
"Kita masih harus mencari keberadaan surat misi itu!" kata Tan.
"Ya, kita memilih rumah ini karena rumah ini yang paling kecil di antara 97 rumah lainnya. Kalau kita tidak menemukannya disini apalagi di rumah lain ...." kata Tom.
"Jika gagal malam ini, kita bisa kembali minggu depan di hari kamis! saat surat datang ...." kata Felix.
"Itu berarti kita melewatkan mengetahui apa yang mereka lakukan minggu ini! tidak! kita harus menemukannya malam ini apapun yang terjadi ...." kata Tan.
"Tidak perlu terlalu terobsesi mendapatkan surat misi itu ... bisa jadi itu juga hanya asal-asalan yang dibuat Efrain untuk mengadu domba antar pemain ...." kata Cain mengerti jika Felix mengatakan itu bukan semata-mata karena tidak ingin mencari tapi tidak ingin membuat yang lainnya kecewa setelah melihat apa isi dari surat misi itu.
Mereka tidak berhenti mengikuti apa yang dilakukan pemain semalaman sambil mencari juga keberadaan surat misi.
"Tapi kenapa hanya lima orang yang mendapatkan serangan jantung? pasti semua bunga disirami dengan minuman berisi darah itu ...." kata Tom mulai duduk di samping Felix.
"Entahlah ...." kata Felix ragu mengatakan apa yang ada di pikirannya.
"Kau mengatakan surat misi itu bisa saja hanyalah dibuat-buat sesuai apa yang diinginkan Efrain dan tidak ada hubungannya dengan permainan ini tapi sebenarnya kau pun sangat ingin melihat surat misi itu kan?! bagaimana kelima orang yang tiba-tiba serangan jantung pasti kau juga belum tahu bagaimana ... dan bisa saja itu ada dalam surat misi bagaimana melakukannya ...." kata Tom.
Felix menatap Tom, "Anak ini ... mau bagaimanapun sepertinya pikiran kita sama ...." kata Felix bercanda membuat Tom tertawa, "Sepertinya aku belum siap betul kalian ikut dalam misi ini ...." kata Felix mengalihkan pandangannya.
"Kau takut dalam misi itu bisa membuat kami ragu lagi?" tanya Tom.
"Bukannya aku takut kalian ragu lagi tapi kau sudah tahu kan siapa Efrain itu ... dia dulunya adalah Alvauden juga. Setelah menyerang Verlin dan Zeki pasti tahu yang ikut dalam permainan ini hanya kita ... entah ini hanya firasatku saja tapi aku merasa Efrain bekerjasama dengan Franklin untuk menghancurkan perasaan kalian dan membuat kalian tidak bisa mengontrol perasaan selama permainan ini berlangsung dan datang menyerang saat kalian lengah ...." jawab Felix.
Tom terdiam sejenak setelah mendengar perkataan Felix, "Sebenarnya ini hanya perasaanku saja tapi apa kau melihat masa depan kami semua Felix?" tanya Tom membuat Felix terkejut, "Begitu ya ...." kata Tom setelah melihat ekspresi Felix yang sudah memberi jawaban dengan jelas, "Apapun itu rasanya semua akan baik-baik saja Felix!" kata Tom mulai berdiri.
Tom memang suka bercanda, usil dan melakukan tingkah bodoh bersama dengan Teo tapi kepribadian mereka berdua sangatlah berbeda. Teo kepribadiannya mirip dengan Cain sedangkan Tom mirip dengan Felix.
"Inilah kenapa mempunyai sahabat sangatlah merepotkan ... mereka bisa tahu tanpa diberitahu!" kata Felix dalam hati.
Pria paruh baya yang menjadi pemain dalam permainan ini kini sibuk menumbuk batu Imperial Topaz, "Andaikan saja permata sebanyak ini dijual!" kata Teo menatap dengan ekspresi meratapi kebodohan pria paruh baya itu. Cain yang berada di samping Teo hanya bisa tertawa melihat ekspresi yang dibuat oleh Teo.
"Dia sudah bisa mengendalikan garis pelindung sebaik ini ...." kata Felix dalam hati bangga dengan Cain.
"Hari kamis, surat misi datang. Hari jum'at, ke pasar Nora. Hari sabtu, ada kiriman minuman penyegar. Sepertinya di pasar Nora lah batu permata ini diberikan ...." kata Tan.
"Dan oleh sebab itu ... kalian tidak boleh sama sekali ke sana! saat ke sana aku melihat banyak aura iblis dan Zewhit. Bisa saja kalian bertemu Efrain ...." kata Felix.
"Boks minuman penyegarnya juga hanya berisi tujuh di atas surat keterangan pengiriman. Padahal boks minuman ini bisa muat sepuluh botol ... sepertinya sengaja hanya untuk tujuh hari saja digunakan untuk membuat pemain selalu memesan setiap minggu ...." kata Cain.
"Tidak apa-apa kan kita meminum ini?" tanya Teo penasaran bagaimana rasanya minuman itu.
"Jangan bodoh Teo!" kata Tom menendang Teo.
"Sebenarnya darah iblis di Mundebris dibuat sebagai minuman penambah stamina tapi entahlah bagaimana efeknya pada manusia apa sama juga dengan Viviandem ...." kata Felix.
"Berarti bisa saja minuman ini berasal dari Mundebris?" tanya Tan.
"Jadi dalam perusahaan minuman ini ada yang bekerjasama dengan Efrain?!" tanya Cain.
"Atau bisa jadi yang melakukan hanya Efrain sendiri! kita tidak bisa mengecualikan kemampuan iblis yang bisa merubah bentuk. Bisa saja Efrain menyamar menjadi salah satu pekerja di perusahaan ...." kata Felix.
"Bilang saja kau melarang kami ke perusahaan itu ...." kata Cain menyeringai.
Felix hanya bisa menyembunyikan kekesalannya karena ketahuan Cain.
Sudah jam 4 subuh dan mereka tidak bisa menemukan surat misi itu. Akhirnya mereka pasrah menerima kegagalan dan bersiap untuk pulang karena harus ke sekolah.
Sebelum masuk Bemfapirav, Tan dan Teo berbalik melihat istri dari pemain yang tidak berhenti berulang kali bersujud di hadapan persembahan itu, "Bahkan tanpa istirahat sedikitpun ... bagaimana bisa seseorang mampu melakukan itu?!"
"Mungkin dalam misi mereka harus melakukan itu agar bisa menyelamatkan pemain! tapi jika itu bohong dan hanya buatan Efrain ... sangat keterlaluan!" kata Cain.
Tom menyenggol Cain dan melirik Felix yang ada di depan. Cain menyadari kesalahannya dan segera menutup mulutnya agar tidak berbicara lagi soal kasihan dengan pemain. Karena hal itulah yang ditakutkan Felix, membuat para Alvauden nya menanggung banyak beban dari para pemain. Sehingga perasaan mereka akan tertekan dan tidak bisa berpikir jernih karena tenggelam dalam perasaan kasihan. Padahal tugas mereka dalam permainan ini bukan untuk ikut berbagi penderitaan dengan pemain tapi sebagai pemain netral untuk memilih siapa yang harus dihidupkan.
"Aaaaaa!" teriak Teo diikuti Tom yang juga masuk Bemfapirav dan langsung berhadapan dengan Zewhit cangkang. Zewhit itu hanya berdiri diam dan tak lama kemudian berkedip membuat Teo dan Tom semakin berteriak kencang lagi.
Cain dan Tan menertawai mereka berdua dan Felix segera mengusir Zewhit cangkang itu, "Kalian menatap matanya?" tanya Felix.
Teo dan Tom dengan keringat dingin mengangguk bersamaan, "Hahh ...." Felix mengehela napas panjang dan berlari mengejar Zewhit yang tadi.
"Tidak apa-apa! Felix akan menghapus ingatannya tentang kalian berdua supaya tidak mengikuti kalian!" kata Cain membantu Teo dan Tom berdiri karena lutut mereka berdua masih lemas karena ketakutan.
"Kalian akan mendapatkan mimpi buruk dari ingatan Zewhit itu! bagaimanapun juga aku tidak bisa menghapus ingatan kalian tapi setidaknya dia tidak akan mengikuti kalian ...." kata Felix yang sudah kembali.
"Felix ...." tegur Cain.
"Iya!" sahut Felix.
"Bagaimana kalau kita ke asrama Bella?" tanya Cain.
"Dasar mesum! kenapa kita harus ke asrama anak perempuan!" kata Teo memukul kepala Cain.
"Aku setuju dengan Cain!" kata Tan.
"Kau juga!" seru Teo tidak percaya.
"Firasat Cain tidak pernah salah! kalau Cain ingin ke sana aku pun setuju ... pasti ada sesuatu di sana!" kata Tom.
Felix hanya diam tidak merespon, "Jangan bilang kalau kau sudah kesana?!" tanya Cain.
...-BERSAMBUNG-...