
Dikarenakan kereta yang berhenti akibat penumpukan salju di lintasan kereta. Kereta api lainnya yang menuju Pusat Kota Pippa dihentikan sementara karena tak kunjung terdengar kabar bahwa telah selesai dilakukan pembersihan salju. Padahal yang sebenarnya terjadi, semua penumpang di kereta tadi dan petugas kereta api sudah dalam keadaan tidak bernyawa sekarang di tengah-tengah perempatan pusat kota Pippa.
Beruntung karena itu menyebabkan tidak akan ada lagi pendatang ke Kota Pippa akibat masalah lintasan kereta. Memang masih ada yang berada di Kota Pippa tapi berada di lokasi yang jauh dari tempat pertempuran berlangsung.
Meski sudah tahu resiko, Mertie tetap kesana walau terpaksa harus menyewa sepeda karena tidak ada kendaraan untuk ke Kota Pippa. Sampai dengan susah payah mengayuh sepeda kemudian menyaksikan bagaimana Felix membantai banyak orang sekaligus.
Mertie juga tidak bisa melaporkan apa yang dilihatnya itu karena sudah pernah melihat sebelumnya apa yang terjadi di Desa Quinlan dan kelakukan orang-orang yang dibantai Felix itu sangat tidak biasa. Jika diam saja tanpa melawan pasti Felix yang akan menggantikan posisi korban yang tergelatak sekarang.
"Aku tidak tahu apa harus menyetujui ini sebagai pembelaan diri?! Sepertinya mereka sedang kerasukan ... tapi kenapa harus dibunuh?!" Mertie gemetaran memegang handphonenya dilema antara harus melaporkan pada pihak yang berwajib atau diam saja, "Sepertinya terjadi sesuatu yang buruk disini ... benar yang dikatakan Teo, kali ini pasti sangat berbeda. Tidak ada cara lain selain harus membunuh mereka. Kali ini akupun mempercayaimu, Felix!" Mertie menaruh kembali handphonenya di dalam saku jaket, "Walau Felix kelihatannya kasar tapi dia berada dipihak yang mengutamakan kehidupan. Pasti ada alasan kenapa harus memilih jalan ini ...."
Perlahan Zewhit mulai kelihatan muncul, tentunya Mertie bisa melihat mereka tapi tidak bisa melihat iblis yang ada disana, "Kali ini pasti ulah iblis juga ...." tanpa Mertie lihat sekalipun, dia sudah menduga dan mulai melihat bagaimana para hantu diperlakukan termasuk hantu yang pernah datang menyelamatkannya juga ada disana, "Aku tetap bisa membantu ... dengan caraku!" Mertie mulai perlahan pergi dengan cara diam-diam setelah mendengar teriakan para hantu yang terus meminta pertolongan terutama yang baru saja meninggal itu, "Tega sekali mereka ... menggunakan manusia tidak bersalah dan tidak berhenti disitu, mereka menggunakan lagi roh mereka."
...****************...
Ditte terlihat merapalkan sebuah mantra dan kemudian memegang rantai yang mengikat salah satu Zewhit. Setelah rantai tersebut tersambung dengan Zewhit lainnya, rantai itu saling menarik satu sama lain dan ada sekitar ratusan Zewhit terikat dalam satu kesatuan berada ditangan Ditte sekarang. Para Zewhit itu kelihatan sudah dalam keadaan tidak sadar.
Sementara sisa Zewhit lainnya juga diperlakukan sama oleh Zewhit Iblis lainnya sama seperti yang dilakukan Ditte. Hanya saja kali ini jumlah Zewhit yang digunakan tidak sebanyak yang dipakai Ditte.
"Ow, jadi mereka melakukan ini untuk memperkuat dunia pikiran ya?!" kata Zeki.
"Sistem yang sama seperti yang ada di Istana Ruleorum. Tapi disana adalah Zewhit Keturunan Ruleorum yang mendonasikan diri sendiri untuk Ruang Pikiran. Agar bisa digunakan berlatih untuk generasi selanjutnya." kata Verlin.
"Ah, maka dari itu kenapa ... jarang ada Zewhit Viviandem Ruleorum berkeliaran selain memang yang memiliki tugas." kata Tom.
"Ya, setelah mati ... Kaum Ruleorum lebih memilih untuk segera cepat menyebrang ke Jembatan Ruleorum atau mendonasikan diri untuk keperluan kerajaan. Tidak ada yang terlalu tertarik untuk memiliki kehidupan setelah menjadi Zewhit." kata Verlin.
"Kecuali kau ...." kata Zeki.
"Kau lupa, aku ini buangan! aku melakukan apapun, toh mereka tidak peduli juga. Lagipula, aku yakin mereka melakukan itu hanya karena terpaksa untuk memberi contoh pada Zewhit yang lain ...." kata Verlin.
"Ditte sendiri sudah level sangat tinggi dunia pikirannya dan kini ditambahkan lagi oleh para Zewhit. Sulit untuk melawannya ...." kata Zeki pada saat Verlin masih berbicara.
"Aku yang akan melawannya, kalian lawan yang lainnya!" kata Felix sudah menyiapkan diri di depan Ditte, "Ayo, lakukan! aku lawanmu malam ini!" kata Felix menantang.
"Level berapa dunia pikiran anda Yang Mulia?!" tanya Ditte dengan seringaian.
"Memangnya kalau aku menjawab levelku rendah, kau akan meremehkanku?! atau aku menjawab tinggi tapi kau tidak akan percaya. Rasanya, biar fakta yang menjawab saja!" kata Felix.
"Hanya memastikan, kalau Yang Mulia tahu apa itu Dunia Pikiran ...." kata Ditte membuat tertawa rekan iblis didekatnya.
"Aku bukan tontonan dan hiburan untuk kalian tertawakan! aku adalah lawan kalian, yang harus kau bunuh atau kebalikannya malah membunuh kalian." kata Felix membuat tawa mereka berhenti seketika.
Zeki dan Banks berdiskusi untuk menyandingkan lawan yang sepadan dengan masing-masing mereka. Bagaimanapun, mereka terbilang sudah lebih lama berpengalaman menjadi Zewhit dibanding Verlin, terutama untuk Tiga Kembar yang masih hidup.
"Kau yakin Felix bisa mengalahkan Ditte?" tanya Zeki.
"Kau terdengar yakin sekali?! atas dasar apa?!" tanya Zeki.
"Yang Mulia bukanlah Caelvita yang akan mati karena pertarungan seperti ini ...." kata Banks.
"Kau terlalu memuja Felix ...." kata Zeki.
"Lebih tepatnya percaya." kata Banks mengoreksi.
"Baiklah, untungnya ... mereka kelihatannya berbaik hati membagi diri juga sesuai jumlah kita." kata Zeki sudah selesai memilihkan lawan yang sesuai, "Aku, Banks dan Verlin akan melakukan yang terbaik agar bisa cepat keluar. Jadi selama itu, kalian harus bertahan!"
Memang yang dipilihkan untuk Tiga Kembar adalah yang kurang menggunakan Zewhit yang ditangkap, sebagai penambah kekuatan. Tapi tetap saja hanya dengan dunia pikiran iblis sendiri saja sudah sangat sulit apalagi yang telah ditambah atau istilah kerennya telah diboost kekuatannya oleh Zewhit yang berhasil ditangkap.
"Entahlah ... tapi kami akan usahakan." kata Tom.
"Lagipula, lawan kami bukan lagi manusia yang hidup. Tidak ada alasan lagi untuk ragu." kata Tan.
"Aku tidak peduli mau mereka hidup atau mati yang jelas akulah yang akan mati pastinya." kata Teo mengundang tawa disituasi yang tidak semestinya.
"Kau pasti bisa Teo! aku tahu kau punya kekuatan yang kau sembunyikan ...." kata Tom.
Zeki terbatuk-batuk mendengar ucapan Tom itu.
"Kau tidak apa-apa?!" tanya Tan.
"Tidak ... tidak apa-apa!" jawab Zeki sambil melirik Teo.
"Dia kentara sekali!" kata Teo dalam hati memaki.
Felix, Banks, Zeki, Verlin, Tan, Teo dan Tom telah berada di depan masing-masing lawan. Memoriasepirav mulai terbentuk dan menutupi mereka semua.
"Ow, tentu saja!" kata Zeki sebal, "Kutarik ucapanku yang mengatakan kalau mereka berbaik hati ...." kata Zeki setelah melihat iblis lainnya yang bukan pembuat Memoriasepirav membantu mentransfer Isvintria pada Zewhit Iblis yang membuat Memoriasepirav itu. Ada juga yang ikut masuk ke dalam Memoriasepirav itu untuk mengganggu tentunya, "Tentu saja mereka tidak akan tinggal diam menunggu dan menonton saja." Zeki mengkhawatirkan Tan, Teo dan Tom yang harus melawan lawan yang kekuatannya ibarat tanah di Mundclariss dan langit di Mundebris. Sudah mustahil untuk kedua hal itu bertemu pada satu dunia apalagi kalau berbeda dunia.
"Jangan khawatir! kali ini akan berbeda dengan yang tadi." kata Tan melihat Zeki yang terus menatapnya disaat Memoriasepirav belum terbentuk sempurna menutupi Zeki.
Banks yang sibuk habis membagi-bagikan masker oksigen matahari untuk Tiga Kembar kembali masuk ke dalam Memoriasepirav lawannya.
"Ingat! ini dunia pikiran, bukan siapa yang paling cerdas yang akan menang. Karena cerdas sering memicu datangnya kesombongan dan itu adalah hal buruk yang tidak boleh dimiliki untuk pertandingan Dunia Pikiran. Ini soal siapa yang punya keinginan keras untuk tetap hidup." kata Banks kembali memunculkan kepalanya keluar. Jelas bahwa lawannya itu tidak sepadan dengan kekuatan Banks karena Banks kelihatan sangat santai dan bebas keluar masuk Memoriasepirav sesuka hatinya.
"Bangkit atau menyerah! cukup ingat kedua hal itu! kalau kau tidak mau bangun dan berjuang, menyerah saja! tapi ingatlah ... berapa banyak yang akan menjadi korban kalau kau menyerah. Jadi bangkit dan berjuanglah! kalaupun kita mati, biarlah kita mati sambil berjuang bukan dalam keadaan menyerah kita mati." kata Felix yang kemudian Memoriasepirav akhirnya tercipta sempurna.
...-BERSAMBUNG-...