
Kayle mencermati kata demi kata yang diucapkan oleh Felix, "Apa yang terjadi jika gerbang neraka itu terbentuk?"
"Semua penduduk dunia kegelapan akan dengan bebas keluar masuk ke dunia manusia." jawab Felix.
"Jadi ... maksudmu kami akan dijajah bukan dari negara lain melainkan dijajah oleh iblis begitu?!" Kayle tidak bisa menyembunyikan ekspresinya yang terkejut.
"Kurang lebih seperti itu. Menurutmu makhluk superior yang memiliki kekuatan berkali-kali lipat dari manusia akan diam saja melihat betapa lemahnya manusia atau bisa saja karena tidak sengaja mencelakai manusia. Karena begitulah makhluk yang unggul, terkadang kita tidak sengaja menginjak semut tanpa disadari." kata Felix.
Kayle kelihatan tidak terpengaruh dengan ucapan Felix yang terkesan merendahkan itu, "Yang selama ini kalian lakukan adalah mencoba menghentikan jatuhnya 5 korban ditiap titik atau suatu tempat, begitu kan?!" tanya Kayle.
"Ayes!" sahut Teo.
"Kalian sadar kan, tidak bisa melakukan itu sendiri?! kami akan membantu! bagaimanapun juga ini pertarungan kami yang manusia ...." kata Kayle.
"Kami juga manusia ...." kata Teo dengan wajah datar.
"Tapi tidak dengan dia!" Kayle menatap Felix.
"Jangan menatap Felix dengan keraguan seperti itu! kau tidak tahu bagaimana pengorbanan Felix selama ini!" kata Tom emosi.
"Kalau tidak salah aku pernah tidak sengaja mendengar kalian berbicara bahwa dia adalah pemimpin dari dunia kegelapan itu, kan?! bagaimana aku mempercayai pemimpin yang bahkan tidak bisa mengatur penduduknya sendiri." kata Kayle yang sebenarnya masih agak tidak percaya jika Felix benar pemimpin dunia kegelapan karena usianya yang masih sangat muda. Tapi tetap saja ada sesuatu dari Felix yang terus meyakinkan Kayle.
Tom mulai kesal dan ingin maju melawan Kayle tapi ditahan oleh Felix, "Kau benar! jangan mempercayaiku! jika disuruh memilih tentunya aku akan memilih duniaku dibanding dunia manusia ini! jadi ... mandirilah! cobalah lindungi diri kalian sendiri!"
"Felix!" Tan, Teo dan Tom serempak.
"Kecuali mereka! percayalah pada mereka!" kata Felix yang menunjuk Tiga Kembar dengan tatapannya, "Mereka akan berjuang bersama kalian." sambung Felix yang mulai pergi darisana.
"Jangan percaya dengan apa yang dikatakannya barusan! Felix adalah seseorang yang rela mengorbankan nyawanya untuk melindungi manusia." kata Tan tidak ingin Felix disalahpahami.
"Aku tahu ...." kata Kayle.
"Hahh?!" Teo dan Tom tidak mengerti.
"Menurutmu seseorang yang lahir dan besar bersama manusia tidak akan merasakan belas kasihan pada manusia?! bahkan psikopat pun punya seseorang yang ingin lindungi! aku hanya ingin mengetesnya saja ...." kata Kayle.
"Dan apa yang kau dapatkan?!" tanya Tom.
"Aku mendapatkan kalian!" kata Kayle yang kemudian tersenyum lalu pergi begitu saja.
"Apa-apaan?!" Tiga Kembar dengan sebalnya berteriak.
"Maksudnya ... dia bisa saja berpihak pada dunia kegelapan tapi juga ingin melindungi manusia. Jadi ... memang aku tidak bisa mempercayai dia sepenuhnya. Dia ingin agar aku mempercayai ketiga temannya itu dibanding dirinya sendiri!" kata Kayle dalam hati yang kemudian masuk ke dalam mobilnya setelah lama hanya membuka pintu mobilnya saja untuk berpikir.
"Kenyataan bahwa ada makhluk lain selain manusia hidup di dunia ini merupakan hal yang tidak masuk akal tapi kenapa aku bisa menerimanya begitu cepat, ya?! seakan aku sudah pernah mengalami hal seperti ini ... seperti dejavu!" kata Kayle saat mengendarai mobilnya di Jembatan Besar Hagan yang bentuknya menyerupai naga hitam yang mengambang diatas air jika dilihat dari kejauhan.
Benar yang dikatakan oleh Kayle, bahwa Felix dan Tiga Kembar tidaklah bisa melakukan ini semua sendiri. Dengan Kayle yang sudah mengetahui informasi yang paling penting, Kayle bisa sangat membantu sebagai ketua Tim di Y.B.I. Hanya perlu membagi anggotanya untuk menyamar masuk ke desa atau kota untuk menghentikan korban berjatuhan sehingga gerbang neraka tidak tercipta.
"Tidak akan kubiarkan!" Kayle menekan gas mobilnya sehingga mobilnya melaju begitu cepat.
***
"Apa maksud dari perkataanmu tadi?! kenapa kau selalu saja mengatakan apa yang berlawanan dari hatimu ingin katakan?!" kata Tan protes pada Felix.
Bell sekolah berbunyi membuat Tan dan Tom tidak punya pilihan lain selain menuju kelasnya juga secepatnya. Sementara Tom masuk duduk disamping Felix.
"Kau tanpa tahu malu menyerahkan kami begitu saja tanpa meminta persetujuan kami dulu ...." kata Tom.
"Kalian harus bekerjasama dengan Kayle! biarkan aku menjadi orang luar saja." kata Felix.
"Kau tahu Felix ... kau selalu saja menampakkan diri sebagai penjahat ...." kata Tom.
"Dengan begitu, kalian bisa menjadi pahlawan." kata Felix.
"Tugas utama Alvauden bukanlah untuk menyelamatkan manusia tapi untuk melindungimu." kata Tom.
"Jangan berbicara seperti itu ... aku jadi merasa ada Cain disini." kata Felix tersenyum.
"Kau bisa saja akan dikenal sebagai Caelvita yang buruk jika seperti ini terus ...." kata Tom.
"Memangnya apa salahnya jika begitu?! Caelvita tidak perlu harus selalu terlihat baik. Biarkan aku menjadi yang lain daripada yang lain." kata Felix saat Bu Latoya sudah memasuki kelas membuat Tom yang ingin membalas perkataan Felix harus bersabar karena Felix juga menutup Jaringan Alvauden.
Teo sudah lama tidak merasakan bagaimana rasanya belajar dengan kondisi prima seperti hari ini. Sementara Tan dan Tom masih merasakan siksaan kantuk yang sudah biasa menyiksanya itu. Felix pun juga begitu tapi dengan kuat ditahannya agar tidak membuat kebohongannya terbongkar.
Tom yang memperhatikan Felix tidak seperti biasanya hari itu. Selalu saja melirik kesegala arah melihat semua hal. Bahkan tangan Felix tidak berhenti bergerak. Jika Bu Latoya sedang mendikte, Felix menulis dengan tangan kirinya tapi menggambar sesuatu yang aneh dengan tangan kananya.
"Apa ini?!" bisik Tom melihat gambar Felix, "Ini ... gambar papan tulis yang akan jatuh?!" Tom melihat papan tulis saat ini yang memang terlihat agak goyah pemasangannya, "Lalu, apa ini?! oh, ini kan kursi dan meja guru ...." Tom mengabaikan itu karena mengira itu hanya digunakan Felix sebagai pengalihan untuk tidak mengantuk. Tapi anehnya, banyak gambar lain yang digambar oleh Felix hanya saja tidak jelas karena menggunakan tangan kanan Felix yang bukan pemakai tangan kanan.
Bu Latoya keluar kelas dan papan tulis kaca terlihat bergerak sendiri akan terjatuh tapi Felix dengan cepat menendang meja guru yang langsung ikut serta mendorong kursi guru juga hingga menahan papan tulis itu tidak langsung jatuh.
"Hahh?!" Tom melongo karena gambar yang dilihatnya tadi sama persis yang terjadi saat ini, "Apa kau habis mengikuti pelatihan problem solving atau apa?!"
"Mirip begitulah ...." sahut Felix.
"Kau jadi terobsesi dengan segala hal dan dengan cepat membuat solusi untuk itu ...." kata Tom.
"Sebenarnya aku ingin mengajak kalian kesana juga tapi saat ini kalian bisa saja dalam bahaya dan aku tidak bisa menjamin keselamatan kalian kalau di dalam sana. Terlebih lagi sangat berbahaya bagi manusia untuk masuki." kata Felix.
"Ah, itu ... Ruang Pikiran di Istana Ruleorum." Tom setelah menganalisis perilaku dan perkataan Felix.
"Kau sudah tahu hal itu?!" tanya Felix.
"Pertanyaan itu harusnya untuk Teo. Jangan berani-berani menanyakannya padaku! aku jadi tersinggung!" kata Tom.
"Sudah sampai mana kau tahu soal itu?!" tanya Felix.
"Setidaknya aku tahu kalau jiwa dan perlahan tubuh manusia bisa berubah jika memasuki dunia pikiran. Tapi bukankah tehnik itulah yang dilakukan oleh para Zewhit ... membawa ke dalam dunia pikiran dan bebas menyiksa disana. Begitupun dengan Zewhit Badut dan Kurcaci pasti akan melakukan hal yang sama untuk menyiksa targetnya nanti." kata Tom.
"Ya, tapi jangan khawatir soal itu! kedua Zewhit itu tahu batasan yang cukup untuk diterima oleh manusia." kata Felix.
"Hal yang baru aku tahu ... sepertinya kedua hantu itu tidaklah seburuk itu." kata Tom tertawa kecil.
...-BERSAMBUNG-...