkelkan di mata Felix.


"Khawatir? aku? mana mungkin?! tapi aku memang tidak menyangka kau bisa kembali dengan kekuatan seadanya begitu ...." kata Felix mengejek.


Cain tercengang mendengar itu dan hanya langsung mengambil buku yang ada dalam tasnya kemudian membantingnya dengan keras di meja.


"Cain? kenapa membanting buku begitu?" Pak Egan menegur.


"Maaf pak saya hanya tidak menyangka kalau bisa terdengar begitu keras ...." kata Cain sekalian untuk membalas ejekan Felix.


"Aku bahkan tidak pernah tidur selama 49 jam di Mundebris ...." omel Cain dalam hati tapi didengar Felix.


"Kau sudah bekerja keras! aku bangga padamu!" kata Felix dalam hati yang tidak bisa disampaikan langsung oleh Felix..


***


Jam 10 pagi Pak Egan mulai memanggil Felix dan Cain untuk berangkat menerima penghargaan.


"Apa kami tidak boleh ikut pak?" tanya Tom.


"Kan kalo ada kami, ada yang memberi dukungan dan memberi bunga setelah mendapat penghargaan ...." kata Teo.


"Lagipula, seharusnya penghargaannya diberikan di sekolah ... kenapa malah di kantor gubernur?" kata Tan.


"Ada acara di kantor gubernur dan istirahat hanya di jam 12.00 makanya kita harus bisa menyesuaikan ...." kata Pak Egan.


"Seperti tidak tulus saja ... lebih baik tidak usah saja kalau harus dipaksakan begitu!" kata Felix.


Cain menyenggol Felix, "Diam saja! akan berlalu juga nanti ...." kata Cain mencoba membuat Felix sabar.


Felix dan Cain akhirnya berangkat menggunakan mobil sekolah dengan Pak Egan yang mengemudi.


"Entah kenapa bapak memilih angka 7 lagi. Jadi bapak menjadi wali kelas untuk semua kelas dengan angka 7 tingkat SD ... bapak tidak tahu kalau kalian berdua ada di kelas 4-7!" kata Pak Egan menjelaskan.


"Berarti bapak menjadi wali 6 kelas? harusnya satu guru memegang satu kelas saja!" kata Felix.


"Kalian pikir menjadi wali kelas itu asyik? tidak banyak yang bersedia menjadi wali kelas ...." kata Pak Egan.


Handphone milik bersama Felix dan Cain berbunyi, "Dari Teo dan Tom?" tanya Felix.


"Tidak, grup kelas!" jawab Cain terlihat memasang ekspresi panik.


"Ada apa?" Felix merebut handphone.


"Pelaku yang menembak mati pembunuh darah dingin Ted Neilson Carlton, Pewaris Carlton Group adalah ayah korban berinisial V yang ternyata merupakan seorang polisi kini akhirnya menyerahkan diri!" berita yang dibagikan di grup kelas.


"Ini semua gara-gara Mertie, seandainya dia tidak memberitahu kebenaran itu ...." Cain menyesal dalam hati, "Aku juga kurang berusaha keras menghentikan ... kesalahan ada padaku juga!"


"Kau tahu dimana rumah keluarga pembunuh Ted itu?" tanya Felix lewat pikiran.


"Memangnya kenapa?" Cain balik bertanya.


"Ted sekarang menjadi Zewhit, bisa jadi setelah mengetahui siapa yang membunuhnya akan dia datangi ...." jawab Felix.


"Dia mau apa lagi setelah membunuh putri mereka, bukankah itu sudah dikatakan seimbang ...." kata Cain tidak habis pikir.


"Psikopat tidak memandang yang namanya nilai seri. Hanya berdasarkan kemauan dan jika punya kesempatan untuk melakukan pasti akan dilakukan ...." kata Felix.


"Bagaimana ya Mertie mengetahui berita ini?" Cain terlihat khawatir.


"Dia baik-baik saja!" kata Felix.


"Bagaimana kau bisa yakin seakan melihat secara langsung saja?!" kata Cain.


"Dia memakai gelang pemberianku, aku akan tahu jika dia berada dalam bahaya!" kata Felix.


"Kita sudah sampai!" kata Pak Egan.


Saat Felix dan Cain diantar ke sebuah ruangan, Pak Egan entah menghilang kemana setelah berbincang lama dengan seseorang di depan pintu.


"Rumah Viola ada dekat disekitar sini!" kata Cain.


"Kita akan langsung diantar kembali ke sekolah kalau sudah menerima penghargaan. Tidak punya waktu untuk kesana ...." kata Felix.


"Tapi, apa yang bisa dilakukan Zewhit sebenarnya? apa bisa membahayakan manusia lagi?" tanya Cain.


"Zewhit biasanya hanya bisa mengganggu, tapi kalau bekerjasama dengan iblis ... bisa jadi membahayakan! intinya kita tidak boleh lengah ... setelah apa yang dilakukan di dunia manusia, kau pikir dia tidak akan melakukan hal yang lebih dari itu ...." jawab Felix.


"Kau tahu semua itu darimana? tidak mungkin kau yang bertanya langsung kepada Sang Caldway ...." kata Cain yang tahu kepribadian Felix yang tidak mungkin bertanya duluan.


"Iriana yang terus saja berbicara sendiri tentang Mundebris ... padahal aku tidak bertanya sama sekali!" kata Felix.


"Sudah kuduga! dengan harga dirimu itu tidak mungkin ...." Cain memasang senyum kecut.


"Namanya juga harga diri! bukan gratis diri ...." kata Felix.


"Kau sebut itu lelucon?!" Cain tercengang.


Felix hanya tertawa membuat Cain memandangnya dengan tatapan aneh. Tak lama Pak Egan masuk dan memberitahu kalau penyerahan penghargaan akan segera dimulai.


...-BERSAMBUNG-...