UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.155 - Membahas Petunjuk Yang Didapat



Waktu makan siang tiba, "Siapa kau?" tanya Felix saat Cain mulai duduk di sampingnya membawa makanan.


"Ini aku!" sahut Cain.


"Iya aku tahu, jadi kau siapa?!" kata Felix.


"Kalian sedang membuat lelucon ya?" tanya Teo.


"Ini aku dari masa depan!" kata Cain.


"Ohya? kalau begitu buktikan! apa kita pernah bertemu sebelumnya tadi?" tanya Felix.


"Kau sudah gila ya? Felix!" kata Tom.


"Kita bertemu di kamar mandi saat kau sedang mencuci wajah dan memandangi dirimu yang sok keren di depan cermin lalu kau berteriak saat aku tiba-tiba datang dari Bemfapirav, padahal aku sedang ada panggilan alam lalu kau pamit kembali ke kelas dan ...."


Tidak selesai kalimat Cain, "Sudah ... berhenti!" Felix menghentikan Cain bercerita, "Aku pikir kau tidak jadi pergi dan terus berada disini sehingga kau yang dari masa depan harus terus bersembunyi ...."


"Apa-apaan itu? kau pikir aku ini mengkhianati diriku sendiri?!" kata Cain dengan mulut penuh makanan.


"Pelan-pelan saja Cain!" kata Tan melihat mulut Cain seperti akan meledak.


"Aku lapar sekali, kau tidak tahu aku hampir melewatkan dua jam makan siang tahu!" kata Cain masih menyuap makanan padahal makanan di mulutnya belum selesai dikunyah.


"Perutmu akan kaget kalau langsung kau beri tamu sebanyak itu!" kata Teo.


"Tidak apa-apa, perutku kuat menjamu tamu!" kata Cain.


***


Tidak ada masalah yang berarti dengan para pemain atau begitulah yang mereka lihat. Lima orang yang mengalami serangan jantung juga sudah baikan walau masih di rawat di Rumah Sakit. Tapi itu memudahkan untuk mengawasi mereka yang orang luar bisa keluar masuk tanpa dicurigai. Tidak seperti di rumah para pemain yang sangat susah untuk dipasangi kamera pengawas karena jarang ada yang meninggalkan rumah tanpa ada satu anggota keluarga yang menjaga. Padahal Mertie bisa dengan mudahnya membobol keamanan rumah tapi apa boleh buat kamera pengawas hanya bisa dipasang di luar rumah. Terlebih lagi di Rumah Bella yang berada di desa harus dipasang tengah malam saat semua orang di desa tertidur karena orang di desa tidak berhenti menatap. Rumah Bella juga sangat kecil jadi tidak bisa mengambil resiko untuk dipasangi di dalam rumah karena pasti akan mudah ketahuan. Bella juga jarang kembali ke rumahnya karena tinggal di asrama sekolah dan keamanan asrama sekolahnya tidak bisa ditembus. Saat ini Bella bisa menjadi faktor yang merusak petunjuk.


"Felix, kemana? dia yang memaksaku untuk membantu tapi dia sendiri tidak pernah datang kesini!" kata Mertie mulai menangkap kunang-kunang untuk dijadikan lampu di Rumah Pohonnya.


"Diperjelas ya! bukan memaksa tapi kau sedang membayar hutang!" kata Cain.


"Anak ini masih menyimpan dendam padaku atau apa?!" kata Mertie dalam hati.


"Felix sedang ke dunia lain untuk mencari informasi tentang permainan ini!" kata Tan mulai menggelar tikar untuk di duduki sedangkan Teo menyalakan alat penghangat yang dibawanya dari kamarnya. Tom segera membuat teh hangat, "Padahal baru musim gugur dan sudah sedingin ini ...." kata Tom.


Cain mengeluarkan semua makanan yang dibawanya dan dikumpulkan di tengah-tengah seperti api unggun.


"Apa Goldwin juga disini?" tanya Mertie.


"Tidak ada!" sahut Cain.


Mertie hanya bisa menggigit bibirnya untuk melampiaskan amarah, "Baiklah ... ayo kita kumpulkan masing-masing informasi yang kita temukan!" kata Mertie supaya bisa cepat-cepat pulang.


"Selalu ada yang menjaga rumah!" kata Tan mulai pertama menyebutkan.


"Aneh juga ya, kan keamanan rumah sekarang sudah canggih kenapa masih ada saja yang tinggal menjaga rumah?!" kata Tom.


"Memang banyak orang yang tidak suka keluar rumah!" kata Teo.


"Kita tidak bisa mengatakan bahwa itu hal yang wajar atau aneh karena kita tidak punya data pembanding. Kalian tidak tahu kan kebiasaan mereka sebelum memasang kamera?!" kata Mertie.


"Ooooow! Hantu Merah Muda memang berbeda!" kata Teo.


"Tapi dengan rumah 100 pemain yang tidak pernah meninggalkan rumah tidak ada yang menjaga adalah hal yang patut di simpan sebagai petunjuk, Rumah Bella mungkin menjadi pengecualian!" kata Cain.


Teo dan Tom memandangi Cain dan Mertie bergantian yang jelas sama-sama tidak mau kalah, "Ehhem!" Tom berdehem dan mulai menyebutkan point kedua, "Setiap hari jumat ada perwakilan keluarga yang keluar berbelanja, tetap Bella dikecualikan ...."


"Tidak semuanya berada dekat dengan pasar itu, sangat mencurigakan ...." kata Teo.


"Tidak terlalu mencurigakan dengan zaman sekarang yang banyak kendaraan bisa membawa kesana!" kata Mertie.


"Tapi apa memang seperlu itukah harus ke pasar itu sedangkan banyak pasar yang mereka lewati dan dekat dari rumah mereka! kenapa harus pasar itu coba?" kata Cain.


"Okay, keep!" kata Tom tidak jadi mencoret di kertas.


"Memang ada yang sudah menanam bunga saat kita memasang kamera tapi yang tidak memelihara tanaman sama sekali tiba-tiba membeli banyak bunga dan menanamnya di halaman masing-masing dan bukan satu atau dua keluarga pemain tapi kini semua rumah pemain menanam bunga, tentunya Bella masih harus dikecualikan!" kata Mertie.


"Memang menanam bunga sekarang sedang populer, bukan hanya karena hobby semata tapi juga bisa menghasilkan uang banyak!" kata Tom.


Cain, Tan dan Teo hanya diam mendengar point dari Mertie dan kemudian tanpa disengaja mata mereka bertemu dan mulai tertawa bersama.


"Apanya yang lucu?!" kata Mertie.


"Ahahaha tidak ... tidak!" kata Teo mencoba mulai menahan dirinya untuk tidak tertawa lebih keras lagi.


"Oke, lanjut!" kata Tom.


Mertie menatap Tom, "Keep!" kata Tom setelah menyadari sedang ditatap Mertie karena informasinya diabaikan.


"Inilah kenapa anak laki-laki tidak bisa bermain dengan anak perempuan!" kata Mertie dalam hati tahu betul jika informasinya didapatkan karena insting perempuan Mertie yang suka bunga jadi mengira Mertie hanya memperhatikan hal itu.


"Mereka semua berlangganan minuman penyegar dengan merek yang sama dan tidak membeli langsung tapi selalu diantarkan oleh pabrik setiap hari sabtu di waktu yang sama! dan tentu saja Bella dikecualikan karena memang ada pengantar minuman penyegar ke asrama sekolahnya tapi belum tentu itu untuknya ...." Cain menyebutkan keanehan yang ditemukannya.


"Mungkin kita perlu mencari tahu apa perusahaan merek minuman itu memang menyediakan jasa pengantaran ...." kata Tom.


"Dengan waktu yang sama itu, memang patut dicurigai!" kata Tan mulai mengecek kembali saat minuman itu diantar dan memang benar semua kurir bersamaan sampai.


"Sekarang semua pekerja disiplin dan tepat waktu karena sudah ada tanda terima digital yang bisa mencatat riwayat pengantaran mereka apa sampai tepat waktu ...." kata Mertie.


"Tapi apa negara kita memang sudah semaju ini? tepat waktu memang bisa dikatakan normal tapi dengan waktu yang sama sampai di rumah pemain itu, rasanya memang perlu diselidiki lebih jauh!" kata Teo.


"Ooooooow!" Cain, Tan, dan Tom bersamaan, "Keren, Teo!" kata Tom.


"Sekarang giliranmu!" kata Mertie pada Teo yang masih bahagia habis dipuji.


"Semua rumah setiap hari kamis menerima kiriman surat, tentu saja Bella juga dikecualikan karena pengiriman surat tidak sampai di desa melainkan harus dijemput langsung di kantor pos yang ada di kota!" kata Teo yang terakhir menyebutkan informasinya tapi semua orang selain dia mulai berdiri, "Sepertinya rapat kita berakhir disini!" kata Tom.


"Kalian mengabaikan petunjuk pentingku!" kata Teo tidak terima.


"Hari kamis adalah hari dimana tagihan listrik, air, gas dan sebagainya datang Teo!" kata Tan menjelaskan pada kakaknya yang terlihat sangat kesal.


"Tapi kan harusnya hanya tiap bulan, ini tiap minggu di hari kamis!" kata Teo masih tidak mau menyerah.


"Tagihan akan terus dikirimkan jika belum dibayar dan semua keluarga pemain bisa dikatakan tidak ada yang dikatakan benar-benar kaya!" kata Mertie.


"Tapi ...." Teo melihat yang lainnya mulai pergi satu per satu, "Kalian akan menyesali karena menganggap informasiku ini tidak penting!" teriak Teo.


"Ayo pulang, Teo!" kata Cain tidak jadi turun bersamaan dengan Tan, Tom dan Mertie.


"Cain ...." mata Teo berkaca-kaca karena terharu Cain menunggunya.


"Aku tinggal nih!" kata Cain mulai menaiki lift kayu.


"Iya ... aku datang!" kata Teo mulai bergegas.


...-BERSAMBUNG-...