
"Sebenarnya dulu aku berharap kalau Cain bisa berhenti menjadi Alvauden, karena tidak ingin membahayakannya ... tapi setelah mengetahui kebenarannya barulah aku khawatir begini. Jika Cain berhenti menjadi Alvauden itu tandanya dia sudah tidak mempedulikanku lagi dan menganggapku sebagai sahabatnya ... sangat miris sebenarnya, sebuah gelar yang bisa membahayakan tapi sebagai pembuktian sebuah hubungan juga." kata Felix.
"Yang Mulia lupa jika bukan hanya dari Alvauden tapi dari Caelvita juga dihitung. Walau Alvauden berubah, tapi jika Caelvita tetap peduli dan menganggap Alvauden itu sebagai seseorang yang penting maka gelar Alvauden itu tidak akan hilang." kata Banks.
"Kenyataan bahwa pernah ada Caelvita yang kehilangan Alvaudennya membuatku tersadar bahwa sebuah persahabatan bukanlah hubungan yang abadi." kata Felix.
"Tapi yang tercatat dalam sejarah Mundebris baru hanya satu. Itu menandakan, hubungan persahabatan bukanlah hubungan yang mudah retak. Terlebih lagi persahabatan antara Caelvita dan Alvauden itu berbeda dengan persahabatan biasa. Caelvita dan Alvauden melewati bahaya yang mempertaruhkan nyawa ... hubungan persahabatan seperti itu tidak akan mudah retak hanya karena masalah sepele." kata Banks.
"Menurutmu pembantaian Setengah Sanguiber itu masalah sepele?!" tanya Felix menghela napas kasar.
"Tuan Muda Cain melakukan itu bukan hanya karena membawa gelar seorang Alvauden tapi juga membawa gelar Leaure dan ... sepertinya Yang Mulia sudah tahu sendiri ...." kata Banks.
"Menurutmu dia tidak menyesal setelah melakukan itu? kehidupan normalnya terhambat karena masalah itu ...." kata Felix.
"Tuan Muda Cain memang sudah ditakdirkan untuk tidak menjalani kehidupan normal karena memang bukan manusia biasa. Walau tidak bertemu Yang Mulia, Tuan Muda Cain pasti akan tetap masuk Mundebris dan tetap melakukan pembantaian itu karena memang sudah takdirnya sebagai Viviandem." kata Banks.
"Tapi, ternyata dia ditakdirkan bertemu denganku dulu sebelum mengetahui identitasnya yang sebenarnya." kata Felix.
"Tapi yang bisa saya pastikan jika Yang Mulia tidak bertemu sebelumnya dengan Leaure Sejati itu, tentu saja saat ini Yang Mulia dan Tuan Muda Cain tidak akan dipihak yang sama. Karena Leaure Sejati tidak akan pernah akur dengan Caelvita." kata Banks.
"Kenyataanya aku memang tidak pernah akur dengan Cain." kata Felix tertawa.
"Leaure Sejati menjadi Alvauden adalah sebuah peristiwa yang belum pernah terjadi dalam sejarah. Leaure Sejati yang hanya lahir jika akan terjadi sesuatu yang besar dan kali ini juga menjadi seorang Alvauden, sebenarnya membuat saya khawatir ... peristiwa besar apa yang akan terjadi sebenarnya ...." kata Banks.
Tiba-tiba suara besar terdengar dari luar hutan, "Apa itu?" tanya Felix berdiri.
"Itu pasti alat berat perusahaan yang jatuh lagi ...." jawab Banks.
"Lagi?" tanya Felix.
"Perusahaan yang ingin membangun bangunan disini belum menyerah setelah kejadian yang dulu itu, tapi alat berat tidak ada yang bisa masuk hutan, semuanya hancur di jalan masuk. Ada-ada saja hal yang membuatnya terjatuh, terbalik, atau mesin tiba-tiba rusak ...." jawab Banks.
"Kau tidak pernah memberitahuku ...." kata Felix merasa agak kesal karena Desa Navaeh baginya adalah tempat rumahnya berada.
"Biasanya ada Hadwin yang selalu mencelakai jika ada yang mau masuk merusak pohon tapi lama kelamaan kekuatan Yang Mulia semakin kuat dan membuat aura Yang Mulia disini bisa melindungi daerah ini bahkan tanpa Yang Mulia sadari ...." kata Banks.
"Makanya tadi aku mendengar ada yang melarang anak-anak masuk kesini untuk bermain ...." kata Felix mengingat.
"Memang hutan lebih baik jika dikatakan berhantu, sehingga bisa ditakuti dan dihindari oleh manusia. Itu bisa melindungi hutan ... tapi manusia modern tidak terlalu percaya hal itu, meski sudah berkali-kali diperlihatkan hal mustahil tapi masih saja ingin membangun bangunan disini ...." kata Banks.
Sebuah ledakan terjadi diluar hutan lagi, kali ini lebih besar dari yang tadi dan diikuti dengan suara teriakan histeris serta suara langkah kaki yang berlarian menjauh.
"Bukankah ini terlalu cepat, Yang Mulia ...." kata Hadwin yang tiba-tiba datang dengan berlutut.
"Bukankah kau malah senang?" tanya Felix menyeringai.
"Saya masih bisa melindungi hutan ini sendirian ...." kata Hadwin begitu percaya diri.
"Seharusnya aku melakukan ini saat sudah resmi menjadi Caelvita tapi mau itu cepat atau lambat ... tidak mengubah bahwa disini memang rumahku ...." kata Felix.
"Kalau begitu saya pamit kembali ke pohon saya Yang Mulia, Senior saya kembali!" Hadwin berpamitan pada Felix dan Banks.
"Dia memang terlihat begitu ... tapi kesetiaannya tidaklah pernah tergoyahkan. Sudah berulang kali anak buah Efrain datang untuk merekrutnya tapi dia menolak." kata Banks setelah Hadwin pergi.
"Dia memang terlihat eksentrik dan sangat jelas kalau tidak memiliki sopan santun sama sekali ... tapi terlihat bisa diandalkan dan dipercayai kata-katanya." kata Felix tertawa.
Banks juga ikut tertawa, "Sudah lama tidak melihat pemandangan ini ... saat Sang Caldway menghilang, kebakaran besar terjadi di hutan ini. Tapi setelah beberapa hari kemudian mulai lagi ditumbuhi tunas kecil, Hadwin berlari menemuiku dan mengatakan dengan bahagianya bahwa Caelvita baru sudah terlahir kembali ... kelahiran Yang Mulia adalah kebahagian terbesar bagi dua dunia. Pohon di Mundclariss akan mulai tumbuh sehat kembali dan di Mundebris tidak punya perasaan lain selain rasa syukur karena Caelvitanya telah kembali. Saya tahu kedatangan Yang Mulia kemari ... untuk menanyakan apakah Yang Mulia bisa melalui semua ini bahkan tanpa Tuan Muda Cain, tapi dari kelahiran Yang Mulia saja sudah menyelamatkan banyak hal tanpa Yang Mulia ketahui. Jika masih mengkhawatirkan Tuan Muda Cain ... maka saya tidak punya pilihan lain selain melanggar janji saya ...."
"Janji?" tanya Felix.
"Sebenarnya, sayalah yang selalu merawat Tuan Muda Cain dan memberikan obat pada Goldwin ... Tuan Muda Cain ingin ini dirahasiakan tapi jika mengatakannya akan membuat Yang Mulia bisa mendapatkan keberanian kembali maka saya tidak akan segan-segan melanggar janji itu dan menjadi seseorang yang tercela karena mengingkari janji. Karena yang utama bagi saya adalah Yang Mulia Caelvita." jawab Banks.
"Jangan katakan kalau begitu! kau akan kehilangan jari kelingkingmu setelah mengatakan itu ...." kata Felix berusaha menghentikan.
"Tuan Muda Cain tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa berpaling dari Yang Mulia. Tidak pernah sekalipun saya melihat Tuan Muda Cain kehilangan kesetiaannya. Bahkan saat menyembuhkan diri, Tuan Muda Cain sedang merekrut pasukan untuk perang tahun depan ... pasukan itu tentu saja tidak lain adalah untuk Yang Mulia juga!" kata Banks.
Felix hanya terus memperhatikan jari Banks tapi bahkan setelah melanggar janji, jari kelingkingnya masih tetap utuh. Felix tersenyum melihat itu tapi tidak bisa menyembunyikan ekspresi kagetnya setelah mendengar pengakuan Banks.
"Jadi, akan terjadi perang tahun depan ... sudah sejauh mana dia melihat masa depan?" kata Felix.
"Kehebatan dari seorang Leaure Sejati adalah waktu. Tapi terkadang itu juga bisa menjadi kelemahan. Dengan Tuan Muda Cain masih terlihat sedang dihukum dan tidak bersama Yang Mulia adalah sebuah strategi untuk melawan musuh. Raja Efrain akan lengah dan tidak memperhitungkan bala bantuan yang akan datang ...." kata Banks.
Felix hanya menatap kosong dan diam mendengar itu.
"Jadi, Yang Mulia ... percaya dirilah seperti kami mempercayai Yang Mulia. Mundebris sepenuhnya percaya pada Caelvitanya ... kamipun bangga jika Mundclariss akan mendapat bantuan besar dari Caelvita kami ...."
...-BERSAMBUNG-...