UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.447 - Petualangan Di Sisi Lain Mundclariss



Sebelum memakai Mahkota Ruleorum yang bisa dilihat Felix hanyalah ruangan yang luas dengan jalan keluar yang sangat banyak serta air kematian yang mengambang di atas. Tapi setelah dipakai, hanya ada satu jalan yang terlihat. Satu-satunya jalan untuk menyebrang ke dunia lain, lorong yang dipenuhi oleh dinding bebatuan keras.


"Tapi kalau beruntung bisa saja sih, memilih jalan yang benar." kata Felix yang tidak terbiasa dengan keberuntungan makanya tidak terlalu bisa percaya.


"Apa ini?! aku harus memanjat?!" Felix terus mengomel sendiri walau tidak ada teman mengobrol karena Iriana kembali mengisi ulang energi jiwanya.


"Sudah jelas mustahil ada manusia yang bisa lewat disini ...." Felix masih terus mengoceh sambil memanjat dan menemukan lorong baru lagi. Kali ini harus memanjat lagi setelah sampai di ujung lorong kemudian di bawah terlihat ada lautan api yang siap menangkap kalau jatuh.


"Tidak mustahil juga sih ...." Felix juga tidak menyadari dirinya terus berbicara tidak jelas begitu.


Felix merasakan suhu semakin panas daripada sebelumnya. Ternyata api yang ada di bawah semakin mendekatinya, "Ini ... di gunung merapi ya?!" dengan keadaan terdesak Felix tiba-tiba bisa terbang naik ke atas permukaan dan terhindar dari semburan api.


Tapi bukannya tiba di daratan, Felix berada di dalam lautan saat ini, "Gunung merapi di bawah laut, ya?!" Felix segera berenang naik ke permukaan.


"Aku dimana ini?! seingatku tidak ada tempat seperti ini di Yardley ...." kata Felix melihat dari kejauhan pinggir pantai yang asing.


Orang-orang terlihat berlarian melihat ada api menyembur keluar dari gunung merapi di bawah laut itu. Felix bisa bertahan dari semburan gunung merapi itu berkat melawan dengan api hijaunya. Jika tidak, dia tidak mungkin bisa selamat karena berada sangat dekat dengan semburan. Gempa juga membuat bebatuan di dalam laut berjatuhan.


Felix berenang menuju pinggir pantai. Tentu saja dengan menggunakan Idibalte, pastinya penjaga pantai akan gempar kalau melihat ada anak kecil masih berada di tengah laut dekat dengan letusan gunung merapi.


"Bahasa yang sama tapi di Yardley tidak ada gunung di bawah laut ... ternyata dunia tidaklah semirip yang kubayangkan ...." kata Felix berjalan di antara kerumunan orang-orang yang ingin cepat pergi darisana.


"Aku harus mengganti bajuku ...." Felix berhenti di depan toko pakaian, "Uangnya berbeda ...." Felix tidak bisa membayar dengan uang Yardley nya melainkan dengan batu permata emerald yang diletakkan di dekat gantungan baju yang telah diambil pakaiannya oleh Felix.


Banyak sekali perbedaan yang terlihat antara Yardley disisi ini dan sisi lain yang ditempati oleh Felix. Lebih modern lagi daripada Mundclariss dari sisi lain.


"Tidak ada aura lain selain aura manusia ...." sejauh manapun Felix memandang dan melangkah semuanya bersih dari aura iblis, sangat berbeda dengan Mundclariss yang ditempati Felix, "Aku jadi bingung mau menyebut ini dunia atas atau bawah ...." karena kedatangan Felix jelas dari bawah gunung merapi tapi jelas-jelas dia turun ke dalam lubang dari Mundclariss lain, "Bahkan aku sendiri ... bingung!" setidaknya Felix lega karena disini seperti bersih dari aura iblis tidak seperti yang ada di dunia atas seperti sudah tercemar karena disana-sini bisa dilihat aura iblis.


"Tapi tetap saja, ada aura hitam ... tentu saja! tidak bisa dipungkiri, dimanapun pasti akan ada saja yang memiliki aura negatif." Felix memasuki sebuah lorong untuk membuka Idibaltenya dan kembali keluar ke jalan raya.


Dalam sekejap auranya terlihat langsung meluas menutupi semua aura. Felix memasuki sebuah tempat makan untuk mengisi ulang tenaga. Tapi terkejut saat melihat seseorang yang familiar sedang duduk menikmati makanannya, "Cain!" Felix langsung menyapa.


"Cain?! anda siapa ... ya?!" seseorang yang mirip Cain itu tidak mengenali Felix.


"Dia ... Cain yang ada di dunia ini ya?! maaf, sepertinya saya salah orang!" Felix terlihat kecewa, "Aku lupa bertanya pada Iriana soal ini ...." Felix menyesalkan baru punya pertanyaan setelah Iriana tidak bisa diajak bicara untuk saat ini. Felix memesan makanan dan duduk jauh dari meja Cain yang lain itu.


"Sepertinya tidak ada yang perlu kukhawatirkan disini ... walau aku masih berharap kalau orang-orang yang menjadi korban jatuh ke dalam lubang selamat dan sampai di dunia ini meski sebenarnya mustahil karena aku merasakannya sendiri bagaimana saat menyebrang ke dunia ini sangat sulit. Jadi ... semuanya tidak selamat, ya?! kalau begitu ... lebih baik aku kembali!" meski kecewa tapi Felix tidak merasa membuang-buang waktunya karena harapannya sangat besar untuk kembali dengan semua korban yang selamat. Walau merasa bersalah pada Tiga Kembar yang ditinggalkan tapi tetap saja Felix akan melakukan hal yang sama jika semuanya terulang kembali.


Felix kembali ke pantai yang menjadi tempat masuknya tadi. Tapi merasa ingin memeriksa sesuatu sebelum kembali, "Cain yang tadi kulihat hanya punya aura biasa seorang manusia. Aku penasaran dengan Teo, Tan dan Tom? terlebih lagi ... apa ada aku juga disini?!" Felix menuju Panti Asuhan Arbor untuk mencari keberadaan dirinya yang lain dan juga sahabatnya.


Felix kembali ke pantai tadi untuk bersiap pulang ke dunia tempat dirinya lahir dan tumbuh besar, "Dua orang yang sama tentunya tidak bisa berada di satu dunia yang sama. Aku penasaran apa yang aku lakukan disini tapi biarkan itu menjadi misteri dan selamanya menjadi bayangan yang indah ... aku tidak perlu penasaran ataupun mencari tahu."


Sepatu Felix sudah basah karena berjalan masuk ke dalam air. Tapi tiba-tiba sebuah tangan menangkap bahunya, "Sudah mau pulang?!" tanyanya.


Felix berbalik dan melihat sosok Cain yang tadi dilihatnya, "Kau benar Cain?!"


"Siapa lagi?!" kata Cain dengan wajah khasnya yang meledek.


"Jadi, kau berbohong ...." kata Felix tidak melanjutkan.


"Dan kau mudah sekali percaya ... mengecewakan sekali!" kata Cain memeluk Felix.


Felix mendorong dan meninju Cain, "Kau pikir ini lucu?!"


"Aw!" Cain meringis kesakitan, "Tadinya aku mau membiarkannya tetap begitu saja ... tapi rasanya lebih baik kalau kita kembali bersama-sama ...."


"Apa maksudmu?" tanya Felix masih emosi.


"Aku tidak tahu kalau kau tidak tahu ...." kata Cain.


"Apanya?!" kata Felix.


"Yang ditakdirkan menjadi Caelvita dan Alvauden tidak akan ada disini. Baik itu kau, aku, Tan, Teo dan Tom tidak akan ada disini ... aku pikir kau sudah tahu soal itu, bukannya aku mengatakan kalau kau mudah dibohongi ... tadi aku hanya bercanda saja tidak mengenalmu karena kukira kau sudah tahu tapi kau pergi begitu saja ...." kata Cain.


Felix terdiam mematung setelah mendengar perkataan Cain, "Padahal kukira aku dan kalian disini bisa hidup normal. Aku berharap begitu walau itu bukan aku yang menjalani ... tapi memikirkannya saja membuatku senang. Ternyata ... semuanya hanya khayalanku semata." kata Felix dalam hati tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya dengan air matanya yang menetes langsung dihapus.


"Tugas kita untuk melindungi dunia ini juga, sudah jelas kalau kita tidak boleh terlahir disini juga. Seharusnya kau sudah tahu itu ... ada apa denganmu?! jadi berubah sangat sentimental begini?" kata Cain dengan tawa kecil mencoba mencairkan suasana.


"Entahlah ... apa aku yang berubah atau kaulah yang berubah." kata Felix.


"Karena kau sudah tahu, bantu aku menjemput mereka dan kita bisa pulang!" kata Cain mengalihkan pembicaraan.


"Siapa maksudmu?" tanya Felix.


"Yang jatuh ke dalam lubang, bukankah kau kesini karena mencarinya? aku yang membawa mereka semua kesini ...." kata Cain dengan tertawa.


...-BERSAMBUNG-...