
Selanjutnya semuanya begitu gelap dan berakhirlah kisah Charleston Si Zewhit Badut. Demelza meneteskan air mata melihat kenangan Charleston itu, "Aku tahu betul bagaimana rasanya berada di rumah tapi tidak ada nuansa rumah yang dikatakan oleh orang lain. Katanya rumah adalah tempat yang nyaman dan hangat, tempat kembali, tempat bersama keluarga. Tapi semua itu tidak pernah kurasakan ...."
Demelza tidak pernah merasa nyaman di rumah mewah yang hanya dirinya sendiri yang tinggal sementara orangtuanya sibuk bekerja. Bahkan, Demelza lebih nyaman tinggal di asrama sekolah karena jika di rumahnya dia hanya akan makan sendirian. Tidak ada seseorang yang bisa diajak berbicara. Maka dari itu, Demelza suka mengobrol dengan orang lain tapi terkadang sampai berlebihan menceritakan kejelekan orang lain agar teman mengobrolnya itu tidak pergi atau bosan berbicara dengannya. Jadi sebisa mungkin Demelza mencari bahan informasi untuk memulai obrolan.
Entah kapan hal itu menjadi kebiasaan Demelza. Teman-temannya akan sangat tertarik jika Demelza mengatakan punya cerita baru tapi diabaikan jika tidak punya cerita menarik lagi. Akhirnya Demelza semakin antusias mencari lebih banyak bahan kejelekan orang lain untuk bergosip. Semuanya dilakukan dengan niatan awal untuk mencari teman mengobrol saja. Tapi seiring berjalannya waktu, menjadi kebiasaan buruk yang sudah melekat dan menjadi kepribadian Demelza.
Dari kenangan Zewhit Badut, kali ini giliran Calvin atau Zewhit Kurcaci muncul. Calvin yang masih bayi terlihat ditinggalkan di depan pintu masuk panti asuhan saat salju sedang turun. Wajah Calvin hampir dipenuhi oleh salju barulah ada yang keluar buru-buru membawanya masuk ke dalam panti untuk dipulihkan dari hipotermia.
Calvin yang baru berusia satu tahun, mendapati kenyataan pahit dan mengerti atau tidak mengerti panti asuhannya akan ditutup karena tidak ada donasi dari siapapun disaat perang sedang berlangsung. Calvin yang masih belum bisa menjaga dirinya sendiri diusia itu harus dibawa ikut bersama petugas panti untuk bekerja.
Petugas bergantian membawa Calvin, terkadang dia bersama petugas yang bekerja di rumah sakit korban perang sambil digendong dibelakang. Terkadang Calvin bersama petugas yang bekerja membuat makanan untuk tentara muda yang dipaksa untuk ikut berperang.
"Salju pertama tahun ini ... tandanya kau sudah setahun bersama kami Calvin." kata Petugas panti yang memberi susu hangat pada Calvin setelah bekerja dan mengingat bagaimana ia menemukan Calvin saat salju pertama juga turun tahun lalu, "Tidak usah tumbuh besar begitu cepat, pelan-pelan saja. Anak laki-laki usia 10 tahun keatas di Yardley, semuanya diwajibkan ikut berperang. Kau harus tumbuh besar saat perang sudah selesai ya!"
Calvin yang baru berusia satu tahun lebih itu seharusnya tidak mengingat hal itu tapi ternyata tetap membekas bagaimana petugas panti itu menatapnya dengan tulus.
Hingga usia 4 tahun, Calvin bukannya belum bisa mengurus dirinya sendiri tapi tetap mengikuti petugas panti bekerja. Panti asuhan baru mendapat bahan makanan jika membantu sesuatu dalam perang dengan membantu merawat korban perang atau membuat makanan.
Calvin sudah pintar membantu membawakan alat kesehatan di rumah sakit, "Bagaimana kau tahu aku membutuhkan ini?!" tanya Petugas panti yang heran baru ingin berdiri mencari tapi sudah dibawakan oleh Calvin, "Terimakasih, Calvin!"
"Tumbuhlah besar dan menjadi dokter, jangan menjadi tentara nak!" kata Tentara yang terluka sedang dirawat.
Calvin hanya membalasnya dengan senyuman, entah bagaimana tapi Calvin diusia yang baru 4 tahun masih belum bisa fasih berbicara. Mungkin karena tidak ada yang sering mengajaknya berbicara karena semuanya sibuk. Serta tidak ada teman sebaya yang bisa diajak bermain karena anak panti usianya semuanya jauh diatasnya dan kebanyakan sudah masuk pasukan untuk berperang bagi anak laki-laki dan perempuan harus bekerja bersama petugas panti. Jadi tidak ada teman mengobrol untuk menstimulus Calvin bisa berbicara. Makanya diusianya sekarang masih belum fasih berbicara tapi sangat mengerti apa yang dikatakan orang lain terlebih lagi daya ingatnya yang tinggi.
Calvin keluar dari rumah sakit melewati jasad tentara yang sudah meninggal dan ditutup kain putih dengan seragam tentara yang berlumuran darah. Tidak ada yang menangisi kepergian para prajurit itu sudah menjadi hal yang normal terjadi dalam perang. Semua orang hanya berusaha menjauh sejauh mungkin dari area pemukiman atau menjauhkan anak laki-laki mereka agar tidak dipaksa menjadi prajurit juga.
Bagi yang menolak anak laki-lakinya untuk dijadikan prajurit, maka akan ditembak mati karena mengkhianati negara. Prajurit yang meninggal tanpa keluarga yang menangisi itu, bisa saja sudah tidak ada keluarga yang tersisa untuk menangisi kepergiannya.
Tan, Teo dan Tom meneteskan air matanya membayangkan bagaimana jika mereka ada diposisi yang sama. Memang sama karena tinggal di panti asuhan tapi hidup di masa peperangan adalah kondisi terburuk bagi anak yatim piatu maupun yang bukan. Semua anak dari segala kalangan pasti akan menderita.
Sementara Tiga Kembar menangisi kisah Calvin, tiba-tiba terlihat sebuah ledakan besar pada rumah sakit. Beruntungnya Calvin keluar dari dalam gedung tapi Calvin mengingat bahwa petugas panti ada di dalam rumah sakit. Calvin ingin kembali masuk tapi ditahan oleh sebuah tangan yang tertutup kain putih.
Calvin yang sedang panik dengan ledakan bom itu tidak sempat untuk kaget oleh prajurit yang bangkit dari kematian itu. Calvin ditarik dan dilindungi oleh prajurit yang ternyata masih hidup itu. Prajurit itu melindungi sampai napas terakhirnya, Calvin tertindih tubuh prajurit itu tapi berkat itu juga dia selamat.
Pemerintah yang datang melihat lokasi kejadian tidak punya niat untuk mencari apakah ada yang selamat karena melihat kondisi yang tidak memungkinkan ada yang bisa selamat. Semuanya hanya ingin langsung dikubur dalam satu lubang besar.
"Anak ini masih hidup!" teriak Prajurit yang begitu senang.
"Dia laki-laki atau perempuan? kalau perempuan bunuh saja!" kata Atasan Prajurit itu.
Salah satu tentara perempuan terlihat marah mendengar itu tapi tetap disembunyikan. Bagaimanapun memang tidaklah dilarang bagi perempuan untuk menjadi tentara tapi yang berhasil bertahan tidaklah banyak. Di kota itu saja hanya dirinya satu-satunya yang seorang tentara perempuan. Sudah wajar jika perempuan tidaklah dianggap kuat atau diremehkan tidak mampu bertahan dalam perang itu.
"Bawa dia ke penampungan anak!" kata Sang Atasan.
Calvin baru tersadar setelah dirawat beberapa hari dan saat bangun Calvin melihat dirinya berada di ruangan besar bersama dengan ribuan anak lainnya. Anak-anak yang dititipkan oleh orangtua, karena tempat penampungan itu jauh dipinggiran dan aman dari serangan udara.
Calvin berhari-hari menangis mengingat petugas panti yang bersamanya di rumah sakit.
"Apa-apaan anak ini?! bau sekali! kau tidak pernah mandi ya?!" kata salah satu Anak dari gerombolan yang sedang bermain bola di halaman. Yang menjadi permasalahan adalah anak yang berada di tempat penampungan itu kebanyakan adalah anak orang kaya atau anak dari seseorang yang berpengaruh. Dengan kondisi perang itu, wajar jika anak-anak disana merasa sensitif dan meminta agar Calvin untuk menjaga kebersihan karena mereka akan tidur bersama di satu ruangan besar.
Tapi Calvin yang tidak pernah diperlakukan seperti itu dan sebenarnya belum tahu apa yang sedang terjadi karena tidak dijelaskan dengan baik-baik. Calvin yang masih usia 4 tahun itu hanya menuruti saja jika diperintahkan untuk pergi dari penampungan.
"Kau! pergi darisini! kau tidak pantas berada disini bersama kami!" kata salah satu Anak lainnya.
Disaat Calvin benar pergi barulah anak-anak itu sadar kalau telah berbuat salah.
"Jadi kemana perginya?!" tanya Petugas penampungan.
"Kami tidak tahu! kami tidak tahu kalau dia akan benar-benar pergi!" kata Anak yang menyuruh pergi sedang meminta ampun karena dipukuli oleh Petugas penampungan.
"Dia baru 4 tahun, dia masih belum mengerti apa-apa! seharusnya kau tahu itu!" kata Petugas penampungan tapi tersadar kalau yang dimarahinya juga baru berusia 7 tahun dan menghentikan pukulannya, "Apa yang telah kulakukan ...." Petugas penampungan itu memilih memulai mencari keberadaan Calvin tapi tidak juga ditemukan.
Calvin yang terus berjalan tiada henti akhirnya menemukan sebuah desa kecil, "Oh, desa itu ...." kata Teo menyadari kalau desa itu adalah desa yang muncul menjadi gangguan di dalam dunia Zewhit Kurcaci.
Disana Calvin meminta makanan atau tempat untuk menginap dengan mengetuk semua pintu. Tapi tidak ada yang membukakan pintu sama sekali. Hingga akhirnya Calvin masuk ke dalam hutan untuk berlindung di sebuah pohon besar dan tidur disana. Keesokannya dia baru mencari buah-buahan untuk dijadikan sebagai obat lapar. Ternyata banyak yang ditemukan oleh Calvin, berkat itu dia bisa mendapat tenaga untuk membangun tempat bermalamnya di dalam hutan dengan mengumpulkan ranting, kayu, dan daun lebar untuk digunakan sebagai rumah darurat.
Calvin bisa melewati malam itu tanpa harus merasakan dingin yang seperti malam kemarin. Malam itu begitu hangat dengan api unggun yang juga berhasil dibuatnya. Beruntungnya Calvin pernah ikut Petugas panti membuat masakan sehingga dapat belajar bagaimana menyalakan api.
Calvin yang tertidur nyenyak terbangun saat ranting kayu jatuh mengenainya. Calvin mengira itu karena angin ternyata bukan melainkan ada yang memang sengaja melakukan itu.
"Kaukah yang mencuri buah-buahan di kebunku?! dasar pencuri!" kata salah seorang yang mengelilingi tempat Calvin sekarang.
Calvin ingin meminta maaf tapi tidak tahu bagaimana mengatakannya dan hanya terus terbata-bata.
"Apa-apaan anak ini?! cacat?! dia tidak bisa berbicara?! dasar tidak berguna! bahkan kita tidak bisa menggunakan tenaganya untuk mengganti buah yang telah dicuri, dasar sial!" akhirnya Calvin berakhir dipukuli, katanya sebagai bayaran atas buah-buahan yang telah dimakan Calvin.
Salju turun mengenai Calvin di malam itu, setelah habis dipukuli oleh warga desa.
"Ak .. akku ... nam ... nammaku ... Cal ... vin ... ummulkku ...." Calvin daritadi ingin mengatakan itu pada warga desa tapi tidak diberi kesempatan. Bahkan Calvin tidak selesai menyebutkan umurnya yang sudah menginjak 5 tahun saat salju pertama turun tapi usianya berakhir di hari ulang tahunnya itu.
...-BERSAMBUNG-...