
"Aku juga tahu!" kata Felix.
"Darimana kau tahu?! aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri betapq menyeramkan kekuatannya ... kalau menemukan penjahat yang dirasa terlalu banyak pelanggaran lebih memilih dibunuh, katanya menghemat tempat di neraka." kata Cain.
"Sebagai seorang pembantai ribuan Setengah Sanguiber, rasanya kau tidak pantas mengatakan itu ...." kata Felix.
"Aku melakukannya demi kau juga, tahu! dasar tidak tahu terimakasih ...." kata Cain kesal tapi masih tetap membantu Felix berdiri, "Tidak tahu malu!" tambah Cain lagi.
"Kalau demi aku, seharusnya kau mengatakannya dulu padaku. Apa-apaan tanpa bilang terlebih dahulu dan langsung membunuh dan sekarang kau bilang itu demi aku?!" Felix yang dibantu berdiri oleh Cain malah menendang kaki Cain sehingga mau itu Cain dirinya juga ikut terjatuh.
"Haruskah disaat ini kau marah-marah?! tidak tunggu dulu sampai ini selesai?!" kata Cain tidak mengeluhkan sakit pada kakinya karena menurutnya memang pantas mendapatkan itu.
"Butuh dua tahun aku menunggu untuk mengatakannya dan kau bilang aku harus menunggu lagi?! kau tidak tahu kalau aku menahannya lagi ... bukan hanya omelan yang kau dapatkan tapi akan aku bunuh kau! Dan kakimu itu bukan hanya kutendang tapi langsung kupatahkan!" kata Felix.
"Iya ... iya! terserah saja, bunuh aku kalau kau sudah sehat nanti." kata Cain.
Angin panas menyebar keseluruh penjuru. Bisa dirasakan dikulit dan dari udara yang dihirup. Tiba-tiba terdengar teriakan dari berbagai arah, satu per satu iblis pasukan Efrain kelihatan diselimuti oleh cairan berwarna jingga dan cairan itu berubah menjadi senjata mematikan dan membunuh iblis.
"Atau tidak ... bisa saja kita mati dibunuh oleh ibumu disini." kata Cain.
"Mana ada dia mau membunuh kita?! kau juga kalau bicara hanya omong kosong tidak jelas." kata Felix.
Siapapun yang terluka, walaupun hanya segores. Ratu Sanguiber bisa menggunakan itu untuk menarik keluar darah seseorang dan menjadikan darah orang itu sendiri sebagai senjata untuk membunuh pemilik darah itu. Atau ada juga yang kelihatan darahnya seperti dihisap habis keluar dan dimasukkan lagi lewat hidung sehingga orang itu meledak dengan darahnya sendiri. Banyak sekali macam teknik yang digunakan oleh Ratu Sanguiber malam itu.
"Bisa kukatakan, kalau ibu Felix sangat kreatif dalam membunuh. Tidak monoton dan membosankan ...." kata Teo langsung ditatap aneh oleh Tan dan Tom karena lagi-lagi datang dengan sudut pandang yang unik.
Kali ini Raja Aluias yang bergerak maju selangkah dan tiba-tiba berubah menjadi serigala besar dengan bulu putih bersinar.
"Waw!" seru Tan dan Tom apalagi Teo begitu heboh setelah melihat itu.
"Aku tahu kalau Aluias memang salah satu kaum istimewa di Mundebris yang bisa merubah bentuk tapi kali ini bisa melihat secara langsung ternyata lebih menakjubkan lagi ...." kata Tan begitu takjub melihat seseorang yang tadinya hanya seperti manusia pada umumnya tapi berubah menjadi serigala yang lebih besar dari beruang.
Melihat Raja Aluias mulai berlari menyerang, Pasukan Felix juga ikut dibelakang. Dengan Ratu Sanguiber yang bisa membunuh hanya dengan luka segores dari seseorang. Maka perlu seseorang yang bertarung jarak dekat untuk membuat luka pada lawan.
"Bahkan walau sedikit saja ... kita bisa sangat membantu!" kata Teo bersemangat.
"Lucu sekali Teo, tapi menggores kulit iblis saja kita harus mati-matian." kata Tan.
"Tapi benar ...." kata Tom.
"Apanya?!" tanya Tan.
"Teo ... yang mengatakan bagaimana mereka berdua memang adalah orangtua Felix. Keduanya terkenal sebagai musuh bebuyutan tapi sebenarnya sangatlah cocok satu sama lain. Aluias bisa membuat luka menggunakan taring dan cakar dengan pertarungan jarak dekat dan Sanguiber bisa mudah menyerang dari jarak jauh berkat Aluias. Bagaimana keduanya sangatlah membantu satu sama lain tapi terus menjadi lawan adalah hal yang menurutku memprihatinkan. Mereka bisa saja bekerjasama dan tidak pernah terkalahkan." kata Tom.
"Seperti Romeo dan Juliet ... mereka pasti diam-diam bertemu dan menikah ... makanya Felix bisa lahir ... walau ditentang keluarga dan kerajaan tapi tetap teguh karena mereka saling mencintai ... AaAAaaaaaa!" kata Teo mendramatisir dan hampir kehilangan kepalanya kalau tidak dilindungi Tan.
"Kau hampir mati konyol seperti kisah dari mereka berdua yang barusaja kau ceritakan itu!" kata Tan.
Tidak salah memang jika Teo bahkan Tom sendiripun merasa harus membahas bagaimana musuh secara turun temurun itu ternyata adalah orangtua Felix walau Teo terkesan terlalu berlebihan. Sangat mustahil, tapi bisa hidup di masa Viviandem belum hidup adalah bukti kalau memang mereka adalah orangtua dari Caelvita.
"Bisa tidak kau duduk saja, aku harus maju membantu juga." kata Cain.
"Bukan begitu, kau kan bisa isitirahat saja dulu. Tidak perlu harus berdiri, tidak bisa melakukan apa-apa juga ...." keluh Cain.
"Aku tidak mau kelihatan lemah dihadapan mereka, jangan buat harga diriku hancur terlebih disaat ada mereka disini, Cain ...." kata Felix.
"Mereka orangtuamu Felix, bukan seseorang yang perlu harus terus kau buat bangga. Sudah sewajarnya sisi buruk juga terlihat oleh orangtua." kata Cain.
"Mereka tidak membesarkan dan mendidikku, mereka tidak tahu apa hal buruk dariku. Dan kalau mereka tahu, rasanya sangat memalukan. Nanti mereka akan beranggapan bahwa aku tidaklah tumbuh besar dengan baik karena mereka tidak ada disisiku. Dan itu melukai harga diriku ... sepenuhnya aku bisa hidup baik-baik saja tanpa mereka." kata Felix.
"Hahh ... aku lupa kau itu tipe yang sangat melelahkan." kata Cain.
"Jadi, bantu aku sebentar saja ... lagi ... tidak lama lagi rasanya aku sudah bisa berdiri sendiri dan ikut bergabung juga bertarung." kata Felix.
"Kau terluka sama seperti saat waktu itu ... mana ada yang cepat pulih?! akan butuh lama ... istirahat saja dulu! biarkan aku saja dulu yang maju membantu." kata Cain.
"Jadi, kau mengakui sekarang ...." kata Felix.
"Apa ... nya?!" Cain pura-pura tidak tahu dan mengalihkan pandangannya.
"Kalau kau sudah tahu apa yang akan terjadi, melihatku bagaiamana terluka oleh Bates di dalam Fallacimnia." kata Felix.
"Aku tidak tahu ...." kata Cain meninggikan suaranya membantah, "Kau tidak tahu saja berapa banyak masa depan yang kulihat. Semuanya selalu saja berubah, bagaimana aku bisa mengingat semuanya secara detail."
"Kau mengatakan tidak tahu lalu mengatakan lupa ... tidak konsisten sekali! kalau mau berbohong setidaknya jangan setengah-setengah!" kata Felix kini menginjak kaki Cain.
"Aw, kau ini pura-pura masih sakit kan?! punya tenaga sebesar ini juga ...." keluh Cain.
Felix menyingkirkan Cain dan mulai mencoba berdiri sendiri. Masih kelihatan tidak stabil tapi Felix berhasil bertahan.
"Aku hanya memperhitungkan saja ... tidak semua apa yang kulihat terjadi karena masa depan selalu berubah dengan pilihan kecil yang diambil." kata Cain.
"Tentu saja, itu adalah Cain yang kukenal ... seseorang yang selalu saja melakukan hal sendiri tanpa mau jujur apa yang sebenarnya tapi semua itu pasti dilakukan dengan benar dan untuk menolong orang banyak. Aku tidak meragukanmu, Cain ... walau kau selalu membuat dirimu sendiri diragukan orang lain. Tapi aku percaya kau tahu apa yang kau lakukan ...." kata Felix.
"Melakukan sesuatu dengan rahasia, aku belajar itu darimu ... kawan!" kata Cain.
"Kau selalu belajar bagian yang buruk saja ...." keluh Felix.
Cain mulai tertawa begitupun Felix juga mulai tertawa lepas setelah sekian lama bahkan sempat melupakan sakit didadanya tapi tersadar kemudian saat terlalu tertawa keras.
"Aku belajar banyak hal selama ini, walau tidak berada disisi seseorang tapi itu bukanlah batasan. Karena akan ada saja cara membantu dari jauh. Walau tidak terlihat tapi tetap ada." kata Cain.
"Kau harusnya belajar yang lain juga ... berada disisi seseorang lebih besar terasa bantuannya daripada yang hanya membantu dari jauh. Karena sekecil apapun bantuan itu kalau berada sangat dekat, pasti akan sangat terasa besar. Sebaliknya, sebesar apapun bantuan seseorang yang dari jauh tidak akan terasa begitu besar dan dalam dibanding yang memang terus berada disamping kita." kata Felix.
"Jadi, kau mau mengatakan agar aku tidak boleh jauh-jauh lagi darimu? begitu?!" kata Cain menahan tawa tapi lepas juga.
"Aku bilang ini saatnya kita membantu ... dari dekat!" kata Felix menunjuk Tiga Kembar yang sedang berjuang didepan sana.
Cain tersenyum, "Kau siap?!"
...-BERSAMBUNG-...