
Rencana untuk menculik Cain tidak pernah diduga akan terjadi. Tidak ada yang memikirkan hal itu bisa timbul dalam pemikiran keluarga pemain. Efrain juga tidak mungkin menggunakan cara pengecut seperti itu. Semuanya pasti karena rasa putus asa dari keluarga pemain.
Tapi saat berjalan melewati halte bus, Cain secara tiba-tiba mendengar, "Itu dia anaknya! Cain Vale Wilmer, seperti yang ada di foto ... dia anak yang akan kita culik!" Cain yang baru saja mendengar itu hanya bisa pasrah menerima nasibnya untuk diculik sesuai rencana. Karena jika melakukan perlawanan hanya akan menimbulkan sesuatu yang menjadi penyesalan.
Hal utama yang harus dihindari adalah terbongkarnya dunia Mundebris. Itu sudah menjadi peraturan mutlak sedangkan Efrain mempunyai tujuan kebalikannya, untuk membongkar keberadaan adanya dunia lain.
Orang-orang yang melihat Cain diculik hanya bisa berteriak tanpa bisa melakukan apa-apa. Felix, Tan, Teo dan Tom mau tidak mau juga harus bereaksi seperti mereka. Walau begitu Tom mulai mengejar mobil itu untuk menambahkan aktingnya menjadi lebih baik lagi. Sedangkan orang dewasa yang melihat langsung memanggil pihak yang berwajib, tidak bisa mengambil resiko untuk menyelamatkan Cain karena yang menculik terlihat bukan seperti preman biasa.
Teo langsung berlari ke sekolah melaporkannya pada Pak Acton. Pak Acton panik ingin langsung ke lokasi kejadian tapi Teo melarang karena sudah terlambat. Tan yang datang menyusul Teo tidak singgah di tempat Teo dan Pak Acton berada melainkan masuk ke dalam sekolah.
"Iya, memang lebih baik melaporkannya langsung ke pihak sekolah." kata Pak Acton.
Tom juga datang berlari lewat disamping Teo dan Pak Acton berada. Tan menuju ruang guru sedangkan Tom menuju kelas untuk menemui Mertie.
"Felix, mana?" tanya Pak Acton.
"Heh?! kemana dia?" tanya Teo menoleh kebelakang belum melihat tanda-tanda Felix mendekat.
"Dia tidak diculik juga kan?" tanya Pak Acton.
"Mobil penculiknya sudah kabur ...." jawab Teo.
"Lalu kemana dia belum sampai juga?" tanya Pak Acton gelisah.
Tan yang melapor ke ruang guru membuat semua guru yang sedang menyiapkan pelajaran pertama langsung kebingungan. Semua guru menghentikan aktivitas mereka dan semuanya langsung melakukan cara masing-masing untuk membantu menemukan Cain.
Tom yang berlari dengan penuh keringat masuk ke dalam kelas langsung menarik Mertie untuk keluar dari kelas.
"Ada apa sih?!" kata Mertie tidak suka ditarik-tarik.
"Cain diculik!" kata Tom.
"Hahh?! jadi bagaimana? apa yang harus dilakukan?" Mertie pun ikut panik.
Pak Egan datang bersama dengan Tan, sedangkan Tom dan Mertie yang melihat itu hanya bisa menurut masuk ke dalam kelas saat disuruh Pak Egan.
"Apa yang harus kulakukan? memberikan bukti hasil pengawasan selama ini tidak akan menjadikan bukti agar keluarga Dobry dan Inas dicurigai ... pasti pihak polisi hanya akan mencurigai keluarga Catriona, Tuoli, Erasma dan Hauda yang pernah menyinggung tentang permainan tukar kematian. Memberikannya bukti malah akan membuat permainan ini terbukti benar adanya karena ketahuan mengawasi pemain, terlebih lagi identitas Hantu Merah Muda bisa terancam. Baru orang di sekolah yang tahu soal penculikan Cain ini, sama saja aku cari mati sendiri ...." Mertie memutar otaknya untuk memikirkan cara membuat polisi langsung menyelidiki keluarga Dobry dan Inas. Daripada membuang waktu untuk menyelidiki dari awal dan tidak membuahkan hasil. Hal utama saat ini adalah memikirkan bagaimana agar Cain bisa selamat.
Teo masuk ke dalam kelas saat semua teman sekelasnya sudah heboh karena mendengar berita Cain diculik. Pak Egan tidak memberitahu secara rinci tapi anak-anak dengan mudahnya menyimpulkan demikian karena kejadian akhir-akhir ini yang terus menerus menjadikan Cain sebagai target. Akhirnya semuanya kini bersimpati dengan Cain karena diculik, "Bagaimana bisa mereka percaya cerita mitos seperti itu ...." kata Demelza.
"Kasihan Cain, harus menjadi korban dari orang-orang yang tidak berpikiran normal itu ...." kata Parish.
Semua kecurigaan terhadap Cain langsung hilang seketika karena kasihan dengan Cain. Memang selama ini tidak ada yang mempercayai Cain bisa melakukan itu tapi pasti tetap ada tersimpan rasa curiga. Tapi setelah kejadian ini, semuanya hanya bisa mengasihani Cain yang menjadi korban dari tuduhan tidak berdasar itu.
"Felix, dimana?" tanya Dallas.
"Dia mengabari pihak panti ...." jawab Tan.
"Benarkah?" tanya Teo dengan tatapannya, begitupun Tom yang juga tidak tahu apa-apa soal Felix setelah berlari masuk ke dalam sekolah.
"Aku juga tidak tahu dimana Felix sekarang ...." kata Tan membuat Teo dan Tom kaget.
"Kalau begitu, kenapa kau bilang seperti itu tadi?!" kata Teo.
"Tidak ada cara lain! pihak panti tidak boleh tahu soal ini, jadi setidaknya kita berpura-pura kalau Felix sudah menghubungi ... coba kau pikirkan bagaimana jika yang di panti tahu soal Cain dan permainan ini ...." kata Tan.
"Kerja bagus! lagipula ... Felix pasti baik-baik saja, dengan kondisi yang sekarang dia tidak akan mudah dilukai ...." kata Tom.
"Bagaimana bisa kalian sesantai ini ...." teriak Teo.
"Kalian bertiga sekarang ikut bapak ke kantor polisi untuk menjelaskan kejadian ini!" kata Pak Egan.
Sekolah diliburkan karena kejadian ini, bukan karena tidak profesional. Tapi demi kenyamanan bersama, baik itu untuk pihak sekolah maupun pihak orangtua. Setelah mendengar kejadian ini, jika sekolah tidak diliburkan pasti akan membuat para orangtua datang sendiri menjemput anak-anak mereka.
Pihak sekolah bersedia melakukan segala hal untuk membantu penyelidikan agar Cain bisa ditemukan. Masing-masing guru menggunakan koneksi sendiri untuk membantu. Ada yang punya kenalan polisi atau jaksa, ada yang punya keluarga polisi atau jaksa. Semuanya dihubungi untuk mempercepat pergerakan polisi dalam menemukan Cain.
Mertie yang keluar kelas sengaja menabrak Tan untuk memberikan alat komunikasi. Tan yang melihat itu langsung menyembunyikannya sebelum ada yang melihat.
Tidak ada cara untuk mengetahui keberadaan Felix karena handphone bersamanya dengan Cain yang membawanya adalah Cain. Cain bukannya tidak sempat memberikan tapi untuk menghindari kecurigaan. Jika menyerahkan handphone disaat akan diculik akan menimbulkan kecurigaan bahwa dia tahu soal penculikan itu dan dengan sengaja memberi tahu bahwa dia memang seseorang yang penting dibalik permainan ini.
Pihak polisi cepat bergerak berkat laporan dari para guru. Tapi percuma karena mereka tidak mencurigai keluarga Dobry dan Inas sama sekali. Melainkan memulai penyelidikan dari awal dan memeriksa keluarga yang dulunya mengungkit permainan ini. Tan, Teo dan Tom bersama Pak Egan menjelaskan dengan baik ciri-ciri penculik. Setelah mengetahui bahwa Cain akan diculik, mereka langsung mencari ciri khusus dari para penculik itu. Setidaknya dapat menyempitkan pelaku, Tan menyebutkan plat nomor kendaraan, Teo menjelaskan pakaian penculik, Tom menjelaskan tatto dari beberapa penculik.
"Kalian benar sudah menghubungi panti asuhan kalian kan?" tanya Pak Egan.
"Iya pak!" sahut Tan.
"Kalau begitu, dimana Felix sekarang? suruh Felix untuk kesini bersama dengan seseorang dari panti yang bisa menjadi wali kalian ...." kata Pak Egan.
Tan, Teo dan Tom tidak tahu harus bagaimana. Bagaimanapun juga menyembunyikan ini dari pihak panti tidak akan berhasil juga kalau berita di tv sudah dimuat.
"Bagaimana caranya agar panti tidak tahu soal ini ... apa kita menyerah saja dan membiarkan ini diketahui?" Tan meminta pendapat Teo dan Tom
"Walinya disini!" kata seseorang yang membuka pintu masuk ke kantor polisi.
"Bu Sissy! Dokter Mari!" kata Tiga Kembar kompak.
...-BERSAMBUNG-...