UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.148 - Merasa Beruntung!



Felix dan Cain yang kurang tidur, kurang berselera makan dan hanya menyendok makanan sedikit. Tapi Tan, Teo dan Tom rupanya berbeda, mereka bertiga malah minta tambah makanan pada petugas kantin.


"Karena kurang tidur jadi harus diseimbangkan dengan makan yang banyak!" kata Teo.


"Tidur yang membantu memetabolisme makanan, kalau kurang tidur pasti masih banyak makanan yang bertumpuk dan belum di metabolisme seperti karbohidrat ... kalian mau diabetes?!" kata Cain.


"Kondisi perutku ... aku yang tahu sendiri!" kata Tom.


"Hahh ... percuma berbicara dengan kalian!" Cain menyesal menasehati.


Saat makan mereka tidak berhenti melirik Parish dan Dallas yang menjadi tersangka Peniru Hantu Merah Muda. Tapi karena kesibukan di Mundebris mereka tidak punya waktu untuk menyelidiki lebih lanjut. Terlebih lagi tidak ada korban lagi setelah Gina dan bisa disimpulkan bahwa yang mengubah Magdalene menjadi Penyihir Salju adalah Iblis dan makhluk yang didapati saat berada di Mundebris, sisi lain dari sekolah yang merupakan tempat perkumpulan Iblis. Entah apa memang benar jika siswa Gallagher ada yang bekerjasama dalam hal ini tapi untuk sementara didiamkan dulu. Terlalu banyak masalah, jadi harus memilih salah satu yang paling penting dan paling darurat untuk ditangani. Felix menyesalkan tidak bisa membereskan masalah malah jadi menumpuk, "Apa karena management waktuku yang salah? bagaimana Iriana menyelesaikan masalah sebanyak ini, padahal usia 7 tahun sudah ikut dalam perang ... sepertinya aku akan menjadi Caelvita terburuk sepanjang masa!" kata Felix dalam hati.


Pulang sekolah mereka langsung naik kereta menuju pemilik benang terakhir berada. Seperti yang dikatakan Felix, benang itu menuju desa terpencil. Desa itu masih tidak terpengaruh oleh budaya kota. Tidak ada toserba sama sekali, padahal Tan mengeluh sangat haus. Bahkan warung kecil pun tidak ada, masih seperti desa zaman dulu dengan setiap rumah yang terlihat ada asap karena masih menggunakan cara manual bukan kompor gas.


Orang-orang di desa keluar melihat kedatangan lima anak yang dari kota itu. Teo dan Tom merasa malu karena diperhatikan seperti itu.


Sangat aneh rasanya mereka hanya berjalan tanpa bertanya alamat rumah seseorang padahal biasanya orang yang baru pertama kali ke desa pasti akan bertanya terlebih dahulu. Tapi mereka juga tidak bisa bertanya karena tidak tahu orang yang akan didatanginya itu siapa. Hanya terus saja mengikuti benang merah yang menuju rumah kecil di ujung desa.


Bersamaan mereka menghela napas panjang saat melihat benang merah itu benar berakhir disana. Tapi saat pemilik benang merah itu keluar dari rumah, wajah mereka berubah suram.


"Kakak siapa ya?" tanya anak perempuan yang sedang membawa satu cangkir beras.


"Kami dari kota mendapat tugas sekolah untuk melakukan survei ... apa kami tidak mengganggu?" kata Felix sudah memperkirakan akan menggunakan cara apa dan mengkategorikan strateginya berdasarkan umur dari pemilik benang merah terakhir itu.


"Kalau boleh tahu umur kamu berapa ya?" tanya Cain ikut dalam strategi Felix.


"8 tahun!" sahut anak perempuan itu.


"Wah kebetulan sekali! apa ada anak lain yang seumuran di desa ini?" kata Tom.


"Hanya saya, yang lainnya masih kecil semua dan kalau sudah umur 8 tahun keatas pasti sudah pergi mencari kerja semua!" kata anak perempuan itu.


"Wah, kebetulan sekali!" kata Teo senang tidak perlu akting dengan harus berpura-pura mendatangi anak lain di desa itu.


"Kalau boleh tahu nama ...." kata Tan merasa mengganggu karena anak perempuan itu sedang ingin memasak.


"Bella!" jawabnya langsung.


"Isabella?" tanya Teo.


"Cukup Bella saja!" katanya agak malu-malu nama lengkapnya disebutkan.


Cain dan Tiga Kembar melirik Felix dan menanyakan hal yang sama lewat pikiran, "Coba baca pikirannya, supaya kita bisa berimprovisasi lagi ...."


"Aku tidak bisa membaca pikirannya!" balas Felix lewat pikiran, "Semua Pemain Tukar Kematian tidak ada yang bisa kubaca pikirannya, termasuk Kiana!" sambungnya.


"Sudah kuduga tidak akan mudah ...." kata Cain dalam hati.


"Sepertinya tidak ada sekolah di dekat sini ... Bella, sekolah dimana?" kata Felix yang langsung dihadiahi tatapan sinis dari yang lainnya karena tidak sopan langsung menanyakan hal sensitif seperti itu.


"Saya tidak sekolah, kak!" kata Bella tidak merasa tersinggung sama sekali.


"Bukankah pemerintah menyediakan beasiswa bagi yang tidak mampu ...." kata Felix sama sekali tidak peka membuat Cain dan Tiga Kembar hanya bisa tersenyum kecut.


"Apa kami terlihat seperti punya orangtua mampu?" tanya Felix.


"Kalian semua berpakaian rapi dan terlihat seperti Tuan Muda dari keluarga kaya!" jawab Bella.


"Syukurlah jika terlihat seperti itu ...." kata Teo senang sekali.


"Memangnya bukan?" tanya Bella.


"Kami anak dari panti asuhan, mungkin ... Bella lebih beruntung dibanding kami karena punya rumah sendiri dan masih punya keluarga dibanding kami berlima!" jawab Felix mencoba mengambil hati Bella dengan membuatnya mengatakan bahwa mereka tidak jauh berbeda.


"Terkadang penampilan bisa menipu ... jadi kami sebisa mungkin berpakaian rapi agar terlihat seperti punya orangtua yang mengurus!" kata Cain tersenyum.


"Seharusnya aku juga melakukan itu ...." kata Bella mulai merasa tenang karena mengetahui bukan anak dari orang kaya yang ingin menanya-nanyainya.


"Hanya makan sendiri?" tanya Teo karena melihat hanya secangkir beras yang akan dimasak.


"Tidak, bertiga dengan Nenek dan Adikku!" jawab Bella.


"Orangtua Bella sedang tidak di rumah?" tanya Tom.


"Orangtuaku meninggal karena TBC, Nenekku juga sekarang mengidap penyakit TBC, Adikku menderita polio!" jawab Bella seperti sudah terbiasa menjawab pertanyaan itu, "Jadi mau tidak mau, saya harus jadi tulang punggung keluarga!"


Dewasa sebelum waktunya, karena keadaan memaksa. Felix, Cain, Tan, Teo dan Tom jadi merasa sangat bersyukur atas apa yang dialaminya. Ternyata dirinya termasuk beruntung jika dibandingkan dengan kehidupan Bella. Tapi setidaknya Bella memiliki kenangan dengan keluarganya. Felix dan kawan-kawan bahkan tidak punya kenangan dengan orangtua. Ingin untuk bilang rindu tapi wajah saja tidak tahu seperti apa, tidak ada juga kenangan untuk diingat sehingga bisa dirindukan.


Felix, Cain dan Tan tinggal untuk menanya-nanyai Bella dengan pertanyaan asal-asalan. Sedangkan Teo dan Tom pergi mencari tempat membeli makanan untuk Bella dan keluarganya.


"Apa tidak apa-apa kami mengambil foto?" tanya Felix.


Cain dan Tan bingung dengan Felix, "Mau apa dia mengambil foto segala?"


"Tidak apa-apa!" sahut Bella.


Cukup lama Teo dan Tom kembali datang setelah mencari makanan yang sangat jauh dari desa.


"Rasanya tidak enak mengambil pemberian dari kalian yang tidak jauh berbeda denganku ...." kata Bella.


"Haha ... itu juga dana dari sekolah kok untuk tugas ini!" kata Teo berbohong.


"Kalau begitu sudah seharusnya ya aku ambil, sebagai bayaran karena sudah menjawab pertanyaan!" kata Bella tersenyum.


Mereka berpamitan dengan Bella, ingin mereka juga menyapa Nenek Bella yang ada di dalam rumah tapi dilarang oleh Bella karena bisa saja mereka terkena virus karena tidak membawa masker.


Di perjalanan setelah mendapatkan jaringan, tangan Felix jadi sibuk dengan Smartphonenya, "Sedang apa?" tanya Teo dan Tom mengintip dari masing-masing bahu Felix.


"Sedang ingin menjadi anak yang berbakti!" sahut Felix.


"Hehh!" Cain tertawa bingung.


...-BERSAMBUNG-...