
Efrain mengeluarkan dua pedang besar dimasing-masing tangannya. Entah bagaimana tapi pedang Efrain tidak bisa ditarik oleh Cairo. Sehingga walau sedang dikepung seperti itu Efrain tetap dengan mudah melemparkan jauh-jauh semua senjata dari Pasukannya dan juga Pasukan Felix yang mengelilinginya itu. Seakan Efrain sedang bermain bulu tangkis. Efrain memang sangat-sangat mengagumkan, bagaimana dia terlihat tidak seperti akan kalah dan juga lelah dalam pertarungan dengan tempo waktu yang lama.
"Hentikan ... Efrain!" suara Perempuan terdengar menggema membuat segala aktivitas langsung dihentikan.
Efrain menjatuhkan pedangnya, "Iriana ...." sambil meneteskan air mata dan menjatuhkan dirinya berlutut bersimpuh diatas tanah. Tidak bisa digambarkan betapa rindunya Efrain pada Iriana. Tapi tatapan yang dilihat Efrain pada Iriana bukan lagi tatapan yang biasanya dilihatnya dan yang membekas dalam ingatannya selama ini.
"Sudah cukup Efrain, apapun yang akan kau lakukan tidak akan membuatku bisa hidup kembali." kata Iriana yang memunculkan dirinya, tubuhnya seperti terbentuk dari begitu banyak kilauan kerlipan bintang kecil yang menyatu untuk membentuk tubuh Iriana. Felix yang sedang duduk menunduk menahan sakit dengan Iriana yang kini melayang-layang diatas punggung Felix.
Setelah sekian lama Efrain bisa melihat sosok Iriana yang kelihatan hidup lagi. Semua Quiris yang selama ini hidup di pemerintahan Iriana juga menunduk. Bagaimanapun juga suatu kejadian langka bisa melihat Caelvita sebelumnya lagi. Maka dari itu moment itu digunakan sebagai kesempatan untuk memberi penghormatan terakhir.
"Dia memakai gaun safir?!" bisik-bisik dari Quiris yang menganggap aneh melihat kemunculan Iriana yang memakai pakaian serba safir dengan rambut panjang khas Iriana yang tentunya berwarna hijau seperti Felix sekarang.
"Caelvita sekarang tetap dalam keadaan sadar, bagaimana bisa?! harusnya kan beliau tidak sadar. Apa benar kalau Caelvita itu punya jiwa yang berbeda?! bukannya jiwa mereka hanyalah satu dan terus bereinkarnasi?!"
"Kau ditakdirkan untuk berumur panjang ...." kata Efrain.
"Takdir tidak berlaku bagi kita, Efrain. Tidak seperti manusia, kita punya kemampuan untuk mengubahnya." kata Iriana masih dengan tatapan dingin.
Efrain terdiam seperti sedang menganalisa ucapan Iriana. Sementara itu, tangan Iriana yang ada dibelakang memberi tanda. Tanda yang biasanya digunakan untuk memberi perintah pada Aluias.
Aluias berdiri menerima perintah dan langsung merantai Efrain yang tidak melakukan penolakan sedikitpun. Pasukan Efrain ingin bertindak tapi Efrain melarang.
Dari telapak tangan Aluias keluar rantai yang mengikat Efrain. Rantai khusus yang membuat kekuatan Quiris tidak akan bisa digunakan.
"Jadi, maksudmu ... kau sengaja membuat dirimu berumur pendek?!" banyak sekali hal yang sebenarnya ingin dikatakan Efrain tapi setelah melihat Iriana dan mendengar ucapan Iriana. Efrain langsung lupa semua itu karena terlalu dipenuhi emosi yang campur aduk.
Felix tahu bahwa Iriana memang sengaja melakukan itu, semuanya dilakukan agar dirinya bisa lahir dengan cepat. Tapi, rupanya Iriana tidaklah seperti yang dibayangkan Felix. Iriana tidak memberi informasi secara jelas dan hanya mengatakan yang dianggapnya penting saja untuk mengulur waktu.
"Aku menggunakan ini bukan untuk menjelaskanmu hal itu ... ini terakhir kalinya kau melihatku. Aku hanya ingin menghentikanmu saja ... kau kan bukan seseorang yang seperti ini Efrain. Jangan menjadi seperti Alvauden sebelum-sebelumnya yang kau benci itu. Bantu Felix ... Caelvita 119 yang sudah resmi menjabat sekarang. Bantu dia sama seperti kau membantuku ...." Iriana perlahan terus turun ke bawah kembali masuk ke punggung Felix.
"Kak Ditte ...." Iriana menoleh pada Ditte, "Ikuti Efrain jika yang diinginkannya untuk membantu Caelvita-119. Selain itu, tinggalkan dia. Jadilah Iblis yang bebas, begitupun kalian semua. Tidak selamanya harus terus mengikuti Raja, kalau kalian tidak suka jangan ikuti!"
Akhirnya Felix tahu apa yang membuat Iriana tiba-tiba menghilang tadi. Itu karena dia ingin melakukan ini, untuk menghentikan Efrain.
"Jangan menggunakan alat Caelvita ku tanpa seizinku lagi!" kata Felix.
"Maaf, tapi aku hanya punya akses pada satu benda itu. Setidaknya Caelvita sebelumnya juga melakukan sekali hal yang sama seperti yang aku lakukan sekarang." kata Iriana.
"Kalau begitu, ini pertama dan terakhir kalinya untukmu." kata Felix menegaskan.
"Aku tahu ... maaf ...." kini suara Iriana sudah bukan berada diluar tapi di dalam kepala Felix lagi.
"Tidak! hentikan!" teriak Cairo, "Dia tidak akan ditangkap dan diadili di pengadilan. Aku akan membunuhnya!"
"Tidak ...." Cain datang menahan pedang Cairo yang akan memenggal kepala Efrain.
"Apa maksudmu?! kau sendiri yang mengatakan kalau aku harus membunuhnya ...." kata Cairo.
"Aku juga berpikiran yang sama denganmu, hingga kau sendiri yang datang dan mengatakan apa yang tertulis dipedangmu itu ...." kata Cain.
Cairo masih belum mengendurkan kekuatannya agar pedangnya bisa ditarik lepas oleh Cain. Tapi kemudian ingat apa yang dikatakan Cain yang lebih tua tadi. Untuk menurut saja dengan apa yang dikatakan oleh Cain yang dihadapannya sekarang.
"Baiklah ...." Cairo menurut saja tapi baginya membunuh Efrain masihlah keputusan yang benar.
Gerbang Aluias dipanggil dan dibuat saling berdempetan satu lain seperti lingkaran kurungan. Dengan tidak ada celah sedikitpun untuk Efrain keluar. Efrain dibawa masuk ke dalam Gerbang Aluias dan didampingi oleh banyak Aluias lainnya.
Pasukan Efrain menyatakan diri menyerah dan juga ditangkap dan dirantai oleh Aluias. Tapi ada juga yang melarikan diri. Cairo jatuh pingsan setelah api putih keluar dari dalam tubuhnya. Raja Aluias datang memeriksa keadaan Cairo. Setelah memastikan dia masih hidup, barulah dia menyuruh Aluias lainnya untuk membawa Cairo ke istana untuk dirawat.
"Cepat bawa mereka ke pengadilan." kata Viviandem Sanguiber.
"Setelah kami selesai, kalian bisa mendapatkannya sisanya." kata Viviandem Aluias.
Seperti biasa Sanguiber dan Aluias terus saja berdebat kalau ada kesempatan.
Zona perang menjadi sibuk dan berisik. Perang berakhir dengan Efrain yang telah ditangkap oleh Aluias dan Pasukan Efrain juga mengalami hal yang sama. Rasanya itu sangat asing dan seperti mimpi bagi Felix, bagaimana itu berakhir seperti tidak terlalu ada hal yang istimewa baru saja terjadi. Kemenangan bagi Felix baru bisa terasa kalau Efrain sudah dibunuh. Tapi kekuatannya sekarang tidak bisa diajak bekerjasama apalagi Cain yang malah menentang Cairo sebagai peluang pengganti dirinya untuk membunuh Efrain.
Felix yang mendengar suara tawa dimana-mana harusnya ikut lega tapi kesadarannya langsung hilang. Goldwin dengan sigap menjadikan dirinya sebagai bantal. Sedangkan Cain sedang sibuk kesana-kemari mengurus Quiris yang telah dipanggilnya sebagai bala bantuan. Berterimakasih sekaligus memberitahu mereka soal penghargaan sebagai pahlawan perang yang membantu Caelvita-119, itu dilakukan sebagai Pemimpin Alvauden-119.
"Kau ingat janjimu kan?!" tanya Camelia dan Camellia.
"Janji apa?!" Cain pura-pura tidak tahu, "Okey, selanjutnya!" teriak Cain pada Quiris selanjutnya setelah selesai pada dua kembar itu.
Ratu Sanguiber berjalan ke arah Felix, begitupun Raja Aluias untuk memeriksa keadaan Felix dengan Goldwin yang sebagai bantal juga tertidur pulas. Sama sekali tidak menyadari kalau ada yang mendekat.
"Kelihatannya dia baik-baik saja." kata Ratu Sanguiber memegang pipi Felix.
Aluias dan Sanguiber yang melihat itu tidak menganggap itu merupakan hal biasa saja. Bagaimana Raja dan Ratu mereka berada begitu dekat tanpa niat untuk saling membunuh adalah hal langka yang tidak pernah dilihat sebelumnya. Terlebih lagi, bagaimana mereka terlihat begitu sangat peduli dengan Felix.
Quiris berdarah campuran berteriak, "Mereka adalah orangtua Caelvita-119 hahaha."
Suasana yang sudah berubah menjadi tenang dan damai itu tiba-tiba berubah lagi. Aluias dan Sanguiber sudah siap berperang lagi padahal baru saja perang besar selesai. Saat dibangkitkan juga mereka masih berada di area perang dan pedang mereka langsung bertabrakan, menyelesaikan apa yang tertunda sebelumnya. Kalau saja bukan karena panggilan Felix, mereka masih melanjutkan perang mereka itu dan sekarang sepertinya akan kembali dilanjutkan lagi.
...-BERSAMBUNG-...