
"Setidaknya kita bisa mengecualikan perempuan dan fokus memperhatikan laki-laki saja." kata Teo.
"Sudah kubilang kan, alasannya sesuai dengan apa yang barusaja kukatakan!" kata Mertie.
"Hahh ... menyebalkan!" keluh Tom.
"Felix?!" Tan memanggil.
"Ya? ada apa? kau sudah sampai?" tanya Felix.
"Sudah! dan ...." Tan terdengar tidak bisa melanjutkan kalimatnya, "Bisa kau datang kemari!" sambungnya setelah 1 menit berlalu dan suaranya terdengar bergetar.
"Ada apa memangnya?" tanya Felix.
Kemudian terdengar suara dentingan besi yang saling beradu. Bukan yang terdengar dari earpiece tapi dari Jaringan Alvauden.
"Lari, Tan!" teriak Felix.
"Mereka terlalu banyak!" balas Tan seperti kehabisan napas, "Kalian tahu bagaimana rupa mereka di stasiun kereta? banyak iblis berjejeran di depan pintu keluar kereta seperti menunggu mangsanya."
"Mereka terlalu bersemangat ...." kata Tom dengan nada suara yang berguncang karena berlari menuju tempat Tan berada.
Felix membuka Idibaltenya agar bisa membuat para iblis tahu dirinya sedang datang mendekat ke arah Tan berada.
"Iblis disana pasti sangat senang menemukan satu Alvauden yang merupakan manusia. Para Iblis tidak akan membuang kesempatan itu untuk membunuh Alvauden ...." kata Felix dalam hati yang sambil berlari dengan kecepatan penuh. Rasanya dia ingin langsung terbang saja. Klakson mobil berbunyi bergantian saat Felix menerobos lampu lalu lintas yang sedang hijau, "Tan, bertahanlah!" teriak Felix.
"Semuanya! Tan masuk Bemfapirav!" kata Felix memberitahu Teo dan Tom setelah merasakan aura Tan memudar.
Teo dan Tom langsung memasuki Bemfapirav sambil terus berlari. Mertie panik sendirian di kamarnya, tahu bahwa ada sesuatu yang terjadi.
"Mertie? kau mendengarku?" tanya Felix.
"Iya, ada apa?" tanya Mertie gugup.
"Ada seorang laki-laki memakai jas biru ... em ... Kiton K-50 ... sepertinya, dasi biru bergaris-garis Roberto Cavali kalau tidak salah, tas kerja warna coklat Voila Alcander, jam tangan Jacob & Co di tangan kiri, sepatu hitam Testoni Dress Shoes, kaus kaki abu-abu ...." kata Felix menjelaskan dengan memelototkan matanya memperhatikan laki-laki itu.
"Ada apa kau ini? mengajariku brand mahal atau apa sih?!" kata Mertie.
"Saat ini laki-laki itu dari stasiun sedang diikuti oleh seorang Iblis. Cepat keluar dan ikuti dia! aku harus pergi menyelamatkan Tan sekarang ...." kata Felix terdengar terburu-buru.
Iblis yang mengikuti laki-laki itu terlihat menyeringai memandang Felix karena tentunya Felix tidak bisa mengejarnya karena rekannya yang lain sedang mengejar Tan saat ini.
"Tunggu ... Felix!" teriak Mertie mendengar suara Felix mulai menghilang karena Felix sudah menutup matanya untuk masuk Bemfapirav tapi setelah mendengar teriakan Mertie, Felix terpaksa kembali lagi ke Mundclariss.
"Apa lagi? cepatlah keluar dari asrama! aku sudah menjelaskan ciri-cirinya kan ...." kata Felix.
"Saat ini pasti kamera yang ada di stasiun mati semua karena Iblis. Bagaimana aku bisa mengikuti jejak laki-laki itu kalau tidak bisa memeriksanya lewat cctv ...." kata Mertie.
Felix baru melihat semua kamera cctv mati, "Hahh ... baiklah! tunggu ...." Felix memfokuskan dirinya mendengar suara dan hanya mengikuti suara laki-laki itu, "Toko perhiasan ... dia akan melamar seseorang, Tifanny, Piaget, Chopard ... itu merk perhiasan yang sedang dia pikirkan."
"Kau bisa membaca pikiran seseorang?" tanya Mertie kaget.
"Tidak ada waktu untuk membahas itu, sekarang aku akan pergi!" kata Felix.
Mertie segera berlari keluar asramanya, "Mall yang dekat dengan stasiun kereta bawah tanah itu adalah Mall Eartha, disana ... semua merk perhiasan itu ada." Mertie bermain untung-untungan hanya mempertaruhkan satu tempat itu yang akan didatangi oleh laki-laki yang dimaksud oleh Felix, "Tidak ada waktu untuk memikirkan kemungkinan lain ... laki-laki itu memakai semua brand mewah tapi memilih menggunakan kereta bukan mobil pasti mobilnya sedang ada masalah, seseorang dengan pengguna merk mewah tidak akan suka kalau berkeringat untuk berjalan jauh membeli perhiasan. Jadi, kesimpulannya hanya Mall Eartha yang hanya perlu berjalan kaki sebentar ...."
Mertie menaiki taksi setelah mulai jauh dari area sekolah, "Dengan menggunakan taksi setidaknya aku bisa sampai disana 20 menit kalau tidak macet ... waktunya cukup, tidak mungkin dia memilih perhiasan dengan cepat padahal ini untuk melamar seseorang." kepala Mertie terus bekerja memikirkan kemungkinan.
"Hei, kalian! jangan main keroyokan ya!" teriak Teo.
Tan merasa lega melihat kedua saudaranya ada untuk membantu, "Dimana Felix?" tanya Tan terus menghalau serangan Iblis dengan Telloppernya. Untungnya Tellopper adalah jenis senjata yang bisa digunakan untuk banyak musuh karena bentuknya yang bisa berubah-ubah.
"Dia ada di belakang!" jawab Tom yang sudah diserang oleh Iblis.
"Ayo kita bunuh mereka sebelum Caelvita datang! sepertinya hari ini adalah hari keberuntungan kita!" teriak salah satu Iblis yang membuat Iblis lainnya terlihat sangat bersemangat.
"Ada pesan terakhir anak manusia?" tanya Iblis.
Tapi Iblis yang bertanya itu tubuhnya langsung terbelah dua diikuti oleh Iblis lainnya yang juga dipenggal oleh seseorang yang tidak dapat dilihat wujudnya.
Tan, Teo dan Tom hanya tersenyum.
"Ss ... si ... siapa itu?" tanya satu iblis terakhir yang masih hidup.
"Ada pesan terkahir?" tanya Tom menyeringai.
"Aku tidak ingin mendengarnya!" kata Felix yang memenggal kepala Iblis itu dan mulai membuka Idibaltenya memperlihatkan wujudnya.
Saat menuju tempat Tan, Felix memang membuka Idibaltenya karena ingin menakut-nakuti Iblis dengan keadatangannya tapi saat memasuki Bemfapirav, ia memasangnya lagi. Alvaudennya tentu bisa melihatnya dengan jelas tapi Iblis tidak bisa melihatnya.
"Yang tadi itu keren! bagaimana kau bisa terpikirkan melakukan itu?" kata Teo.
"Kalian harus segera kembali!" kata Felix mengelap darah Iblis di pedangnya menggunakan pakaian Iblis yang sudah tergeletak tak bernyawa itu.
"Hanya kami?" tanya Teo.
"Aku harus mengirim Zewhit Iblis yang keluar dari tubuh mereka ini ke neraka." jawab Felix.
Perlahan Roh Para Iblis mulai keluar satu per satu dari tubuhnya.
"Hubungi Mertie setelah kalian kembali, dia sedang mengikuti calon penghipnotis." kata Felix.
"Kau baik-baik saja sendiri?" tanya Tan.
"Kalian bisa kan melawan satu Iblis?" tanya Felix yang lebih khawatir.
"Jangan khawatir kalau cuma satu ...." kata Teo.
Felix mengubah dirinya menjadi Malaikat Kematian dengan Mahkota Ruleorum di atas kepalanya dan mengeluarkan sebuah rantai safir dari belakang punggungnya untuk mengikat semua Zewhit Iblis yang ada disana sekaligus.
Untungnya para Zewhit iblis disana masih dalam keadaan kebingungan karena baru meninggal, sehingga Felix yang bergerak cepat bisa menghindari masalah untuk harus bertarung dengan Zewhit iblis lagi.
Setelah itu Felix menaruh tangan kanannya di atas tanah karena tangan kirinya sibuk memegang rantai, "Neraka! aku datang membawakanmu penduduk baru!" perkataan Felix itu memunculkan garis lingkaran api yang menyala, "Aku pergi dulu! jaga diri kalian ...." kata Felix mulai menghilang bersamaan dengan nyala api yang berkobar menyelimutinya kemudian padam seketika, Felix serta Zewhit Iblis sudah tidak ada disana.
"Dia sadar kan kalau dirinya keren?!" tanya Teo.
"Ya!" Tan dan Tom menjawab kompak.
Mereka menggunakan gerbang Ruleorum yang telah dipanggilkan oleh Felix sebelumnya karena selisih waktu yang bisa saja membuat mereka tidak akan bisa kembali ke waktu yang sama dengan Mertie.
"Felix ... semakin berkembang saja!" kata Tan.
...-BERSAMBUNG-...