
"Jangan bilang aku bisa menyemburkan api?" Cain jadi tertawa geli.
Goldwin hanya diam memasang wajah datar membuat Cain jadi berhenti tertawa, "Serius?" tanya Cain.
"Aneh juga, kenapa seorang malaikat pelindung punya kekuatan api yang jelas-jelas bisa menghancurkan!" kata Felix bingung.
"Selama ini banyak yang salah paham akan api yang banyak melukai dan menghancurkan padahal api bagi Leaure adalah simbol kehidupan yang besar ... energi kehidupan Leaure yang berlimpah karena energi api yang Leaure miliki." kata Goldwin.
"Tidak selamanya juga melukai dan menghancurkan, bukankah kita bisa bertahan dikala dingin berkat api, bisa memasak dan menikmati makanan enak dan hangat karena api ... hanya karena terkenal akan hal buruk bukan berarti api tidak memiliki kegunaan yang sangat bermanfaat bagi banyak hal." Banks melanjutkan.
Cain jadi menatap Felix untuk mengetahui reaksinya setelah mendengar penjelasan Goldwin dan Banks tentang api. Tapi Felix hanya diam saja membuat Cain tidak bisa menebak.
"Ayo kita ke Mundebris!" kata Felix tiba-tiba.
Cain hanya mengangguk mengiyakan karena berhubung besok libur jadi tidak perlu khawatir dengan waktu Mundebris. Felix langsung menyilangkan tangannya dibelakang dan mulai mencari tempat tongkatnya berada kemudian ditariknya keluar yang membuat semua pohon kecil tadi langsung tumbuh tinggi.
"Pohon dengan daun lebat di musim dingin ... hemmm." kata Cain membuat Felix menahan tawa.
Gerbang Emerald besar muncul membuat Goldwin dan Banks takjub dan hanya terus menatap tanpa berkedip. Merekapun langsung berjalan masuk setelah gerbang dibukakan oleh Marsden.
"Aku tidak melihat apa-apa!" kata Cain melihat sekeliling yang hanya lapangan luas tak berujung.
"Kita memang tidak bisa melihatnya!" kata Goldwin, "Eh ... kemana Banks?" Goldwin baru sadar Banks tidak ada.
"Aku bisa melihatnya!" seru Felix.
"Apa? tapi ... seharusnya kan belum bisa!" kata Goldwin bingung.
"Selamat datang kembali di rumah, Tuan Muda!" kata Marsden yang kemudian menghilang.
Felix mulai berjalan pelan hingga langkah kakinya mulai dipercepat dan kini Felix berlari kencang.
"Felix!" teriak Cain.
"Em ... ini makan buah dulu! sambil menunggu ...." Banks tiba-tiba datang membuat Cain kaget.
"Emmm ...." Cain memasang ekspresi tidak mau.
"Tapi coba diperhatikan ... kalau dipotong kecil-kecil begini bukannya terlihat sangat enak?" rayu Banks membuat Goldwin melirik dengan senyum miring.
Cain ragu-ragu tapi akhirnya mengulurkan tangannya tapi tiba-tiba berhenti, "Tapi kenapa kau memaksaku terus makan buah ini sih!" kata Cain membuat Banks dan Goldwin menghela napas kesal mengira Cain akan terbujuk untuk memakan buah darah.
"Ini ibaratkan nasi bagi manusia! bagi Leaure, buah darah adalah makanan pokok!" kata Goldwin kesal tapi kaget ketika melihat Felix tiba-tiba menghilang.
"Dia sudah masuk istana?" tanya Cain.
"Aku tidak mengerti, bukankah selama ini Caelvita baru bisa melihat dan memasuki istana setelah membangkitkan Viviandem ...." kata Goldwin.
Sementara itu Felix yang mulai memasuki pintu istana langsung disambut dengan banyak batu mengambang di udara membentuk jalan. Tanpa sedikitpun rasa takut Felix melangkahkan kakinya sambil memandang sekitar yang penuh dengan nuansa putih dan hijau karena batu permata emerald dimana-mana menghiasi. Walau jarak yang lumayan jauh untuk melewati jembatan batu melayang itu tapi karena sibuk melihat pemandangan sekitar Felix bahkan tidak merasa bosan atau ketakutan dengan jurang tak berdasar yang ada dibawah. Akhirnya Felix tiba disebuah halaman depan sebuah kastil besar yang bertingkat-tingkat. Pintu istana itu tiba-tiba terbuka dengan sendirinya, "Iriana?" suara Felix jadi menggema karena berteriak.
"Iya ... ini aku! selamat datang!" suara Iriana terdengar tapi Felix masih tidak bisa melihatnya.
"Kau ada disini?" tanya Felix.
"Aku memang selalu ada disini ... istana ini selalu terhubung dengan Caelvita."
"Tapi bagaimana aku bisa melihat istana ini bahkan belum resmi menjadi Caelvita?" tanya Felix.
"Jangan bilang ...." kata Felix menoleh kebelakang melihat batu melayang itu.
"Itu adalah tes keberanian ... tiap batu itu akan melihat keberanian seorang Caelvita dan biasanya mengetes tapi kau hanya berjalan begitu santai ...." kata Iriana yang diakhiri tawa, "Bukannya harus resmi menjadi Caelvita baru bisa melihat dan memasuki istana tapi Caelvita yang tidak memiliki keraguan dan terus maju dengan berani adalah simbol seorang Caelvita yang sudah siap." lanjut Iriana.
Felix jadi tersenyum dengan ekspresi mengejek.
"Hahh ... ia ... ia ... aku dulu lama hanya bisa sampai di pintu depan dan tidak berani maju melewati jembatan itu." kata Iriana pasrah mengakui.
"Kau kan bisa berbohong, tidak perlu mengatakan yang sesungguhnya ... lagipula aku tidak bisa melihat untuk menebak ekspresi wajahmu ...."
"Walau aku berbohong kau juga akan mengetahui semuanya nanti ...." kata Iriana.
"Em? bagaimana aku bisa tahu?" tanya Felix.
"Ingatanku serta ingatan Caelvita pendahulu yang lain akan menjadi milikmu!" jawab Iriana.
Felix hanya diam mencerna perkataan Iriana sambil memasuki sangkar besar yang terbuat dari lilitan cabang dari sebuah batang pohon besar.
"Maksudmu aku bisa melihat semua ingatan Caelvita pendahulu? heh ... ow ... Aaaaaaaaa!" kata Felix yang kaget ketika sangkar yang dinaikinya itu naik cepat seperti lift berkecepatan cahaya.
"Em? apa terlalu cepat Tuan Muda?" tanya pohon besar yang tiba-tiba muncul seperti menunduk dan mengintip dari luar sangkar.
"Kau yang menarik ini?" tanya Felix.
"Iya Tuan Muda ...." mata besar pohon itu berkedip-kedip.
"Bisa pelan-pelan?" tanya Felix.
"Tapi bukankah Tuan Muda suka yang seperti ini?" tanya pohon itu.
"Aku?" Felix menunjuk dirinya sendiri.
"Ya ... Tuan Muda menyukai hal-hal yang memacu adrenalin ... suka menantang bahaya dan menikmatinya ... begitu yang dibilang Ponito!" pohon itu mulai menepuk-nepuk dibawah mulutnya dengan jarinya yang penuh daun.
"Ponito?" tanya Felix.
"Jembatan ujian yang didepan tadi!" kata Iriana.
"Ah ...." Felix mulai tertawa canggung, "Apa dia tidak salah menilai?" tanya Felix.
"Sssst ... jangan sembarangan bilang begitu!" kata Iriana.
Sangkar pohon itu kemudian mulai perlahan naik dengan ditarik dengan satu jari oleh pohon tadi. Saat tiba di lantai paling atas, "Bukankah ini?" tanya Felix.
"Iya ... saat kau tidak sadarkan diri dan memulihkan diri itu sebenarnya jiwamu tertarik kesini. Itu tidak hanya terjadi dalam pikiranmu saja ...." jawab Iriana.
Felix mulai melangkahkan kakinya bahkan tidak takut lantainya akan pecah lagi dan berjalan menuju salah satu pintu dari sekian banyaknya pintu lain, "Tidak bisa terbuka!" Felix mencoba membuka pintu tapi tidak bisa.
"Kau sudah hebat dengan bisa masuk kesini ... untuk membuka pintu kau perlu bersabar menunggu tapi aku rasa tidak akan lama lagi kau juga bisa membuka semua pintu yang ada disini, bahkan mereka ... para pendahulu yang akan terus mengganggumu untuk mendengar cerita mereka. Untuk saat ini nikmati saja dulu hidupmu sebagai Caelvita bebas yang belum resmi menjabat ...." Iriana kemudian menepuk bahu Felix, "Tidak lama lagi juga kau bisa melihatku!"
...-BERSAMBUNG-...
Mohon Maaf Lahir dan Batin semuanya!
Selamat menyambut bulan puasa bagi yang menjalankan ....