UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.230 - Sebelum Badai Part 3



Erasma masih saja tetap menunggu di luar sekolah, sangat jelas karena Felix terus mengawasi suara yang ada di luar sekolah. Kesepakatan antar kedua keluarga itu untuk menukar kematian seharusnya tidak pernah atau tidak akan bisa terjadi. Karena tidak ada yang mungkin akan mengalah merelakan putri mereka. Tapi ternyata mereka melakukan kesepakatan itu, walau Cain menyembunyikan fakta alasan dari kesepakatan itu.


Cain bersikeras melarang mereka untuk mengetahui alasan dibalik kesepakatan kedua keluarga itu dan melarang untuk mendekati kedua keluarga itu. Tapi bagi Felix hal itu tentu saja merupakan hal mudah, bahkan tanpa Felix untuk datangi ternyata Erasma sendiri yang datang dan akhirnya tanpa Felix inginkan semua informasi diketahui tanpa disengaja.


Alasannya cukup mencengangkan dan mustahil untuk dipercaya bahwa alasan itulah yang membuat kesepakatan ini terjadi. Alasan yang sangat sederhana dan terbilang cukup umum menjadi permasalahan dalam sebuah keluarga.


Keluarga Erasma melunasi semua hutang keluarga Hauda yang milyaran rupiah itu. Hauda juga dengan relanya mengorbankan hidupnya demi hutang itu rasanya tidak masuk diakal tapi itulah yang terjadi. Seharian kemarin, kedua keluarga bekerjasama untuk menukar kematian dengan mencabut tanaman bunga Flortem yang ada nama Hauda. Pemakaman Hauda berlangsung hari ini dan Erasma ingin menemui Cain.


"Bagaimana mungkin itu bisa menjadi sebuah alasan?" Felix tidak habis pikir.


Haera mendengar itu tapi berpura-pura tidak mendengar. Sementara Cain tidak bisa mendengar pikiran Felix jika tidak terjadi komunikasi dua arah. Jika Haera berbicara melalui pikiran dengan Felix barulah bisa didengar.


"Kau tidak akan menemuinya?" tanya Haera.


"Buat apa mencariku?! bukan aku juga yang menukar kematiannya tapi mereka sendiri. Lagipula aku hanyalah sebuah boneka hiasan dalam permainan ini ... Felix lah yang berwenang menukar kematian." jawab Cain, "Ah, sorry! kau dengar ya ...." kata Cain pada Felix lupa kalau Felix mendengar juga jika mereka berbicara lewat pikiran.


"Jangan pikirkan aku! aku sudah terbiasa mendengar perkataan yang buruk dari semua anak-anak di kelas ini ...." kata Felix.


H-2 berlalu dengan cerita yang tidak bisa masuk diakal dari keluarga yang rela mengorbankan seorang putri karena sudah putus asa tidak mendapatkan jalan keluar. Memang awalnya keluarga Hauda tidaklah rela tapi pada akhirnya mereka merelakannya juga.


"Tapi bagaimana mereka bisa menarik tanaman bunga Flortem begitu banyak?" tanya Teo.


"Sepertinya sudah jelas! bahkan tanpa dijelaskan pun semuanya sudah jelas ...." jawab Tom.


"Efrain pasti menari-nari bahagia mendengar kabar itu dan mengirimkan banyak minuman penyegar yang berisi darah iblis itu ...." kata Tan.


"Bagaimana tidak senang? kalau seorang keluarga dengan rela melepas keluarga sendiri demi alasan yang seperti itu ... pasti Efrain sangat bahagia mengetahui manusia begitu mudahnya diperdaya dan dikendalikan oleh sebuah masalah yang bisa membuat akal pikiran tiba-tiba kehilangan jalan keluar padahal jika dicari pasti akan ada solusinya juga ...." kata Tom.


"Tidak ada jalan keluar memang dalam permainan ini!" kata Cain membuat suasana menjadi suram, "Bagaimanapun juga Hauda lah yang akan meninggal ...."


"Jadi maksudmu, keluarga Hauda beruntung melakukan pertukaran itu sehingga bisa mendapatkan keuntungan dari permainan ini?" tanya Teo.


"Aku tidak bermaksud begitu ...." kata Cain menghela napas panjang.


Pulang sekolah mereka tetap pulang ke panti, bukannya ke Rumah Daisy. Karena permainan akan berakhir, lebih baiknya untuk terus bersama Kiana.


Cain menggambar garis pelindung seluas lapangan. Bukan untuk satu lingkaran tiap satu orang tapi satu lingkaran untuk mereka berlima tempati. Berbahaya jika mereka berlatih di Bemfapirav disaat harus menjaga Kiana yang ada di Mundclariss.


Jadi mereka putuskan untuk berlatih dengan menggunakan garis pelindung Cain. Walau dengan terpaksa Cain harus istirahat dan tidak ikut latihan karena harus fokus menjaga garis pelindung agar tidak hilang disaat sedang berada di panti yang banyak mata bisa melihat.


"Kalian tidak merindukanku?" tanya seseorang yang membuat mereka langsung menoleh semua.


"Verlin?!" teriak mereka kompak.


"Kau sudah baikan?" tanya Teo.


"Apa yang kau harapkan dari Zhewit? haha tentu saja Zhewit selamanya tidak pernah baik-baik saja apalagi jika sudah terluka berat ... pasti tidak akan aneh jika aku tiba-tiba saja menghilang ...." jawab Verlin.


"Hanya mengecek bagaimana keadaan kalian di detik-detik sebelum permainan berakhir ...." jawab Verlin.


"Jadi bagaimana kelihatannya?" tanya Tom.


"Kacau!" sahut Verlin mengundang tawa, "Tapi lumayan lah ... melihat bagaimana kalian sudah dilengkapi oleh senjata Alvauden." kata Verlin melihat satu per satu senjata Alvauden, "Rasanya baru kemarin aku melihat Sang Caldway bersama tiga Alvaudennya berlatih seperti ini ... sekarang sudah generasi baru lagi!"


"Apa kami terlihat menjanjikan sebagai pemula?" tanya Teo yang tidak bisa jika tidak tertawa mendengarnya.


"Semuanya juga berawal dari pemula! tidak ada yang langsung hebat dalam seketika. Pasti ada usaha keras dibaliknya ...." jawab Verlin.


"Itu pujian kan?!" tanya Teo tertawa.


"Menyemangati ...." sahut Verlin membuat suasana menjadi hangat karena suara tawa.


Verlin menengadahkan kepalanya menghadap ke atas melihat benang merah yang melayang-layang terhubung dengan seseorang di balik jendela kamar yang lampunya sudah mati itu.


"Kudengar kau melakukan itu ...." kata Verlin.


"Tidak ada cara lain ...." kata Felix.


"Bukankah itu terlalu berlebihan, menggunakan perlindungan itu!" kata Verlin.


"Untuk seorang Caelvita, ini masih lah tergolong dalam skala kecil." kata Felix.


Verlin hanya mengangguk membenarkan perkataan Felix. Bagi Verlin yang seorang pemilik kontrak dengan seluruh hewan dan tanaman yang ada di Mundebris tidaklah sulit mendapatkan informasi apa yang dilakukan Caelvita akhir-akhir ini.


"Bagaimana kontrak kalian?" tanya Verlin pada Tiga Kembar.


"Masih terus diusahakan tapi semenjak permainan semakin menjadi-jadi, untuk sementara dihentikan dulu dan fokus untuk menyelesaikan permainan ini dulu!" jawab Tan.


"Tentu saja, pelan-pelan saja! membujuk untuk melakukan kontrak bukanlah hal mudah dan bukan hal yang sebentar ... perlu memakan waktu yang lama untuk meyakinkan!" kata Verlin.


"Tapi, bukan berarti mustahil!" kata Teo.


"Em?!" tanya Verlin.


"Entah kenapa, pandanganmu seperti tidak percaya kalau kami akan berhasil ...." kata Teo.


"Memang sulit untuk dilakukan oleh manusia yang memiliki batas umur tapi aku tidak bisa mengatakan kalau mustahil juga ... lakukan sebaik mungkin!" kata Verlin.


"Keajaiban bukanlah sesuatu yang datang begitu saja melainkan keajaiban datang ketika kita mengusahakannya, membukakannya jalan menuju kita ...." kata Tan.


Verlin bergabung melihat latihan Tiga Kembar malam itu melawan Felix yang kondisinya sudah membaik padahal Veneormi masih ada di dalam tubuhnya. Verlin duduk di dekat Cain, dengan Haera yang duduk di tengah. Tapi Verlin tentu saja tidak bisa melihat Haera dan tidak ada juga yang membicarakan soal itu. Bukannya karena tidak mempercayai Verlin tapi tidak ingin memberi Verlin alasan untuk dilukai oleh Efrain lagi. Padahal baru saja kembali pulih setelah mendapatkan serangan mendadak dari Efrain.


...-BERSAMBUNG-...