UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.551 - UNLUCKY : Perang Besar Pertama Caelvita-119 Part 34



Felix yang juga ikut menyaksikan akhirnya mengerti kenapa sudah harus bangun sekarang.


"Sudah hampir tiba waktunya, kau harus dalam keadaan sadar dan melakukan secepatnya setelah itu terjadi. Kau tahu kan?! terlambat sedikit saja ... rencana kita akan gagal!" kata Cain sudah dengan suara serak menahan perasaan yang sulit untuk disembunyikan pada siapapun termasuk Felix.


Felix mengerti apa yang harus segera dilakukannya, "Baiklah ... biarkan aku istirahat sebentar!"


Cain membantu Felix untuk duduk, "Memulihkan tenaga bagi Caelvita adalah tidur. Kalau dalam keadaan sadar, efeknya tidak akan sama. Aku hanya butuh kau untuk terus sadar! tidak perlu memulihkan dirimu."


"Setidaknya, aku harus mencoba. Percuma juga kalau aku sadar tapi tidak bisa melakukannya dengan baik nanti. Jadi, lindungi aku!" kata Felix yang melirik Efrain, kemudian sesaat kemudian Efrain sudah ada didekatnya ditahan oleh Cain.


Raja Aluias dan Cairo maju membantu Cain yang mendapat serangan tiba-tiba itu. Tapi kali ini Efrain menyerang dengan membabi buta lebih dari sebelum-sebelumnya. Efrain seperti sedang mengerahkan semua kekuatannya hingga Cain, Raja Aluias dan Cairo kesulitan melawan Efrain. Padahal perbandingan 3 lawan 1.


Banks melawan Ditte yang juga akan menyerang Felix dan Ratu Sanguiber yang masih belum pulih terpaksa harus melawan Bates. Semua andalan Efrain seperti sedang mati-matian untuk menyerang Felix saat ini.


Disekeliling Felix, semuanya sibuk bertarung. Lebih keras dan level pertarungan lebih tinggi dari sebelumnya.


"Bangun Felix! kau harus membunuhnya juga, seperti yang kau lakukan tadi." teriak Efrain mengingatkan Felix pada penumpang kereta dan peneliti yang dibantai Felix tanpa perasaan, "Tidak ada cara untuk menyelamatkannya selain kau harus membunuhnya. Setidaknya, dia tidak harus dikendalikan atau kau lebih memilih dia untuk hidup walau dikendalikan? selamanya dirasuki?!"


"Berisik!" keluh Felix sambil menutup mata, "Kau salah! ada cara lainnya lagi. Untuk menyelamatkannya, hanya perlu memenuhi tujuan dari Zewhit yang mengikat kontrak dengan Bu Daisy." kata Felix dalam hati kemudian membuka matanya sambil melihat Tiga Kembar yang masih tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya, "Walau harus mengorbankan seseorang, tapi aku anggap ini sebagai peluang."


Tan, Teo dan Tom bergegas menahan Quiris Pasukan Felix yang berusaha menyerang Daisy.


"Jangan! dia ibu angkatku." kata Teo.


"Sudah jelas kalau dia terikat kontrak yang tidak bisa terpatahkan. Cara satu-satunya adalah membunuhnya." kata Camellia.


"Tidak, pasti ada cara lain. Aku mohon, tinggalkan kami. Biar kami yang mengambil alih disini." kata Teo.


"Kau bisa mati dengan pemikiran seperti itu. Apalagi dia adalah ibu angkatmu?! kau tidak akan bisa melawannya dan bisa berakhir dibunuh olehnya." kata Camelia.


"Tinggalkan kami!" kali ini Tom yang berbicara dengan nada tegas berbeda dengan Teo yang memakai nada lembut memohon.


Akhirnya Camelia dan Camellia pergi juga, "Aku sudah memperingatkan!" kata mereka berdua bersamaan.


"Bu Sissy?! apa ibu bisa mendengar kami?!" tanya Teo.


"Tentu saja." sahut Daisy dengan tersenyum tapi senyuman itu berubah menjadi tawa yang keras, "Hahaha ... kalian ini mudah sekali tertipu!"


"Ted, keluarlah darisana!" teriak Tan.


"Sudah lama aku tidak mendengar nama itu disebut ... kalian pasti mengenalku juga, ya?! tentu saja karena aku memang terkenal." kata Ted dengan menggunakan suara Daisy.


"Kalian ... anak yang di ruang bawah tanah itu rupanya." kata Ted dengan nada suara Daisy yang biasa didengar kalau sedang marah, "Kalian sudah tumbuh besar, aku sempat tidak mengenali kalian. Aku hanya paling mengenal dua orang anak yang disana itu." Ted menunjuk Felix dan Cain, "Tunggu ... apa kalian Alvauden juga?!"


"Memangnya kenapa kalau iya?!" kata Teo sebal.


"Karena tujuanku adalah harus membunuh Alvauden malam ini." kata Ted menyeringai, "Dan ... kalian datang dengan suka rela dihadapanku. Apa aku harus berterimakasih?! baiklah ... aku akan membunhmu dengan cara paling kejam sebagai ucapan terimakasih."


"Percuma kita berbicara dengan psikopat. Dia sudah membunuh banyak manusia, bahkan lebih buruk dari iblis yang ada disini." kata Tan.


"Aku dengar kalau dia memang pernah membuat mimpi pada Bu Sissy. Apa semua itu sudah direncanakan dan inilah tujuan utamanya?!" kata Teo entah bagaimana otaknya bekerja dengan lancar mengingat kejadian sebelumnya.


"Entahlah ... kalau memang begitu, pasti Felix dan Cain sudah melakukan sesuatu soal itu. Tidak mungkin membiarkan ini terjadi." kata Tom.


"Tentu saja, mana mungkin ... kalau tahu tidak mungkin membiarkannya begitu saja. Mereka pasti akan melakukan sesuatu untuk menggagalkan rencana itu dari awal ataupun kalau tidak bisa ... kita bisa menyembunyikan Bu Sissy agar tidak ditemukan." kata Teo.


"Atau ... memang sengaja membiarkan itu terjadi." kata Winn.


"Apa maksudmu?! mana mungkin Felix dan Cain sengaja melakukan itu?! walau Felix kelihatannya begitu, tapi dia juga peduli dengan semua orang di panti. Apalagi Cain, mana mungkin Cain membiarkan itu terjadi." kata Teo.


"Kau tahu kenapa aku bisa menggunakan kekuatan Zewhit?! itu karena aku terbuat dari pohon Ruleorum. Dan ... semua Ruleorum tahu jika melihat seseorang sedang menjelang akhir hidupnya. Aku melihatmu seperti itu ... walau kupikir tadinya itu wajar karena berada dalam medan perang, sangat normal melihat hal itu terjadi pada seseorang yang sedang bertarung. Tapi kali ini aku tahu, itu semua nyata." kata Winn yang cahayanya terus berkedip-kedip ditangan Teo.


"Jadi, maksudmu ... kami akan mati ditangan Bu Sissy?!" tanya Teo meneteskan air mata.


"Kekuatan terlarang dari Ruleorum, saat Zewhit memasuki tubuh seseorang dan mengikat kontrak terlarang ada cara untuk mematahkannya. Yakni, mewujudkan apa yang diinginkan oleh Zewhit itu. Seperti tadi penumpang kereta dan peneliti memiliki tujuan untuk membunuh kalian, makanya Caelvita tidak punya pilihan lain selain membunuh mereka semua. karena tidak ada cara untuk menyelamatkan mereka juga pada akhirnya. Dan ... tadi kau dengar, kalau tujuan yang merasuki itu adalah membunuh Alvauden. Jadi, kalau dia membunuh Alvauden, tujuannya tercapai. Maka kau bisa menyelamatkan ibu angkatmu itu dan Zewhit itu bisa keluar dari dalam tubuh." kata Winn.


Teo heran bagaimana bisa sefokus itu untuk pertama kalinya ia mendengarkan semua penjelasan Winn dengan cermat tanpa melewatkan satu katapun.


"Tan, Tom ... ada yang ingin kubicarakan ...." kata Teo lewat Jaringan Alvauden, "Tidak ... Felix dan Cain juga ... kalian mendengarkan kan?!"


Felix dan Cain tidak mersepon, hanya Tan dan Tom yang menoleh manatap Teo yang ada ditengah-tengah.


"Dengarkan baik-baik ... ada cara untuk menyelamatkan Bu Sissy! tapi ... kita harus mengorbankan nyawa untuk itu. Nyawa kita bukan sekedar sebagai taruhan semata tapi sebagai bayarannya untuk menyelamatkan Bu Sissy." kata Teo mulai menjelaskan apa yang dijelaskan oleh Winn padanya tanpa kurang ataupun lebih.


"Jadi, kita harus mati ditangan Bu Sissy ...." kata Tom tidak mempertanyakan bagaimana Teo bisa mengetahui informasi itu.


"Jadi, inilah takdir kita. Bagaimana kita mati, kukira kita akan mati ditangan iblis. Tapi, ternyata lebih dramatis dan kejam dari yang kubayangkan." kata Tan juga langsung mempercayai ucapan Teo.


"Akupun sudah tahu kalau akan mati malam ini, tapi tidak pernah kubayangkan harus dengan cara seperti ini." kata Teo.


...-BERSAMBUNG-...