UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.544 - UNLUCKY : Perang Besar Pertama Caelvita-119 Part 27



Situasi perang berubah lagi, yang tadinya Pasukan Efrain terlihat unggul. Kali ini kembali seimbang lagi dan ada kesempatan untuk Pasukan Felix melawan balik dengan ukuran iblis yang sudah kembali normal.


Pasukan Efrain yang merupakan Daemonimed dan yang merupakan ahli penyembuh yang belum mencapai tingkat Daemonimed juga langsung bergerak cepat. Menyembuhkan luka pada setiap anggota pasukan Efrain karena lawan Sanguiber bertambah menjadi dua. Dengan kekuatan pemulihan yang cepat dari iblis, luka mereka cepat sembuh apalagi ditambah oleh ramuan obat.


"Pertama kalinya kurasa ... melihat Caelvita yang seperti ini." kata Ditte.


"Seperti dia adalah Crudeliattum, seseorang yang terlahir dengan darah terkutuk. Memiliki kekuatan luar biasa dan sangat kejam." kata Bates.


"Tidak mungkin ... dia adalah Caelvita. Pasti hanya terdesak saja dan karena terbawa emosi dari aliran pertempuran." kata Ditte.


"Kalaupun mungkin saja dia memang Crudeliattum, toh kita akan membunuhnya juga. Seperti pada umumnya, Crudeliattum yang memang harus dihukum mati secepatnya setelah ditemukan." kata Efrain, "Kalau membunuhnya, maka malam ini akan terlahir juga Caelvita baru lagi ...." Efrain menyemangati pasukannya dengan memberi motivasi bahwa Felix seorang Crudeliattum sehingga tidak akan merasa bersalah lagi dan bisa lebih bersemangat lagi untuk membunuh Caelvita


"Aku sudah menandai semua Quiris yang sedang mengandung, kita tinggal membunuhnya kalau mendapatkan seseorang yang lahir dengan mata hijau dan rambut hitam." kata Bates.


"Begitu seterusnya ... membunuh bayi yang baru lahir adalah tindakan yang buruk. Aku masih tidak setuju dengan kalian soal itu." kata Ditte.


"Tidak akan kubiarkan ada Caelvita yang lahir lagi di dunia ini. Akan aku bantai semuanya!" kata Efrain seperti sedang mengumumkan tugas besar dalam sisa hidupnya, "Tidak akan ada lagi seseorang yang paling tidak beruntung terlahir ...." sambung Efrain dalam hati.


Cain kembali berubah menjadi tubuh manusia dan ukuran Goldwin juga kembali mengecil. Tanpa aba-aba, Goldwin langsung mengigit pakaian Cain dan diseret pergi darisana.


"Kenapa kau membawaku menjauh?!" tanya Cain.


"Rasanya aku mau mati sesak napas mencium bau darah." jawab Goldwin kini terus menggosok-gosok hidungnya untuk menutupi bau tapi tetap saja tercium.


"Itu sih deritamu! aku baik-baik saja ...." kata Cain.


"Jangan bohong, kulihat dari ekspresimu tadi ... kau juga pasti merasakan hal yang sama." kata Goldwin.


"Itu karena aku terkejut saja melihat Felix, apa yang kulihat dimasa depan berbeda dengan apa yang dilakukan Felix sekarang. Di masa depan, Felix memang bisa mengendalikan darah tapi tidak dengan cara yang seperti ini." kata Cain.


"Aku tidak terbiasa dengan Tuan Muda yang seperti itu, auranya menjadi berubah begitu besar dan sangat menakutkan. Aku jadi takut berada didekatnya ...." kata Goldwin masih menggali lubang dan memasukkan hidungnya disana.


"Jangan membuat Felix seakan seperti seorang Crudeliattum!" kata Cain.


"Aku tidak menyiratkan begitu!" kata Goldwin.


"Tapi dengan kau mengatakan kalau takut berada didekatnya ... itu sudah jelas. Leaure hanya takut kalau berada didekat Crudeliattum. Karena kerpibadian yang bertolak belakang dari Leaure seperti langit dan bumi." kata Cain.


"Aku hanya mendengar Ratu Sanguiber mengatakan begitu ...." kata Goldwin.


"Dan ... kau mudah sekali terpengaruh!" kata Cain dengan menyipitkan mata.


Bukan lagi menggunakan pasukan neraka dan kekuatan es. Tapi kali ini Felix menggunakan pengendalian darah. Pasukan Felix kelihatan sangat bersemangat sekali bertarung. Sedangkan Felix hanya terus memasang wajah datar sambil terus bertarung.


"Ehhem ... hehehe ...." Teo datang mendarat tepat disamping Felix dengan wajah lucu. Tan dan Tom kelihatan diam-diam melirik untuk melihat bagaimana reaksi Felix dengan kedatangan Teo itu.


"Apa?!" kata Felix.


"Hahh ...." Felix mendorong mundur iblis lawannya menjauh. Kemudian datang memiting kepala Teo yang masih terus tertawa meledeknya, "Apanya yang lucu?!" tanya Felix yang masih disambut oleh tawa Teo yang tidak berhenti. Akhirnya Felix ikut tertawa juga kemudian mendorong Teo, "Ah, jauh-jauh sana!" Felix menendang Teo yang masih saja terus tertawa.


Tan dan Tom tidak bisa menyembunyikan senyuman diwajahnya. Disaat mereka berdua masih ragu mengganggu Felix setelah menyaksikan apa yang baru saja dilakukan Felix. Teo seperti tidak ada takut-takutnya mendekati Felix seakan tidak terjadi apa-apa.


"Teo memang sangat berbeda dengan kami. Disaat masih menjaga jarak dan memperhatikan dari jauh bagaimana reaksi Felix untuk dianalisa, bagaimana setelah menggunakan kekuatan besar seperti itu dan mencari tahu kapan waktu yang tepat untuk mendekati Felix. Teo malah dengan santainya menyapa duluan tanpa takut sama sekali seakan tidak ada yang terjadi dan tidak ada yang berubah." kata Tan dalam hati begitu senang ada Teo di dalam Tim.


Tan dan Tom kini saling pandang kemudian tertawa kecil seperti tahu apa yang sedang mereka pikirkan hanya dengan saling menatap.


"Karena Teo, aku tidak pernah merasa khawatir meninggalkan Felix selama ini ...." kata Cain dalam hati juga sedang tersenyum.


"Bahkan, jika memang Felix mempunyai potensi menjadi Crudeliattum atau memang seorang Crudeliattum ... sepertinya tidak akan ada yang berubah juga karena ada mereka yang selalu menemani ...." kata Raja Aluias melihat bagaimana Felix dan Teo tetap bercanda, "Menjadi Crudeliattum pun atau apapun itu ... sepertinya mereka tidak akan peduli." Raja Aluias senang karena Alvauden Felix sangat bisa diandalkan dan tetap seperti biasanya setelah Felix melakukan hal yang tidak biasa untuk mata manusia lihat. Raja Aluias membawa Ratu Sanguiber kedekat Cain dan Goldwin berada.


Ratu Sanguiber masih terus diam dengan Raja Aluias yang terus berbicara saat membawanya terbang dan meletakkannya disamping Cain.


"Istirahat saja dulu bersama Cain disini." kata Raja Aluias kembali ke area pertarungan dalam sekejap mata.


Cain yang terus memberi kode pada Raja Aluias agar tidak ditinggalkan bersama Ratu Sanguiber tapi Raja Aluias tidak perduli dan pergi begitu saja. Membuat Cain jadi terdiam dan suasana menjadi canggung. Dengan Goldwin yang masih sibuk sana-sini menyembunyikan hidungnya.


"Kau ...." perkataan Ratu Sanguiber yang baru satu kata itu mengagetkan Cain, "Kenapa kau bersikap berlebihan begitu?!" Ratu Sanguiber heran melihat rekasi Cain.


"Maaf ...." Cain kembali duduk tenang tapi lebih menambah jarak dengan Ratu Sanguiber perlahan-lahan.


"Kau tahu apa itu Crudeliattum kan?!" kali ini Ratu Sanguiber dengan kalimat lengkap dan Cain mendengarkan dengan seksama sampai akhir tanpa kaget lagi.


"Tentu saja, karena Leaure ... jadi banyak referensi bacaan soal itu." kata Cain.


"Kalaupun ... Felix ... kita tidak meminta bagaimana ... dan apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi, jangan pernah tinggalkan Felix apapun yang terjadi." kata Ratu Sanguiber.


"Bukankah, tadi Ratu bilang mau membunuhnya ...." kata Goldwin mengeluarkan hidungnya dari dalam lubang.


"Diam, kau!" kata Ratu Sanguiber membuat Goldwin kembali meletakkan hidungnya di dalam lubang, "Kau ... dari kecil, suka sekali mengganggu pembicaraan seseorang."


Cain mulai tersenyum mengetahui apa yang sedang dimaksusdkan oleh Ratu Sanguiber, "Apapun yang terjadi, mau Felix benar seorang Crudeliattum atau apapun itu ... aku tidak peduli. Aku akan terus bersamanya sampai mati."


"Kemungkinan itu bisa saja tidak terjadi kalau dia ada yang menemani, kalau dia sendirian ... dan semua menjadi takut dengannya kemudian meninggalkannya sendirian. Aku takut, kalau dia benar-benar akan tersesat dan menjadi pribadi yang buruk." kata Ratu Sanguiber.


"Apa yang dilakukan Felix tidaklah begitu besar daripada yang sudah kulakukan ... jadi, rasanya ini bukanlah masalah besar yang perlu dikhawatirkan ...." kata Cain yang keceplosan dan merinding setelah sadar apa yang diucapkannya barusan karena tanpa menolehpun tatapan Ratu Sanguiber tetap bisa dirasakan, "Hahaha ... Goldwin, ayo kita bergabung dengan yang lainnya!" Cain bergerak cepat untuk mengelak apa yang barusaja dikatakannya. Cain masih merasakan tatapan mematikan Ratu Sanguiber.


"Tidak mau!" kata Goldwin menolak.


"Ayo, cepat! kita harus pergi darisini! kita bisa saja mati disini kalau tinggal lebih lama." kata Cain mengatupkan giginya sambil berbisik pada Goldwin.


"Itu sih deritamu!" Goldwin mengembalikan kalimat Cain.


...-BERSAMBUNG-...