
"Teo?!" Felix mencoba menyadarkan Teo yang sedang terlihat tidak fokus dan terus memalingkan wajahnya atau menutup matanya saat berjalan karena takut melihat sekitar.
"Hah?!" Teo memegang jantungnya yang serasa hampir keluar.
"Mereka tidak akan bisa keluar! kalau keluar pun tidak akan bisa melihat kita ...." kata Felix mencoba menenangkan Teo.
"Bagaimana kalau aku jadi bisa terlihat dan ...." Teo melirik yang sekarang ada di luar lapangan berulang kali dikejar oleh sebuah balok besi panas. Berulang kali ia mati tapi dihidupkan lagi dan berlari lagi.
"Mereka sedang menjalani hukuman, mana sempat untuk menyerang kita ...." kata Felix.
"Dosa apa yang telah mereka lakukan sampai-sampai harus menjalani hukuman itu?" tanya Teo.
"Mana aku tahu! ini pertama kaliku kesini!" jawab Felix sebal.
Lama mereka berkeliling mengitari sel penjara dan mendekati yang sedang menjalani hukuman tapi sosok Balduino tidak ditemukan.
"Kita bisa kembali ke waktu sebelum masuk sekolah kan?" tanya Teo khawatir sudah melewatkan berapa hari Mundclariss.
"Apa Balduino ada di neraka manusia?" tanya Felix.
"Atau jangan-jangan dia tidak ada di dalam sini melainkan di luar penjara!" kata Teo.
"Aku juga tidak bisa mencari dan menghubunginya lewat pikiran karena dia tidak sadarkan diri ...." kata Felix.
"Tapi untuk apa Hantu Jari Kelingking itu membawanya bukan kesini? masa iya dibawa ke rumahnya?" kata Teo asal tapi memberi Felix ide baru.
"Jika tidak ada disini ... bisa jadi ada di Bemfapirav!" kata Felix mengingat yang dicarinya adalah Zewhit.
"Apa kau tidak bisa merasakan keberadaan Balduino? bukankah kau sudah sering bertemu ... pasti kau bisa ingat dengan jelas." kata Teo.
"Hanya setengah roh nya saja yang dibawa ... kau pikir aku akan melakukan semua ini kalau bisa menemukannya semudah itu." kata Felix.
"Jadi, kita pergi ke neraka khusus manusia sekarang?" keluh Teo.
"Kalau kau mengeluh lagi, lebih baik aku mengantarmu pulang!" kata Felix, "Kau tidak lihat sudah berapa banyak kontrak yang telah dibuat Tan dan Tom?!" kata Felix menunjuk tangan Teo yang bersinar dengan gambar tanaman dan hewan Mundebris menandakan Tan dan Tom telah berhasil melakukan kontrak dengan mereka dan itu terlihat juga di tangan Teo muncul, "Akan lebih berguna kalau kau membantu mereka!"
"Baiklah ... aku tidak akan mengeluh lagi." kata Teo.
Felix mengatakan itu hanya untuk membuat Teo fokus saja, tidak ada maksud untuk menyakiti. Keberadaan Teo disampingnya saja sangat membantu Felix, dia tidak perlu bekerja sendirian. Terlebih lagi rasanya tidak membosankan karena Teo selalu saja heboh dengan hal-hal kecil. Hanya saja Teo membuat Felix khawatir, karena terkadang tahanan melirik ke arah luar sel. Itu menandakan bahwa Teo beberapa kali hampir memunculkan dirinya karena tidak bisa fokus dengan baik.
Felix dan Teo berjalan keluar dari neraka khusus setengah manusia ke neraka khusus manusia yang tepat berada di gua sebelah.
Baru di depan gua, belum masuk tapi sudah terdengar banyak teriakan. Bagaimanapun juga kaum manusia lebih banyak dibanding setengah manusia. Jadi wajar jika neraka khusus manusia terisi penuh.
"Saat di neraka sebelumnya cukup mudah karena tinggal melihat yang seperti manusia biasa tapi disini ... semuanya manusia. Akan lama kita memeriksanya!" kata Teo.
"Em?" tanya Teo.
"Kau akan melihat pemandangan yang mengerikan, banyak manusia yang akan disiksa. Tidak seperti tadi yang hanya beberapa saja ...." jawab Felix memegang kedua bahu Teo.
"Aku sudah menyiapkan diri!" kata Teo memaksakan tersenyum.
"Bahkan jika sudah menyiapkan diri sekalipun, tidak akan berguna jika kau tidak meneguhkan hati ...." kata Felix sudah menyadari kemungkinan terburuk bagi Teo yang tidak hanya bersimpati tapi juga berempati pada orang lain, "Yang di dalam sini hanyalah yang melakukan kesalahan ... kau harus mengingat itu!"
"Yang pernah melakukan kesalahan tidak bisa dicap sebagai orang jahat ... perbuatan mereka, tidak semata-mata karena mereka ingin lakukan tapi dipaksa oleh keadaan." kata Teo dalam hati yang menentang perkataan Felix tapi hanya mengangguk agar Felix tidak khawatir.
"Aku juga tidak tahu apa yang sedang kulakukan saat ini ... kenapa aku begitu terobsesi menyelamatkan Balduino?" kata Felix dalam hati tidak seperti dirinya yang biasa saja yang tidak terlalu sentimental dan melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.
Mereka berdua masuk ke dalam neraka khusus manusia itu. Jauh dari yang mereka bayangkan, ternyata lebih banyak lagi manusia di dalam sana. Di lapangan tempat hukuman berlangsung, saking banyaknya manusia terlihat seperti semut saja yang saling berhimpitan dan ada juga yang terinjak.
"Bagaimana kita bisa menemukannya disini?" tanya Teo menganga.
Felix memukul belakang kepala Teo untuk dibuat fokus kembali, "Aw!" keluh Teo.
"Bahkan tanpa Viviandem sekalipun, disini masih terisi penuh ... maksudku roh yang berkeliaran menjadi Malexpir sekarang ini jika ada yang menjemput atau menangkap bisa diadili kemudian dibawa kesini ... akan lebih penuh lagi kan?!" kata Teo.
Untung saja Teo tidak punya kenalan yang membuatnya punya alasan untuk mencari kenalannya itu di neraka.
"Arwah pemain permainan tukar kematian tidak dibawa kesini kan?" tanya Teo.
"Tidak, maksudku belum! mereka sedang menunggu diseberang jembatan untuk sidang. Yang bisa kesini hanyalah yang pernah melewati Jembatan Ruleorum, sudah melakukan sidang dan hukumannya sudah ditetapkan ... itu berlaku bagi manusia saja, kalau Quiris atau Zewhit Mundebris bisa dibawa kesini tanpa harus melalui proses itu." jawab Felix.
"Seharusnya mereka tidak usah menjalani hukuman setelah apa yang dilaluinya ...." kata Teo merasa sangat bersalah.
"Mereka memang menderita karena permainan tukar kematian tapi tetap saja mereka harus menjalani hukuman atas perbuatannya selama hidup ...." kata Felix.
"Kalau begini ... serasa dunia yang tidak adil ini ternyata sangatlah adil!" kata Teo.
Kalau membawa Tan pastinya akan sama juga seperti membawa Teo saat ini tapi setidaknya Tan bisa mengontrol dirinya untuk fokus pada apa yang dilakukannya dan menyimpan perasaan kasihannya itu. Sedangkan jika membawa Tom, memang pekerjaan akan menjadi singkat tapi akan sangat membosankan karena pasti tidak akan yang saling berbicara sama sekali.
Tapi itu tidak membuat Felix merasa keputusannya benar membawa Teo. Melainkan karena Teo sendirilah yang mengajukan diri untuk ikut disaat yang lainnya tidak bersedia.
Felix dan Teo naik ke lantai dua dan berjalan di atas jembatan karena di lantai dasar terlalu penuh untuk mencari. Semakin dalam mereka memasuki neraka, semakin banyak juga pemandangan tidak enak untuk dilihat. Bahkan jauh lebih banyak manusia dibanding di pintu masuk tadi. Dihadapannya mungkin ada milyaran manusia yang berada di dalam lautan api. Kebanyakan manusia ingin naik ke atas jembatan yang dilalui Felix dan Teo untuk menyelamatkan diri tapi tidak bisa.
Teo menutup matanya dan menggertakkan giginya sambil berjalan, "Aku tidak melihatnya ... aku tidak melihatnya ... aku tidak peduli ... aku tidak peduli ...." mantra itu terus dirapalkan di dalam pikiran Teo.
...-BERSAMBUNG-...