UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.518 - UNLUCKY : Perang Besar Pertama Caelvita-119



"Jangan terbawa emosi Felix! tenangkan dirimu ... jangan mengikuti alur permainannya. Iblis paling tahu apa yang paling kita takuti dan menggunakan itu untuk menjatuhkan kita. Tapi, kau tidaklah lemah! aku tahu itu ...." kata Verlin lewat pikiran, yang mana diketahui kalau seorang Quiris bisa berbicara lewat pikiran pada Caelvita adalah seseorang yang memang tulus mengatakan itu sehingga bisa sampai kepada Felix.


Bahkan Verlin sendiripun tidak menyadari kalau suaranya itu sampai pada Felix. Verlin sendiri memiliki segel pikiran yang kuat karena seorang Secrevanques sehingga pikirannya sangat terlindungi. Walau sudah menjadi Zewhit tapi hampir semua kekuatanya sebelum meninggal diarahkan pada satu hal yakni pikirannya. Menjaga pikirannya untuk tetap aman, walau Iriana sudah meninggal tapi seorang pembawa rahasia Caelvita harus membawa rahasia itu selamanya.


Felix melirik Verlin dan menyeringai. Api pada Panti asuhan Helianthus kelihatan semakin besar dan bangunan mulai roboh, "Jangan bermain-main api denganku! kau pikir aku trauma akan api?! kau salah!" bangunan panti sudah rata tapi api masih menyala begitu besar.


"Tentu saja, karena anda trauma akan hal lainnya ... bukan api tapi apa yang dilahap api itu." Ditte mengeluarkan bingkai foto yang banyak dan saling terhubung dengan yang lainnya. Terlalu panjang hingga bingkai lainnya terseret di tanah sebagian.


Masing-masing bingkai ada foto atau tepatnya foto yang bergerak atau lebih tepatnya lagi Zewhit yang kelihatan dikurung di dalam bingkai.


"Mereka ...." Felix merasa ada yang menghalangi jalan napasnya sehingga kesulitan untuk bernapas.


"Mereka adalah penghuni panti asuhan yang meninggal dalam kebakaran malam itu. Semuanya adalah kerabat Yang Mulia yang tumbuh besar dari bayi hingga usia 8 tahun." kata Ditte.


"Bukankah kau sudah tahu akan hal ini?! kenapa kau kelihatan kaget begitu? kau pasti sudah menebak kemana mereka semua ... akulah yang menangkapnya! para orang-orang tidak beruntung ini!" kata Efrain.


"Felix! kau tidak apa-apa?!" Teo dan Tom membantu Felix berdiri.


"Tidak kusangka kalau lukanya soal ini begitu dalam ...." kata Verlin dalam hati.


"Cain sudah memperingatkanku kalau ... luka terbesar Felix adalah ini. Apapun itu, jangan singgung atau gunakan itu sebagai candaan. Tapi, itu digunakan sangat baik oleh musuh ...." kata Tan yang masih berbaring lemah menyaksikan dari jauh bagaiamana Felix yang biasanya tidak akan goyah pada apapun itu tapi kali ini kelihatan benar-benar tidak berdaya.


"Kau tidak perlu merasa bersalah akan hal itu Felix, bukan kau penyebabnya panti itu kebakaran." kata Teo.


"Penyebabnya adalah aku!" teriak Felix menghempaskan tangan Teo.


Efrain dan iblis lainnya kelihatan sangat puas dengan reaksi Felix itu. Terutama Ditte, "Tidak perlu bertarung dengan pedang hingga berdarah, tapi hanya perlu menyerangnya secara psikologis dan membuatnya mengeluarkan air mata darah." Ditte begitu bangga dengan keahliannya menjatuhkan mental lawan.


"Hanya karena orang lain menyatakan mereka tidak beruntung, bukan berarti memang mereka tidak beruntung. Siapa yang peduli dengan ucapan orang lain kalau kita yang dibicarakan itu merasa tidak demikian. Apa kau pernah merasakan demikian Felix?! kalau iya ... aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kau, Cain, Tan dan Tom adalah yang paling beruntung diantara orang-orang tidak beruntung. Tapi kalau kau merasa semua kenangan suka duka yang kita lalui adalah hal sial, aku sendiri yang akan membunuhmu!" kata Teo mengulurkan tangannya, "Ayo Felix! bangkit atau menyerah, bukankah itu yang kau katakan sebelum kita memasuki dunia pikiran ini."


"Aku tidak bisa menyangkal ucapan yang mengatakan kita tidak beruntung tapi biarlah. Siapa yang peduli?! toh kita yang menjalaninya. Orang lain yang berkomentar, tapi kita yang merasakan prosesnya. Tahu apa mereka?! kita adalah orang tidak beruntung paling bahagia di dunia ini." kata Tom juga mengulurkan tangannya.


"Bukan cuma dunia ini, tapi seluruh dunia ...." kata Teo mengoreksi karena sedang berada di dunia pikiran.


Felix meraih tangan Teo dan Tom untuk dibantu berdiri. Teo dan Tom tidak bisa menyembunyikan senyumannya.


"Aku selalu saja seperti ini ... berada diantara mereka ... hahh ...." Verlin tertawa sendiri dibelakang merasa situasi saat ini sangatlah tidak asing.


"Kalian akan kalah dengan orang tidak beruntung, kalian tidak apa-apa dengan itu?! kalau mau lari ... silahkan, ini saatnya! jangan jadi malu sendiri saat dikalahkan oleh orang-orang yang tidak beruntung. Kalian akan terlihat lebih menyedihkan lagi dan menandakan kalau kalian lebih tidak beruntung lagi daripada kami." kata Tom.


"Jangan bercanda!" Ditte melempar semua bingkai foto itu hingga kacanya pecah dan sebuah asap keluar dari dalam masing-masing bingkai.


Wajah yang familiar bagi Felix mulai muncul satu per satu diatas bingkai foto yang rusak itu. Baru saja Felix mendapatkan semangat untuk berjuang tapi semangat itu tidak bertahan lama saat melihat saudara dan saudari satu pantinya dahulu tidak terkecuali para petugas panti juga kelihatan muncul. Semuanya hanya dengan tatapan datar tanpa ekspresi.


"Mereka sedang dalam keadaan dikendalikan sepenuhnya, tidak sadar ... jadi, Felix kau tidak perlu khawatir ... mereka tidak akan mengingat atau merasakan ...." Teo ingin menenangkan Felix tapi saat berbalik melihat Felix, Teo sadar sedang tidak didengarkan sama sekali.


Sosok Felix bukanlah seseorang yang dikenal lemah lembut tapi kebalikannya sangat kasar atau lebih tepatnya tidak tahu bagaimana mengekspresikan perasaannya dengan baik. Tapi saat Teo menatap Felix, untuk pertama kalinya Teo merasa melihat orang baru. Tatapan Felix itu sangat penuh arti, seperti seseorang yang sedang sangat terluka.


"Kurang ajar!" kata Teo sambil mendengus sebal dan mulai tertawa kesal.


"Apa kau bilang?! kau barusan mengatai kami?!" kata Anak buah Efrain yang emosi dan ingin maju tapi ditahan oleh Iblis Beruang yang menjadi lawan Verlin sebelumnya.


"Aku bilang, kurang ajar! telinga kalian tersumbat sesuatu atau apa?!" kini Teo berteriak sekencang mungkin, "Menggunakan luka seseorang, adalah tindakan licik!" Teo memunculkan Moshas nya dan seperti ditarik melayang terbang keatas oleh Winn. Setelah kelihatan cukup tinggi, Teo melemparkan Winn ditengah-tengah perantara antara kelompoknya dan juga kelompok Efrain.


Moshas menancap di tanah kemudian mulai kelihatan retak. Teo mendarat tepat diatas Moshas yang masih tertancap dan berjongkok disana sambil menyeringai, "Ayo maju kalau berani!" Teo menantang.


Anak buah Efrain berlari maju, Teo menarik Moshas nya yang tertancap kemudian memutar dirinya kebelakang. Bersamaan dengan itu, Tom melompat diatas Teo dan menghantamkan Sesemax nya pada tanah menimbulkan suara keras. Tanah disana terbelah dua memisahkan kedua kelompok. Teo berdiri dibelakang Tom dan mengedipkan matanya, "Kalian tahu gunung berapi?!" tanya Teo mengakibatkan ada uap panas muncul dari dalam retakan yang dibuat oleh Tom.


"Kau mau menggunakan api melawan kami?!" Ditte tertawa bersama iblis lainnya.


"Aku hanya bertanya apa kalian tahu?!" ucapan Teo itu disusul dengan letusan besar yang naik keatas dari retakan lebar dan panjang itu. Masih belum jelas apa yang ada di bawah sana karena tertutup asap panas. Tapi letusan yang tadi melayang naik itu perlahan mulai mendarat mengenai anak buah Efrain yang tadi maju paling depan untuk menyerang.


"Bukan api, tapi air atau lebih tepatnya mungkin bisa disebut gunung ber ... air ... gunung berair?! bagaimana menurutmu?!" kata Teo.


"Aku tidak tahu kau sedang menciptakan apa ... tapi jangan buat nama yang konyol!" kata Tom.


"Dasar, membosankan!" kata Teo menarik mundur Tom karena perlahan tanah yang retak itu muncul sebuah gunung besar yang memuntahkan air bukannya api. Bukan memuntahkan lahar panas tapi gelombang air yang seperti tsunami.


Kelompok Efrain terlihat mulai mundur, dua anak buah Efrain yang terjebak di dalam gelembung air tidak bisa keluar dan tidak bisa dikeluarkan.


"Ternyata diantara mereka ada yang berbakat dengan dunia pikiran ...." kata Ditte.


...-BERSAMBUNG-...