
Dea yang terus bertanya pada Dokter Mari tentang keadaan Felix saat ini, membuat Dokter Mari hampir saja kesusahan menjawab pertanyaan Dea yang tiada henti.
"Siapa sebenarnya anak ini?!" keluh Dokter Mari dalam hati sambil menghela napas panjang.
"Berisik!" keluh Felix yang bangun saat mereka beres-beres.
Cain, Tan, Teo dan Tom yang mendengar suara Felix itu seperti ingin berlari secepatnya memeluk Felix tapi terpaksa ditahan. Mereka semua membersihkan ruangan sambil menangis bahagia dengan menyembunyikan wajah mereka.
"Bagaimana keadaanmu Felix?" tanya Bu Corliss yang mendekat ke arah Felix membuat Cain dan Tiga Kembar serta Dokter Mari serasa mau copot jantungnya takut jika perban luka Felix terlihat.
"Bagian mana yang kau rasa sakit?" tanya Dea terlihat memasang wajah berlebihan.
"Apa yang kau lakukan disini?!" Felix tidak habis pikir setelah bangun langsung melihat sosok Dea.
"Bajumu basah begini karena keringat! ibu gantikan ya? tapi kenapa juga memakai baju besar dan tebal begini?" kata Bu Corliss yang malah membuat Cain dan Tiga kembar tambah panik dan tiba-tiba mulai berkeringat dingin.
Teo menggigit jarinya, "Bagaimana ini?!"
Cain berbalik dan memandang Felix, "Bisakah kau membaca pikiran mereka bertiga?!" kata Cain lewat pikiran sambil diam-diam melirik Tiga Kembar. Felix sudah tidak bisa membaca pikirannya dan hanya bisa berkomunikasi saja sesuai keinginannya. Cain ingin menjelaskan tapi entah harus darimana dan saat ini Cain tidak yakin bisa menceritakan secara jelas saat sedang panik melihat Bu Corliss ingin melepas pakaian Felix yang basah karena keringat itu. Padahal Cain sebenarnya tidak ingin jika Felix bisa membaca pikiran Tiga Kembar dan mengetahui bahwa Tan, Teo dan Tom sudah mengetahui semuanya. Bahkan sudah masuk ke Mundebris, "Felix pasti akan membunuhku setelah ini!" Cain menyesali perbuatannya tapi itu adalah solusi terbaik saat itu. Semakin banyak Alvauden yang menyiram tanaman maka akan semakin cepat juga Felix sembuh.
Cain hanya berharap agar Felix harus menolak sendiri, daripada mereka yang heboh melarang pakaian Felix diganti dan menimbulkan kecurigaan.
"Ada anak perempuan, Liss!" kata Dokter Mari berusaha menghentikan dengan menjadikan Dea sebagai alasan.
"Bisa kau keluar sebentar Dea?!" kata Bu Corliss yang langsung dituruti Dea, "Kalian masih kecil juga ...." Bu Corliss tertawa kecil karena harus menghargai privacy anak umur 10 tahun.
Cain memaki Dokter Mari dalam hati sambil menatap tajam karena hanya bisa menahan dengan cara paling lemah seperti itu. Dokter Mari yang menyadari tatapan Cain itu, "Aku lebih baik darimu! kau bahkan tidak bisa melakukan apa-apa!" kata Dokter Mari lewat pikiran.
Felix entah karena masih pengaruh luka sehingga tidak bisa mendengar Cain yang terus berbicara lewat pikiran. Felix hanya terlihat santai saat Bu Corliss membantu membukakan bajunya.
"Gawat!" teriak Tom dalam hati.
"Hah? perban apa ini? kau terluka Felix?!" Bu Corliss panik melihat perban yang meliliti dada Felix.
"Ah, ini ...." belum selesai Felix berbicara, Bu Corliss langsung saja membuka balutan perban itu membuat yang lain terlihat bercucuran keringat melihat kejadian itu, "Eh! tidak ada luka sama sekali!" kata Bu Corliss.
"Eh?!" Teo keceplosan saking kagetnya melihat luka Felix sudah sembuh total.
"Tidak ada yang luka kenapa diperban segala?!" kata Bu Corliss heran.
"Kukira punggungku cedera makanya kusuruh Dokter Mari meliliti perban ...." kata Felix tidak masuk akal.
"Benarkah?" tanya Bu Corliss membuat Dokter Mari hanya bisa memaksakan tertawa, "Kita kembali ke rumah saja ya! biar ibu yang rawat!" kata Bu Corliss menyarankan agar Felix kembali ke panti saja.
Felix hanya mengangguk tanda setuju, "Biar bagaimanapun, disini bukanlah rumah melainkan klinik ... mau itu milik Dokter Mari tapi tetap saja tidak nyaman tinggal disini kan? ibu juga tidak bisa memasakkan makanan untukmu disini!"
***
Dea ingin ikut ke panti juga tapi disuruh oleh Felix pulang duluan dengan mobil pribadi ayah Dea yang mewah itu. Terlihat ada dua orang yang duduk di depan dengan jas resmi seperti bodyguard yang ada di tv saja. Sementara Felix ikut di mobil Dokter Mari untuk kembali ke panti.
"Tidak ada!" kata Felix datar padahal Teo dan Tom berharap jika Felix meminta dibelikan banyak makanan agar mereka juga bisa ikutan mendapatkan bagian.
"Yang lain? kalian! mau makan apa?" tanya Bu Corliss membuat Teo dan Tom begitu senang dan langsung menyebutkan banyak makanan sampai-sampai terdengar seperti rapper saja.
"Bagaimana keadaanmu Felix?" tanya Cain.
Felix enggan menjawab dan hanya menutup matanya.
"Apa dia sudah tahu?" tanya Cain dalam hati.
Felix sebenarnya mendengar perkataan Cain yang lewat pikiran saat Bu Corliss akan mengganti bajunya tadi. Bahkan bisa mendengar kekhawatiran yang lainnya terus menerus. Tapi Felix akhirnya mengetahui juga bahwa Tiga Kembar sudah masuk Mundebris. Felix ingin langsung marah-marah tapi keadaanya saat ini masih sangat lemah tidak bertenaga sama sekali. Dalam hati, Felix terus menyesalkan semuanya.
Entah bagaimana ceritanya tapi luka luar Felix sudah tidak ada tapi sebenarnya di dalam masih belum sembuh. Secara ajaib seperti kulit Felix di luar disembuhkan untuk mencegah dilihat oleh Bu Corliss tadinya.
"Karena kejadian itu semuanya berubah! semuanya berawal dari situ ... semuanya terjadi karena aku juga!" Felix merasa bersalah, selama ini ia berusaha berusaha keras agar Tiga Kembar tidak tahu apa-apa tentang Mundebris tapi ujung-ujungnya Tiga Kembar masuk Mundebis karenanya juga.
Sesampainya mereka di panti, Bu Corliss langsung ke dapur untuk menghangatkan makanan yang dibeli di perjalanan tadi. Sedangkan Dokter Mari mengantar Felix ke kamar dengan Cain, Teo dan Tom juga mengikut dibelakang.
Felix masuk ke dalam kamar dan langsung membanting pintu tanpa membiarkan yang lain masuk, "Tinggalkan aku sendiri!" perintah Felix.
"Tapi ...." Cain berusaha membuka pintu.
"Terutama kau! jangan coba-coba mendekatiku hari ini!" kata Felix penuh amarah.
Tan, Teo dan Tom yang menyadari Felix sedang marah tidak bisa berkata apa-apa.
"Baiklah! akan aku tinggalkan sendiri ... tapi kalau ada apa-apa cepat panggil Bu Corliss atau Dokter Mari!" kata Cain yang sudah tidak dijawab oleh Felix, "Kau dengar aku kan? Felix!" karena tidak ada jawaban Cain membuka pintu kamar tapi Felix tidak ada disana.
"Kemana Felix?!" teriak Teo.
"Dia pasti ke Bemfapirav atau Mundebris!" kata Tan yang baru saja mengenal kedua dunia itu tapi sudah mulai paham cara kerjanya.
"Sudah! biarkan saja dia sendiri dulu!" kata Dokter Mari yang mulai membuat penyamaran di tempat tidur Felix yang seperti ada Felix yang sedang tidur padahal hanya ada bantal dibalik selimut.
"Dimana Felix?" tanya Bu Corliss yang datang dengan membawa banyak makanan.
"Katanya ingin istirahat dulu!" jawab Dokter Mari.
"Baiklah ... kalau begitu, kalian dulu yang makan makanan ini! nanti keburu dingin lagi ...." kata Bu Corliss.
Mereka akhirnya menurut walau sudah tidak ada nafsu makan lagi karena mencemaskan Felix yang baru saja sadar setelah terluka parah dan saat ini sedang dalam emosi, entah baik-baik saja kah.
"Kalian sendiri yang meminta dibelikan ... tapi cara kalian makan begitu!" Bu Corliss marah melihat mereka makan hanya sedikit.
...-BERSAMBUNG-...