UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.351- Dunia Mimpi Aluias



Sementara Felix dan Tiga Kembar masih terus bekerja untuk menangkap orang hilang dari Desa Quinlan yang dirasuki oleh bagian kecil dari Iblis Ular. Cairo pulang ke kuil tempat Klan Pemburu Iblis untuk melaporkan tentang misi pertamanya itu. Walau luka luarnya sudah tidak ada tapi Cairo masih terlihat sangat pucat dan kesulitan untuk menaiki anak tangga menuju kuil. Menandakan bagian dalam tubuhnya belum sembuh total.


Saat sampai di pintu gerbang masuk kuil, semua orang yang sedang berlatih di halaman menghentikan aktivitas dan menatap Cairo.


"Dia masih hidup setelah melaksanakan misi pertama ...." bisik Seseorang.


"Dia juga tidak langsung ditangkap polisi ...." bisik Orang lainnya lagi.


"Menyebalkan sekali, dari kecil dia memang selalu saja berbakat dan beruntung pada saat yang bersamaan."


Cairo langsung menuju ruangan Pemimpin Klan dan melapor tanpa memperdulikan tatapan yang biasanya Cairo juga lakukan pada senior sebelumnya. Tidak banyak memang yang bisa kembali ke kuil setelah melakukan misi pertama dan Cairo juga sangat mengerti bagaimana perasaan mereka itu. Karena pernah merasakan hal yang sama juga berada di posisi mereka.


"Jadi begitu ...." kata Pemimpin Klan hanya terlihat biasa saja, "Kerja bagus, beristirahatlah! sebelum misi selanjutnya datang lagi."


"Kakek terlihat sudah tahu semua itu ... bahkan tidak memperlihatkan wajah terkejut sedikitpun. Seharusnya hal seperti ini diberitahu kepada semua orang yang ada disini ...." kata Cairo mengarahkan pandangannya pada jendela yang memperlihatakan barisan para Pemburu Iblis yang gigih berlatih.


"Klan kita bukanlah Viviandem, kita ini manusia ... tidak perlu terlalu larut dengan pengetahuan dunia lain." kata Pemimpin Klan.


"Akan lebih baik jika kita tahu ... kemungkinan untuk bertahan hidup akan semakin besar." kata Cairo.


"Jangan menceramahiku hanya karena kau sekarang mempunyai tiga mata dunia. Kau tidak tahu apa yang akan terjadi pada manusia yang mengetahui keberadaan dunia lain dan terobsesi akan itu. Keberadaan klan kita adalah untuk mengemban amanah dan tanggung jawab dari leluhur yang ingin agar ada manusia yang melindungi manusia. Tidak tergantung pada seseorang yang dari dunia lain yang bukan manusia." kata Pemimpin Klan.


Cairo akhirnya terdiam tidak bisa membantah atau berkata apa-apa lagi. Cairo biasanya bukanlah orang yang seperti itu tapi setelah mengalami kejadian malam itu siapapun pasti akan menjadi orang berbeda.


"Sejak kapan aku terlalu sensitif begini?! bahkan aku berani meninggikan suaraku pada Ketua Klan ...." Cairo merasa tidak mengenal dirinya sendiri.


Cairo berjalan menuju kamarnya sambil merasakan hawa dingin pegunungan.


"Terlalu lama di kota, aku jadi lupa bersyukur betapa berharganya udara yang aku hirup disini dari sejak kecil ...." kata Cairo sambil menghirup napas dalam.


Cairo memasuki kamarnya yang tidak terkunci, di dalam kamarnya terlihat sangat sederhana. Hanya terdapat peralatan dan benda yang memang dibutuhkan saja. Cairo berbaring di tempat tidurnya, mencium aroma kamarnya dan merasakan selimutnya yang kasar tapi sangat hangat itu perlahan membawa Cairo masuk ke dalam alam mimpi.


"Siapa yang memanggilku kesini?!" suara dari Seseorang yang membuat Cairo terbangun.


Cairo mendapati dirinya tidak lagi berada di kamarnya tapi disebuah ruangan yang hanya dipenuhi oleh warna putih.


"Aku ada dimana?" tanya Cairo, "Siapa kau?!" Cairo kaget setelah melihat seseorang yang sedang membelakanginya dengan rambut berwarna putih. Orang itu perlahan berbalik dan berjalan mendekati Cairo, "Apa dia ayah Felix?!" Cairo hanyalah menebak saja setelah mengingat perkataan Felix sebelumnya yang mengatakan bahwa ayahnya itu berambut putih bersinar, "Tapi rambutnya tidak bersinar ...." setelah Cairo memperhatikan lebih dekat lagi.


"Ini adalah dunia mimpi!" kata Orang berambut putih tapi masih terlihat sangat muda. Tingginya sama dengan Cairo, pakaiannya serba putih dengan serbuk bersinar menempel.


Cairo hampir tertawa tapi ditahannya, "Jawaban yang sangat jujur ...."


"Dunia mimpi Aluias, biasanya yang bisa masuk hanyalah Aluias itu sendiri ataupun kalau ada sesuatu yang dinyatakan lain setidaknya itu harus Quiris atau penduduk Mundebris saja. Tapi kau yang hanya manusia dengan sedikit darah Aluias bisa masuk kesini juga ... dan terlebih lagi bisa memanggilku adalah hal yang jarang terjadi atau bahkan belum pernah terjadi sebelumnya."


Cairo mulai agak panik, dikirinya itu memang hanyalah sekedar mimpi saja. Tapi ternyata memang dia sedang berada di dunia mimpi dan dalam keadaan sangat sadar di dalam mimpi itu, "Jadi, apa ini hal baik atau buruk? dan kau itu baik atau jahat?"


"Bukankah tadi kau bilang aku bisa menilai dari bagian sudut pandangku." kata Cairo tertawa.


"Menilai seseorang berbeda dengan menilai tempat atau suatu hal. Perlu waktu untuk mengenal seseorang dan kita baru bertemu beberapa menit, apa yang bisa kau simpulkan dari waktu yang singkat itu ...."


"Kau terdengar sama seperti Kakek Felix saat berbicara! Beliau adalah Pemimpin Klan Pemburu Iblis. Sangat kaku tapi disaat bersamaan juga keren dengan kata-kata bijaksananya .... " kata Cairo.


"Dengan kau yang bisa masuk kesini dan memanggilku adalah sebuah hal yang jarang terjadi. Kaum Aluias yang masuk ke dalam dunia mimpi hanya ada dua kemungkinan yang terjadi, pertama kau akan segera mati dan yang kedua kau akan menjadi seorang pahlawan."


"Aku harap yang kedua ...." kata Cairo terkesan bercanda tapi sebenarnya sangat bersungguh-sungguh.


"Tapi karena bisa memanggilku juga, kemungkinan itu bukan hanya dua saja tapi bisa ratusan ribuan bahkan milyaran kemungkinan."


Cairo melongo mendengar itu, "Memangnya kau siapa? bisa menambah kemungkinan menjadi berkali-kali lipat?!"


"Kau mungkin akan segera bertemu denganku ... tapi dengan usia yang lebih muda dari yang kau lihat sekarang. Aku punya misi khusus untuk kau lakukan, setelah melakukan itu baru kita lihat apa yang terjadi ... sehingga baru bisa diprediksi kau akan mati atau menjadi pahlawan atau yang lainnya ...."


"Memasuki dunia mimpi ini sebenarnya untuk mencegah sesuatu terjadi atau apa?!" tanya Cairo ingin memperjelas.


"Membuat segalanya bisa berjalan sempurna. Kalau memang kau akan mati, kau bisa menikmati sisa hidupmu dengan bermakna dan bermanfaat. Kalau akan menjadi pahlawan, harus menjadi pahlawan yang sesungguhnya tanpa kekurangan sedikitpun."


"Jadi apa misinya?" tanya Cairo.


"Pertama ambil senjata Antonia! dan iris tanganmu dengan menggunakan pedang itu dan oleskan darahmu pada pedang itu juga. Jika lukamu langsung tertutup maka kau akan segera meninggal tapi jika muncul tulisan pada pedang itu setelah kau olesi darah maka kau akan menjadi pahlawan. Kita tes untuk kedua kemungkinan itu dulu!"


"Lalu?!" tanya Cairo lagi.


"Aku tidak bisa menjawab pertanyaan yang belum terjadi."


"Tadi kau bilang aku akan bertemu denganmu yang muda berarti kau yang sekarang sudah bertemu denganku sebelumnya ... walau aku yang sekarang saat ini belum bertemu denganmu ...." kata Cairo.


Pria berambut putih dengan pakaian serba putih itu tersenyum dan terlihat berbalik kemudian berjalan jauh meninggalkan Cairo.


"Kau ... orang itu kan? yang mereka maksud? satu orang lagi sahabat mereka yang sedang menjalani hukuman ...." teriak Cairo.


"Saat bertemu denganku lagi, katakan padaku apa yang kau lihat dari hasil tes pedang Aluias itu!"


"Jika tidak muncul tulisan berarti aku akan mati kan?! apa kau akan menggunakan dan memanfaatkanku karena bagaimanapun aku akan mati? begitukah?! tapi bagaimana kalau aku berbohong?" kata Cairo.


"Kau terlalu berpikir negatif ... bagaimana kalau kau akan menjadi pahlawan?! apa kau akan membohongiku juga?!" perkataan terakhir dari Pria berambut putih itu langsung membangunkan Cairo kembali ke dunia nyatanya.


...-BERSAMBUNG-...